Roda
Roda
Di puncak bukit, Bolil menyuruh sopirnya berhenti. Ia turun dari Landrover dan
berdiri memandang
laut lepas. Samudera Pasifik membentang luas. Pelabuhan Kabilat terlihat kecil dari
tempatnya. Ia sudah tak betah di pulau terpencil ini.
Empat hari lagi MV Kwang Hung tiba. Cukup untuk mengatur tempo dalam permainan petualangannya.
Ia mengakui kebenaran ucapan Yahya. Nyataan ia memang seorang
yang terbuang. Seorang sisa dari sebuah kekuatan yang telah porak-poranda.
Ia berada dalam
kehidupan
militer, bukan lagi karena pengabdian. Membantu "Orde Suci" tidak lagi
dilandasi alasan ideologi, tetapi telah jadi perniagaan. Ia ingin menikmati
hal itu, mengumpulkan hasilnya.
Ia mengarahkan teropong ke satu lekukan sisi pantai. Ke dermaga di mana ditambat
delapan buah
tongkang,
dengan samaran daun-daun kelapa, untuk menyamarkan pengintaian musuh.
Tongkang-tongkang itu baru datang dua hari yang lalu. Dijalankan oleh nelayan-nelayan
nekad dari Korea, dengan upah lumayan mereka bersedia membantu rencana utamanya.
2400 pucuk senjata AK-47. 200 peti amunisi berisi 300.000 butir peluru, dan puluhan mortir, RPG berikut amunisinya,
yang dibawa MV
Kwang Hung akan diturunkan ke tongkang-tongkang tersebut, untuk selanjutnya di
angkut ke tempat yang sudah ditentukan.
Setelah puas mengamati keadaan, Bolil kembali ke mobil.
"Balik ke Pos!" bentaknya pada sopir.
Di pos, Yahya sibuk menerima berita melalui radio
komunikasinya.
"Ada apa?"
"Dari Pusat. Penting sekali agaknya."
Bolil meraih alat pendengarnya.
"Merah Satu. Di sini Merah Pusat. Penting. Harap diterima.
Over," terdengar suara.
"Merah Pusat. Di sini Merah Satu. Ganti," balas Bolil.
"Merah Pusat ke Merah Satu. Jakarta pergi, ulangi,
Jakarta pergi. Tawaran tetap, ulangi, tawaran tetap. Harap diterima. Over."
Bolil memandang Yahya dengan serius, "Merah Satu ke Merah Pusat.
Waktunya, ulangi, waktunya."
"Merah Pusat ke Merah Satu. Tunggu, ulangi, tunggu. Merah Pusat
ke Merah Satu. Harap beli, ulangi, harap beli.Over."
Bolil tak menjawab ia menghenyakkan tubuhnya ke kursi. Akhirnya mereka datang juga.
Ia meraih minumannya.
"Bagaimana kolonel?"
"Mereka datang. Target mereka gua 24 F, tapi akan kita libas sebelum mereka
mendarat."
"Gua? Mereka menduga barang itu ada di gua?" Yahya bertanya.
Bolil mengangguk. "Mereka datang mengantar nyawa sia-sia."
"Jadi, bagaimana persiapan kita?"
Bolil hanya tersenyum, memejamkan matanya sambil berkata perlahan,
Nantilahaku sedang malas memikirkannya."
Yahya mendesah, ia pun melangkah keluar.
Seorang anak muda berkulit gelap dengan rambut keriting dan gondrong,
mendekat dan
ikut berjalan di sampingnya. "Ada yang ramai?" katanya dalam bahasa
Tetum.
"Tak ada" Yahya membalas terpatah-patah, memakai bahasa yang
sama.
"Kolonel menyuruh tempur?"
Anak muda itu baru berusia enambelas. Joao Osorio Amaral,
pembantunya yang paling dekat. "Kau senang. Senang bertempur?"
Joao mengangguk. "Kalau Joao tempur, musuh pasti akan
kurang."
Tidak seperti biasanya, Yahya jadi ingin bicara lebih banyak. "Untuk
apa?"
Joao kini yang jadi heran."Untuk merdeka.Teman pasti tidak tahu itu.
Teman tidak
mengerti pada kita."
"Orangtuamu di mana?"
"Mati. Joao punya dua saudara besar. Satu di Dilli, satu di hutan. Satu
UDT, satu Fretilin. Joao beda"
"Mengapa Joao beda?"
"Joao bingung. Joao benci Portu (Portugis). Kakak
di Dilli, bekerja dan sekolah. Joao ingin sekolah, tapi takut kakak satu
lagi. Dia
tetap di hutan. Dua kakak marah Joao. Supaya tidak marah, Joao bagaimana sendiri."
"Jadi itu sebabnya kau di sini?"
"Kata kolonel, Fretilin sudah kalah. UDT-Apodeti gabung Indonesia.
Kolonel juga kata, kalau Joao ikut kolonel, Joao akan bebas,
dapat kerja dan uang. Joao ingin tempur terus."
"Sampai kapan? Bukankah kolonel juga sama denganku. Ia bukan bangsamu?"
"Sampai Joao bebas sendirian. Tidak ada marah-marah."
"Kalau begitu musuhmu banyak?"
Joao tertawa, "Kolonel bilang, musuh pasti ada. Kalau mayor untuk
apa tempur?"
Yahya menelan ludah. Ia tak ingin menjawab. Ia berseru, "Simon,
Roga, De Uy, U te Sam! Kita patroli, ayo!"
"Joao ikut mayor?"
"Terserah"
Sebuah pikap dan dua jip tanpa kap bersiap. Mesinnya yang tua menderu
kasar. Yahya duduk dengan hati tak tenteram.
****
Harun memandang horison. Senja menguat. Matahari tak digjaya lagi,
semakin dekat ke ujung tugasnya. Begitu juga dirinya.
Ia makin dekat pada ruang penuh tanda tanya. Ruang kemungkinan. Ruang ketidakpastian, yang tipis jaraknya
dengan maut.
Di saat-saat seperti ini, ia selalu sulit untuk mengatasi perasaan mencekam. Ia
gelisah, khawatir, bulu tengkuknya terkadang meremang.
Ia merasakan lagi tempat yang serba tak menentu dan mengambil langkah yang
tak bisa dipilih lagi.
Harun berjalan mengitari barak yang kosong. Teman-temannya masih ada
yang belum pulang. Sering ia merasa kesepian. Namun saat ini, ia benar-benar
merasa disisihkan dunia.
Ia menerima kehidupannya. Namun ia merasa terbatas
untuk mengarunginya.
"Tuhan tidak pernah pilih kasih. Tapi Tuhan selalu ingin diakui kebesarannya,
melalui segala bentuk rintangan dan ringannya hambatan." Kata-kata itu pernah didengarnya dari seorang teman.
Ia paham akan maksud kata-kata itu.
Tapi mengapa Tuhan menentukannya seperti ini?
Mengapa dia lahir sebagai anak tunggal dari orangtua yang juga anak
tunggal?
Mengapa Tuhan menentukan orangtuanya harus meninggal dalam kecelakaan
pesawat Garuda di gunung Burangrang? Dan mengharuskan dirinya untuk hidup sendiri sejak usia enambelas?
Mengapa Tuhan selalu ingin menempatkan dirinya pada posisi yang sulit?
Ia berjalan dengan pikiran mengembara kian kemari. Akhirnya ia
berdiri di pinggir pagar. Memandang rumah-rumah penduduk di
kejauhan.
Seiring senja memerah, sayup-sayup terdengar suara azan dari masjid
di komplek asrama. Panggilan untuk mencapai kebahagiaan itu, membuat
dirinya benar-benar merasa kosong.
Harus bagaimana lagi aku ini, pikirnya.
Ia pun memandang kaki langit.
Surya dan lembayung, sebaris di tepian
Seperti intipan jeli di sisi cermin
Di ujung sana
Ia seperti melihat lentera bergoyang
Apa itu gerangan?
Harun mendengus mendesah. Ia harus mengatasi semuanya.
Ia teringat ucapan seorang biksu pada temannya yang mencoba bunuh diri,
akibat kakinya terkena ranjau dan harus dipotong. "Ikuti keresahanmu seperti putaran roda yang bergerak maju. Meninggi hingga ke puncak, kelak kan mengalami ketenangan sebagaimana putaran roda yang kembali merendah. Bila melawan. Ibarat memutar
mundur sebuah roda yang berjalan. Sulit melihat sesuatu yang
baru."
Ia tak mau larut! Ia harus menentukan.
Tak perlu sedu sedan.
Tak perlu tahu apa isi laci nasib.
Yang diperlukan hanya kuncinya.
Tindakan.
Tuhan tak mungkin mengajaknya bermain bila dirinya tidak punya kesanggupan
untuk melayani permainan itu.
Harun mengambil sebuah batu.
Ia membidik ke arah tumpukan bangkai-bangkai mobil di sudut bengkel. Sebuah kaca
spion memantulkan cahaya lampu. Dengan gerakan pasti ia mengayunkan
tangannya,
Prak! Kaca
spion itu pecah!
Ia pun berbalik menuju barak. Suara tawa temannya begitu riuh. Mereka baru
kembali dari waktu bebasnya. Suasana barak berubah hangat.
Ketika membuka pintu, pandangannya agak silau karena terlalu lama di tempat
gelap.
"Hei mahasiswa, dari mana kau?"
Harun nyengir. Hatinya mulai menangkap suara dari jauh.
Suara terompet langit.
Terompet untuk para pemberani dan juga penakut.
Terompet yang ingin dihindari, tapi juga terompet yang jadi satu ciri kehidupannya.
Phew!