KALELAWAR DAN BULAN
KALELAWAR DAN BULAN
Malam itu Kinanti sulit
tidur. Gelisah seperti irama semak-semak ditiup angin. Sementara sahabatnya yang saat itu numpang
di kamarnya sudah tidur berselimut.
Kinanti kesal, selimutnya
ditendang, lalu duduk
bersila di tepi tempat tidur. Tetapi Cempaka tak peduli, ia menariknya lagi, dan
kembali menjemput mimpi.
Huh! Kinanti mematikan
lampu. Suasana kamar menjadi remang, cahaya bulan menerobos kaca jendela.
Kinanti menghela nafas.
Sungguh tak ajeg rasanya
saat ini. Ada ragu merambat, membuat sebuah kenyataan jadi ditentang oleh dirinya sendiri.
Helaan nafasnya yang panjang mengundang rasa ingin tahu Cempaka yang
belum lelap.
"Kenapa sih "
Kinanti tak menyahut.
Pandangannya tertuju pada
rimbunan gelap pohon Tanjung. Cempaka hampir lelap ketika Kinanti bertanya. Suaranya tidak garang
lagi, "Paka, kau pernah punya sensasi?"
"Sensasi? Tanya aja
ke anak TPB, atau buka lagi SR 101 yang dulu."
"Ini bukan pelajaran
Pak Primadi!"
"Jadi apaan? Kau ini
aneh-aneh saja sih."
"Maksudku,
aku..," Kinanti merasa sulit meneruskan kata-katanya.
Cempaka makin salah jalur,
Maksudmu kau ingin cari sensasi? Mudah. Buat saja sawah dan kolam ikan di sepanjang jalan Sudirman
hingga ke patung Pemuda di Jakarta. Atau bariskan 5000 tukang baso dan nasi goreng di depan
Istana Merdeka, suruh bunyikan tok-toknya selama sehari suntuk. Bikin
katalog yang isinya agak sombong, dan sedikit mengada-ada. Undang media,
waktu diwawancara-pakai istilah yang keren-keren, agar wartawan
yang tak paham seni rupamerasa dirinya jadi kian bodoh. Kamu pun berlagak jadi seniman peduli. Kamu pasti bekensensasi pun tercapai."
"Bukan itu maksudku.
Ini mungkin tentangtentang sensasi yang berhubungan dengan satu bentuk pikiran yang "
"Kau sendiri pun tak
tahu. Itu yang bikin pusing. Aku malas. Sudah ngantuk begini, bicara soal definisi. Kamu memang tidak
jelas, kadang-kadang
intuitif, tapi juga sering kebangetan rasionilnya.
Bicara yang jelas. Kelakuanmu beberapa hari ini ngabstrak terus. Kau pusing apaan sih?
Pak Sudjoko yang baca ribuan buku saja tak pernah pusing. Mang Amir yang tak pernah naik
pangkat pun gak pusing. Kamu ini pusing karena ."
"Bukan..bukan! Sudah
tidur saja sana!" Kinanti jadi gusar, ia bangkit dan berjalan
ke ruang depan.
Semua orang
tidak mengerti!
Ia duduk di sofa.
Tombol radio ditekan, tetapi sebelum lagu terdengar,
ia matikan
lagi dengan kesal. Gila! ini sungguh-sungguh gila, ia
berteriak dalam hati.
Dan ia pun kaget sendiri.
Kata-kata seronok itu,
persis seperti apa yang sering didengarnya bila Harun sedang kesal, kaget, atau kagum pada sesuatu.
Harun?
Ya Harun.
Sedang apa dia
sekarang?
Mendadak ia ingat sesuatu.
Ia buka tasnya, mengambil sebuah kalung kecil. Kalung kecil yang ada tulisan Numba
Ten-Aos.
Dua jam kemudian, ia baru
tertidur. Tapi sekarang, dengan kalung kecil melingkar di lehernya.
******
Puluhan kilometer dari
tempat itu, pada detik yang sama.
Harun duduk di undakan
pintu masuk barak. Baru tadi sore mereka kembali dari Cadasbolong. Tiga hari latihan di pantai itu
terasa
berat, tapi mereka berhasil melakukan apa yang diharapkan.
Malam sudah larut, tapi ia
sulit tidur. Ada sesuatu yang bergalau dalam dirinya, dan membuat penat dalam memandang segala
sesuatunya.
Pintu berderit. Risman
muncul.
Wajah Letnan itu lain dari
biasa. Seperti orang lelah. Biasanya Risman selalu bersikap tenang. Agak lama Letnan itu berdiri
tanpa bersuara. Harun diam tak memberi sapa. Helaan nafas Risman begitu
berat. Harun merasa ada kesamaan getaran antara dirinya dengan
Risman.
"Menghadapi sesuatu
yang belum pasti, membuat kesal dan melelahkan," katanya sambil duduk di samping Harun.
"Itu biasa, semua
akan mengalami hal itu," balas Harun acuh tak acuh.
"Belum tentu.
Umpamanya saja untuk dia," Risman menunjuk ke prajurit yang tidur di bangku.
Bertus, pikir Harun.
"Baginya bertempur
atau tidak sama saja. Di garis depan ia menikam dengan pisau. Di garis belakang, hanya dengan sikap ia
bisa membunuh seseorang."
"Pasti ada sebabnya
ia sampai demikian."
"Kamu sendiri
bagaimana ? "
Harun menyeringai.
Pertanyaan yang sulit dan tidak ingin dijawab.
Risman mengeluarkan rokok
kreteknya. "Aku sudah baca data dirimu. Sebenarnya apa yang kau cari? Aku sendiri terkadang masih
sering mempertanyakan mengapa jadi tentara."
"Tetapi tetap
menyenangkan kan ?"
Risman menghisap
kreteknya. "Ya."
"Sudah lama
bertugas?"
"Aku remaja semasa
ramai-ramainya Nasakom. Pesantrenku dibakar, aku tak tahu lagi apa yang harus dikerjakan.
Lalu aku daftar dan keterusan jadi seperti ini. Kau sendiri?"
Harun terdiam. Ia
mengalihkan pembicaraan. "Keluarga bapak di mana?"
"Citiis, Garut."
"Putranya berapa,
Pak?"
"Empat. Paling besar
sudah bekerja, yang terkecil baru SMP kelas satu. Kamu sendiri asalnya dari mana?" Risman balik bertanya.
"Didi
Bandung"
"Menikah?"
"Belum terpikir..
."
"Kasihan yang jadi
isterimu"
Harun tersenyum pahit.
Hatinya terjentik. Seraut
wajah wanita berkelebat mengibas perasaan.
"Hidup seperti kita
memang penuh risiko," kata Risman dengan ringan. "Aku pernah berpikir, aku adalah orang yang
bodoh. Tapi ternyata ada yang lebih bodoh lagi, orang itu ternyata istriku sendiri"
Harun menoleh tak
mengerti.
Risman tersenyum.
Bodoh karena, mau-maunya memilih suamisepertikuseorang laki-laki yang harus siap mati kapan saja.
Istriku selalu harus siap jadi janda, dan mengurus anak-anak dengan uang
pensiun kecil. Paling tidak, dia harus menerima bila suaminya cacat atau luka. Menurutku,
dia benar-benar bodoh, tapi juga pemberani, tangguh, dan jauh lebih
hebat dari istri
seorang dokter atau pejabat. Menurutmu, apa ada yang lebih berani dari
istriku? Sabar, dia tak pernah protes pada situasi, walau ayah anak-anaknya harus mati demi sesuatu
yang belum tentu menguntungkan bagi dirinya sendiri. Dia, istriku, sungguh hebat walau
suaminya
dihina oleh masyarakat sekali pun.ia tetap tegar."
Harun tersenyum masam.
Ia pun seperti baru sadar.
Istri seorang prajurit tempur punya risiko menderita lebih besar dibanding istri dosen atau istri
camat. Begitu juga bila seorang gadis pacaran dengan seorang tentara, dibutuhkan
keberanian tertentu untuk menanggung akibat karir kekasihnya.
Gadis yang pacaran dengan tentara atau polisi, pasti memiliki
kekhawatiran risiko pacarnya mati, dan celaka yang lebih tinggi, dibanding gadis yang pacaran dengan
mahasiswa atau calon pedagang.
Apalagi dibanding dengan
dirinya, yang serba tidak jelas? Wanita yang jadi istrinya mungkin harus dikasihani. Seperti yang
dikatakan
Risman barusan
Harun jadi tak tertarik
pada obrolan selanjutnya, ia tenggelam pada arusnya sendiri. Kegelisahannya berubah bentuk, tetapi
yang ini sangat mengganggu emosi. Ia teringat sesuatu, ia merogoh saku.
Ketika logam kecil itu teraba, ia menghela nafas. Apakah Kinanti tahu bahwa anting itu selalu
kubawa? Apa dia juga tahu apa yang kurasakan? Mustahil.
Harun memandang langit.
Seekor kalelawar terbang
berlatar belakang bulan.
Indah, tapi juga terkesan
menakutkan.
Sebagaimana bila ia mulai
berpikir tentang Kinanti.
Begitu mengesankan, seakan
menemukan masa depan. Tetapi juga penuh nuansa kekhawatiran, bahwa harapan itu hanya akan
berbentuk bayang.
Gila aku ini, pikir Harun.
Tetapi bayang Kinanti
terus mengikuti.
Peristiwa demi peristiwa
bersama Kinanti membayang lagi di benaknya.