Kepakan Elang
Kepakan Elang
Sudah sering ia mencoba menahan dan menghindari apa yang dirasakannya.
Ia pernah menganggapnya hanya sebagai bunga-bunga bawah sadar. Bahkan pernah memvonis sebagai letupan yang salah dalam membaca
situasi, bahwa apa yang diharapkannya adalah sesuatu yang tak mungkin.
Tetapi nuraninya berontak.
Kinanti saat ini. Dalam pandangannya jauh berbeda. Ia bukan lagi gadis kecil, atau adik sahabatnya. Ada
sesuatu
yang lain pada perasaannya. Harun sering mengotak-atik pertanyaan
itu.
Ia tak mengingkari ada hasrat tertentu yang sudah lama tak ditemuinya
tumbuh kembali. Namun di sisi lain, muncul juga kebimbangan
terhadap
nilai-nilai yang ada di seputar masalah tersebut.
Awal kembali ke Jakarta, ia sering datang ke rumah Sidharta. Mulanya ia menganggap biasa. Namun entah
bagaimana, mungkin sering terlibat dalam obrolan, gurau, semuanya jadi
berubah.
Kinanti sering membuatnya gelisah. Tapi juga membuat dirinya sadar pada
suatu tembok ketidakpantasan atau ketidaksepadanan.
Ia merasa dirinya tidaklah umum. Sehingga ia sendiri merasa ragu, bahwa lumpur pekat kehidupannya
yang sudah tebal, yang membungkus pribadinya, bisa terhapus.
Ia terlalu lama bergelimang dengan kekerasan dan kekejaman. Walau hal itu bukan tujuannya, ia selalu merasa tangannya penuh dengan
kekejian. Ini sungguh tidak sebanding dengan kemurnian adik sahabatnya.
Hal ini yang membuat perasaannya sering berontak pada kenyataan. Dari
posisi berbeda, nampaknya Kinanti juga mengalami hal yang sama.
Harun belum tahu pasti isi hatinya, tapi indera keenamnya sering memergoki
pandangan Kinanti yang aneh. Meski tidak begitu ahli soal wanita, untuk sekedar menafsirkan arti pandangan Kinanti,
Harun masih sanggup membacanya. Ini yang membuatnya jadi serba
salah.
Ia sadar sebagaimana lelaki. Namun sebagai manusia, yang penuh debu kehidupan,
ia menemukan banyak hambatan. Membuatnya terlempar ke dalam dilema.
Apalagi dari peristiwa yang terakhir itu.
"Pernah dengar album pertamanya yang berjudul Nyanyian Fajar?" kata
Kinanti. Dia fanatik pada musik Leo Kristi.
Itu awalnya ketika mereka usai bermain monopoli.
Harun menggeleng. Ia tidak tertarik.
"Mengapa? Sudah tak senang musik?"
"Bukan tak senang. Hanya sudah malas. Sudah tak terpikir
lagi."
"Masih sering nonton film?"
"Begitu juga"
"Wah payah. Kalau mas Dharta seperti itu. Kinkin tidak heran. Dari
dulu dia
memang tidak senang yang begitu. Mas Harun kan kebalikannya, senang
hura-hura. Mengapa sih sekarang sampai seperti ini. Sudah merasa tua ya.hihihi
makanya jadi seperti itu."
"Seperti apa?"
"Jadi banyak diam. Sekarang mas Harun seperti ingin jadi pendeta.
Selama ini,
sebelum di Jakarta, mas Harun ke mana saja sih?"
"Dharta tak pernah bicara?"
Kinanti menggeleng.
Harun menelan ludah, dan mengeluarkan rokok. "Kerja. Kerja di
Filipina"
"Asyik dong. Kerja apa?"
Harun sulit menjawab. Ia gelagapan. "Yahapa
saja."
"Besar gajinya?"
Pertanyaan polos membuat gerah. Harun merasa mulai ada jarak. Kinanti benar-benar
bersih.
"Tidak juga. Lusa mungkin sudah pergi lagi."
"Ke mana?
"Ada kerjaan."
"Kerja apa?"
Harun kian sulit menjawab. Ia mengalihkan pembicaraan. "Kalau kamu,
sudah lulus
mau kerja di mana?"
"Kerja? Jurusan yang Kinkin ambil, jurusan seni murni. Mana mungkin ada
model kerja seperti yang lainnya."
Harun tertawa. Bodoh ia bertanya seperti itu. Untuk menekan ketololannya
sendiri, ia pun mengandai-andai. "Ya, siapa tahu kerja di
Pemda."
"Ih amit-amit. Daripada kerja di Pemda, lebih baik
nganggur."
"Mengapa memilih jurusan lukis, bukan patung? Pelukis sudah banyak.
Susah hidup di profesi itu."
"Patung juga sama"
"Mengapa tidak memilih desain?"
"Tidak fokus untuk memuaskan, karena lebih senang mencari
kepuasan."
"Kalau begitu, harus siap miskin."
"Enak saja. Memangnya seni murni identik dengan miskin, sorry.
Yang memilih seni murni justru orang yang paling siap menjadi kaya dan
bahagia. Karena tidak berburu uang."
"Ya memang. Bahagia tapi bahagia sendiri. Tidak memburu uang,
hanya butuh terus"
"Ah, sialan,"
Kinanti tertawa.
Harun pun tertawa. Diam-diam ia heran sendiri, dirinya jadi begitu mudah
berubah, hatinya mendadak ringan. Ia senang melihat senyum Kinanti.
Ya, ia senang melihat senyum Kinanti.
Lagu-lagu saat itu pun seperti menambah semangat dalam meladeni
omongan
Kinanti.
Begitu juga nampaknya Kinanti, "Mas Harun sudah makan?"
"Memangnya mengapa?"
"Dari tadi siang hanya minum terus. Makan nasi goreng.. yo!"
"Di mana?"
"Cikini."
"Malas perginya. Kalau dibikinin sih mau."
Kinanti tertawa. Tadi ia berjanji mau memasakkannya. "Tetapi bantu
bikinnya?"
Harun mengangguk, tapi jadi bingung. Mengapa dirinya jadi begini?
Mereka ke dapur.
"Di Bandung, kostnya di mana?" tanya Harun.
"Jalan Gunung Teh. Mau ke sana?" Jawabnya sambil mengupas bawang.
Harun mengambil telor, "Tidak. Hanya ingin tahu saja"
"Mmm" gumam Kinanti perlahan. Tanpa sadar, ia mengupas lebih
cepat.
Harun mengocok telur. "Kapan Sidharta menikah?"
"Lima bulan lagi. Kalau mbak Sandra selesai S2nya. Kalau mas Harun
sendiri
kapan?"
Kocokan tangan Harun berhenti. "Belum kepikir."
"Mengapa?"
"Entahlah"
"Wah, masa? Bawa dong pacarnya ke sini"
"Sudah dua kali kamu bertanya seperti itu. Jawabannya akan tetap
sama."
"Ini serius. Mengapa sih tidak mau mengaku kalau sudah punya pacar?"
potong
Kinanti dengan nada tajam.
Harun balas menatap. Ia merasakan perubahan pada suara Kinanti.
Tanpa sadar ia
membalas dengan nada yang juga berubah, "Ini juga serius"
Dua-duanya terdiam.
Keadaan seolah ada yang menyendat. Tidak lancar.
Sekitar empat menit situasi seperti itu terjadi.
"Tolong nyalakan kompornya..," Kinanti memecahkan suasana.
Harun memutar putaran gas.
Keadaan masih membisu. Kinanti menoleh. Harun tetap diam.
Begitu juga sewaktu minyak mendidih berbunyi serak karena tuangan
bumbu pedas campur telur, tak mampu memecahkan kebisuan.
Akhirnya, "Bicara lagi, dong" kata Kinanti perlahan sambil memasukkan nasi ke
wajan.
Harun mengangkat bahu, merasa kehabisan kata-kata. Mata Kinanti begitu kuat
membikin guncang pertimbangannya. Biasanya mata itu tak berarti apa-apa untuknya.
Dan hatinya makin tak karuan. Persis seperti nasi yang diaduk-aduk
Kinanti.
"Kecapnya mas," pinta Kinanti.
Spontan Harun menuangkan kecap.
Tanpa sengaja bahu mereka bersentuhan.
Keduanya tak mengeluarkan suara.
Suasana tertentu yang mistis muncul.
Mereka seperti terbius menikmati keadaan.
Harun terus menuang kecap dan Kinanti terus mengaduk
Danterus mengaduk
Hingga
"Hei stop. Kecapnya kebanyakan!"
Harun mendadak kalang kabut. Ia menyumpah dirinya sendiri. Ia seperti terjaga dari
sebuah mimpi yang tak jelas.
Begitu juga Kinanti. Ia juga malu sendiri. Malu karena lupa, bahwa ia sedang
memasak.
"Wah, maaf Kin, lupa" Bisik Harun agak gugup.
"Tidak. Tidak apa-apa. Kinkin juga lupa"
Ucapan itu menyadarkan mereka pada satu hal. Bahwa telah terjadi perasaan
dan suasana yang serupa.
Mereka berpandangan beberapa detik.
Danakibatnya tidaklah sekecil yang diduga.
Harun jadi kikuk. Ia pura-pura mencari lap.
Kinanti jadi jengah, ia terus mengaduk-ngaduk nasi yang sudah basah
karena kecap.
"Sudah. Sudah, nanti tambah tak enak."
"O iya" Kinanti makin salah tingkah. Ia mengambil lap
dan mengangkat
wajan.
Namun ia tak bersemangat lagi.
Nasi goreng itu sudah jadi nasi sayur kecap!
Harun yang sudah siap menyiapkan piring jadi kagok sendiri,
Bagaimana sekarang?"
Kinanti pun jadi kaku, "Nggak tahu"
"Jadi?"
"Ya"
Keduanya berpandangan.
Harun merasa tenggorokannya kering.
Kinanti merasa punggungnya basah. Ia coba tersenyum.
Harun balas tersenyum tertahan, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Keduanya
saling memandang.
Dantiba-tiba tawa mereka berderai lepas.
Lepas.
Dan begitu lepaslepas
Suasana pun langsung berubah cair. Namun diam-diam keduanya merasakan ada
nada lain, di dalam irama tawa masing-masing.
Nada yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri.
Nada lembut dalam luapan yang tak jelas bentuknya.
Tapi hangat rasanya.
"Ah buang saja ya. Pasti tak enak sih," Kinanti
memutuskan.
"Terserah. Baiknya untuk ikan saja"
"Ah, ikan juga tidak akan mau makan nasi goreng sayur kecap begini."
Harun tertawa, begitu juga Kinanti.
Empat menit kemudian.
"Nah sekarang bagaimana?" tanya Kinanti.
Harun duduk di kursi meja makan, "Sudahlah, kita duduk saja"
"Minum?" tanya Kinanti sambil membawakan dua kaleng minuman dari
kulkas.
"panas sekali udara malam ini."
"Duduknya di luar yo. Dekat kolam."
Keduanya ke teras depan.
Bulan muncul seutuhnya.
Mereka ngobrol tanpa ujung pangkal. Sayup-sayup terdengar acara Berita
Malam TV. Ketika acara itu selesai, obrolan mereka masih terus
berlangsung.
"Tahu enggak. Dulu kalau melihat mas Harun, Kinkin sering takut.
Apalagi
kalau lihat matanya"
"Mengapa?"
"Matanya. Mata mas Harun mata orang sadis."
"Sekarang?"
"Gak."
Harun mengeluarkan rokok.
"Merokoknya banyak sekali sih."
Klise. Itu ucapan
perempuan. Tapi hatinya senang juga. Karena merasa diperhatikan. "Agar tahan lapar."
"Makan tembakau. Saja."
"Pakai kecap?"
Kinanti tertawa. Tanpa sengaja ia menggerakkan bahunya. Bahu mereka pun
jadi bersentuhan lagi. Tapi keduanya pura-pura tak tahu.
Harun memandang ke langit. Di hamparan kegelapan tampak tiga titik kecil
berkelip-kelip.
"Pesawat itu tinggi sekali sih." Ujar Kinanti spontan.
"Di ketinggian memang mengasyikkan." Jawab Harun perlahan.
"Tetapi kalau tanpa teman?"
"Tak masalah. Elang selalu terbang sendiri. Eagle Flies
Alone," kata Harun sambil menghembuskan asap rokok.
"Mengapa?"
"Yang berbondong-bondong itu burung kepinis, burung gereja. Juga
Bebek, domba, dan epigon."
"Ahh sombong juga rupanya."
"Sekali waktu, hidup terkadang menuntut untuk bersikap seperti itu.
Berani
berdiri seorang diri, walau akan hanyut dibawa arus berlari. Atau berjalan di
atas angin. Tak jejak di bumi bagaikan daun."
"Bicaranya kok seperti orang yang kesepian. Sok puitis."
Harun tertawa ringan. "Apa alasannya sampai punya pendapat
itu?"
"Banyak," balas Kinanti sambil tertawa. Kakinya
diayun-ayun.
"Apa?"
"Misalnya saja Ah, tidak." Tetapi di dalam hatinya Kinanti
berseru "Kamu egois, arogan, tidak mengertitidak mengerti apa yang kuinginkan!"
Harun memandang Kinanti. Darahnya mengalir lebih cepat.
Gila, dalam pandangannya saat itu Kinanti semakin menarik. Menciptakan
sengatan yang kian teratur di hatinya. "Ya sudah kalau tidak mau terus terang,"
akhirnya ia berkomentar sambil menahan derap di jantung.
"Soalnya takut mas Harun tersinggung sih"
"Tak mungkin"
"Benar?"
"Ya."
Kinanti tertawa renyah, tetapi tak sepatah pun ia menyatakannya.
Harun penasaran. Tanpa sadar ia memegang pergelangan tangan Kinanti.
Katakan!"
Kinanti menggeleng.
Genggaman Harun mengeras. Tetapi detik selanjutnya ia sadar. Ia pun melepasnya.
Kini Kinanti yang jadi penasaran. "Mengapa?" ia bertanya
perlahan.
"Apa?" Harun tak mengerti.
"Tidak," jawab Kinanti perlahan, tapi dalam hatinya ia
berseru, Mengapa dilepaskan?!
Harun mengguman, "Kok jadi serba tidak jelas begini. Ditanya tak
menjawab.
Bertanya, tapi tidak ingin jawaban."
"Sudahsudah, diam saja," balas Kinanti sambil tersenyum
dan memukul paha Harun,
tetapi laki-laki itu lebih cepat, tangan Kinanti ditangkapnya. Hap!
"Hei..," tapi Kinanti tak berontak. Yang lama,.hatinya
berbisik.
Dua pasang mata bertemu.
Muncul keheningan di situasi tersebut, ada gemuruh tersembunyi di dada
mereka.
"Maaf," Harun berbisik.
Kinanti mengangguk, senyumnya tetap terpasang. Namun hatinya kecewa. Mengapa
dilepas lagi
Kejadian itu sangat singkat, tapi membuat aliran darah terasa aneh.
Begitu abstrak namun hangat.
Alam jadi begitu intuitif.
Ada detak harmoni mistis di dalam pusaran waktunya.
Ada irama dalam suasananya.
Harun di nada suara satu.
Kinanti dalam suara dua.
Dalam pandangan Harun, rembulan makin tegas bundarnya.
Dalam pandangan Kinanti, bintang kian tajam kilatannya.
Tetapi di sisi lain, mereka merasakan kian tipisnya persediaan
kata-kata. Membuat keduanya banyak diam, dan kembali dilipat kebisuan.
Hal itu berlangsung untuk beberapa waktu.
Satu menit,
Dua menit,
Tiga menit
Akhirnya, gemersik angin menyadarkan Harun akan sesuatu.
"Sudah malam,mau pulang"
Kinanti tertegun. Kerongkongannya seperti tersumbat. Ia hanya mengangguk
walau hatinya menggugat, protes pada suasana. Ia merasa ada sesuatu
yang masih kurang.
"Mari masuk" Harun mengajak.
Di depan pintu Harun berhenti. "Tolong bilang pada Dharta, mulai besok aku
pergi untuk beberapa hari."
Kinanti mengangguk.
Wajahnya berubah jadi tak bersemangat, terlindung remang-remang cahaya
lampu.
"Aku pulang sekarang" Harun merasa kakinya berat. Ia jadi kikuk, perasaannya
tak karuan. Entah apa sebabnya.
"Ya pulang saja," ucap Kinanti perlahan.
Spontan, datar, tetapi ia jadi kaget sendiri. Karena mengucapkan kata-kata itu
secara tak sadar. "Eh bukan itu maksudnya, tetapi.," ia mencoba mengoreksi diri.
"Ya sudah kalau begitu, yo" kata Harun. Ia berbalik meninggalkan Kinanti
yang berdiri terpaku.
Harun berjalan.
Kepalanya menunduk.
Bagian dalam dadanya terasa berlubang. Ia menghitung langkah.
Satu, dua, tiga Pikirannya berkelebat kian kemari mencari sesuatu
yang jelas. Di langkah ke sebelas, sebuah keinginan tertentu
memaksanya untuk berpaling.
Kinanti masih di pintu sambil tetap memandangnya.
Harun berjalan lagi. Pikirannya berputar keras, dan�beberapa
de�tik ke�mudian ia
berbalik dengan gesit!
Nekadnya tersengat. �Kin�Kinanti.�
�Apa?� Jawab Kinanti lemah.
�Jadi nonton Leo Kristi itu?�
�Kenapa gitu?�
�Kapan?�
�Tanggal 28.�
�Aku antar, mau?� Suara Harun agak serak.
Kinanti tertegun. Tak percaya apa yang didengarnya. Ia se�perti
meli�hat
sejuta bintang berpijar kaget. Suaranya pun berubah. �Ka�tanya mau
per�gi��
�Tanggal itu aku sudah pulang. Pokoknya tunggu saja.
Aku pas�ti da��t�ang.�
�Benar?!�
Harun mengangguk kuat. Takut tak terlihat di dalam gelap!
Kinanti tersenyum.
Dunia ramah melebar.
Bulan di langit ikut goyang.
Sungguh edan putaran keinginan.
Harun berbalik lagi dan berjalan dengan cepat.
Langkahnya ringan. Dan cepat.
Cepat, cepat, cepat.
Dan cepat�
Kinanti bersandar ke tiang pintu.
Kinanti memejamkan mata.
Seribu kunang-kunang berpendar dalam hatinya.