Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Oposisi

 OPOSISI

Guy mendekati Santoso yang su­dah duduk di jip. ”Saya punya usul.”

“Apa?”

“Dalam menghadapi bahaya. Mem­bawa dua orang bersenjata, lebih menguntungkan diban­ding dibebani dua keledai tanpa guna.”

Santoso menggeleng, “Kau sa­lah. Aku ti­dak akan memberimu sen­jata, dan juga tak akan merasa kehi­lang­an, bila ada dua keledai mati.”

Guy menyeringai, “Meskipun ke­ledai itu pernah menolongnya?”.

Santoso mengangguk. “Ya. Te­tapi kalian kuizinkan ikut, bila tak mau mati konyol di tem­pat ini.”

Thanks, Mayor,” kata Guy. Ia mem­beri tanda kepada Channarong. Ke­duanya segera naik ke Landrover yang ada di belakang.

“Sorry,” kata Guy karena me­nyenggol ba­hu Harun agak keras.

Harun mendengus. Bule bau, pi­kirnya.

“Ayo,” terdengar Risman berse­ru.

Mesin Landrover menyala. Ira­ma suara knal­potnya tak teratur. De­ngan didahului suara kop­ling yang ka­sar, mobil itu tersentak ke de­pan, mem­buat penumpangnya bergun­cang­­an. Kalau sudah begini, sumpah serapah pun bermunculan. Dan yang paling gaduh ten­tu saja Jajang Nurjaman.

“Hei, goblok. Dasar sopir becak seper­empat Arab. Ini mo­bil, bukan unta.”

Mansur yang mempunyai darah Arab-Te­gal tertawa. “Siapa bi­lang unta, ini kerbau.”

“Pelan-pelan kalau star!” Jajang mem­bentak.

“He, bukan star, tapi start! Kalau sama begonya jangan pa­mer,” sela Bram.

“Kamu yang tuli, tak dengar huruf te nya,“ balas Jajang ke­ras. Suara me­sin mobil sangat bising.

Bram cemberut. Ia berpaling pada Mansur yang nampak te­gang me­ngemudikan mobil. Memang, Mansur nampak lebih te­gang jadi so­pir dibanding kalau dia sedang menghadapi musuh.

 

“Ke mana kita?” Guy bertanya.

“Cari mati,” jawab Harun.

Guy tertawa ringan.

“Kau bekas Airborne?” Harun bertanya singkat.

Guy melirik penuh selidik. “Mengapa bertanya demikian?”

Harun menceritakan sandi yang dilihatnya di kubu musuh se­kitar pe­nyu­lingan minyak.

“Benarkah?” Guy tak bisa menyembunyikan kegembiraan­nya. Itu je­las kode dari Joe. Itu berarti Joe Adams masih hidup. Dan Joe memang be­kas anggota Airbone Divisi 82 sebelum ber­gabung ke Air America CIA .

“Jadi yang buat kode bukan kamu?” Harun yang kini jadi he­ran. Siapa la­gi bule yang ditawan?

“Dia kawanku. Karena itulah aku di sini.”

Harun terdiam.

Guy balik bertanya memancing, “Darimana kau tahu itu kode Air­bone?”

Harun mendesah. Ia tak menjawab.

“O, dia tahu segalanya. Dia mahasiswa, mister.” Jajang me­nyela sambil meng­acungkan jempol.

“Mahasiswa?”

“Mahasiswa jurusan perang!” Jajang tambah lincah karena me­rasa di­tanggap orang bule.

Bram menggaruk kupingnya sendiri. Kapan si Jajang ini bisa nor­­­­mal?

Guy tersenyum ringan.

“Ngapain mister di sini? Seperti di film saja jadinya. Mister agen ra­hasia apa? CIA, FBI, KGB , atau…PBB?” Jajang terus nye­­­­rocos.

Harun geli juga melihat kepolosan prajurit yang satu ini. Mam­pus lu, bule!

Guy nyengir.

“Dia bukan PBB, tapi dari PSB!” Mansur mengejek.

“PSB? Perserikatan Sepakbola Bogor?“ Jajang heran. Idiotnya no­­­­ngol tan­pa sengaja.

“Dasar goblok, PSB, Perserikatan Sial Bule yang ku­mak­sud“

“Diam!” Risman membentak.

Jajang menggerutu tak jelas. Kesal nampaknya pada kawan-ka­­­­wan­nya.

Harun menarik nafas. Gila. Semua gila. Tapi aku lebih gi­­­la lagi, pikirnya. Me­ngapa Tuhan selalu menempatkan diriku di tengah-tengah kehidupan se­perti ini?

Tuhan? Harun tersentak.

Tapi sebuah guncangan membuatnya tak berpikir lebih jauh.

Dan dua mobil itu terus menderu meninggalkan pelabuhan.

 

****

 

Jakarta waktu itu masih subuh dan lengang.

Di ruang tengah rumahnya yang besar, yang terletak di kompleks mi­liter di daerah Kramatjati, Jakarta Timur, sambil menikmati alun­­­­an suara As­trud Gilberto, Kulyubi asyik menggosok se­patu­nya.

Perlengkapannya selalu dibersihkannya sendiri. Bukan tak per­­­­caya orang lain. Selain sudah menjadi kebiasaannya sejak dari aka­­­­demi, me­nyemir sepatu sebenarnya punya keasyikan tersendiri.

Sepatu yang sudah berkilat itu diamatinya.

Masih kurang, pikirnya.

Ia pun menggosok lagi. Inilah seninya semir gosok. Mengki­lat­­­nya ter­gantung intensitas gosokan. Semakin digosok ia akan se­­makin berkilat. Ia tak senang semir cair. Terlampau mudah, prak­tis. Cepat, tapi tidak me­mancing reaksi batinnya.

Ia menyukai sesuatu yang merambat, berproses, tapi me­ya­kinkan. Se­perti tanaman kecil yang biasa tumbuh di dinding luar ru­mah atau batu.

Menjalar tanpa diketahui.

Berkembang besar dan meluas tanpa menarik perhatian.

Orang baru sadar ketika tanaman itu sudah mendominasi ruang.

Tak mengagetkan.

Wajar. Semua orang menerimanya.

Persis kejadian dalam rapat tadi malam.

 

Suasana begitu panas. Karena masing-masing punya alasan kuat. Se­perti telah diduganya. AD menjadi bulan-bulanan. Kastaf pun lebih banyak diam. Ia berada di posisi sulit. Semua, secara ti­dak langsung adalah tang­gung jawabnya. Menlu dan Mendagri ma­rah besar. Apapun argumen yang di­kemukakan tumbang.

Akibat laporan dan info yang diberikan Olson Wells, misi Kon­ta jadi “ter­buka.” KASAD jadi tersudut, tapi ia tetap tegar. Ri­siko seperti ini su­dah diperhitungkan, walau “penyebab” terbu­kanya di luar dugaan. Cam­pur tangan Olson di luar perhitungan. Ta­pi ia pun tahu, Olson atau si CIA itu masuk karena ada gerakan anak­buahnya yang di luar kendali.

 

“Apa pun tujuan dan landasan yang digunakan, saat ini, misi mi­liter itu hanya menghasilkan satu hal: kebocoran. Kebocoran se­cara militer dan politik. Misi bisa gagal total, dan juga kemung­kinan protes res­mi dari negara tetangga,” kata Menlu.

“Tapi sebelumnya Anda mengatakan sudah mengontak Menlu dan Menhan Filipina?” KASAD memotong.

“Kita memang pernah mengontak pemerintah Filipina, bahwa ki­ta akan mengadakan operasi kecil di Kabilat. Mereka menyatakan se­tuju. Tetapi hal itu sebatas, bahwa mereka tidak akan ambil pu­sing. Karena pulau itu memang bukan wilayahnya. Kabilat wi­layah bebas, mereka hanya negara terdekat ke pulau itu. Untuk itu mereka mengajukan syarat, agar misi kita jangan secara terang-te­rangan atau dalam kekuatan besar. Karena kalau terang-terangan, me­­reka tak mungkin lagi bersikap diam. Mereka harus memberi ke­­terangan resmi kepada rakyatnya,” kata Menlu dengan nada emo­­si. “Dan apa yang kita rencanakan sekarang ini, adalah blunder bagi negeri kita. Apa pun alasannya, saya tetap tak setuju me­­ngirim pasukan bantuan ke Kabilat.”

“Jelaskankan saja padanya bahwa kita hanya akan memban­tu pa­su­kan kita yang terjebak di sana.”

“Pasukan kita memang harus keluar dari pulau itu. Tapi jika ca­­ra me­­nolongnya dengan memperbesar skala operasi, ini berarti ki­­ta mem­per­gunakan kekuatan resmi di wilayah internasional. Ini salah, dan akan berdampak besar.”

“Di situlah tugas Anda, menghilangkan kesan dan meyakinkan me­­­reka bahwa tindakan kita hanya bersifat defensif, dan bertujuan ke­­­amanan na­sional semata,” potong KASAD.

Menlu terdiam dengan geram. Dan menyambung. “Saya tidak se­­tuju ren­cana itu!”

“Nyawa pasukan Santoso terancam!”

“Itu tanggung jawab Anda, Jenderal.”

KASAD kini yang terdiam.

“Bagaimana dengan CIA?” sela Mendagri.

“Mereka punya kepentingan juga untuk hal ini. Mereka jelas bu­­tuh stabilitas, karenanya mereka memberi tahu bahwa misi te­lah bocor,” jawab Mayjen Martinus. “Jika kita bertindak ke Ka­­bilat, mereka akan diam.”

“Aku penasaran mengapa kau sebagai komandan misi bisa meng­alami hal itu?” tunjuk KASAL pada Brigjen Kulyubi.

“Oskar dan saya selalu bersama-sama, tak pernah terjadi ke­­gagalan dalam tugas. Saya tak menyangka bahwa ia mampu ber­­buat itu.”

“Tetapi bukankah kau juga tahu bahwa dia seorang perwira da­­ri garis oposisi?” tukas Mendagri.

“Oposisi? Apa salahnya punya keyakinan yang berbeda?“  KA­SAD memotong. Kulyubi terdiam.

“Tidak. Tidak apa-apa. Tetapi setidaknya, bukti bahwa Oskar ber­­khia­nat, cukup memberi tanda bahwa pengaruh sikap oposan sa­­ngatlah berba­haya. Bukankah begitu jenderal?” Wapres yang se­­lalu diam memberi ko­mentar.

KASAD menggeleng, “Yang kita sebut sebagai bukti, baru da­­ri sepi­hak. Kita harus tanya dahulu Oskar. Saya belum yakin Os­­kar punya niat se­rendah itu.”

“Bukti yang kita punyai otentik. Baik dari CIA maupun te­mu­an Pusaka, dan Kulyubi mempunyai benang merah yang jelas.”

Namun KASAD tetap bertahan, “Bukti yang satu berasal da­­ri agen CIA. Satu lagi, Kulyubi mendapatnya dari kapten Pusaka. Pu­­saka me­nemukannya dari seorang yang terbunuh. Otentik bisa ja­­di, tetapi masalah ini tidak cukup hanya dengan bukti seperti itu. Kita masih perlu penyelidikan lebih men­dalam. Justru pada ke­­otentikannya itu.”

“Saya setuju pemikiran itu. Asal berdasarkan landasan demi ke­­benar­an. Bukan sekedar siasat mengulur waktu, demi mencipta­kan keotentikan yang baru lagi,” ujar KASAU

 

Mendengar kata-kata itu. Wajah KASAD menjadi merah pa­dam. “Saya mengerti arah mata pisau. Saya memang yang membe­ri izin Kulyubi untuk misi ini. Alasannya cukup jelas, akan sangat ber­­bahaya bila pemberontak men­dapat persenjataan baru. Jika ke­­bocoran dan kegagalan ini harus ada yang tanggung jawab, sa­­ya bersedia menanggungnya.” Dan ia pun me­nyambung, “Kul­yu­bi hanyalah pemrakarsa dan komandan pelaksana misi itu. Te­ta­pi jangan sekali-kali menilai saya—sebagai KASAD maupun pri­ba­di—akan melakukan hal yang serendah itu. Saya tidak akan me­­rubah atau menciptakan bukti baru, seperti yang saudara kata­kan. Walau tebus­annya saya akan dipecat oleh Panglima Terting­gi.”

Semua tertegun. Ruangan hening.

Kulyubi menunduk, menatap ujung sepatunya yang sedikit ber­­noda ti­tik lumpur. KASAD pasti mundur, hatinya berbisik.

Dan seperti biasa, jika keadaan mulai memanas.

Tuk! Terdengar ketukan punggung jari tengah di meja.

 

Semua memandang Panglima ABRI.

“Situasi sudah mendesak. Hingga saat ini KRI Hiu masih di po­­sisi, dan belum bisa menghubungi pasukan di daratan. Sesuai ke­­sepakatan, ki­ta harus mengeluarkan pasukan dari pulau Kabilat. De­­ngan demikian, bila terjadi kondisi kritis, mau tidak mau kita akan melaksanakan operasi mi­liter Terbatas Terpadu di Kabilat. Ta­­­pi faktor eksternal juga harus tetap di­pertimbangkan.”

“Ada usul?” Mendagri buka suara.

“Bagaimana dengan putusan Panglima Tertinggi?” KASAU ber­­kata.

Semua terdiam lagi.

“Jadi apa fungsinya si penunjuk jalan itu?” Mendagri menyela.

“Harun?” balas KASAD. “Kita kurang mengenal medan. Os­kar yang me­masukkan dia ke dalam operasi ini. Alasannya untuk le­­bih mempercepat gerak.”

“Apakah itu berhasil?”

“Kita akan tahu semuanya, bila semua ini telah selesai,” tukas K­A­SAD jeng­kel.

“Untuk apa menunggu selesai, Bila saat ini misi sudah gagal.” Men­­lu berkomentar.

“Belum. Mereka hanya sedang mengalami hambatan,” bantah KASAD.

Kastaf menghela nafas. Dan akhirnya berkata. “Tujuan di­ada­kannya misi Konta sangat jelas. Positif. Tapi dalam prosesnya, meng­­alami hal yang memalukan. Usulan KASAD, mengenai pe­ning­­katan Operasi, sangat rasional dan obyektif. Namun dampak po­­­litisnya terlalu riskan. Konflik akan semakin besar, bahkan ska­la­nya pun bisa lebih luas dan tinggi. Untuk meng­ambil keputusan, saya ingin mengajukan pertanyaan secara terbuka ke­pada Kul­yubi.”

KASAD memandang tajam.

“Bagaimana menurut pendapatmu tentang pasukan Santoso. Se­­kiranya mereka saat ini masih hidup dan bertahan, apa mereka bi­­sa mematuhi jad­wal KRI Hiu?”

Kulyubi menarik nafas, “Laporan terakhir menyebutkan pa­su­­kan San­toso menyerang Pelabuhan. Jika mereka berhasil, saya ya­­kin mereka bisa me­nepati jadwal. Pasukan itu sangat tangguh.”

“Tapi sontoloyo. Sudah tahu gua kosong, malah masuk ke pe­­labuh­an,” sela Menlu.

“Mereka kreatif dan berani!” KASAD menukas.

Kastaf mengangkat tangan. Meredakan suasana. “Kau yakin?” Kul­yubi ditanya sekali lagi.

Kulyubi mengangguk.

“Baiklah kalau begitu. Keputusanku adalah, misi terus berjalan se­suai ren­cana. KRI Hiu tetap bertahan hingga kedatangan mereka, atau ke­pas­tian nasib mereka. Tapi tak ada perluasan skala misi. Itu­lah kepu­tusanku. Ca­but perintah siaga I.”

Semua tertegun. Wajah Menlu agak lunak, perasaannya lega.

KASAD terlihat muram. Ia gagal menyelamatkan pasukannya.

Yang lain menghela nafas. Dan mulai berpikir siapa yang akan jadi KASAD dan Kastaf yang baru?

 

Begitu rapat selesai, KASAD memanggil Kulyubi. “Aku ingin me­­nanyakan satu hal padamu. Baru dalam rapat barusan aku men­de­ngar isti­lah perwira oposisi. Apa benar Oskar seorang perwira opo­sisi seperti yang dikatakan Mendagri.”

“Mungkin beliau melihat dari visinya Oskar akhir-akhir ini,” ja­wab Kul­yubi perlahan.

“Kau sendiri bagaimana?”

Kulyubi memandang KASAD. Ia sulit memberi jawaban.

KASAD menarik nafas. Ia berjalan keluar dan berhenti di tang­ga, me­nunggu mobil. “Kau pernah berpikir kita semua ini se­benarnya apa?”

“Maksud Bapak?”

KASAD tersenyum pahit, ingatannya menyambar-nyambar se­buah dialog film. Sekedar menyamarkan realita yang dihadapi­nya. “Aku memba­yangkan Indonesia ini adalah rumah yang besar. Ki­ta adalah anjing galak penjaganya. Siang dilepas, malam diikat. Bi­la siang ada tamu tak dikenal dan anjing itu menggonggong, an­jing itu akan langsung diikat atau dipukul pakai koran oleh pe­milik rumah. Tapi ketika malam hari, saat ba­haya lebih besar da­tang, anjing itu malah diikat. Bila datang orang jahat, ka­rena su­lit melawan, anjing itu pun terbunuh. Setelah itu, sebuah ku­buran di sudut kebun sudah merupakan anugerah termewah ba­ginya.”

Kulyubi memandang tajam. “Itu risiko kita…”

KASAD mengangguk. “Bukannya aku menyesali diriku sen­diri. Kega­galan memang bisa membuat seseorang bisa menilai hi­­dup yang sudah dipi­lihnya. Termasuk nilai seragamnya. Jadi m­iliter sebenarnya adalah men­cari kesulitan. Harus siap jadi orang pertama yang mati, demi orang ba­nyak. Tetapi juga harus diam, se­waktu orang banyak yang kita bela itu tak butuh lagi, dan me­ludahi kita. Dan dungunya, aku dan Oskar sudah lama menyadari hal itu, tetapi tetap mencintai hidup yang sulit ini.”

Melihat Kulyubi terdiam, KASAD masuk ke dalam mobilnya.

 

Sebelum mobilnya bergerak, ia membuka kaca, dan memberi isya­rat agar Kulyubi mendekat.

“Ya…” Kulyubi menghampiri.

“Bila Oskar diklasifikasikan sebagai perwira oposisi. Ada satu hal yang perlu kau ketahui.”

“Apa?”

“Aku pun bisa dipastikan masuk klasifikasi itu. Begitu juga Kas­taf.” KASAD menatap tajam, dan berkata tanpa ragu. “Karena itu, aku sekarang punya kesimpulan baru. Semua ini menuju satu ti­tik. Aku dan kastaf adalah sasaran utama dari semua kegagalan dan kebocoran itu.”

Kulyubi menukas. “Bapak sedang terbawa emosi, jadi…”

KASAD menggeleng. “Aku mengizinkan misi, karena melihat alas­an yang kau dan Oskar ajukan sangat kuat. Aku tak ingin me­lihat prajuritku ma­ti hanya karena ketakutan politik. Makanya aku berani mengadakan mi­si. Jika kau benar-benar tidak punya ke­pentingan lain sewaktu meng­ajukan misi itu, dan kau punya mo­tivasi yang sama denganku, lakukan satu hal!”

“Siap.” jawab Kulyubi.

“Bawa Oskar hidup-hidup ke Jakarta. Aku ingin tahu dari mu­lutnya sen­diri. Aku sangsi Oskar berbuat khianat.” KASAD pun menutup kaca mo­bilnya.

Kulyubi terdiam.

Mobil KASAD berlalu perlahan.

Itulah kejadian tadi malam.

 

Membawa Oskar ke Jakarta?

Kulyubi menghela nafas.

Sepatunya yang sudah berkilat disimpannya dekat pintu.

Bisakah keinginan KASAD terwujud?

 

Koran pagi datang. Ada berita yang menarik perhatiannya.

“Airnya bersih, susunya enak. Terimakasih, Jenderal.” KASAD di­sambut hangat dan tulus oleh penghuni asrama prajurit yang baru dire­novasi.

 

****

 

Di Bandung. Kinanti membuka jendela. Hawa pagi yang segar ma­suk ke da­lam kamarnya. Sambil berganti pakaian ia mengamati de­ngan cermat karya yang dise­lesaikannya tadi malam.

Jelek nian pekerjaanku, pikirnya.

Ia mendekat. Matanya menjelajah ke setiap sudut karyanya.

Mentah, lukisanku seperti dikekang pikiran semata. Hanya mengisi war­na, membuat bentuk. Sialan!

Tapi…ah sebodo amat.

Ini semua gara-gara Harun! Karena dialah aku tak bisa kon­sentrasi. Ka­rena dialah aku jadi cengeng. Karena dialah aku….

Kinanti kesal. Ia pun duduk.

Mengapa tidak ada kabar?

Sesudah kartu pos itu, Harun tak pernah menghubunginya la­gi. Dia kan bi­sa tilpon?

Mata Kinanti menumbuk sebuah kalung di atas meja. Ia me­raihnya.

Lama ia memperhatikan kalung milik Harun itu.

Dan tanpa sadar ia memegang kuping kirinya. Hm, antingku yang kiri ada di dia. Apa dia juga sering menimang-nimangnya?

Ia pun teringat kata-kata Sidharta, kakaknya. “Harun teman de­­kat­ku. Tapi dia tetap misteri bagiku. Selalu bergerak. Namun se­ring berjalan di tempat yang tak direncanakan, bahkan jalan yang tak perrnah dimim­pi­kan­nya. Dia seperti daun yang diterbangkan angin. Dia selalu berontak, ka­­rena harus selalu berada di tempat yang tak diharapkannya. Dia seperti elang. Tetapi elang yang selalu terbang di langit retak. Karena langit yang di­li­hat­nya, tak seperti langit yang kita pandang. Kulihat kau berusa­ha me­nang­kapnya. Aku khawatir yang kau lihat hanya bayang­annya, dan yang kau tangkap hanya kepakannya.” kata Sidharta.

Kinanti termenung.

Di luar, keadaan semakin terang. Suara pedagang roti sudah ter­dengar di ujung jalan.

 

****

 

Dua mobil itu terseok-seok menyiasati jalan tak beraspal, ber­gelom­bang dan banyak berkubang lumpur.

Harun bangkit dari tempat duduknya. Ia memandang sekeli­ling. Ia meli­hat tikungan dengan empat pohon kelapa berderet se­jajar. Itu tanda yang diingatnya bila akan masuk jembatan.

Ia bersuit keras.

Santoso menyuruh mobil berhenti. Harun memberi isyarat de­ngan gerakan tangan. Jembatan hampir dekat.

Santoso turun dan melihat ke sekitarnya. Di kiri hutan lebat, di kanan lembah curam. Ia turun dari mobil, mengamati dasar lem­bah. Ada sungai di bawah. Pasti menuju jembatan bailey. Ta­ngannya melambai memberi isyarat maju.

Harun mengeluh. Pasti aku yang disuruhnya mengintai.

Dugaannya tepat.

“Harun, bawa Eko! lihat situasi! Bila ada bahaya, kalian harus kem­bali da­lam tigapuluh menit. Lebih dari itu, aku anggap aman dan akan masuk ke sa­na.”

Tanpa basa-basi lagi Harun melangkah.

 

Semakin dekat tikungan ia makin ke kiri jalan. Menyelusuri se­mak. Ti­ba di tikungan ia berhenti untuk membaca situasi. Ia me­nunjuk ke kanan.

Eko pun bergerak. Setengah mengendap ia menyeberang ja­lan, meng­ambil posisi di bawah pohon kelapa. Lalu menyelinap ke dalam se­mak belukar.

Harun merayap maju perlahan. Namun belum jauh ia bergerak, ia se­gera berhenti. Matanya menatap ke depan dengan tegang. Ja­ri telunjuknya yang siap menekan picu terasa berkeringat.

Tatapannya tak lepas dari rimbunan daun yang nampak ber­goyang perlahan, kira-kira delapan meter di depannya. Pasti manusia. Saat itu tak ada angin. Tak mungkin goyang bila tak ada yang menyentuh.

Ia makin rapat dengan tanah. Dengan kekuatan tumit, deng­kul, dan si­ku, ia menggelosor agak menyamping. Debar jan­tungnya berdenyut keras.

Tiba-tiba terdengar bisikan, “Konta…

Harun terdiam, mencoba mendengarkan dengan seksama.

“Konta…?” terdengar lagi bisikan. Lebih jelas dari sebelum­nya.

Sialan! Kukira musuh, pikirnya. Ia pun balas berbisik. “Ya, Kon­ta juga…”

“Braja?”

“Bukan. Aku amatiran…,” balas Harun seenaknya.

 

Saat itu juga terdengar suara burung hutan. Eko memberi isya­rat aman juga.

“He..he..he..rupanya si mahasiswa,” Ahmad Basso muncul dari balik pohon.

Tak lama kemudian terlihat Eko keluar.

“Jajang masih hidup?” Basso bertanya.

Harun mengangkat bahu.

“Kalian bagaimana? Mana Margono?” Eko nimbrung.

“Di sana. Kita banyak tidur, apalagi Margono. Mayor mana?”

Harun menunjuk ke arah asal ia datang.

“Punya rokok?”

Kan kamu tidak merokok?”

“Banyak lintah di sungai…”

Harun menggeleng. Ia tak mau memberi rokok. Terlalu mewah hanya un­tuk mengusir lintah.

“Punya permen?”

Gila orang ini, minta terus.

Harun mendengus. Ia merogoh kantong mengambil permen karet. Di dalam saku terasa ada logam kecil nyangkut. Hm, apa ini? Ohh..anting pu­nya Kinanti, pikirnya.

Gila!