Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Part 12

Markas Skadron 31/Serbu, Semarang, pukul 13.00 wibb

Pusat Penerbangan Angkatan Darat.

Delapan buah Helikopter angkut dan serbu MI 35 P berwarna hijau gelap bergemuruh ketika dua mesin turboshaft menyala penuh memutar rotor baling-baling helikopter buatan Rusia tersebut. Warna hijau gelap dengan pentagram dan tanda gambar bintang di dalamnya menunjukkan mesin perang terbang ini milik Angkatan Darat.

 

Helikopter yang berbentuk seperti monster ini tampak angker dengan dua sayap pendek yang dicantoli rudal Anti Tank (AT-9) Ataka 130 mm serta roket 80 mm S-8 ditambah kanon multi laras 30 mm menambah kesan seram helikopter tersebut. Tiga awak pada setiap helikopter ini tampak sangat sibuk sementara sejumlah anggota Tentara Angkatan Darat duduk di dalam kabin penumpang dengan sebuah senapan mesin SM2 V3 kaliber 7,62 produksi PT Pindad terpasang di pintu kabin.

 

Di sebelah delapan Mi 35 P tersebut, 8 buah Helikopter NBO 105 buatan PT DI juga telah menyalakan mesinnya menambah semakin bising suara di markas penerbang Angkatan Darat ini. Delapan helikopter serang ringan ini datang tadi pagi dari Skadron 21/Serba Guna Pondok Cabe Jakarta. Delapan helikopter ini tak kalah menyeramkan dari rekannya yang datang dari Rusia. Senapan mesin FN Herstal M.3P kaliber 12,7 mm ditambah roket FFAR (Folding Fins Air Rockets) jenis T905 kaliber 2.75 inc dalam dua MLRS(Multi-Launch Rocket System). 8 helikopter NBO 105 yang penuh persenjataan ini mempunyai misi yang sama dengan helikopter-helikopter buatan Rusia tersebut.

 

"Heli 1 clear to take off "

 

Suara menara ATC di bandara Ahmad Yani melalui frekwensi peralatan radio yang tersambung ke helm pilot pesawat helikopter.

 

"Heli 1 Ready to Take Off!"jawab pilot helikopter

 

Pilot helikopter Mi35 ini segera menarik tuas throotle yang menimbulkan gemuruh suara rotor helikopter semakin keras mengalahkan deru ombak Laut Jawa di sebelah utara landasan. Perlahan-lahan roda helikopter yang semula menjejak di atas landasan itupun kemudian terangkat hingga beberapa meter sebelum kemudian perlahan melaju ke depan. Tak lama setelah helikopter pertama mengudara, lima belas helikopter lainnya segera mengikuti secara berurutan sehingga membentuk konvoi delapan helikopter yang melaju perlahan di depan podium.

 

Di atas podium, Kolonel Polpoke komandan Skadron 31/Serbu memberikan hormat dengan berdiri tegak serta sikap sempurna begitu delapan MI 35 tersebut melakukan flying pass di depannya. Pagi ini kolonel asal Ambon ini memang melepas delapan Helikopter Serbu sekaligus Angkut dengan senjata dan personel penuh untuk memperkuat daerah perbatasan Timor Leste. Perintah tersebut datang dari Mabes TNI yang diterimanya tadi malam yang langsung diteruskan kepada anak buahnya. Pelepasan pasukan helikopter tempur tersebut dilakukan dengan upacara kemiliteran yang diikuti seluruh personel di Skuadron tersebut.

 

Kapten Penerbang Andi Alfian yang memimpin pasukan tank terbang tersebut memberikan perintah untuk melakukan flying pass di hadapan podium dan pasukan yang berbaris rapi di lapangan markas Skuadron Heli Serbu tersebut. Di belakang barisan pasukan tersebut terlihat 16 Helikopter MI35 lainnya berjajar terparkir seakan barisan pasukan raksasa hijau yang menyeramkan. Di ujung lain beberapa helikopter angkut Mi-17 juga terparkir dengan gagah.

 

Dengan suara gemuruh enam belas helikopter tempur tersebut melayang rendah dan kemudian naik hingga ketinggian tertentu melayang ke arah timur. Beberapa pilot pesawat maskapai penerbangan yang tengah antri untuk take off di landasan Bandara Ahmad Yani seakan tak berkedip menyaksikan konvoi enam belas tank terbang di depan pesawat mereka yang datang dari arah pangaklan Skadron 31/Serbu. Sejumlah penumpang dalam pesawat-pesawat tersebut ikut melongok melalui jendela pesawat dengan mata berbinar. Suara jepretan kamera pun terdengar berulangkali disela komentar kekaguman para penumpang yang berlontaran di dalam kabin penumpang pesawat.

 

Siang yang yang cukup terik di kota Semarang tak menghalangi sebagian penduduk ibu kota Jawa Tengah ini mendongakkan kepala, menyaksikan defile pasukan helikopter tempur tersebut melintas di atas kota mereka menuju ke arah timur. Puluhan pekerja kantor dari level manejer sampai office boy yang berada beberapa gedung pencakar langit di kota tersebut terpukau melihat defile monster-monster udara tersebut. Helikopter-helikopter yang menyandang berbagai peralatan tempur tersebut terbang semakin jauh menyusuri pesisir pantai utara pulau Jawa menuju ke arah timur.

 

"Agak aneh juga kenapa untuk menjaga perbatasan yang hanya berbatasan dengan negara semacam Timor Leste harus mengerahkan helikopter serang sebanyak ini? Seperti mau perang saja..Mau perang dengan siapa?perang dengan UNMIT?perang melawan PBB?" Kapten Andi Alfian bertanya-tanya dalam hatinya.

 

Mata kapten penerbang Angkatan Darat ini terarah ke bawah di mana Jalan Tol Pantura yang lebar tampak padat dengan kendaraan yang melintas baik besar ataupun kecil. Walaupun begitu padat, jalan Tol yang membentang anatara Jakarta hingga ke Surabaya tampak lancar tanpa ada kemacetan. Kemacetan di ruas jalan pantura adalah cerita masa lalu (Bersambung)