Demit
Demit
Di kamar mayat RS
Ciptomangunkusumo, Jakarta, 22.00 WIB.
Pusaka mengamati keaadaan
korban.
Syaiful Hakim termasuk
tenaga yang andal. Bila tak cacat dia tak akan diberhentikan. Juga tidak akan bernasib seperti ini. Terbujur kaku.
"Kita semua sedang
bekerja. Tiba-tiba ada suara keras seperti benturan. Kita tak mengira kalau yang jatuh itu manusia. Kita tadinya menyangka yang
jatuh itu karung. Tapi Si Dede, teman saya, penasaran, karena tahu di bangunan itu tidak ada yang bekerja. Dia melihat keluar dari
jendela. Eh,
ternyata
yang jatuh itu manusia. Dia berteriak, baru kita turun dan
melihatnya,"
seorang saksi menyatakan.
Pusaka diberi tahu polisi,
berdasarkan
dokumen di dompet korban. Polisi mencek Syaiful. Dia tak punya sanak
keluarga. Dia hidup seorang diri .
"Ada yang tahu
mengapa dia ada di sana?" Pusaka bertanya lagi.
Letnan polisi Lufti Sabani
menjawab,
Dia jatuh dari lantai empat bangunan yang belum jadi. Tempat itu sudah empat bulan
lebih terlantar dibiarkan oleh pemborongnya. Pekerja-pekerja yang jadi saksi itu sedang bekerja di bangunan
sebelahnya."
"Tempat itu tak ada
yang menjaga?"
"Kosong"
"Jam berapa
kejadiannya?"
Lufti memeriksa catatan,
Antara 17.30-18.50.
"Hm, sudah sore.
Mengapa pekerja-pekerja itu belum pulang?"
"Mereka lembur."
"Milik siapa bangunan
itu?"
"PT Hidayah. Nama
pemiliknya Ahmad Hadi."
"Ada petunjuk di
TKP?"
"Sejauh ini belum.
Tapi kami masih terus memeriksanya."
Pusaka mengangguk,
kemudian menutup wajah mayat Syaiful. "Bisa minta laporan rinci tentang
masalah ini. Sudah periksa rumahnya?"
"Teman saya sudah ada
di rumahnya. Setelah dari sini, saya bermaksud ke sana juga."
"Dia tinggal
bersama siapa?"
"Berdua dengan
pembantunya yang bernama Farid."
"Boleh saya ikut ke
rumahnya?" Pusaka minta izin.
"Silahkan saja,
Kapten."
"Terimakasih."
****
Di tempat lain. Hamid
memutar sebuah nomor.
"Siapa?"
terdengar suara yang dikenalnya. Suara Si Temaram.
"HB. Pesanan sudah
selesai. Syaiful tak akan merepotkan lagi."
Temaram tak berkomentar.
"Bagaimana?"
tanya Hamid.
"Perkembangan kian
serius. Ada satu lagi yang perlu kau kerjakan. Tapi kurasa tidak akan begitu merepotkan."
"Target?"
Temaram menyebut
targetnya.
Hamid terkesiap. Kualitas
sasaran mulai meninggi. Pertanda permainan sudah masuk tahap penting.
"Selesaikan. Paling
lambat besok. Keadaan sudah mendesak."
"Besok? Dia bukan
kucing yang bisa disingkirkan demikian saja. Dan mengapa dia
termasuk target?"
"Jangan sampai aku
berpikir telah salah dalam memilih orang. Aku yakin kau bisa menyelesaikan lebih cepat dari yang
kuharapkan."
Hamid mengambil kertas
tisu, dan meremas-remasnya, "Kapan dapat data pendukungnya?"
"Seorang akan
menghubungimu, dia akan memberi kabar mengenai waktu,
kendaraan, tujuan, serta alamatnya. Juga denah dan situasi tempat tinggalnya.
Termasuk kebiasaan dan pesanan gas untuk rumahnya."
Hamid mengangguk. Si
lelaki yang sering di ruang temaram itu benar-benar berbahaya, tapi ia senang berurusan dengan manusia
seperti itu.
Hamid membuang kertas
tisu. Ia pun merebahkan dirinya kembali ke sofa. Menanti kabar dari Temaram.
Temaram sendiri waktu itu
sedang bicara lagi di telepon dengan seseorang. "Di mana kamu menyimpannya?"
"Di laci meja kerja,
dalam map biru."
"Kemarin, waktu
menaruhnya, ada yang melihat?"
"Saya menaruh map
itu sekitar sepuluh menit setelah Syaiful pergi. Pembantunya yang bernama Farid
saya pancing dengan minuman lewat teman-temannya. Saya masuk waktu dia mabuk di
poskamling. "
"Baiklah, nanti kau
kuhubungi lagi."
"Ya pak."
Si Temaram termenung.
Map biru itu, tak lama
lagi pasti ada yang menemukannya. Api yang disulutnya akan tambah membesar.
****
Pusaka kembali ke kantor,
lalu mencoba menghubungi Oskar di Makassar. Ternyata sulit dilakukan.
"Bapak kolonel
keluar. Kita tak tahu beliau sedang ke mana."
Pusaka kesal juga.
Biarlah. Sampaikan saja bahwa saya, Kapten Pusaka, menelpon."
Ia termenung sejenak. HB
alias Hamid Basuki memang misterius dan bergerak cepat seperti demit.
Teleponnya berdering
kembali. "Ya, hallo?"
"Kapten Pusaka?"
Logatnya asing, namun bahasa Indonesianya cukup fasih.
"Ya. Siapa?"
"Maaf saya menganggu.
Nomor Anda saya peroleh dari Mayor Dawson Sterling. Saya harus berjumpa dengan Anda."
Pusaka terdiam. Mayor
Dawson Sterling adalah teman sekelasnya sewaktu kursus Pendidikan Anti Gerilya di Fort
Bragg. Kini Dawson jadi staf kedutaan AS di Singapura. Mengapa orang ini mencari
nomor teleponnya, sampai harus menghubungi Dawson di Singapura. Dan punya
akses
sekuat itu. Dawson orang penting, berarti yang menelponnya juga tidak
sembarang. "Ini siapa, apa masalahnya?"
"Saya Olson Wells.
Anda akan tahu masalahnya bila kita jumpa."
"Mengapa Anda yakin
bahwa kita akan bertemu?"
"Ini soal Pulau
Kabilat."
Pusaka lebih waspada lagi
sewaktu orang itu berbisik. "Ini hanya untuk Anda, Kapten. Tak seorang pun boleh tahu. Di dalam
kotak surat rumah Anda, ada sebuah tiket Jakarta Theater untuk besok
malam. Saya datang setelah lampu gelap. Saya membawa majalah Time terbitan lama dengan cover
Yasser Arafat. Terimakasih."
Pusaka menaruh telepon
dengan hati-hati. Ada apa ini?
Ia jadi ingat map biru
yang ditemukan dari sebuah laci di rumah Syaiful Hakim, sewaktu ikut bersama Letnan Lufti memeriksa
rumah tersebut.
Map biru itu
dikeluarkannya. Beberapa Jenderal pasti kaget bila mengetahui isi
dokumen ini.