Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

JEMBATAN

JEMBATAN

Santoso menarik nafas lega sewak­tu menda­pat isyarat aman.

Ketika tiba di jembatan, Sidik dan Baringin me­nyambutnya. Mar­gono ada di tempat ter­sem­bunyi de­ngan M-50 nya yang berat. Ba­dan­nya yang besar berselempang pe­luru.

“Bagaimana keadaan kalian?”

“Sehat, mayor,” jawab Sidik.

Santoso menyuruh mobil di­parkir di tem­pat tersembunyi. Bram me­nyelusupkannya agak ke dalam, di rimbunan pohon palm liar. Se­nap­an mesin M-50 ditutup daun pisang, agar tidak berkilat bila diterpa sinar ma­tahari.

“Hei, Batak, horas!

Baringin mencibir. “Dasar, Sunda be­lekuk…”

Jajang tertawa menyeringai. Ha­run diam-diam kagum pada kopral ini. Gurauannya tak per­nah ku­rang. Semakin situasi genting, gu­raunya malah kian meningkat.

“Kita istirahat dulu di sini,” kata San­toso. Me­reka istirahat di tempat per­sembunyian yang dipergunakan Si­dik dan kawan-kawan­nya sewak­tu berpos di situ. Kira-kira 30 meter da­ri tepi jalan, terlindung pepohonan dan se­mak belukar tinggi.

Peter duduk di batu besar.

“Bagaimana lukamu?” tanya Santoso

“Agak mendingan.”

Harun berdiri di bawah pohon, meman­dang alam sekitarnya.

 

Di sebeah kanannya, bukit hutan yang lebat. Di se­belah ki­rinya, lembah berbatu.

15 meter menurun dari permukaan jalan, ter­dapat sungai ke­cil yang memisahkan daerah itu dengan kawasan pang­kalan. Riak airnya terdengar hingga di tempatnya.

Jembatan bailey itu sudah tua, tapi masih nampak kuat dan bi­sa dipakai. La­pisan aspalnya sudah berganti dengan tanah.

“Waktu landasan timur diperbaiki oleh Fabian, jembatan ini sem­pat ju­ga diperkuat,” kata Harun tak sengaja.

“Fabian? Siapa itu, aku baru dengar,” komentar Basso, yang se­jak di­beri permen karet terus mengikutinya.

Harun tertegun. Tak mungkin menjelaskan semuanya pada Basso. Ia pun menjawab seenaknya. “Itu…aku baca di…sejarah.”

“Pahlawan dari mana dia itu?” Basso berpikir.

“Dari Madagaskar,” ucap Harun tertahan.

Basso mengangguk. Pasti buku Sejarah Baru, seingatku nama itu tak ada di buku sejarah yang pernah kubaca.

 

Sekitar duapuluh menit Santoso bercakap-cakap tentang si­tua­si de­ngan Sidik, Baringin, dan Margono.

Yang menarik perhatiannya adalah laporan mengenai adanya ge­rakan truk-truk tertutup menuju pangkalan udara.

“Kira-kira apa muatannya?”

“Tak bisa dilihat, tapi dikawal kuat.”

Santoso mengangguk. Bila muatan truk itu tidak istimewa, me­ngapa harus ditutup dan dikawal kuat?

Santoso memandang Risman. “Jika ada muatan ke pangkalan udara. Ber­arti pangkalan itu dikuasai mereka. Mungkin di­jadikan pos utama.” Dan ia menyambung lagi, “Mungkin juga… target kita ada di sana.”

 

Risman menghela nafas. Ia tahu arah perkataan Santoso. Ma­yor ini pa­s­ti berniat menyelidikinya.

Benar. Santoso melihat arlojinya. “Kita masih punya waktu un­tuk me­nyelidikinya.”

“Waktu kita hanya sampai 19.30.” Risman berkomentar.

Santoso mengangguk.

Harun dipanggil.

“Berapa jauh ke pangkalan?”

“Kira-kira 40 menit pakai mobil, tapi bisa juga lebih. Jalannya ru­sak berat. Sekitar dua jam kalau melalui sungai.”

“Kau pernah mengatakan pangkalan itu masih bisa dipakai. Apa be­nar?”

Harun mengangguk. “Hanya landasan timur. Kalau kita lewat su­ngai, ki­ta akan muncul di situ.”

“Jenis pesawat apa yang pernah kau lihat di sana?”

“Dakota, Electra.”

Pesawat itu memang praktis, di tanah keras pun bisa men­darat.

Harun menangkap kilat panas di balik pertanyaan itu. “Kalau ke te­luk, kita tak usah masuk pangkalan, mayor.” Harun mencoba meng­ingat­kan.

Santoso terdiam. Ia sekarang justru ingin menyelidiki apa yang dila­porkan Sidik. “Aku yang menentu…”

 

Blar! Blar!

Dua ledakan granat menghentikan kata-kata Santoso. Disusul sua­ra tem­bakan gencar.

“Kita diserang!”

AK-47, pikir Harun. Ia langsung berlari ke depan. Suara pe­lor berdesing riuh. Dahan dan ranting berdetak patah terhajar. Mu­suh seakan ada di­mana-mana!

Harun berguling ke dekat Peter.

“Kita dikepung! Dasar kampret kudisan!” Sersan itu me­nyumpah.

Blar! Sebuah granat kembali meledak.

Harun mendekap kepalanya. Gila! Mereka pakai pelontar. Ini berarti se­kitar 200-300 meter posisinya.

Suara M-16 mulai menyalak. Harun tak bisa melihat siapa yang mulai mem­balas.

“Situasi!” Santoso berseru menyaingi riuh tembakan.

Terdengar balasan dari semak-semak. “Di seberang jembat­an….dari arah pelabuhan!” Suaranya terhenti. Tembakan musuh me­­libas tempatnya.

Dari arah pelabuhan? Itu berarti dari arah mereka datang.

 

Peter merayap maju. Harun tetap di tempatnya.

Dari balik batu. Ia mencoba melihat ke seberang jembatan un­tuk mem­­­baca situasi. Tapi tembakan beruntun membuatnya me­nunduk. Pepo­hon­an kecil di depannya berderak kena peluru.

Posisi musuh lebih tinggi! Sehingga dapat mengontrol me­dan. Sial! pikir Harun.

Ia mengangkat wajahnya lagi.

Blar! Sebuah granat meledak kira-kira 10 meter di samping ki­rinya.

Mati aku, ia pun kembali menunduk.

Tembakan makin riuh. Harun menggigit bibir, suara AK-47 sa­ngat dominan. Ini berarti musuh di pihak yang aktif.

Ini disadari juga oleh Santoso. Pasukannya kalah posisi!

Musuh yang menyergap tidak diketahui oleh anakbuahnya yang ber­tugas intai. Pasti bukan gerombolan biasa. Mereka pasti pa­sukan yang pu­nya pengalaman.

Untuk mengatasi situasi, ia harus memperlebar titik per­lawanan.

Ia pun berteriak. “Baringin, Bram! Amankan mobil, bawa ke kiri! Pakai senjatanya, sapu bagian tengah! Margono, bawa sen­ja­tamu ke sudut jembatan, sikat bagian atas! Cepat! “

Margono bangun dan langsung bergerak sambil membawa M-50 nya.

“Tunggu, aku ikut!” Eko menyusul.

Tapi baru beberapa tindak berlari, Eko sudah tiarap lagi, meng­hindar siraman pelor panas.

Gila! Apa aku harus mampus?! Harun beringsut ke balik po­hon besar. Dan terus merangkak ke semak-semak rimbun.

Maju. Maju, bisiknya. Saat itu tembak menembak pun kian men­jadi.

Apa yang harus kulakukan?

Sembunyi?!

Maju!

Maju! Harun semakin masuk ke semak-semak.

Terdengar Risman berteriak. “Sidik, Jamal, lindungi aku!”

M-16 menyalak buas dalam tembakan beruntun. “Tembakan per­lin­dung­an…” seru Sidik.

Blar! Granat meledak lagi, tak jauh dari tempat Harun berlin­dung.

 

“Mana Margono?!” Teriak Santoso sambil meneropong ke arah pe­pohonan di seberang. Musuh belum bisa dilihat, membuat pihaknya benar-be­nar kacau. Mereka belum punya fokus.

Tiba-tiba terdengar suara tembakan senapan mesin M-50. Ha­run me­lihat kilatan api berentet ke arah depan. Baringin sudah mem­pergunakan sen­jata yang ada di Jip.

Yah, tembak terus! Pokoknya tembak! Mau kena atau tidak, yang pen­ting mereka harus didiamkan sejenak.

Usaha itu cukup berhasil. Margono dan Eko jadi punya ke­sem­patan me­nuju posisinya dan memperkuat daya tembak. Dua M-50 memang tak bisa dianggap main-main. Suaranya saja bisa men­ciutkan nyali.

Hal ini di luar perkiraan Bolil yang memimpin pasukannya menge­pung. “Keparat! Mereka punya dua senjata berat!”

Tembakannya belum terarah jitu, tapi cukup membuat anak­buahnya harus berhati-hati. Ia meneropong mencari posisi M-50.

“Leo, kau ke atas. Serang sudut jembatan!”

“Aku bisa terlihat mereka!” jawab Leo.

“Lakukan! Goblok! Apa aku harus menembakmu! Icong, be­ri perlin­dungan!”

Icong mengangguk. Ia dan kawan-kawannya serentak me­nembak ke arah jembatan. Peluru-peluru berhamburan menyiram se­kitar tempat ter­se­but.

Leo mengutuk, tapi ia terus bergerak mendaki diikuti tiga anak­buahnya.

Apa yang dikhawatirkan Leo terbukti. Sedikit gerakan, walau cu­kup jauh, ternyata tak bisa lolos dari ketajaman mata seorang yang bernama Be­r­tus.

“Mereka ke atas,” bisiknya. Ia memberi tanda kepada Jamal yang ada di dekatnya.

Jamal mengangguk.

Saat tembakan gencar musuh berkurang, Bram dan Margono lang­sung mem­balas dengan M-50nya.

Ini merupakan peluang bagi Bertus dan Jamal. Mereka berge­rak me­nyam­­ping, untuk seterusnya melintas jalan dan langsung me­rangkak ke ka­wasan hutan.

Semua itu terlihat jelas oleh Harun dari tempat perlindung­annya. Me­reka nekad, bisiknya.

Tembak menembak terus berlanjut.

Tapi kedua belah pihak tak bisa saling mengalahkan. Kedua pi­hak tak bisa menerobos. Dan itu berlangsung sekitar hampir se­tengah jam.

Lambat laun tembakan menjadi sporadis.

Satu-dua, lalu berhenti.

Demikian seterusnya.

Dua belah pihak saling menunggu. Walaupun masing-masing su­dah diburu waktu.

Bolil ingin segera menerjang masuk dan langsung ke pangkal­an udara. Ia harus menanti kedatangan pesawat Saito Ohara.

Santoso ingin bertahan sekuat tenaga. Sekali mereka jebol, pa­sukannya akan terus dikejar-kejar lawan. Dan ini berarti ia akan su­lit mencapai pang­kalan udara! Titik penting keselamatan pasu­kan­nya.

 

Jembatan tua itu kini jadi begitu penting.

Tapi semuanya diam.

Saling intai

Saling ukur

Saling tunggu

Dan juga saling tak tampak oleh lawan.

 

Harun menyeka keringat dengan hati-hati.

Ia khawatir semak tempat sembunyinya bergoyang. Teng­gorokannya sudah kering, namun air minumnya tinggal sedikit. Ia harus berhemat.

Dahulu. Ia pernah sembunyi hampir seharian penuh. Bahkan de­ngan badan terendam air. Tapi waktu itu tak terasa sebagai be­ban. Berpikir panjang tentang kehidupan pun ia tak ingin.

Sekarang ia sering menimbang arti mati-hidup.

Dahulu hidup atau mati tak berbeda jauh nilainya. Kini, apalagi se­telah mendarat di Kabilat, perbedaan hidup dan mati begitu jelas dan jauh.

Hidup terasa begitu bernilai, dan mempunyai banyak wajah. Se­bagai­ma­na ia lihat akhir-akhir ini di sekelilingnya.

Membuat situasi saling-tunggu seperti ini terasa begitu me­nyiksa. Be­­rapa lama harus begini?

Mengapa Santoso tidak mundur saja. Meninggalkan jem­batan, lang­sung ke pangkalan udara. Dan terus menyisir pantai me­nuju teluk. Lebih baik bertahan di dekat tempat penjemputan da­ripada bertahan di sini.

Tapi bagaimana kalau pangkalan udara pun dikuasai mu­suh?

 

Ahhh…Harun mengeluh. Tak ada bedanya juga. Mereka te­tap harus ber­­tempur. Jalan ke teluk memang harus lewat pang­kalan udara itu. Konyol aku!

Memang sudah harus begini. Mau apa lagi?

Hei, mengapa aku jadi begini?

Mengapa jadi begini gelisah?

Bukankah aku sendiri yang bersedia ikut dalam misi ini?

Aku memang tersudut, dan harus ikut. Tapi bukankah ke­ikutsetaanku juga dipengaruhi oleh rasa yakin yang kupunyai.

Yakin bisa mengerjakan pekerjaan ini.

Makanya memilih pergi daripada dipenjara.

Yakin punya keahlian bertempur, makanya siap menghadapi pertarungan.

Mengapa sekarang aku jadi merasa banyak persoalan?

Bukankah aku ahli dan punya pengalaman dalam masalah se­perti ini?

 

Musuh tetap saja musuh. Peluru juga tetap peluru. Dulu dan kini, te­tap sama bisa mencabut nyawa. Tapi mengapa aku se­karang jadi cere­wet!

Ahhh. Ini gara-gara Kinanti!

Dia lagi dia lagi yang kupikir dan kujadikan alasan.

Apakah benar-benar karena ingin selamat, dan segera berte­mu Kinanti?

Atau, aku sendiri yang jadi penakut sekaligus cerewet?

Mengapa aku jadi pengecut begini?

Diam, sembunyi dalam rimbunan.

Tak sedikitpun terlihat dari sekeliling. Mengkerutkan tubuh seper­ti ini?

 

Harun memandang ke atas. Hanya ada daun dan ranting.

Ke samping, sama juga.

Aku benar-benar sembunyi seperti anak ayam…

 

Harun mengusap wajah. Tanpa sadar Harun melihat keadaan di­rinya saat itu.

Aku rupanya yang jadi pengecut, karena ingin selamat dan ber­temu Kinanti.

Tapi…sebenarnya, bila ingin cepat bertemu Kinanti, yang ha­rus kulakukan adalah bertarung!

Tembak musuh! Bunuh semua!

Karena jika itu berhasil. Musuh banyak yang mati, atau bi­sa mendobrak pertahanan lawan. Berarti pekerjaan cepat se­lesai, dan akan cepat pulang?

Tapi…bagaimana kalau aku mati?

 

Harun memejamkan mata. Telinganya berdenging.

Memutar balik apa yang dirasakannya, membuat kepalanya ber­denyut.

Ia pun mengusap peluh di dahinya.

Bagaimana Tuhan saja lah.

Tuhan?

Sudah dua kali hari ini aku menyebut Tuhan. Aneh?

Aneh?

Ah, tidak juga.

Biasa-biasa saja? Tidak juga.

Karena hal ini tak pernah kulakukan. Jadi?

 

Harun diam. Ia tak sanggup melukiskan lintasan-lintasan pi­kir­an di benaknya.

Diam, tapi pikirannya terus melayang kian kemari, tak jelas.

 

Saat itu, di seberang tempat Harun sembunyi.

“Sudah tersambung!”

Bolil meraih radio dan langsung memberi perintah pada Yahya yang dihubunginya. Yahya pada saat itu sudah mendekat.

“Mereka ada di jembatan. Kuulangi, di jembatan. Jepit dari arah pang­kal­an. Kuulangi jepit dari arah pangkalan. Pakai M-60. kor­dinatnya….,” Bolil memeriksa peta dan memberi kordinat pada Yah­ya.