Target
Target
Sesudah makan pagi, Oskar,
Santoso, dan
Risman,
mengatur operasi di ruang komando dengan Komandan KRI Hiu.
"Itu cukup berat,
mayor. Pasukanmu harus langsung mendaki dari laut. Arus bisa menghempaskan perahu karet ke tebing," kata Mayor (L)
Zen Abidin.
"Itu sudah kami
pikirkan," jawab Santoso. Ia berniat melaksanakan pendaratan langsung di tebing, dan terus mendakinya. Mereka akan masuk dari
barat, arah paling mustahil bisa dilakukan.
Zen tercenung. Ia tak mau
berpanjang
lebar lagi.
Kita mendarat pukul 04.00, kita punya waktu total 66 jam."
Oskar mengangguk. Misi
hanya punya waktu
66 jam. Bila dalam waktu 66 jam tidak mengirim kabar. KRI Hiu akan meninggalkan
Kabilat.
Santoso tak berkomentar.
Ia mengerti
makna di
balik batas waktu. Ia dan pasukannya bisa diartikan sudah mati atau hilang.
"Mengapa tak kita
torpedo saja MV Kwang Hung itu?" Zen bertanya.
Oskar menggeleng.
Risiko politisnya besar. Target misi bukan senjata, tetapi barang yang ada di pemberontak. Selama mereka punya itu,
selama itu pula mereka bisa mendapatkan senjata."
"Di Kabilat, kapal
sebesar itu pasti tak bisa merapat. Mereka harus punya kapal kecil untuk mengangkutnya ke pelabuhan," sambung Zen.
"Aku tak mau ada
risiko kehilangan waktu untuk menghancurkan sasaran utama."
Zen tersenyum. "Aku
menyesal musuh kita tidak punya destroyer atau fregat. Kalau mereka memiliki itu, aku akan tidur lebih
nyenyak, karena ada pekerjaan yang menyenangkan untuk kapalku."
"Suatu waktu, kau dan
kapalmu pasti akan mendapat kesempatan," sela Oskar.
"Lupakan gurauanku.
Aku rupanya terlalu banyak berharap," kata Zen sambil menghampiri Hambali. "Kita menyelam,
letnan?"
Hambali mengangguk.
Memberi komando. "Menyelam! Buritan lima depan, sepuluh belakang!"
"Buritan lima depan,
sepuluh belakang!" terdengar sambutan.
"Kecepatan dua
pertiga," kata Zen.
Hambali mengulangnya
kembali kepada awak lainnya. "Kecepatan dua pertiga, arah konstan."
Santoso melangkah ke meja
operasi. Matanya menumbuk peta. Ia melihat arloji. Butuh 38 jam untuk mencapai pulau Kabilat.
Ia teringat sesuatu dan
Santoso merasakan lagi ganjalan itu.
Bila mengingat Harun,
nafasnya seperti ada yang menghambat.
KRI Hiu melaju ke utara.
Untuk menghindari hal yang tak diinginkan. Siang hari, kapal berlayar di dalam laut.
Malam hari baru bergerak di permukaan, dengan kecepatan penuh.
Waktu terasa membosankan.
Harun menyeka keringat. Sidik sedang asyik membersihkan senjatanya. Di dekatnya,
tampak Panji sedang shalat dengan khusuk.
Harun mengambil batu
asahan kecil dari ransel. Sidik memandang tak berkedip sewaktu Harun mulai mengasah pisau.
"Kuno betul
punyamu."
Harun nyengir.
"Apa
istimewanya?" Sidik bertanya.
"Sama dengan
punyamu."
"Sering
dipakai?"
Harun mengangguk,
Mengupas mangga.
Sidik tertawa. "Heh,
kamu boleh juga. Waktu lawan Peter, sabetanmu
mantap. Pisau itu gagangnya terlalu berat. Perlu tenaga untuk melemparnya."
Harun tersenyum, kecepatan
reflek motoris dalam melempar memang bisa dipengaruhi berat benda. "Tapi bajanya lebih
kuat"
Eko muncul, "Mana
Panji?"
Sidik menunjuk. Panji baru
selesai shalat. "Apa?"
"Mana jimat
itu?" Eko bertanya.
Panji membuka ransel, lalu
memberikan sebuah buku kecil yang sudah tua. Eko menerima dan langsung
membukanya.
"Lho. Ini
kan hanya buku doa biasa"
"Kamu kan ingin
tenang. Ya berdoa saja."
"Yang kumaksud adalah
jimat. Seperti punya Jamal, bukan buku doa." Eko menggerakkan tangan di sekitar
leher. Kalung maksudnya.
"Satu buku, 64
halaman. Jimatnya pasti banyak. Judulnya saja Doa-doa Utama, pasti lebih manjur dibanding punya
Jamal," balas Panji.
Eko duduk. "Ah, kamu
ini. Jimat, jimat penangkal, maksudku."
"Ya berdoa saja"
"Ini bukan jimat, ini
buku doa. Masa jimat dicetak"
Panji kini yang terlihat
heran. "Kau percaya doanya, atau percaya tulisannya?"
Eko tertegun. "Katamu
tadi, punya doa-doa dari kyai"
"Ya ini. Ini doa
dilengkapi terjemahannya. Kyai itu penterjemahnya."
"Yang aku cari jimat
penangkal. Misalnya saja penangkal takut, gelisah, bahayaseperti ini." Eko kelihatan penasaran.
"Uah, kau ini
ribut jimat saja. Sudah, baiknya kamu bertapa saja seperti Jamal. Tuh di anjungan." Sidik
menyela.
Panji merebut buku itu dan
memperlihatkan sesuatu. "Kau ingin tenang, nih baca saja ini"
Eko masih ragu. "Ini
kan doa biasa"
"Ini janji Allah,
tahu? Bukan janji embah-embah atau kyai. Nih baca ini jika kamu ingin
tenang"
Balas Panji.
"Aku tak bisa bacanya."
"Latinnya saja, kalau
perlu artinya saja, tak apa-apa?"
"Boleh?"
"Siapa yang melarang?
Kalau ada yang melarang, tembak saja!" Sahut Panji ketus dan kembali ketempatnya.
Eko membolak-balik buku
itu, pada satu halaman ia berhenti. Ia membaca perlahan, "Hasbunallahu wa nimalwakil"
Harun tersenyum sendiri.
Aku pun tak bisa baca Al-Quran, pikirnya.
Kalau melihat
Al-Quran, ia "melihat" huruf Quran itu seperti
gambar, bukannya huruf yang bisa terbaca. Ini gara-gara waktu
kecilnya bandel, selalu menghindar bila disuruh belajar ngaji oleh
orangtuanya. "Kalau sejak kecil tak belajar baca Quran, sampai
dewasa kau tak bisa-bisa." Ucapan ayahnya terbukti. Ia dan Eko tak beda, seratus persen sama
idiotnya pada tulisan Quran.
Obrolan mereka terhenti
karena datangnya Gerson. "Harun, kau di�pang��gil let�nan."
"Di mana?"
"Kabin paling ujung
sebelah kiri."
Mau apa Risman
memanggilnya.
Ia langsung beranjak.
Risman sedang sibuk, mejanya penuh dengan pe��ta.
"Ada apa, let."
"Mengapa ini tak
diisi lengkap?"
Waktu disodori formulir
tersebut, ia memang bingung. "Saya tak pu��nya ah��li waris, dan terus terang saja saya malas
mengisinya."
"Ini prosedur biasa,
bukan tanda kematian. Tulis siapa saja. Yang pen��ting ah�li warismu harus ada."
Harun menggeser kursi dan
segera duduk. Akhirnya ia mendapat ide.
Risman membaca, keningnya
berkerut. "Kau main-main?"
"Tidak�"
Risman menggelengkan
kepala. Namun selanjutnya ia pun tak peduli. "Kau boleh pergi."
Harun bangkit, namun
sewaktu akan ke luar pintu, ia berbalik. "Berapa la���ma lagi
kita akan sampai?"
Risman memandang sesaat.
Tiga belas jam. Mengapa?
"Tidak. Boleh saya
bertanya?"
"Apa?"
"Apa sebenarnya
sasaran kita?"
"Kau akan tahu
sendiri."
Harun menggaruk kepalanya
yang tak gatal.
Sewaktu balik ke kamarnya,
seseorang memanggil dari kabin.
"Bagaimana
kabarmu?" Oskar menyapa.
"Baik �"
"Aku baca laporan,
ternyata kau tidak sesulit seperti kita duga sebelum�nya."
Kolonel sialan ini yang
membuatnya jadi berada di sini. "Supaya jebakan yang menjepit saya tidak
terasa menyakitkan?"
"Anggap saja sedikit
improvisasi. Agar hidupmu ti�dak mo�noton."
"Improvisasi
terkadang lebih di luar dugaan. Saya mengharap ko��lonel tidak akan terkejut, bila improvisasi yang saya
lakukan tidak seperti yang diharapkan."
"Tidak. Aku tidak
akan terkejut, mungkin kau sendiri yang jadi ber�terima�kasih atas semua ini," kata Oskar sambil
tersenyum seulas.
Tiba-tiba Santoso muncul.
Wajahnya berubah kaku sewaktu me�lihat Ha��run. "Ada apa kau di sini?"
Harun tertawa ringan,
tanpa memberi salut ia keluar. "Ma�ri ko��lonel�"
Santoso nampak gusar.
Harun tak peduli. Ia malas me�ladeni me�reka.
Di luar, ombak keras
bergelora. Angin laut menggencar, gelom�bang menari-nari pongah.
****
Jauh di utara�
"Mengamankan
pendaratan mereka?" Guy bertanya sekali lagi.
Suara Olson tidak begitu
jelas. Setelah dua hari di Kabilat. Ba�ru saat ini Ol�son menghubunginya.
Olson se�perti
kebingungan. "Ya. Perwira yang akan ku�hubungi, mati dalam kecelakaan. Sambil me�nunggu
hubungan ba�ru dengan pihak militer yang bisa kupercaya, kita tak mungkin mem�biarkan
pasukan komando itu dibantai pemberontak yang su�dah ta�hu detail operasi, termasuk posisi dan waktu
pendaratan�nya."
"Kau yakin
pemberontak tahu sampai sedetail itu?" Guy ber�ta�nya la�gi.
Situasi makin tidak menyenangkan baginya.
"Dalam beberapa hari
ini aku menyebar orang-orangku untuk meng�awasi to�koh militer yang masuk dalam daftarku. Begitu ju�ga dengan
perwira yang kumaksud. Mereka melihat ada sebuah mo��bil yang
selalu mengikuti perwira tersebut, sampai pada waktu ke��ja�diannya.
Aku berpendapat kece�lakaan itu tidak wajar. Ini ber�arti bah�wa
kelompok pro pemberontak telah me�ningkatkan aksinya. Aku mem�prediksikan
mereka tahu juga detail ope�rasi itu."
"Apa yang harus
kulakukan?�
"Maksimal."
Guy mengiyakan. Ia menutup
alat komunikasinya yang cang�gih. Ia ber��se�ru pada anakbuahnya. "Bongkar kemah. Kita
pergi!"
Channarong bertanya,
Ke mana?
"Kita harus awasi
gerakan mereka. Tempatkan masing-masing dua orang di posisi utara dan selatan
pos pemberontak. La�porkan padaku se��tiap kegiatan yang mencurigakan. Terutama yang me�nyangkut
kegiatan pa���sukan dalam jumlah besar."