TAKLIMAT
TAKLIMAT
"04.00 masuk dengan perahu karet. Regu 1 dipimpin Risman. Regu 2 aku yang memimpin. Mendarat di
pinggir tebing, langsung memanjat dalam formasi dua titik sejajar. Jarak optimal antara dua regu
usahakan tidak kurang dari 50 meter. Untuk mencapai puncak, kita hanya punya waktu 50 menit maksimal. Setelah itu
bergerak ke
utara untuk memutar. Interval laporan 4 jam."
Risman mengangguk. "Bagaimana dengan posisi lawan?"
"Kita mendarat di titik yang paling tidak diperhitungkan lawan. Aku berharap,
selama pendaratan tidak ada kontak senjata. Tetapi sekiranya terjadi,
kita tak punya pilihan lain. Bila situasi kritis, hanya ada satu cara. Masuk
ke teluk, arah
jam dua. Itu satu-satunya alternatif. Menurut data intelijen terakhir, kekuatan lawan di
tempat itu hanya sekitar 15-20 orang." Santoso berhenti sejenak dan melanjutkan
dengan nada
lebih lambat, "Tapi, lebih dari itu pun kita tetap maju
dan harus berhasil. Cocokkan jam kita."
Risman, Peter, dan Fajar Sidik, memutar jarum arloji masing-masing.
Kemudian mengumpulkan anggota pasukan untuk taklimat.
"Harun. Kau harus selalu di tengah! kecuali bila
ada perintah," kata Risman.
Sewaktu bubaran, yang berjalan di belakangnya berkata perlahan. Nadanya meremehkan, "Heh, rupanya kau seorang penunjuk jalan."
Suara Bertus. Harun tak peduli.
KRI Hiu terus maju. Dan kali ini, walau hari telah gelap, tetap
bergerak di bawah permukaan.
****
Di sebuah kegiatan lain.
Bolil mengangkat tangan memberi isyarat.
Yahya berteriak, "Berangkat!"
Suasana berubah riuh. Puluhan orang bersenjata lengkap tanpa seragam berlomba-lomba
naik ke truk dan kendaraan terbuka yang sudah bersiap. Kegelapan
jadi benderang karena lampu-lampunya.
Bolil naik jip terdepan. "Maju!"
Empat mobil terbuka itu bergerak.
"Hubungi Alfonso." perintah Bolil. Operator di belakangnya sigap. Ketika komunikasi
tersambung, Yahya meraih mik, "Victor satu ke Victor empat. Bagaimana
situasi? Over."
"Victor empat ke Victor satu. Situasi aman. Bisa masuk sekarang. Ganti."
"Aman, kolonel?"
Bolil mengangguk. Ia punya waktu panjang untuk mengatur pasukannya di
tebing. Komando-komando itu tak akan disisakannya.
"Kolonel, apa benar mereka menyelusup memakai kapal selam?"
"Aku tidak ragu lagi. Orang di Jakarta itu tak mungkin berbohong.
Karena dia punya
kepentingan besar untuk hal ini."
"Bagaimana dia bisa menghubungimu di sini?"
"Dari Jakarta tak bisa. Tapi dari pulau Cibas, hal itu sangat mudah."
"Pulau Cibas?"
Bolil mengangguk. "Dia juga punya pasukan di sana."
Yahya semakin tidak mengerti. Siapa orang itu, pasti orang penting. Kalau
tidak, bagaimana mungkin dia punya kekuatan dan pengaruh begitu besar. Ia
berkata lagi. "Kwang Hung pasti jadi sasaran kapal selam itu."
Bolil tertawa melecehkan. "Tidak. Kapal itu tidak akan diganggu
Jakarta. Tenanglah kau."
Mendengar itu, Yahya diam-diam merasa tak senang. Bolil terlalu
banyak berahasia dan informasinya sangat hebat.
"Aku tak ingin ada yang lolos. Habisi semua. Hantam mereka
sewaktu masih mengambang!" perintahnya.