Terompet Langit
Terompet Langit
07.00 WIB
"Pasukan, siap, gerak!"
Brkkk! bunyi sepatu tanda rapat barisan.
"Hormat senjata, gerak! "
Krkkk! Senjata berputar melingkar, dan.. tap! senjata dipegang erat
di depan dada.
Semua berbaris rapi dalam formasi sejajar. Berseragam loreng corak Percik Darah, mirip dengan corak Darah Mengalirseragam loreng khasyang jadi identitas pasukan Kopassus. Bedanya, Darah Mengalir memiliki corak grafis lelehan kental, sedangkan Percik Darah dari bentuk
percikan kental.
Harun berbaris di posisi paling ujung. Matanya terlindung di bawah topi rimba
kesatuan
tersebut.
Santoso membalas salut. Setelah itu Risman memberi komando sikap istirahat. Pandangan Santoso tajam menyapu wajah-wajah buangan yang
sudah
dikenalnya.
Sersan Kepala Peter Soselisa. Lahir di Ambon. Peraih medali keberanian dalam operasi "Trisula", "Seroja". Berpengalaman dalam berbagai aksi khusus maupun gabungan. Jabatan terakhir: instruktur kepala. Brevet: Terjun Bebas. Satu kali penangguhan pangkat karena tindakan indisipliner, dan satu kali penurunan pangkat karena melanggar peraturan perkawinan.
Sersan Mayor Fajar Sidik, Mahir berbagai senjata. Empat kali tugas khusus, satu kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberaniannya menolong yang luka sewaktu kontak senjata jarak dekat. Brevet: Pendaki Utama. Satu kali penundaan pangkat.
Kopral Dua Jajang Nurjaman. Asal Ciamis. Mahir berbagai senjata. Empat tugas khusus, tiga kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberhasilannya melumpuhkan sebuah kubu musuh dalam pertempuran di sekitar Laga. Juga medali keberanian mencuri bendera di markas musuh sekitar Hiomar. Satu kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat.
Prajurit Satu Baringin Sinaga, Lahir di Brastagi. Ahli senapan
mesin. Tiga kali tugas khusus, satu kali tugas intelijen. Satu kali penundaan pangkat karena memukul seorang Kapten dari kesatuan lain.
Prajurit Satu Eko Cahyono. Akhli peledak. Dua kali tugas khusus. Pernah meledakkan tangki bahan bakar musuh di hutan Baucau. Brevet: Pendaki Utama. Satu kali penurunan pangkat akibat berkelahi dengan polisi lalu-lintas, gara-gara mengejek soal setoran surat tilang. Empat polisi dirawat di RS.
Prajurit Satu Margono Priambodo, lahir di Jetis, Muntilan. Ahli senapan mesin. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi
SAR. Satu kali penurunan pangkat karena indisipliner.
Prajurit Dua Mansur Kasim. Lahir di Solo dari ayah Arab-Ibu Jawa. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi intelijen. Mendapat medali atas keberaniannya menawan perwira musuh. Dua kali penundaan pangkat.
Prajurit Dua Gerson Nelson, asal Flores. Ahli radio komunikasi dan sabotase. Satu kali tugas khusus. Satu kali penundaan pangkat berturut-turut, karena melanggar perintah.
Prajurit Dua Panji Kurnia. Anak pensiunan PM, lahir di Gresik. Guru ngaji di barak. Jago tembak (sniper). Satu kali tugas khusus. Brevet: Penembak mahir. Satu kali penurunan pangkat karena menembak pantat penjual ganja tanpa bukti.
Prajurit Satu Ahmad Basso, Asal Makassar. Dua kali tugas khusus. Batal mendapat medali. Ahli perkelahian satu lawan satu. Satu kali hukuman kurungan karena menjual ransum sebanyak setengah truk.
Kopral Satu Bram alias Ibrahim Ali Fatoni, Jakarta asli. Satu kali operasi intelijen, dua kali tugas khusus. Dua kali lolos
dari tawanan musuh. Ahli mekanik dan komunikasi. Brevet: Penyelam mahir. Satu kali penurunan pangkatdua tingkat sekaliguskarena meledakan lima truk pengangkut pasir milik
pemborong yang menganggu ketenteraman sebuah desa di Tangerang. Satu kali lagi penundaan pangkat karena masuk rumah seorang lurah melalui atap, dan mengancam lurah tersebut agar membereskan masalah ganti-rugi tanah di daerah Sawangan.
Kopral Dua Jamal Ahman, ahli peledak asal Bangkalan, Madura. Tiga kali aksi khusus, tiga kali terluka. Satu kali
penundaan pangkat karena kabur selama 40 hari untuk menyepi di Gua
Surowitigua pertapaan Sunan Kalijagadan 21 hari bertapa di Batu agengtempat bertapa Sunan Drajat di Paciran, Tuban.
Sersan Mayor Albertus, Lima belas kali tugas khusus, delapan kali aksi gabungan, lima kali tugas intelijen, dua
kali operasi SAR. Mahir berbagai senjata dan pertarungan tangan kosong. Semua medali dicabut. Brevet: Terjun Bebas. Tiga kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat, dan dua kali hukuman kurungan.
Dan Harun, Si Bajingan itu!
Pandangan Santoso menyapu satu-persatu wajah pasukannya.
Kalian sudah tahu apa yang mungkin terjadi, termasuk semua
risikonya. Dalam tugas sekarang ini, aku sendiri yang jadi KP (Komandan
Pasukan). Jadi kalian tahu apa yang kuinginkan: kesuksesan
misi. Aku tidak suka kegagalan, sekecil apa pun. Mengerti?"
"Siap. Braja!"
Santoso melihat ada dua orang tak bereaksi. Sersan Mayor Bertus dan
bajingan
itu!
Kemudian ia memeriksa pasukannya satu persatu. Ketika tiba di
depan Harun, ia
berhenti dan memandang tajam. "Kau siap di bawah komandoku?"
"Siap, mayor!" Ia ingin tersenyum, namun sikap Santoso yang
serius tidak mengizinkannya.
"Buktikan, apa bualanmu sebanding dengan tindakanmu!"
"Siap mayor."
Santoso memandang sinis.
09.34 WIB
Satu jip Komando dan sebuah truk keluar dari gerbang. Harun duduk paling
sudut, agar dapat lebih santai, namun yang diperolehnya
justru kebalikannya. Bertus datang. Dia tampak tak peduli apa pun. Pancarannya yang dingin,
sangat kuat untuk mengusik ketenteraman orang lain.
"Minggir," ia berdesis. Sebuah perintah, tidak ingin dibantah.
Harun beringsut. Bertus pun duduk di sampingnya. Matanya langsung terpejam.
Harun merasa gerah.
Kendaraan melaju ke timur. Menuju Pangkalan Udara Husein Sastranegara,
tempat sebuah pesawat C-130 Hercules telah menunggu.
"Wah gawat. Basso, Basso!" Jajang mulai ribut memanggil nama.
"Apa?"
"Di pesawat kau jangan dekat-dekat denganku. Berani mendekat, kuhantam
tengkukmu."
Semua tertawa, Basso tersinggung. "Aku robek juga mulutmu!"
"Pokoknya tidak boleh dekat! Aku tak sudi berdekatan dengan
prajurit pemabok udara. Muntahmu bau, seperti usus ayam busuk tiga
hari."
"Siapa sudi di dekatmu!"
"Ya, bagus."
20. 15 WIT
Setelah mendarat di pangkalan udara Laha, mereka terus naik truk dan dibawa ke
pangkalan AL. Walau sudah malam, cuaca di pelabuhan ALRI Ambon tetap menyengat. Bau air laut menusuk. Sekeliling
pelabuhan penuh dengan lampu. Sebuah kapal selam terbujur
kaku di dermaga. Mereka diturunkan dekat kapal selam.
"Hm KRI Hiu, ini kedua kalinya ana naik kapal ini.
Sangat membosankan,"
komentar Mansur sambil menunjuk kapal selam itu.
"Mengapa?"
"Karena dia bukan Angkatan Laut," tukas Jajang.
Harun melihat Santoso sudah berada di anjungan. Dia sedang berbicara dengan tiga
perwira ALRI. Dua di antaranya memakai topi lapangan warna hitam, seorang dari mereka
dipastikan adalah komandan kapal selam itu. Yang satu memakai baret. Dari
warnanya
jelas dia adalah seorang Marinir.
Mayor (L) Zainal Abidin yang biasa dipanggil Zen, bertanya pada Santoso.
Kolonel Oskar belum datang?
"Masih ada yang perlu diselesaikan di Jakarta. Tapi sebelum jam
22.00, dia pasti sudah ada di sini."
Zen mengangguk dan mengenalkan dua orang di sampingnya. "Letnan Hambali, dan
ini Letnan Arfan Zihansyah."
Arfan Zihansyah, marinir tangguh ini ditugaskan Panglima ALRI untuk
menjaga kapal dari sesuatu yang tidak diharapkan dalam misi
AD ini. Santoso tersenyum dan menjabat tangan sang marinir.
"Namamu sudah sering kudengar, Mayor," kata Arfan sambil membalas.
Santoso membalas ringan, "Begitu juga namamu"
Zen tersenyum, kemudian memandang pasukan yang harus dibawanya.
Itu pasukan terbaikmu, mayor?, tanyanya pada Santoso.
Santoso mengangguk. Ia tak mau mengaku terus terang. Sekali pasukannya,
tetap pasukannya. Biar amburadul, tetap pasukannya.
Zen mengerutkan kening. Jika mereka pasukan terbaik, mengapa berkesan tidak
disiplin. Cara mereka berpakaian seenaknya. Gulungan lengan bajunya, ada yang digulung, ada yang membiarkannya
kedodoran. Begitu juga cara mengenakan ikat pinggang dan mengenakan topi. Sikap mereka
jauh dari kepantasan pasukan berdisiplin tinggi. Santoso tersenyum melihat Zen begitu
lama memandang
pasukannya.
Tapi Letnan Arfan lebih memahami keadaaan. "Mereka pasti regu yang
luar biasa. Bukankah begitu, ."
Santoso tersenyum mengangguk. "Ya. Luar biasa."
Zen tertawa ringan. Ia mengerti sekarang. Luar biasa berarti
di luar yang biasa. Pantas amburadul.
Sebuah kapal perang membuat suasana tertentu. Setidaknya, baginya
yang baru pertama melihat dari dekat, besi terapung yang dilengkapi
meriam
minimal 3 inchi.
"Itu pasti Multatuli, Aneh ya, kok ada di sini. Bukan di Surabaya."
komentar
Eko.
Jajang mendesak, penasaran. "Mana?"
"Tuh yang besar"
Jajang memicingkan mata, lalu manggut-manggut, seakan mengerti sesuatu.
"Ah, Aku baru ingat sekarang. Mengapa kapal itu ada di sini."
"Kenapa?" kata Eko sambil memandang Heran. Aneh, bisa-bi�sanya Ja�jang tahu
alasan kapal itu berlabuh di Ambon.
"Kan ada Laksda dari Jawa Barat inspeksi ke sini�"
"Laksda? Laksda dari Jawa Barat? Siapa ya, rasa-rasanya aku baru de��ngar?"
Eko berpikir keras.
"Laksamana Muda Jajang Nurjaman. Aku kan Panglima
Ko�damar�Pang�lima
Koboi Dalam Markas�," Jajang nyengir.
"Sialan�," saking gemasnya, topi Jajang dilempar ke laut!
"Hei! Itu topi aing (aku)," Jajang tersentak.
"Siapa bilang baret!" Baringin menyela dengan sukacita.
Eko tertawa ringan.
"Hei jangan keras-keras! nanti kedengar marinir-marinir itu,"
sela Panji.
"Emangnya kenapa kalau kedengar? Mau nyemplung ke laut,
nolongin ambil topi?" Jajang sewot.
Baringin seolah mendapat kesempatan berekspresi, "Bukan. Me�reka aneh
saja lihat kau. Ada cumi-cumi bisa marah�"
"Diam semua! Kalian ini sungguh bawel. Dasar ikan asin!"
tiba-tiba Peter mengaum.
"�bukan ikan asin, ikan tenggi�"
"Diam!"
Jajang pun diam�
Gila, dasar prajurit gelo, pikir Harun. Tapi mau tak mau ia
ter�se�nyum
juga.
"Naik! Pasukan bergerak!" sebuah geraman muncul. Harun ber�paling.
Bul��dozer tua
itu lagi. Peter.
Harun mengangkat ranselnya. Sewaktu ia menunduk, seseorang ber�buat
serupa. Pandangan mereka berbenturan. Harun ter�kesiap. Sorot mata Ber��tus tetap menusuk. Gila!
21.35 WIT
Kabin kapal selam sangat menyiksa. Sempit, tapi sangat ber�har�ga. Ka�re�na harus
mengorbankan beberapa tempat tidur kelasi.
Santoso jadi risi. Ia mengatakan hal itu pada Letnan Ham��bali.
Sam�paikan terimakasih pada anakbuahmu, Letnan. Tempat mereka dipakai� anak�buahku."
Hambali mengangguk. "Ini satu risiko awak kapal selam, ma�yor."
Dan di Jakarta, Kulyubi menerima telepon dari Okto Maulana. "Ya,
Kulyubi di sini, bagaimana?"
"Sandi agen Lotus yang kau tanyakan tak ada masalah."
"Bisa kau kirim ke sini?"
"Mengapa? Bukankah ia tercatat tak aktif lagi?""
"Justru itu, aku ingin membuka dan menyelidik lagi"
"Baik. Nanti kusuruh antar."
Kulyubi mengetuk-ngetuk pipanya. Ia sulit menjelaskan. Lotus adalah san�di dari
seorang informan.
Semua nampak lancar, namun indera keenamnya terus mengusik. Ia te�tap belum
tenang.
20. 38. WIB
"Kau terlambat delapan menit."
Hamid menyeringai sambil menggeser kursi dan langsung duduk
"Apa yang kau gunakan?" Suara Si Temaram ketus. Cerutunya
tinggal se�te�ngah. Harumnya sama seperti waktu itu.
"Suntikan paku."
Temaram mengangguk. Alat yang dimaksud adalah alat yang mirip sun�tikan
kecil, dengan ujung runcing seperti paku�terbuat dari baja yang kuat. Suntikan biasa jarumnya
diam, tapi suntikan ini jarumnya bisa ber�gerak�keluar memanjang hingga 30 cm, se�suai
tekanan udara yang ma�suk ke dalam ta�bung karet yang ber�fungsi sebagai dudukannya.
Dudukannya itu beralas lapisan magnit, sehingga dapat me�nem�pel atau
dipasang di berba�gai permukaan. Hamid pasti mema�sangnya
di bagian "ru�mah" ban.
Tekanan uda�ra yang menggerakan jarum, berasal dari sebuah ba�terai
yang dirancang khu�sus untuk mengalirkan arus tenaga yang didapat dari ge��taran
putaran ro�da, yang kapasitas tekanannya bi�sa disetel memakai de��tektor seukuran korek api. Dengan demi�kian
pengaturan panjang-pendek ke��luarnya jarum bisa di�atur. Se�makin tinggi kecepatan mobil, semakin pan��jang pula
jarum baja itu� keluar, dan bisa menusuk ban yang sedang ber��putar
kencang. Se�buah senjata ra�hasia, buatan ahli-ahli persenjataan so��nar
Swedia yang bekerja untuk NA�TO.
Untuk mobil Pusaka, Hamid pasti menyetelnya untuk kece�pat�an di
atas 100 km perjam. Kecepatan rata-rata yang diperguna�kan bila
berada di Tol Ja�gorawi.
Mossad (Dinas Rahasia Israel) sering mempergunakan cara ini. Bila Ha���mid paham
dan juga melakukan cara serupa tidaklah aneh. Hamid pernah meng���ikuti
program anti Mossad yang dispon�sori Libya. Dan Libya sangat pa���ham akan
hal ini.
"Bekas-bekasnya sudah kau hilangkan?" tanya Temaram. Sua�ranya se���dikit
parau berkesan tak sabar. Lain dari kebiasaannya yang tenang. Be��gitu ju�ga
hisapan cerutunya semakin cepat.
"Aku mengikuti dari jarak 200-300 meter. Dia terguling tepat dua m�o��bil di� depanku.
Sewaktu orang lain sibuk mengeluarkan Pu�saka, aku ber��hasil me�lepaskan alat itu."
Terdengar helaan nafas si Temaram.
"Tak usah khawatir. Saya main bersih," kata Hamid sambil me�lepas�kan
kacamatanya.
Si Temaram mengangguk. Ia melihat jam. "Waktuku hampir ha�bis."
Hamid tersenyum, ia mengeluarkan tisu. Saat akan member�sihkan ka�camata,
tisunya terjatuh.
"Dengan siapa kau kemari?" tanya Si Temaram.
"Sendirian�," jawab Hamid sambil membungkuk hendak meng�ambil
tisu.
Tetapi pada detik itu ia menjadi sadar. Pertanyaan Temaram sa�ngat ti���dak
perlu, di luar "kode." Karena bagaimana pun juga, un�tuk
kalangan yang ber�tugas seperti mereka, tak mungkin mem�bawa
teman. Ini sudah atur��an. Mengapa si Temaram bertanya seperti itu?
Sekilas dari balik kaki meja ia melihat sepatu Temaram.
Dia memakai seragam loreng dan sepatu bot! Dia tentara!
Si Temaram tak mungkin pakai loreng dan sepatu bot!
Bukankah kaki Temaram pincang dan berkaki palsu? Siapa dia?
Dia bukan Temaram!
Sebelum ia berpikir lebih lanjut, terdengar suara dentum terta�han. Di�susul
sebuah tolakan dahsyat menerjangnya secara tiba-ti�ba.
Akh! HB merasa dada kirinya disentak hebat, dan ia pun ter�jeng�kang ke
belakang. Pandangannya berkunang, dengan re�flek ia meraba dada ki�rinya. Sekilas ia melihat Si Temaram meme�gang pis�tol
berperedam suara.
HB berusaha menetralisir dirinya, sambil menahan sedakan asin di teng��gorokannya,
dan rasa perih yang muncul mendadak, ia me�nyumpah le�laki yang menembaknya, "Kau bukan Temaram, ka�kimu
tidak pin�cang�"
Lelaki di depan Hamid tersenyum. Ia bangkit dan duduk di ping�gir me���ja,
sambil memandang korbannya yang tergeletak.
"Tidak pincang? Apakah aku harus pincang?"
"Temaram pernah tertembak. Dia diamputasi. Dia memakai ka�ki pal�su�"
"Hm, Temaram yang kau maksud sudah mati. Pembunuhnya ada�lah kau
sendiri."
Hamid meringis menahan sakit, tapi keinginan tahunya lebih kuat.
Aku?
"Ya. Temaram adalah kode dari Syaiful Hakim. Orang yang kau sing�kir�kan."
Demit! Hamid
terbatuk.
Darah terasa mendesak ke luar kerongkongannya. "Kau sia�pa?"
Lelaki itu menjawab datar. "Temaram."
"Jangan bergurau�"
"Hanya tiga orang tahu Syaiful bersandi Temaram. Dia sen�di�ri,
atasan�nya, dan
aku. Temaram alias Syaiful sudah lama tak ak�tif."
Lelaki itu memandang HB dengan serius, "Aku punya sedikit urus�an dan
butuh identitas. Dalam soal ini, mendayagunakan se�suatu
yang usang, le�bih selamat daripada menciptakan identitas ba�ru.�
�Untuk apa semua ini?�
Temaram �baru� menarik nafas. Sambil menghisap ce�rutunya
ia du�duk di
kursi, berkata perlahan seperti tak ada masalah. �Biasa. Untuk pem�bersihan.�
�Apa salahnya Syaiful?�
Temaram �baru� melirik. �Kau penasaran rupanya. Syaiful ti�dak punya
kait�an se�dikit pun
dalam urusan ini. Bahkan dia tak per�nah tahu namanya te��lah ku�gunakan.�
Hamid menyeringai, kepalanya mulai pusing.�Mengapa harus mem�bu���nuhnya?�
�Kecerdasan seseorang yang mau mati, memang sering ber�kurang.
Kau pun mendadak bodoh. Aku tak pernah membiarkan se�orang pun
tahu, atau akan tahu, apa yang telah kuperbuat. Sua�tu waktu
mungkin dia akan ta��hu bahwa na�manya kuperguna�kan. Bila Syaiful kubiarkan hidup, sama artinya de�ngan
memeliha�ra
penyakit. Banyak orang menilaiku sebagai orang yang perfek�sionis,
dan hal itu kuterima ka��rena aku juga tak suka bila ada ma�salah
dari hal kecil. Itu sebabnya ia ha��rus mati. Seperti ju�ga kau, ��
Setan alas! Hamid mengumpat, dengan memakai nama Tema�ram,
orang ini akan bebas dan lepas dari semua kecurigaan. Semua orang akan ter�tuju pa�da nama
Temaram �asli,� alias
Syaiful Hakim. Ta�pi si setan ini, atau si Te�maram �jadi-jadian,� yang
jadi biang ke�rok, bisa meloloskan diri bah�kan pu�ra-pura tak tahu.
�Bagaimana dengan Kapten Pusaka?� Hamid
bertanya sambil me�nahan nye�ri.
�Hm. Manusia ambisius yang sia-sia. Dia juga
membantuku.�
Hhk! Hamid terbatuk lagi. Wajah Temaram �palsu� mulai ka�bur.
�Waktu kau sedang menyingkirkan Syaiful, seorang
anakbuahku me�nyim��pan map di lacinya. Kuatur sedemikian rupa agar bisa ditemukan Pu��saka.
Setelah itu, Pusaka tak berguna lagi. Tu�gasmu memang untuk me���nyingkirkannya. Kini, kurasa kau pun sudah selesai��
Pandangan Hamid semakin kabur, namun ia masih melihat tu�lis�an na��ma pa�da baju
di balik jaket yang dikenakan Temaram.
Setelah itu pandangannya kian gelap. Namun ia masih bisa men�dengar bu���nyi pintu
terbuka, dan perintah Temaram pada sese�orang.
�Urus bunglon ini. Buang ke teluk Jakarta, jika sudah
benar-be�nar mati.�
�Ya, Pak.�
Hamid merasa semakin pening dan dingin.
Harum cerutu �The Sailor Express� Temaram kian melemah.
Gelap pun datang�.
21.10 WIB.
Telepon di kantor Kulyubi berdering. Lettu (KOWAD) Ambar meng��angkat
telepon.
�Ya��
�Bisa bicara dengan Komandan di sini?�
�Bapak sedang tidak ada di tempat. Dari ma�na, Pak�?�
�Saya Sersan Rusnandi dari Polsek��
�Saya Lettu Ambar. Ada apa sersan?�
�Saya mengabarkan, Kapten Pusaka mengalami kecelaka�an.�
�Kapten Pusaka kecelakaan?� bi�sik
Ambar.
�Ya.�
�Apa sebabnya?!�
�Di Jagorawi. Bannya meledak lalu menabrak pagar sampai
terguling puluhan meter.�
�Bagaimana keadaannya�..�
�Maaf, saya harus melaporkannya sendiri ke jenderal��
�Mengapa?�
Sersan itu mengatakan sebuah hal tertentu. Ambar pun mengangguk.
Biasa, ra�hasia�
Ambar menetralisir semua yang dirasakannya saat itu.
�Hallo Let�,� suara Rusnandi di telpon menyadarkannya.
�Ya?� suara Ambar agak serak, �Dari mana
sersan dapat no�mor khu�sus ini?�
��Dari�orang itu��
Ambar termenung beberapa saat. Setelah agak tenang ia mem�bu�ka kem��bali
teleponnya. �Baik kalau begitu, saya sekarang akan ber�usaha meng�hu�bungi Pak Kulyubi.�
�Kalau begitu. Saya akan menunggu di RS Ciawi. Terima�kasih.�
04.45 WIT
Mendengar bunyi peluit, Harun terbangun.
�Kita berangkat,� ucap Eko sambil mengintip ke luar pintu.
Harun melihat arlojinya. Ini sudah subuh. Terlambat sekali da�ri
jadwal. Ke�marin Letnan Risman mengatakan akan pergi se�kitar
22.00.
Pintu terbuka. Fajar Sidik muncul. �Kita berangkat sekarang. Os�kar sudah
datang.�
Menunggu Oskar rupanya. Harun mencoba memejamkan ma�ta�nya kem���bali.
Tetapi sulit, kapal selam benar-benar sangat ti�dak nyaman. Hanya de��ru me�sinnya ia senang. Ia pernah bersaha�bat
dengan deru seperti itu. Dulu.