Tiga Nada
Tiga Nada
Brak! Pintu terbuka lebar.
Peter berdiri kukuh dengan tangan terlipat ke belakang. Suasana makan
pagi buyar.
"Braja!" Semua berdiri bagai patung.
"Sialan. Sersan Ambon manise lagi. Mau apa sepagi ini?" Harun
mengumpat dalam hati.
"Dengar! Bukan maksudku mengganggu kenikmatan sarapan pagi ini. Aku
hanya ingin memberi kabar gembira. Aku senang bisa menjelaskannya." Peter
berjalan berkeliling.
Senyumnya lebar, tidak bersirat amarah, tetapi justru jadi aneh.
"Permohonan kalian terkabul! Kalian telah dicatat lagi! Di daftar orang
yang ingin cepat mati. Selamat!"
Wuaaah Semua bergumam tetapi langsung tertegun.
"Heh mengapa kaget? Apa tidak gembira? Bangun semua! Jangan melongo
seperti cicak tolol. Kalian hanya punya waktu satu jam untuk bersiap. Kalian
dengar?! Satu jam untuk berkemas! Setelah itu kalian bebas ke mana saja. Asal
jangan mati! Tepat jam 23.00 kalian harus sudah di sini lagi. Apel pagi pukul
07.00. Cepat habiskan makanan dan tetap siaga satu untuk mati dalam tugas! Ayo
cepatttt!"
Selera lenyap entah ke mana. Semua bersorak girang.
Harun terbatuk.
Biasa, sebelum disuruh mati selalu diberi hiburan.
"Heh, kamu mengapa bengong saja?!" Peter menegur.
Harun menyeringai menyembunyikan debur di dadanya. "Masih ingin
belajar cara mati, bukannya ingin cepat-cepat mati."
Peter terdiam, biji matanya berputar seperti anak kecil mendapat mainan
baru. "Bagus, kau semakin paham berada di pasukanku."
Sialan!
"Ayo bergerak!"
Brak! Pintu ditutup kasar. Peter pun berlalu.
Harun meraup kacang merah dan mengunyahnya.
Aku harus pergi ke mana?
****
Harun mengirim kartu pos, bunyinya. "Elang terbang. Tiga nada. Enam
ketukan."
"Apa artinya tiga nada enam ketukan?" tanya Pusaka. Setiap
berita keluar harus melaluinya.
Harun menghisap rokok dalam-dalam dan menjawab seenaknya. "Ini
urusan pribadi."
"Kau pintar berahasia rupanya."
"Bila tak pintar bunyinya tidak akan begitu."
Pusaka memandang tajam penuh selidik, "Kau jangan main-main."
Harun menghembuskan asap rokok. "Tidak. Ayolah, Kapten. Apa aku
akan mengkhianati semuanya. Kau sendiri sudah tahu posisi dan peranku dalam hal
ini. Itu hanya istilah, mungkin kampungan, tapi ini hak pribadiku dengan
seorang wanita. Paham?"
Pusaka meneliti amplopnya.
Harun menghela nafas jengkel. Kapten sialan, apa aku harus terangkan
istilah itu?
Pusaka tersenyum seiris. "Sebaiknya kau ganti alamatnya. Jangan ke
rumahnya. Dia sudah ke Bandung?"
"Hah?"
"Seperti yang kau katakan. Aku sudah tahu segala sesuatu tentang
dirimu. Juga gadis cantik adik sahabatmu itu. Tiap sudut pikiranmu telah
kuketahui."
Gila! Tentara sialan!
"Tak usah marah. Aku berjanji ini pasti sampai."
Harun menelan ludah. Bohong !
Pusaka memanggil seorang anak buahnya, dan memberikan kertas itu.
"Kirim segera, ganti amplopnya.Tulis; Untuk Kinanti Padmasekar. Alamatnya,
jalan Gunung Teh nomor 8, Bandung. "
Harun terdiam. Kapten ini punya rasa humor yang tak lucu. Begini rupanya
intel militer.
"Bagaimana, puas?"
Harun tertawa masam. "Terima kasih."
Kapten sialan! pikir Harun.
****
Tok, tok, tok
"Ya, masuk!"
Peter memberi salut. "Mayor. Mohon ijin bicara."
"Apa?"
"Saya ingin ikut."
"Tak mungkin kau"
"Saya bosan di garis belakang. Saya masuk kesatuan ini bukan untuk
jadi pelatih."
"Kita sudah tahu. Kau sudah banyak pengalaman tempur, dan menjadi
pelatih tidaklah mengurangi nilai baktimu ke"
"Saya ingin bertempur, mayor."
"Masa dinas aktifmu hampir selesai. Ingat, manfaatkan waktumu
sebaik-baiknya."
"Karena itu saya meminta. Tempat saya di garis depan. Jika tak
dikabulkan, saya khawatir tak bisa membedakan mana lawan dan kawan."
"Apa maksudnya?"
"Saya ingin bertarung dengan musuh. Bukan dengan prajurit konyol
yang kulatih."
Santoso terdiam. Laporan Risman yang terakhirtentang cara Peter
melatihtelah menemukan jawaban. Peter terlalu keras karena butuh pelampiasan.
Dulu ia petarung ulung, sayang ia melanggar peraturan. Peter menikah dua
kali, hal ini merupakan pelanggaran. Ia harus memilih satu istri di antara
mereka. Peter tak bisa memilih istri pertama atau kedua. Karena ia mempunyai
janji yang sama pada keduanya. Ia merasa tak bisa adil. Akhirnya menceraikan
kedua isterinya, dan bersedia jadi pelatih. Peter merasa sulit hidup, jika
tidak sebagai prajurit.
Santoso berpikir beberapa saat. Peter tetap berdiri dalam sikap
sempurna.
"Baiklah. Siapkan saja peralatanmu!"
Wajah Peter berubah cerah. "Siap, laksanakan. Terimakasih
mayor."
Santoso mengangguk.
****
Tepat jam 11.00
Pusaka menarik nafas. Ia melihat jam di dinding. Saatnya telah tiba, ia
pun harus bertindak.
Ia segera menilpon. "Aku pergi sekarang. Semua harus tepat waktu.
Periksa lagi peralatan, juga orang itu, jangan sampai salah tanda-tanda pangkat
dan seragamnya!"
"Siap kapten."
Pusaka kemudian keluar. Menuju tempat mobilnya berada.