Part 13
Jalan raya antara Surabaya-Sepanjang siang itu begitu ramai, namun di depan pintu gerbang sejumlah polisi lalu lintas tampak bersiaga dengan kendaraan mereka. Sejumlah polisi segera turun ke jalan dan meniupkan peluit untuk menghentikan kendaran-kendraan yang melintas.
"Jiancuk!..yo opo siih??""umpat seorang pengemudi angkutan kota jurusan Wonokromo-Sepanjang yang harus menghentikan kendaraan bercat hijau yang dibawanya.
Namun umpatan yang penuh kejengkelan itu melumer ketika dari dalam gerbang muncul sebuah jeep POMAL yang meluncur ke jalan raya. Dua buah sedan polisi lalu lintas dengan sirinenya yang meraung mendahului jeep yang dinaiki personel POM Angkatan Laut.
Masyarakat Surabaya, kota yang dikenal sebagai pangkalan Angkatan Laut terkuat di Indonesia- memang mmepunyai rasa segan kepada angkatan laut karena kebanggan terhadap prajurit-prajurit laut tersebut.
Di belakang jeep POMAL tersebut, muncul sosok kendaraan beroda rantai besi berbentuk tank berwarna kelabu dengan tulisan Marinir di badannya. Beberapa anggota marinir yang berjaga di pos jaga bersikap siaga ketika tank aphibi jenis BMP 3F itu melintas di depannya disusul beberapa tank sejenis di belakangnya.
Tank yang memiliki kanon otomatis 2A70 kaliber 100mm yang mampu meluncurkan amunisi HEFRAG (High Explosive Fragmentation) atau misil/roket anti tank 3UBK10 dengan jarak jangkau 4km. Selain kanon tersebut juga terdapat kanon 2A72 semi automatis kaliber 30mm yang mampu meluncurkan munisi AP (Armor Piercing) dan HEFRAG (High Explosive Fragmentation) dengan jarak jangkau 1,5km. Senapan mesin PKT kaliber 7,62 mm di sisi kanan dan kiri depan menambah tinggi daya kematian yang dihasilkan tank milik marinir tersebut.
Sepuluh personel yang terdapat dalam tank-tank tersebut yang masing-masing berperan sebagai gunner, commander, driver, operator senapan mesin serta sisanya adalah infanteri tampak bersiaga penuh. Ada 6 buah tank BMP 3F yang keluar dari gerbang marka pasukan Marinir tersebut di susul tank marinir BVP-2 buatan Slovakia. 6 buah tank BVP-2 yang mempunyai kanon berukuran 30mm itu dengan sejumlah personil di dalamnya menderu mengikuti 6 buah tank BMP 3F di depannya yang melaju dengan kecepatan sedang.
Di belakang selusin tank tersebut, dua buah kendaraan peluncur roket milik Marinir yang terhitung sudah berusia lanjut keluar dengan gagah. Kendaraan peluncur roket RM 70 penuh misile yang mampu meluncurkan 40 buah misile dalam waktu 20 detik terlihat garang di usianya yang sudah lanjut. Dua buah kendaraan peluncur roket seukuran truk tronton itu bergemuruh mengikuti dua belas tank yang lebih dahulu melaju di depannya. Di belakang nya menyusul 5 buah truk penuh personil Marinir lengkap dengan persenjataan mereka termasuk senjata SS2 M1 varian terbaru senjata buatan Pindad untuk Marinir yang ada dalam genggaman tangan mereka.
Konvoi kendaraan tempur milik Marinir menyusuri jalan raya sebelum kemudian memasuki jalan tol yang menuju ke arah tanjung perak Surabaya. Raungan mobil polisi di depan konvoi puluhan kendaraan tempur tersebut membuat para pengguna jalan lain menyempatkan diri menonton konvoi kendaraan tempur yang jarang terlihat di jalanan tersebut. Tujuan kendaran-kendaraan tempur ini adalah pelabuhan Tanjung perak untuk kemudian diberangkatkan menuju ke Pelabuhan Kupang.
Mangga Dua Mal, Jakarta pukul 13.00 wibb
Mal Penjualan Komputer dan Elektronik terbesar di Jakarta bahkan di Indonesia ramai seperti biasanya. Di salah satu toko komputer nampak dua orang berwajah garang berdiri memandang tajam seorang laki-laki separuh baya yang terlihat ketakutan.
"Kemarin khan sudah..kenapa masih kurang..kenapa cuman saya yang harus bayar lebih??"
"Bukan cuma kamu!..tapi seluruh china yang di negeri ini harus ditarik pajak lebih tinggi hehehe..kalo kamu nggak mau..anakmu Mei Lan juga boleh buat bayar pajak..hehehehe"
Seorang gadis keturunan mengigil di balik dinding mendengar kata-kata orang tersebut. Wajahnya pucat pasi bibirnya gemetar oleh rasa marah dan rasa takut. Seorang perempuan separuh baya yang tak lain adalah mamanya memeluk gadis cantik berkulit putih ini dengan wajah tak kalah pucat pasi.
Laki-laki separuh baya tersebut dengan gemetar menyerahkan tumpukan uang pecahan seratus ribu kepada kedua orang tersebut.
"Sudah sana pergi..jangan ganggu saya dan keluarga saya lagi!"
Sambil tertawa terbahak salah seorang dari mereka memasukan tumpukan uang seratus ribu tersebut di balik jaketnya.
Tanpa sadar, sosok tubuh tegap dan tinggi dengan seragam doreng darah mengalir menatap tajam dengan wajah membesi. Toko komputer tersebut memang dikunci pintunya dari dalam ketika dua orang tersebut berada di dalamnya, sehingga orang berseragam doreng dan berbaret merah itu tertahan di luar toko.
Laki-laki separuh baya itu baru menyadari ada sosok tubuh berdiri di luar pintu tokonya setelah dia menyerahkan uang. Laki-laki itu memperhatiakn beberapa lama sebelum kemudian berseru.
"A Kiok?"
Dua perempuan di balik dinding yang gemetar sejak tadi ikut terkejut. Sang gadis seketika meloncat ke arah pintu dan dengan bergegas dibukanya pintu toko yang dikunci dari dalam.
"De..de.!!."teriak sang gadis sambil memeluk sosok pria berseragam Pasukan Khusus Angkatan Darat yang tertulis nama A Kiok di tag nama seragamnya. Di pelukan adik kandungnya ini gadis cantik ini meledak tangisnya.
"Ci ci..tenang..cici.."kata A Kiok berusaha menenangkan kakak kandungnya tersebut.Dua orang berwajah kasar itu tampak gentar melihat kemunculan A Kiok dalam seragam seoarang anggota pasukan khusus.
"Ohh..loe mau jadi pahlawan?..kamu jangan macam-macam….gw keponakan Jendral Tejo Yudhoyono…Kalo loe macam-macam bisa gw bisa laporkan loe ke Oom Tejo"bentak salah seoarng dari dua orang tersebut dengan garang
A Kiok tersenyum.dengan tenang dia menghampiri kedua orang tersebut setelah melepaskan pelukan cicinya.
"Sudahlah..kembalikan uang yang tadi loe minta dari papa gw..dan jangan ganggu keluarga gw lagi…sekarang pergi!"
"Loe sok banget..gw yakin loe dapetin seragam loe di Pasar Senen!"
A Kiok menjadi tidak sabar. Dengan wajah memerah sersan anak buah Kapten Yudha Prawira ini menghampiri dua orang tersebut. Salah seorang dari mereka tampak merogoh ke balik jaketnya dan sedetik kemudian sepucuk revolver berada di genggamannya.
A Kiok tampak tenang. Tidak ada ketakutan terlihat di wajah sersan Kopassus ini walaupun sebuah revolver siap tembak berada di hadapannya.
"Jangan main senjata api sembarangan..ada undang-undangnya..! masak keponakan jendral nggak tahu?!" goda A Kiok.
"Dasar china keparat!"bentak laki-laki ytersebut dengan marah.
Lelaki pemegang revolver itu tidak mengetahui persis apa yang terjadi ketika tiba-tiba saja dia merasakan lengannya yang menggenggam revolver terasa sakit luar biasa namun dia sempat menarik pelatuk revolver tersebut sebelum dia menjerit kesakitan.
"Dor!"
Sebuah peluru melesat, namun sersan A Kiok terlebih dahulu memegang lengan lelaki berpistol tersebut dan mengarahkan ke atas sehingga peluru tersebut menembak langit-langit toko. Dalam waktu kurang dari satu detik sebuah pukulan mengarah ke ulu hati laki-laki tersebut. Laki-laki itu meraung kesakitan sebelum kemudian terduduk smabil menahan sakit yang luar biasa pada ulu hatinya.
Temannya melihat gerak sersan pasukan khusus ini bermaksud untuk lari, namun sebuah tendangan kaki yang keras menghantam punggungnya membuatnya terjerembab. Laki-laki ini mengerang keras sebelum dia jatuh terjerembab tanpa bisa bangun lagi karena tulang punggungnya terasa sakit luar biasa.
Suara tembakan revolver yang tidak mengenai sasaran tersebut membuat panik sebagian pengunjung mal yang melihat kejadian tersebut. Dalam waktu sekejap sejumlah Satuan Pengaman Mal telah berada di toko tersebut.
"A Kiok?"sereu salah seoarang anggota satuan pengaman yang mengenali sersan Kopassus tersebut.
Sersan A Kiok tersenyum ramah.Sersan Kopassus ini memang mengenal anggota Satpam ini dengan baik.
"Mas Jarot tolong bawa kedua sampah ini ke polisi..mereka hanya sampah yang mengotori mal ini dan juga Indonesia.."ujara A Kiok sambil menunjuk dua orang yang baru saja dilumpuhkan.
Satpam bernama Jarot tersebut tampak ragu
"Kalo ada apa-apa atau anak buah mereka ngamuk..hubungi gw..gw bisa minta bantuan temen-temen di Cijantung..gw jamin mereka mau buat ngebersihin sampah-sampah seperti ini.."
Melihat seragam yang dikenakan A Kiok..Satpam Mangga Dua mal ini mengangguk-angguk.
Setelah keadaan mereda A Kiok dipeluk keluarganya dengan haru. Ayah sersan anggota pasukan Khusus ini tampak berkaca-kaca memandang anak bungsunya tersebut.
"Maafkan Papa.sayang..papa dulu yang paling benci kamu masuk Kopassus..papa dulu pengen kamu yang nerusin usaha papa jualan di sini..sekarang papa sadar itu adalah pilihan kamu… nak"
A Kiok tersenyum.
"Maafkan A Kiok..pa..Biar nanti suami cici yang meneruskan usaha papa..biar A Kiok di sini aja jadi tentara."
"Ah loe..tahu aja gw blum punya cowok.."sergah Mei Lan kakak kandungnya
"Cici aja yg sok milih-milih…padahal antri tuh yang mau sama cici"
"Ya wajarlah..milih-milih…masa asal sih?"
Di benak A Kiok tiba-tiba saja muncul sosok wajah Letnan Eka yang tampan dnegan postur tubuh yang ideal. Tentunya cicinya yang cantik akan sangat pantas bersanding dengan Letnan di kesatuannya tersebut. A Kiok melihat cicinya tak kalah cantik dengan Saraswati, gadis cantik adik kapten Yudha kekasih Letnan Eka yang terbunuh di Australia dua tahun lalu. Namun melihat papanya tersebut ada rasa iba yang dirasakannya melihat lelaki yang semestinya beristirahat masih harus berkutat dengan tokonya sendirian(Bersambung)