Oposisi
OPOSISI
Guy mendekati Santoso yang sudah duduk di jip. ”Saya punya usul.”
“Apa?”
“Dalam menghadapi bahaya. Membawa dua orang bersenjata, lebih menguntungkan dibanding dibebani dua keledai tanpa guna.”
Santoso menggeleng, “Kau salah. Aku tidak akan memberimu senjata, dan juga tak akan merasa kehilangan, bila ada dua keledai mati.”
Guy menyeringai, “Meskipun keledai itu pernah menolongnya?”.
Santoso mengangguk. “Ya. Tetapi kalian kuizinkan ikut, bila tak mau mati konyol di tempat ini.”
“Thanks, Mayor,” kata Guy. Ia memberi tanda kepada Channarong. Keduanya segera naik ke Landrover yang ada di belakang.
“Sorry,” kata Guy karena menyenggol bahu Harun agak keras.
Harun mendengus. Bule bau, pikirnya.
“Ayo,” terdengar Risman berseru.
Mesin Landrover menyala. Irama suara knalpotnya tak teratur. Dengan didahului suara kopling yang kasar, mobil itu tersentak ke depan, membuat penumpangnya berguncangan. Kalau sudah begini, sumpah serapah pun bermunculan. Dan yang paling gaduh tentu saja Jajang Nurjaman.
“Hei, goblok. Dasar sopir becak seperempat Arab. Ini mobil, bukan unta.”
Mansur yang mempunyai darah Arab-Tegal tertawa. “Siapa bilang unta, ini kerbau.”
“Pelan-pelan kalau star!” Jajang membentak.
“He, bukan star, tapi start! Kalau sama begonya jangan pamer,” sela Bram.
“Kamu yang tuli, tak dengar huruf te nya,“ balas Jajang keras. Suara mesin mobil sangat bising.
Bram cemberut. Ia berpaling pada Mansur yang nampak tegang mengemudikan mobil. Memang, Mansur nampak lebih tegang jadi sopir dibanding kalau dia sedang menghadapi musuh.
“Ke mana kita?” Guy bertanya.
“Cari mati,” jawab Harun.
Guy tertawa ringan.
“Kau bekas Airborne?” Harun bertanya singkat.
Guy melirik penuh selidik. “Mengapa bertanya demikian?”
Harun menceritakan sandi yang dilihatnya di kubu musuh sekitar penyulingan minyak.
“Benarkah?” Guy tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Itu jelas kode dari Joe. Itu berarti Joe Adams masih hidup. Dan Joe memang bekas anggota Airbone Divisi 82 sebelum bergabung ke Air America CIA .
“Jadi yang buat kode bukan kamu?” Harun yang kini jadi heran. Siapa lagi bule yang ditawan?
“Dia kawanku. Karena itulah aku di sini.”
Harun terdiam.
Guy balik bertanya memancing, “Darimana kau tahu itu kode Airbone?”
Harun mendesah. Ia tak menjawab.
“O, dia tahu segalanya. Dia mahasiswa, mister.” Jajang menyela sambil mengacungkan jempol.
“Mahasiswa?”
“Mahasiswa jurusan perang!” Jajang tambah lincah karena merasa ditanggap orang bule.
Bram menggaruk kupingnya sendiri. Kapan si Jajang ini bisa normal?
Guy tersenyum ringan.
“Ngapain mister di sini? Seperti di film saja jadinya. Mister agen rahasia apa? CIA, FBI, KGB , atau…PBB?” Jajang terus nyerocos.
Harun geli juga melihat kepolosan prajurit yang satu ini. Mampus lu, bule!
Guy nyengir.
“Dia bukan PBB, tapi dari PSB!” Mansur mengejek.
“PSB? Perserikatan Sepakbola Bogor?“ Jajang heran. Idiotnya nongol tanpa sengaja.
“Dasar goblok, PSB, Perserikatan Sial Bule yang kumaksud“
“Diam!” Risman membentak.
Jajang menggerutu tak jelas. Kesal nampaknya pada kawan-kawannya.
Harun menarik nafas. Gila. Semua gila. Tapi aku lebih gila lagi, pikirnya. Mengapa Tuhan selalu menempatkan diriku di tengah-tengah kehidupan seperti ini?
Tuhan? Harun tersentak.
Tapi sebuah guncangan membuatnya tak berpikir lebih jauh.
Dan dua mobil itu terus menderu meninggalkan pelabuhan.
****
Jakarta waktu itu masih subuh dan lengang.
Di ruang tengah rumahnya yang besar, yang terletak di kompleks militer di daerah Kramatjati, Jakarta Timur, sambil menikmati alunan suara Astrud Gilberto, Kulyubi asyik menggosok sepatunya.
Perlengkapannya selalu dibersihkannya sendiri. Bukan tak percaya orang lain. Selain sudah menjadi kebiasaannya sejak dari akademi, menyemir sepatu sebenarnya punya keasyikan tersendiri.
Sepatu yang sudah berkilat itu diamatinya.
Masih kurang, pikirnya.
Ia pun menggosok lagi. Inilah seninya semir gosok. Mengkilatnya tergantung intensitas gosokan. Semakin digosok ia akan semakin berkilat. Ia tak senang semir cair. Terlampau mudah, praktis. Cepat, tapi tidak memancing reaksi batinnya.
Ia menyukai sesuatu yang merambat, berproses, tapi meyakinkan. Seperti tanaman kecil yang biasa tumbuh di dinding luar rumah atau batu.
Menjalar tanpa diketahui.
Berkembang besar dan meluas tanpa menarik perhatian.
Orang baru sadar ketika tanaman itu sudah mendominasi ruang.
Tak mengagetkan.
Wajar. Semua orang menerimanya.
Persis kejadian dalam rapat tadi malam.
Suasana begitu panas. Karena masing-masing punya alasan kuat. Seperti telah diduganya. AD menjadi bulan-bulanan. Kastaf pun lebih banyak diam. Ia berada di posisi sulit. Semua, secara tidak langsung adalah tanggung jawabnya. Menlu dan Mendagri marah besar. Apapun argumen yang dikemukakan tumbang.
Akibat laporan dan info yang diberikan Olson Wells, misi Konta jadi “terbuka.” KASAD jadi tersudut, tapi ia tetap tegar. Risiko seperti ini sudah diperhitungkan, walau “penyebab” terbukanya di luar dugaan. Campur tangan Olson di luar perhitungan. Tapi ia pun tahu, Olson atau si CIA itu masuk karena ada gerakan anakbuahnya yang di luar kendali.
“Apa pun tujuan dan landasan yang digunakan, saat ini, misi militer itu hanya menghasilkan satu hal: kebocoran. Kebocoran secara militer dan politik. Misi bisa gagal total, dan juga kemungkinan protes resmi dari negara tetangga,” kata Menlu.
“Tapi sebelumnya Anda mengatakan sudah mengontak Menlu dan Menhan Filipina?” KASAD memotong.
“Kita memang pernah mengontak pemerintah Filipina, bahwa kita akan mengadakan operasi kecil di Kabilat. Mereka menyatakan setuju. Tetapi hal itu sebatas, bahwa mereka tidak akan ambil pusing. Karena pulau itu memang bukan wilayahnya. Kabilat wilayah bebas, mereka hanya negara terdekat ke pulau itu. Untuk itu mereka mengajukan syarat, agar misi kita jangan secara terang-terangan atau dalam kekuatan besar. Karena kalau terang-terangan, mereka tak mungkin lagi bersikap diam. Mereka harus memberi keterangan resmi kepada rakyatnya,” kata Menlu dengan nada emosi. “Dan apa yang kita rencanakan sekarang ini, adalah blunder bagi negeri kita. Apa pun alasannya, saya tetap tak setuju mengirim pasukan bantuan ke Kabilat.”
“Jelaskankan saja padanya bahwa kita hanya akan membantu pasukan kita yang terjebak di sana.”
“Pasukan kita memang harus keluar dari pulau itu. Tapi jika cara menolongnya dengan memperbesar skala operasi, ini berarti kita mempergunakan kekuatan resmi di wilayah internasional. Ini salah, dan akan berdampak besar.”
“Di situlah tugas Anda, menghilangkan kesan dan meyakinkan mereka bahwa tindakan kita hanya bersifat defensif, dan bertujuan keamanan nasional semata,” potong KASAD.
Menlu terdiam dengan geram. Dan menyambung. “Saya tidak setuju rencana itu!”
“Nyawa pasukan Santoso terancam!”
“Itu tanggung jawab Anda, Jenderal.”
KASAD kini yang terdiam.
“Bagaimana dengan CIA?” sela Mendagri.
“Mereka punya kepentingan juga untuk hal ini. Mereka jelas butuh stabilitas, karenanya mereka memberi tahu bahwa misi telah bocor,” jawab Mayjen Martinus. “Jika kita bertindak ke Kabilat, mereka akan diam.”
“Aku penasaran mengapa kau sebagai komandan misi bisa mengalami hal itu?” tunjuk KASAL pada Brigjen Kulyubi.
“Oskar dan saya selalu bersama-sama, tak pernah terjadi kegagalan dalam tugas. Saya tak menyangka bahwa ia mampu berbuat itu.”
“Tetapi bukankah kau juga tahu bahwa dia seorang perwira dari garis oposisi?” tukas Mendagri.
“Oposisi? Apa salahnya punya keyakinan yang berbeda?“ KASAD memotong. Kulyubi terdiam.
“Tidak. Tidak apa-apa. Tetapi setidaknya, bukti bahwa Oskar berkhianat, cukup memberi tanda bahwa pengaruh sikap oposan sangatlah berbahaya. Bukankah begitu jenderal?” Wapres yang selalu diam memberi komentar.
KASAD menggeleng, “Yang kita sebut sebagai bukti, baru dari sepihak. Kita harus tanya dahulu Oskar. Saya belum yakin Oskar punya niat serendah itu.”
“Bukti yang kita punyai otentik. Baik dari CIA maupun temuan Pusaka, dan Kulyubi mempunyai benang merah yang jelas.”
Namun KASAD tetap bertahan, “Bukti yang satu berasal dari agen CIA. Satu lagi, Kulyubi mendapatnya dari kapten Pusaka. Pusaka menemukannya dari seorang yang terbunuh. Otentik bisa jadi, tetapi masalah ini tidak cukup hanya dengan bukti seperti itu. Kita masih perlu penyelidikan lebih mendalam. Justru pada keotentikannya itu.”
“Saya setuju pemikiran itu. Asal berdasarkan landasan demi kebenaran. Bukan sekedar siasat mengulur waktu, demi menciptakan keotentikan yang baru lagi,” ujar KASAU
Mendengar kata-kata itu. Wajah KASAD menjadi merah padam. “Saya mengerti arah mata pisau. Saya memang yang memberi izin Kulyubi untuk misi ini. Alasannya cukup jelas, akan sangat berbahaya bila pemberontak mendapat persenjataan baru. Jika kebocoran dan kegagalan ini harus ada yang tanggung jawab, saya bersedia menanggungnya.” Dan ia pun menyambung, “Kulyubi hanyalah pemrakarsa dan komandan pelaksana misi itu. Tetapi jangan sekali-kali menilai saya—sebagai KASAD maupun pribadi—akan melakukan hal yang serendah itu. Saya tidak akan merubah atau menciptakan bukti baru, seperti yang saudara katakan. Walau tebusannya saya akan dipecat oleh Panglima Tertinggi.”
Semua tertegun. Ruangan hening.
Kulyubi menunduk, menatap ujung sepatunya yang sedikit bernoda titik lumpur. KASAD pasti mundur, hatinya berbisik.
Dan seperti biasa, jika keadaan mulai memanas.
Tuk! Terdengar ketukan punggung jari tengah di meja.
Semua memandang Panglima ABRI.
“Situasi sudah mendesak. Hingga saat ini KRI Hiu masih di posisi, dan belum bisa menghubungi pasukan di daratan. Sesuai kesepakatan, kita harus mengeluarkan pasukan dari pulau Kabilat. Dengan demikian, bila terjadi kondisi kritis, mau tidak mau kita akan melaksanakan operasi militer Terbatas Terpadu di Kabilat. Tapi faktor eksternal juga harus tetap dipertimbangkan.”
“Ada usul?” Mendagri buka suara.
“Bagaimana dengan putusan Panglima Tertinggi?” KASAU berkata.
Semua terdiam lagi.
“Jadi apa fungsinya si penunjuk jalan itu?” Mendagri menyela.
“Harun?” balas KASAD. “Kita kurang mengenal medan. Oskar yang memasukkan dia ke dalam operasi ini. Alasannya untuk lebih mempercepat gerak.”
“Apakah itu berhasil?”
“Kita akan tahu semuanya, bila semua ini telah selesai,” tukas KASAD jengkel.
“Untuk apa menunggu selesai, Bila saat ini misi sudah gagal.” Menlu berkomentar.
“Belum. Mereka hanya sedang mengalami hambatan,” bantah KASAD.
Kastaf menghela nafas. Dan akhirnya berkata. “Tujuan diadakannya misi Konta sangat jelas. Positif. Tapi dalam prosesnya, mengalami hal yang memalukan. Usulan KASAD, mengenai peningkatan Operasi, sangat rasional dan obyektif. Namun dampak politisnya terlalu riskan. Konflik akan semakin besar, bahkan skalanya pun bisa lebih luas dan tinggi. Untuk mengambil keputusan, saya ingin mengajukan pertanyaan secara terbuka kepada Kulyubi.”
KASAD memandang tajam.
“Bagaimana menurut pendapatmu tentang pasukan Santoso. Sekiranya mereka saat ini masih hidup dan bertahan, apa mereka bisa mematuhi jadwal KRI Hiu?”
Kulyubi menarik nafas, “Laporan terakhir menyebutkan pasukan Santoso menyerang Pelabuhan. Jika mereka berhasil, saya yakin mereka bisa menepati jadwal. Pasukan itu sangat tangguh.”
“Tapi sontoloyo. Sudah tahu gua kosong, malah masuk ke pelabuhan,” sela Menlu.
“Mereka kreatif dan berani!” KASAD menukas.
Kastaf mengangkat tangan. Meredakan suasana. “Kau yakin?” Kulyubi ditanya sekali lagi.
Kulyubi mengangguk.
“Baiklah kalau begitu. Keputusanku adalah, misi terus berjalan sesuai rencana. KRI Hiu tetap bertahan hingga kedatangan mereka, atau kepastian nasib mereka. Tapi tak ada perluasan skala misi. Itulah keputusanku. Cabut perintah siaga I.”
Semua tertegun. Wajah Menlu agak lunak, perasaannya lega.
KASAD terlihat muram. Ia gagal menyelamatkan pasukannya.
Yang lain menghela nafas. Dan mulai berpikir siapa yang akan jadi KASAD dan Kastaf yang baru?
Begitu rapat selesai, KASAD memanggil Kulyubi. “Aku ingin menanyakan satu hal padamu. Baru dalam rapat barusan aku mendengar istilah perwira oposisi. Apa benar Oskar seorang perwira oposisi seperti yang dikatakan Mendagri.”
“Mungkin beliau melihat dari visinya Oskar akhir-akhir ini,” jawab Kulyubi perlahan.
“Kau sendiri bagaimana?”
Kulyubi memandang KASAD. Ia sulit memberi jawaban.
KASAD menarik nafas. Ia berjalan keluar dan berhenti di tangga, menunggu mobil. “Kau pernah berpikir kita semua ini sebenarnya apa?”
“Maksud Bapak?”
KASAD tersenyum pahit, ingatannya menyambar-nyambar sebuah dialog film. Sekedar menyamarkan realita yang dihadapinya. “Aku membayangkan Indonesia ini adalah rumah yang besar. Kita adalah anjing galak penjaganya. Siang dilepas, malam diikat. Bila siang ada tamu tak dikenal dan anjing itu menggonggong, anjing itu akan langsung diikat atau dipukul pakai koran oleh pemilik rumah. Tapi ketika malam hari, saat bahaya lebih besar datang, anjing itu malah diikat. Bila datang orang jahat, karena sulit melawan, anjing itu pun terbunuh. Setelah itu, sebuah kuburan di sudut kebun sudah merupakan anugerah termewah baginya.”
Kulyubi memandang tajam. “Itu risiko kita…”
KASAD mengangguk. “Bukannya aku menyesali diriku sendiri. Kegagalan memang bisa membuat seseorang bisa menilai hidup yang sudah dipilihnya. Termasuk nilai seragamnya. Jadi militer sebenarnya adalah mencari kesulitan. Harus siap jadi orang pertama yang mati, demi orang banyak. Tetapi juga harus diam, sewaktu orang banyak yang kita bela itu tak butuh lagi, dan meludahi kita. Dan dungunya, aku dan Oskar sudah lama menyadari hal itu, tetapi tetap mencintai hidup yang sulit ini.”
Melihat Kulyubi terdiam, KASAD masuk ke dalam mobilnya.
Sebelum mobilnya bergerak, ia membuka kaca, dan memberi isyarat agar Kulyubi mendekat.
“Ya…” Kulyubi menghampiri.
“Bila Oskar diklasifikasikan sebagai perwira oposisi. Ada satu hal yang perlu kau ketahui.”
“Apa?”
“Aku pun bisa dipastikan masuk klasifikasi itu. Begitu juga Kastaf.” KASAD menatap tajam, dan berkata tanpa ragu. “Karena itu, aku sekarang punya kesimpulan baru. Semua ini menuju satu titik. Aku dan kastaf adalah sasaran utama dari semua kegagalan dan kebocoran itu.”
Kulyubi menukas. “Bapak sedang terbawa emosi, jadi…”
KASAD menggeleng. “Aku mengizinkan misi, karena melihat alasan yang kau dan Oskar ajukan sangat kuat. Aku tak ingin melihat prajuritku mati hanya karena ketakutan politik. Makanya aku berani mengadakan misi. Jika kau benar-benar tidak punya kepentingan lain sewaktu mengajukan misi itu, dan kau punya motivasi yang sama denganku, lakukan satu hal!”
“Siap.” jawab Kulyubi.
“Bawa Oskar hidup-hidup ke Jakarta. Aku ingin tahu dari mulutnya sendiri. Aku sangsi Oskar berbuat khianat.” KASAD pun menutup kaca mobilnya.
Kulyubi terdiam.
Mobil KASAD berlalu perlahan.
Itulah kejadian tadi malam.
Membawa Oskar ke Jakarta?
Kulyubi menghela nafas.
Sepatunya yang sudah berkilat disimpannya dekat pintu.
Bisakah keinginan KASAD terwujud?
Koran pagi datang. Ada berita yang menarik perhatiannya.
“Airnya bersih, susunya enak. Terimakasih, Jenderal.” KASAD disambut hangat dan tulus oleh penghuni asrama prajurit yang baru direnovasi.
****
Di Bandung. Kinanti membuka jendela. Hawa pagi yang segar masuk ke dalam kamarnya. Sambil berganti pakaian ia mengamati dengan cermat karya yang diselesaikannya tadi malam.
Jelek nian pekerjaanku, pikirnya.
Ia mendekat. Matanya menjelajah ke setiap sudut karyanya.
Mentah, lukisanku seperti dikekang pikiran semata. Hanya mengisi warna, membuat bentuk. Sialan!
Tapi…ah sebodo amat.
Ini semua gara-gara Harun! Karena dialah aku tak bisa konsentrasi. Karena dialah aku jadi cengeng. Karena dialah aku….
Kinanti kesal. Ia pun duduk.
Mengapa tidak ada kabar?
Sesudah kartu pos itu, Harun tak pernah menghubunginya lagi. Dia kan bisa tilpon?
Mata Kinanti menumbuk sebuah kalung di atas meja. Ia meraihnya.
Lama ia memperhatikan kalung milik Harun itu.
Dan tanpa sadar ia memegang kuping kirinya. Hm, antingku yang kiri ada di dia. Apa dia juga sering menimang-nimangnya?
Ia pun teringat kata-kata Sidharta, kakaknya. “Harun teman dekatku. Tapi dia tetap misteri bagiku. Selalu bergerak. Namun sering berjalan di tempat yang tak direncanakan, bahkan jalan yang tak perrnah dimimpikannya. Dia seperti daun yang diterbangkan angin. Dia selalu berontak, karena harus selalu berada di tempat yang tak diharapkannya. Dia seperti elang. Tetapi elang yang selalu terbang di langit retak. Karena langit yang dilihatnya, tak seperti langit yang kita pandang. Kulihat kau berusaha menangkapnya. Aku khawatir yang kau lihat hanya bayangannya, dan yang kau tangkap hanya kepakannya.” kata Sidharta.
Kinanti termenung.
Di luar, keadaan semakin terang. Suara pedagang roti sudah terdengar di ujung jalan.
****
Dua mobil itu terseok-seok menyiasati jalan tak beraspal, bergelombang dan banyak berkubang lumpur.
Harun bangkit dari tempat duduknya. Ia memandang sekeliling. Ia melihat tikungan dengan empat pohon kelapa berderet sejajar. Itu tanda yang diingatnya bila akan masuk jembatan.
Ia bersuit keras.
Santoso menyuruh mobil berhenti. Harun memberi isyarat dengan gerakan tangan. Jembatan hampir dekat.
Santoso turun dan melihat ke sekitarnya. Di kiri hutan lebat, di kanan lembah curam. Ia turun dari mobil, mengamati dasar lembah. Ada sungai di bawah. Pasti menuju jembatan bailey. Tangannya melambai memberi isyarat maju.
Harun mengeluh. Pasti aku yang disuruhnya mengintai.
Dugaannya tepat.
“Harun, bawa Eko! lihat situasi! Bila ada bahaya, kalian harus kembali dalam tigapuluh menit. Lebih dari itu, aku anggap aman dan akan masuk ke sana.”
Tanpa basa-basi lagi Harun melangkah.
Semakin dekat tikungan ia makin ke kiri jalan. Menyelusuri semak. Tiba di tikungan ia berhenti untuk membaca situasi. Ia menunjuk ke kanan.
Eko pun bergerak. Setengah mengendap ia menyeberang jalan, mengambil posisi di bawah pohon kelapa. Lalu menyelinap ke dalam semak belukar.
Harun merayap maju perlahan. Namun belum jauh ia bergerak, ia segera berhenti. Matanya menatap ke depan dengan tegang. Jari telunjuknya yang siap menekan picu terasa berkeringat.
Tatapannya tak lepas dari rimbunan daun yang nampak bergoyang perlahan, kira-kira delapan meter di depannya. Pasti manusia. Saat itu tak ada angin. Tak mungkin goyang bila tak ada yang menyentuh.
Ia makin rapat dengan tanah. Dengan kekuatan tumit, dengkul, dan siku, ia menggelosor agak menyamping. Debar jantungnya berdenyut keras.
Tiba-tiba terdengar bisikan, “Konta…”
Harun terdiam, mencoba mendengarkan dengan seksama.
“Konta…?” terdengar lagi bisikan. Lebih jelas dari sebelumnya.
Sialan! Kukira musuh, pikirnya. Ia pun balas berbisik. “Ya, Konta juga…”
“Braja?”
“Bukan. Aku amatiran…,” balas Harun seenaknya.
Saat itu juga terdengar suara burung hutan. Eko memberi isyarat aman juga.
“He..he..he..rupanya si mahasiswa,” Ahmad Basso muncul dari balik pohon.
Tak lama kemudian terlihat Eko keluar.
“Jajang masih hidup?” Basso bertanya.
Harun mengangkat bahu.
“Kalian bagaimana? Mana Margono?” Eko nimbrung.
“Di sana. Kita banyak tidur, apalagi Margono. Mayor mana?”
Harun menunjuk ke arah asal ia datang.
“Punya rokok?”
“Kan kamu tidak merokok?”
“Banyak lintah di sungai…”
Harun menggeleng. Ia tak mau memberi rokok. Terlalu mewah hanya untuk mengusir lintah.
“Punya permen?”
Gila orang ini, minta terus.
Harun mendengus. Ia merogoh kantong mengambil permen karet. Di dalam saku terasa ada logam kecil nyangkut. Hm, apa ini? Ohh..anting punya Kinanti, pikirnya.
Gila!