Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

SUNGAI

 

SUNGAI

Terik matahari memanas.

Dan kebisuan adalah racun bagi Jajang.

“Kemana mereka itu hah? Tidur atau main kyu-kyu, sampai tidak terde­ngar suaranya.” Jajang berbisik agak keras pada Mansur yang sem­bunyi tiga meter di samping kirinya.

Mansur mengangkat bahu.

“Mereka mungkin sudah pergi…” tiba-tiba ter­dengar suara agak di atasnya,

Jajang melihat kanan-kiri, tapi tem­pat ­sembunyi temannya tak dite­mukan.

“Kau ngumpet di mana?” bisik­nya.

“Bayar dulu seratus ribu…”

Puh, Jajang meludah.

“Diam.Tutup mulut kalian yang bau usus ca­cing itu.”

Mendengar gerutuan yang dike­nalnya, Ja­jang menoleh ke samping, ke arah Peter di ba­lik batu. “Kita sa­ma-sama sudah tidak mandi se­ming­gu. Sudah seperti ikan… lele… hehehe…”

“Dasar keledai berotak cicak.” Pe­ter meng­­­ge­rutu gusar.

Mansur ketawa tak bersuara.

Tiba-tiba terdengar suara berciutan. Ha­run terkejut. Darah­nya seperti berhenti.

Mortir!

Blam! Suaranya mengguntur.

Detik berikutnya terdengar lagi. Blam!

Disusul lagi dua ledakan menggemu­ruh. Blam! Blam!

Harun bertiarap makin merunduk.

Tanah, ranting, dan batu menyiram seke­liling tempatnya.

Gila. Mati aku. Mereka pakai mortir!

Keadaan berubah mendadak. Suara tembakan hingar kem­bali.

 

Harun bangkit, tempatnya dipenuhi asap dan bau mesiu. Te­riakan di ma­na-mana. Bersaing dengan salak tembakan dan desing pe­luru musuh.

“Berlindung!” Santoso berteriak.

Blam! Blam! Dua peluru mortir kembali jatuh. Dan kini tam­bah kecil ja­rak antaranya.

Mereka sudah memperbaiki arah! Tembakan mereka akan se­makin ter­pusat!

Dari balik kepulan asap Santoso mengamati situasi. Ia sadar apa yang akan terjadi. “Baringin tinggalkan mobil itu cepat!”

“Apa?” Baringin berteriak. Ia baru saja akan berdiri untuk me­­nem­bak­kan M-50.

“Loncat! Cepat!” Risman berteriak.

Baringin sadar. Ia meloncat.

Dan beberapa detik kemudian. Dengan suara garang Jip itu me­­ledak.

Bum!

Body-nya melonjak, kemudian ambruk kembali ke bumi, di­su­sul kobar­an apinya yang ganas.

Harun terkesiap waktu melihat ke seberang jembatan. Puluh­an sosok ber­munculan sambil berteriak dan menembak gencar.

Gila. Mereka menyerang!

 

Ia meloncat ke balik pohon. Tampak Jajang dan Mansur se­dang me­nembak gencar.

“Harun, sikat yang dekat pohon kelapa itu!” Peter berseru.

Harun melihat dua orang berlarian di balik pohon kelapa. Ja­raknya ki­ra-kira 60 meter. Ia segera mengangkat senjatanya dan membidik…

Tapi dua ledakan granat membuat ia bertiarap. Gila!

Granat! Tapi dari belakang?!

Dan Harun mendengar teriakan “Musuh di belakang!”

 

Santoso menyumpah. Ia melihat ke jalan arah pangkalan.

Ia tercekat. Dalam radius 50 meter. Belasan sosok tubuh ber­larian me­nyilang di tepian jalan. Mereka menembak dan maju meng­hampiri po­sisinya.

Belum sempat berpikir lebih jauh, pelontar granat musuh mu­lai bekerja la­gi, membuat ia balik lagi ke tempatnya semula.

“Kita dikepung! Bagaimana, mayor?!” Risman muncul dari ba­lik pe­pohonan. Wajahnya penuh keringat. Disusul Bram yang lang­sung melapor. “Wuaah, mereka banyak sekali.”

Santoso berpikir cepat. Ia berseru kepada Harun. “Turun ke sungai! Ka­mu duluan. Cepat!”

 

Sungai?! Harun tertegun.

“Cepat!” hardik Santoso.

Harun tersadar. Ia bergerak berbalik, menuju arah lembah. Dan terus meng­gelosor turun dengan cepat.

Di atas terdengar teriakan.

“Margono, mundur!”

“Bertus dan Jamal masih di atas!”

“Suruh mereka mundur! Bram bawa Peter. Cepat!” Santoso ber­seru

Blar! Blar! mortir kembali berdentuman. Tembakan musuh ki­an men­dekat.

Ke sungai!

Harun berdiri di tepi tebing, untuk mencapai sungai, ia harus me­luncur turun sekitar 30 meter. Ia terhentak sejenak. Turun se­ka­rang?

“Cepat!” Santoso berseru, dan….blar! blar! dua granat mele­dak lagi de­ngan suara mengerikan.

Aku terjun sekarang!

Yaaaaa….Harun menggelosor cepat. Tubuhnya meluncur dengan po­sisi punggung rapat ke permukaan. Ranting dan semak-se­mak bertubi-tu­bi menghantam dirinya. Namun ia terus ke bawah, tak peduli harus ter­gores batu dan semak.

Bruk! Akhirnya kakinya pun menginjak tepian sungai. Ahhh!

 

Dengan cepat ia mengarahkan senjatanya ke atas. Melindungi ka­wan-ka­wannnya yang kini meluncur turun.

Mortir berhenti…namun tembakan dan granat tangan kian riuh. Per­tanda musuh semakin mendekat.

Dua orang temannya hampir tiba ke sisi sungai. Harun langsung me­nunjuk arah.

“Ke sana, cepat. Ayo!” Harun berlari mendahului.

Tiba-tiba terdengar desing peluru, disusul air sungai di seki­tarnya ber­muncratan rapat.

Gila! Musuh sudah di atas kita!

Gila mereka menembak!

Harun terus berlari.

Lari!

Lari!

Suara air berkecipak ganas karena peluru.

Debur air tersibak langkah berlari ibarat geraman maut, begitu seram, mem­buru, dan sangat dekat….

Harun makin cepat berlari…

Dan….

Tembakan datang lagi. Beruntun, ganas, mencecar tak kenal ampun.

Desingnya bagai siulan pencabut nyawa.

 

Lari. Lari terus. Aku tidak ingin tertembak!

Blar! Kini granat lagi yang jatuh. Air menyembur ke punggungnya.

Lari!

Air berkecipak keras seiring larinya yang kian cepat. Yah…. Lari!

Hhhhh! Harun mendengus….

Ia terus berlari!

Tembakan masih terdengar! Dan sekarang agak jauh…

Tetapi ia tak mau melihat ke belakang.

Ia terus berlari di tepian sungai.

 

Dan…Oh…Byuur! Tubuhnya basah. Air sungai makin dalam.

Harun tak peduli.

Ia terus berenang. Terus bergerak tak hirau kiri-kanan.

Terus, terus, terus…

Dan ia baru agak sadar ketika airnya semakin dingin!

Dingin! Dingin sekali.

Dan….

 

Heh? Tak ada lagi suara tembakan!

Tak ada lagi seruan.

Hanya suara air berkecipak, dan suara nafas tersengal-sengal dari orang berenang di belakangnya.

Harun menahan nafas.

Ia melihat ke atas. Ia pun jadi sadar sepenuhnya.

Pantas airnya dingin. Kini ada di dalam hutan!

Pohon-pohon besar tumbuh di masing-masing tepiannya.

Membuat teduh dan dingin keadaan sekitarnya

Kini Harun baru bisa menarik nafas.

Bagaimana sekarang?

Kesadarannya pulih.

 

Barusan ia benar-benar seperti kesetanan. Tak ingat kiri ka­nan. Tu­juannya hanya satu. Selamat.

Ia menelan ludah. Baru sekali ini ia sampai “trance”, hingga tak sadar waktu.

Rasanya hanya sebentar, namun melihat keadaan sekitarnya, ia ter­nyata sudah jauh meninggalkan jembatan. Gila, pikirnya. Aku benar-benar tak sadar.

Perlahan ia berpaling ke belakang. Semua mengikutinya.

Aman….aman..” Ahmad Basso berbisik.

Harun mengangguk.

Ia menepi dengan hati-hati.

 

Suasananya remang-remang.

Matahari tak tembus seluruhnya, karena terhalang rerimbunan pe­po­honan besar.

Suara unggas dan monyet terdengar sayup-sayup.

Semua menepi. Yang paling belakang ternyata Santoso. Seba­gai Ko­mandan ia harus orang terakhir bila menyelamatkan diri.

Mayor itu bernafas lega. Sungguh suatu berkah. Semua sela­mat, tak ter­kecuali Guy dan Channarong. Hanya Peter yang nam­pak mulai kepa­yah­an dengan luka-lukanya.

Bertus dan Jamal juga selamat. Yang kelihatan paling mende­rita adalah Margono.

Ia harus membawa senjatanya yang berat. M-50 nya berasap ti­pis. Besi panas itu terkena air.

 

Harun mengusap wajah. Ia membuka topinya, lalu mem­buang air yang ada di dalamnya.

Setelah itu ia mengamati ke depan.

Sungai ini lebarnya sekira 3 sampai 4 meter, tapi airnya cukup da­lam.

Deras.

 

****

 

Saat itu, di mulut jembatan. Bolil merasa kesal, tak ada korban se­orang pun ditemuinya.

Yahya mendekat. “Mereka meng-hilir. Pasti menuju pang­kalan.”

Bolil membuang rokok dan menginjaknya. “Kejar. Aku tak ingin mereka bisa sampai pangkalan.”

“Bagaimana kalau kita sergap begitu mereka tiba di tepi pang­kal­an?”

Bolil menggeleng. “Aku ingin kepastian. Sebagian mengejar, dan se­bagian lagi menunggu dekat pangkalan. Aku ingin mereka tak sempat meng­injak landasan. Bahkan memberi mereka kesem­patan untuk melihat pang­kalan pun, aku tak mau. Mengerti!”

Yahya mengangguk.

“Aku menunggu kalian. Pesawat akan datang jam 16.30 “

“Pesawat?” tanya Yahya.

 

Bolil tertegun. Ia kelepasan bicara. Tapi ia cepat mengatasi­nya. “Tadi pa­gi aku dihubungi oleh Pusat. Ada perubahan rencana. Nan­ti juga kau akan mengerti.”

Bolil berbalik ke kendaraannya dan langsung berangkat ke pang­kalan.

Yahya terdiam. Ia makin tak senang. Terlalu banyak rencana ber­ubah, dan terlalu sering muncul keputusan baru.

Ia berseru. “Leo bawa pasukanmu, kejar mereka!”

Leo meringis. Ia memberi tanda bergerak.

Tapi ia berbesar hati. Pasukannya sekitar 22 orang, dengan di­ri­nya ja­di berkekuatan 23.

Srattt! terdengar parang dicabut,

Leo melirik. Anakbuahnya mulai turun, beberapa di antaranya me­m­­buka ja­lan. Menebas semak belukar memakai parang.

Parang yang sering mereka pakai di hutan Angola dan Timor Ti­mur

Mereka memang bekas Komando Tropaz!