Titik peperangan dari masalah Agen hitam
Titik
peperangan dari masalah Agen hitam
Elang
tersentak, baru ia sadari bahwa ia sedang berdiri diam di sebuah basement
sebelum bayang-bayang masa lalu kembali menghantuinya, ia melihat sekitar,
yah.. Cuma ada dia disitu.
Sementara
itu..jauh di seberang samudera yang membentang membelah daratan di sebuah pusat
militer sebuah negara republik, negara yang membesarkan Elang, tengah terjadi
kontroversi dalam suatu badan pertahanan negara antara Badan Inteligen Negara
dan Badan pertahanan Negara, seorang paruh baya mengenakan seragam militer
dengan dua bintang bersemat di pundaknya terlihat memukul meja rapat yang di
hadiri beberapa staf keamanan negara itu.
"Apa
begini cara leluhur kita bertindak!?! Apa tidak ada lagi yang bisa menghormati
seseorang yang membela negaranya!?!" Kata sang jendral berbintang dua tadi,
dia adalah Jendral Purnomo SH, komandan tinggi divisi mata-mata dari BIN, ia
merasa terkejut semenjak kehilangan kontak dengan agen terbaiknya Elang, malah
sebuah kabar mengejutkan seputar pembebas tugasan yang di lakukan secara tak
bermoral dengan memberikan data agennya sendiri kepada negara saingan yang di
anggap menyulut perang karena mengambil andil besar dalam pemasokan senjata
gelap ke sejumlah daerah nusantara.
"Ini,
adalah jalan terbaik yang harus di ambil..anda dan jajaran anda harus
mengerti..!", jawab seseorang berjas hitam yang diketahui adalah Jendral
Ir.Marwan, menjabat sebagai kepala staf Badan Pertahanan Negara (BPN),
"apa presiden mengetahui ini..?!?" Tanya Jend.Purnomo tegas, tak ada
yang menjawab, menandakan sedang terjadi suatu pergolakan wewenang komando
operasi dalam pertahanan negara ini.
"..."
Jend.Ir.Marwan hanya diam tak berkomentar, wajahnya menyiratkan sesuatu,
"Aku akan bicarakan ini dengan Panglima ..!" Tambah Jend. Purnomo
meninggalkan ruang pertemuan itu, ia berjalan di dampingi seorang ajudan wanita
berpangkat Letnan satu, Letnan Vega.
"Letnan,
bagaimana kabar terakhir yang kita dapat..?" Tanya sang jendral dengan
terus berjalan, "terakhir Agen kita di kabarkan bergabung dengan beberapa
agen dari Amerika, Korea, Uni soviet, juga inggris pak, tapi kita belum tau
kebenaran informasi ini.." Jelas Letn.Vega, sejenak jendral berhenti,
"apa tidak sebaiknya kita menjemput Agen kita sendiri pak?" Letn.Vega
memberi usul, "itu sangat beresiko Letnan..teruslah cari informasi.."
Perintah Jendral berlalu, "Siap pak!" Jawab Letn.Vega sambil
memberikan Hormat.
Disisi
lain...
Tampak
juga seorang petinggi berseragam militer Thailand, negara yang disebut-sebut
sebagai pemasok senjata kepada para teroris dan pemberontak di seluruh Asia,
kabar itu menyeruak setelah tertangkapnya satu kapal berisi Ribuan senjata
perang lengkap di perbatasan Indonesia - Malaysia yang menuju ke suatu daerah
konflik di Indonesia, Thailand juga di kabarkan secara terbuka memiliki pabrik
pembuat Bom-bom Nuklir yang mereka kirimkan ke kawasan timur tengah, melihat
itu, beberapa negara di asia bahkan Eropa dan yang lainnya memata-matai negara
tersebut, bahkan bukan tak mungkin perang akan berkecamuk jika Thailand
terbukti bertanggung jawab atas semua tuduhan itu.
Panglima
Katsuun, petinggi militer Thailand terlihat berkumpul dengan petinggi-petinggi
lainnya, "bagaimana kabar terbaru dari situasi pasca operasi agen
hitam?" Pang.Katsun bertanya pada seorang Jendral yang bernama Teddo di
depannya, "kabar terakhir yang saya terima adalah, di temukannya Jasad
jendral Divisi mata-mata, ia sebelumnya menghilang pak, dan satuan Hitam yang
kita bentuk dari para Mafia belum berhasil menangkap Agen-Agen itu.."
Jelas Jend.Teddo, "pak saya izin untuk berbicara..", seorang perwira
Muda mengangkat tangannya di antara para petinggi militer negara itu,
"silahakan anak muda.." Pang.Katsuun mempersilahkannya,
"..begini pak..suasana hubungan internasional kita sedang tidak
baik..terutama Indonesia pak, mereka terlihat sedang berusaha memperoleh izin
menyerang kita dari ASEAN dan PBB, mengingat segala tindakan kita.. Mungkin tak
lama lagi kita akan segera berperang.. Saya rasa anda perlu mempertimbangkan
hal ini" jelas perwira muda tersebut, "..." Sejenak panglima
Katsun terdiam, seolah berfikir apa yang harus ia lakukan sebagai pemimpin
tertinggi militer negara ini, ia menarik nafas.."bila harus perang..kita
akan perang!" Kata -kata sang panglima mengagetkan seluruh petinggi yang
hadir disitu, perkataan sang panglima sedikit ada benarnya mengingat kejahatan
negaranya sedikit demi sedikit tercium negara lain, meminta maaf tak bisa
mengembalikan kepercayaan global, hanya akan menimbulkan perang dingin
berkepanjangan., satu-satunya jalan adalah mengikuti arus yang ada.
Elang,
Smith, Bob dan Fallen terlihat berkumpul di suatu ruangan..
Tak
lama muncul Jim ho membawa secarik kertas, "lihat ini..kabar terakhir di
luar sana adalah memanasnya hubungan Thailand dan Indonesia, negara tempat
Elang rekan kita berasal.." Jelas Jim ho, "...Aneh, negara ku sepertinya
tidak melakukan apa-apa setelah membuangku.." Ungkap Smith heran,
"begitu juga aku..", "Aku juga!", Bob dan Fallen mengiyakan
perkataan Smith, "apa yang akan kita lakukan sekarang..?" Tanya Elang
seakan tak begitu perduli kabar itu,
"Smith,
bob, dan juga Fallen akan pulang ke negaranya, mengadu kepada badan yang
membesarkan mereka di negaranya menuntut keadilan dan hak sebagai pembela
negara mereka..", Smith, bob dan fallen menganggukkan kepalanya mendengar
penjelasan Jim ho, "dan kau sendiri..?" Elang balik bertanya, "
aku..? Aku akan terus mengawasimu teman..lagi pula, di kampung halamanku tidak
ada yang menantiku.." Jawab Jim ho tersenyum.