Cadasbolong
Cadasbolong
Cadasbolong, nama pantai di daerah se�latan Ja�wa Barat. Sebuah nama yang mengingatkan pa�da Karang�bolong,
sama-sama memiliki te�bing-te�bing cu�ram dan keganasan ombak sa��mudera
Indonesia.
Bila Karangbolong sering disebut nelayan se�bagai
tempat ratu laut se��latan menangis, ka�rena tiupan angin�nya yang menyeramkan. Ma�ka Cadasbo�long disebut sebagai tem�pat ratu laut selatan buang sampah.
Debur dan terjangan ombaknya men�diri�kan bulu roma.
Sebuah tempat yang tak bisa akrab de�ngan yang namanya ra�sa aman, serta sarat dengan ketidak�mungkinan.
Ke tempat itulah mereka menuju.
"Kalian jangan berpikir koman�danmu gila de�ngan mengirim ke tem�pat itu. Aku juga yakin bah�wa ka�lian akan
mampu melakukan se�sua�tu di sa�na. Jika tidak memperca�yai kalian, tak mung�kin aku berdiri di sini. Laksana�kan!"
Let�nan
Risman meng�akhiri pidatonya.
"Siap. Laksanakan. Braja!"
Harun tercekat, latihan di pantai ganas ini mungkin persiapan ma�suk Ka�bilat
dari arah ba�rat. Gila. Mengapa tidak langsung me�nye�lu�sup ke pelabuh�an?
Menyelusup dari barat sungguh berat.
Harun menarik nafas. Yah, mau apa lagi? Ia sudah tenggelam da�lam per�soalan
ini. Tak ada peluang untuk menghindar.
"Pasukan�bergerak! Ayo.. ayo!" Peter ber��seru.
Sialan! Harun
pun berlari menuju pesawat heli AD yang sudah sia�ga.
"Hati-hati mas..," Jamal Rahman, orang Madura, memper�ingatkan
Harun yang nampak terburu-buru.
"Yeah�," Harun senyum terpaksa. Ia mengambil tempat di
sam�ping Ris�man.
Tampak seseorang yang dikenalnya naik ke he�li satunya lagi.
"Wah, lihat. Mayor Santoso juga ikut."
"Bersiaplah untuk tidak mampus," komentar Baringin.
"Memangnya kenapa?" tanya Harun.
"Si Tanpa Perasaan itu senang mengerjakan sesuatu yang ti�dak
pernah ter�pikirkan orang waras."
"Apa? Mayor Anti Senyum itu ikut? Bisa tambah gede
om�baknya
kalau ada dia." Jajang menyeruak.
"Mengapa disebut anti senyum?" Agak geli Harun menanya�kan itu.
"Seluruh anggota Yon belum pernah melihat dia tersenyum. Apa�lagi me�lihat dia
tertawa."
"Kata orang sih, waktu masih Letnan, dia itu ramah sekali,"
sam��but lain�nya.
"Tapi sekarang, saat upacara diberi medali pun te�tap
judes."
"Itu kan sejak isterinya meninggal."
"Tutup mulut kalian." bentak Risman.
"Siap, letnan."
Dua Heli bergerak, terbang ke arah timur laut. Lima menit se�telah
meng���udara,
Harun memandang ke bawah. Kepadatan kota se�makin jarang. Ber��ganti de�ngan hamparan sawah menghijau.
Harun berani memastikan bahwa latihan yang akan dilaku�kan,
adalah la���tihan pendaratan dari laut. Ada dua macam cara un�tuk itu.
Diterjunkan li���wat udara atau penyusupan dari kapal.
Ia sendiri belum pernah mengalami latihan terjun ke laut dari uda�ra. Na��mun
dahulu, pernah melakukan pendaratan langsung da�ri helikopter ke per��mukaan air (hello cast) sewaktu diberi perin�tah
berpatroli di perairan da��taran Ilalang.
"Melamun, mas�," tegur Jamal.
Harun menarik nafas, lalu bertanya dengan suara keras me�nyaingi
de�ru me�sin,
"Ke mana kita ini?"
"Desa Batu Ambek, di pesisir selatan!" Jamal tak kalah keras.
"Ada apa di sana?"
"Tempat Nyi Roro Kidul buang sampah, juga keramas!" Jajang me�nyela.
"Hus Jangan bicara sembarangan. Kualat."
"Tak mungkin, aku kan sudah pernah bertapa di
istananya."
Mendengar jawaban Jajang, semua tertawa.
Harun tak mengerti. Risman berbisik bahwa mereka itu meng�olok-olok
Ja�mal.
"Jamal punya banyak jimat. Dia sering bertapa di gua-gua ke�ramat."
Harun mengangguk. Pantas, pikirnya.
Helikopter mulai menyelusuri pegunungan, berkelok-kelok di antara
lembah-lem�bah curam. Ciri khas daerah selatan Jawa Ba�rat.
Lokasi tempat latihan kira-kira tiga kilometer dari desa Batu�ambek,
ter�masuk
wilayah sebuah kecamatan paling selatan di dae�rah pantai.
Cadasbolong, berupa teluk kecil, dengan tepian batu karang se�tinggi ge�dung lima
lantai dari permukaan laut. Jarak antara pantai ka�rang di
ke�dua si�si teluk
itu kurang lebih 3 mil laut. Dan sebagai�mana kodrat yang di�miliki Sa�mudera Indonesia, walau berupa te�luk,
gelombang lautnya tetap ma�suk ka�tagori ganas.
Angin berhembus kencang, menyelinap di rongga-rongga pa��das. Ber�suit ba�gai
siulan sukacita peri laut yang tak terlihat. Om��baknya yang garang ber��debur kasar ketika menerpa karang, dan balik lagi ke
laut sambil menge�luar�kan suara mengiris.
Tebing di Kabilat jauh lebih tinggi, ombaknya pun lebih besar, na��mun sua�sana di
sini lebih seram. Cadasbolong mengandung sua�sana mistis pe�nuh mis�teri.
"Pasukan siap!" Terdengar aba-aba.
Baru saat ini Harun melihat lagi Santoso�setelah pertemuan di markas be��sar
Brigjen Kulyubi�dan kini dalam posisi yang jauh berbeda. Waktu itu, ia
merasa dalam posisi sejajar.
Sekarang, ia anakbuah mayor tersebut. Berbaris di jajaran pa�ling be�lakang,
de��ngan
ransel berat di punggung.
Santoso berdiri di pinggir pantai, di atas tonjolan karang, mem��bela�kangi
laut.
Diam-diam Harun mengakui bahwa mayor itu memang me�mi��liki se�gala se�suatu
yang harus dimiliki seorang komandan ulung. Pos�tur kekar, wa�jah ke�ras, sikap kukuh, garang dan juga punya wi��bawa.
"Sayang angkuhnya seperti orang mabok," Harun berbisik tan��pa sa�dar�
"Siapa?" Jajang bertanya perlahan.
Harun menyeringai, "Mayormu."
Mata Jajang yang sedang menatap ke depan jadi membesar. Si ma�hasiswa ini gelo juga rupanya.
Bertus yang diam-diam mendengar, mendengus perlahan.
Santoso menyapu anakbuahnya dengan sorot mata tajam, "Di tempat
ini, kalian harus sudah mengerti sendiri apa yang akan di��hadapi
dan segala risikonya. Sekedar pegangan, aku punya satu pen�dapat
mengenai diri ki�ta sebagai pasukan tempur. Mati di�bu�nuh
musuh, lebih tinggi nilainya, da�ripada konyol di dalam latihan. Dan aku sangat tidak
menyukai semua hal yang bersifat konyol. Bi�sa dipahami?!"
"Siap. Braja!"
Mendengar itu Harun merasa telinganya berdengung.
"Sekarang, aku sendiri yang jadi Komandan Latihan. Letnan Ris��man se�bagai
Komandan pasukan yang dipecah dalam dua regu. Ma�sing-ma��sing regu dipimpin Sersan Peter dan Sersan Mayor Fa�jar
Sidik."
"Siap. Braja!"
"Aku tunggu kalian untuk makan malam. Di atas tebing!"
San�toso pun
ber�lalu.
Di atas tebing! Gila. Ini benar-benar sinting. Harun menyum�pah dalam
ha��ti.
"Pasukan bergerak! Ayo cepat ambil perahu karet (PK). Cepat. Ayo,
ayo!" Teriakan Peter mengatasi debur ombak.
Harun melihat jarum arloji. 14.20.
Cuaca mendung. Matahari seakan malas menyaksikan.
Ombak besar menggelora, bagai sibakan rambut sang Peri yang sedang ma�rah.
****
Yang terjadi di luar dugaan. Makan malam batal! Perut tetap kosong
hingga ke��esokan harinya. Penyebabnya, mereka tidak bisa me��rapat ke
tebing. Pu�saran air dan gelombang sangat beringas. Be�rulangkali
mereka men�co�ba, namun se�kian kali pula gagal.
"Ini tempat jin mengubak-ngubak laut. Merapat saja sulit, apa��lagi ha��rus lang�sung naik
ke tebing." Jajang berteriak.
Harun basah kuyup, siku dan dengkulnya lecet tergores ka�rang. Ia
ber��ada di
bagian belakang. Sudah hampir tiga jam, tetapi me��reka tetap ber��putar-pu�tar dipermainkan arus. Risman melihat alam semakin
gelap. Ke��adaan tam�bah berbahaya. Ia memberi pe�rin�tah
mundur.
Santoso mengangguk pelan ketika letnan itu melapor, ia hanya ber��ko�men���tar
singkat. "Kalau begitu tak ada makan malam. Begitu ju��ga
aku."
Risman mengiyakan.
Harun tak peduli. Ia sangat lelah. Ia ingin tidur. Tetapi Peter tak mem�beri ke�sempatan
sedikit pun. Ia diberi tugas. Menjaga pe��rahu karet.
****
Ia berjaga hingga jam 00.00, dan langsung tertidur tanpa berganti pa�kaian. Na��mun ia
mendadak terbangun lagi. Peter berdiri di de�pan�nya.
"Bangun! Kalian hanya punya waktu sepuluh menit. Ayo siap�kan pe�rahu. Ki�ta mulai
lagi. Cepat! Cepat! Kalian kecoa kering se�muanya! "
Gila! Harun melihat jam. Tepat pukul 04.00, ini sungguh tak lu�cu. Ini
bu��kan
perangku! Tanpa sadar ia mengumpat, "Dasar sial, tahu seperti ini, men�dingan
aku masuk penjara saja."
"Apa katamu, hah?" Peter mendelik.
"Terserah apa yang kau dengar, kerbau buduk!" Harun mem�ba�las de�ngan ge�ram.
Buk, buk! Dua jotosan menghajarnya.
Harun tersungkur tepat di depan Risman.
Risman berjongkok, menjambak rambut Harun dan membuat wa�jahnya ja��di
tengadah. "Jangan cari masalah. Bisa mempersulit di�ri�mu
sendiri," Ris��man memperingatkan.
"Aku mulai muak dengan semua ini!"
Dengan kuat Harun diangkat. Setengah berbisik letnan itu meng�ingat�kan lagi,
"Entah mengapa, Aku merasa kau ini sebenar�nya tidak seburuk apa yang kudengar. Tetapi bila kau
tetap dungu, kau pasti menyesal. Yang ber�diri di belakangmu sekarang, sudah pe�nasaran
ingin menendangmu dari ke��satuan ini. Kau masuk sel. Dan semua tetap berjalan
seperti biasa. Tan�pamu."
Harun melirik ke belakang. Di balik kegelapan nampak San�toso
berdiri mem��perhatikan. Harun menarik nafas, ia pun meng�ambil
senjata dan pe�lam��pungnya.
"Cepat! Cepat!" Peter menghardiknya.
Ia berlari lagi dan bergabung dengan yang lainnya.
Sambil berteriak-teriak pasukan itu menyeret perahu karet ke tepi
pantai.
Seseorang yang berada di dekatnya berkata sinis, "Ternyata kau
takut ju�ga masuk
penjara�"
Suara Bertus!
Tapi Harun tak peduli lagi. "Kamu menyesal?"
"Tidak, hanya mual bila harus berdekatan dengan sampah."
"Apa maumu?�
"Kau akan mengerti sendiri."
Harun jadi gusar, ia berniat melabrak namun sebuah sentakan kuat mem��buat
langkahnya bergerak lebih cepat. Perahu telah di�dorong ke per�mukaan air.
"Ayo, ayo!" hardik Peter.
Mereka berloncatan ke perahu. Debur ombak bersaing de�ngan
pekikan pe��rang, riuh suasananya. Harun mengambil posisi dan mulai mendayung.
Air laut menerpa begitu kasar, terasa pedas�beku
sewaktu me�nampar wa�jah.
Harun menggigit bibir. Ia masih membawa sikap dan mental si�pil, ka�rena su�dah lama
terbiasa hidup secara normal. Tetapi, nya��tanya ia
sudah ma�suk lagi
ke dunia yang keras. Kini ia mulai sa��dar akan perannya. Ia ha�rus total.
Selama ini hanya pikirannya saja yang merasa terlibat, namun hati�nya te��tap
berontak. Hal itu rupanya berpengaruh pada sikapnya. Dirinya selalu nam��pak
lemah, sering dilecehkan.
Bangsat semuanya! Mereka harus tahu siapa sebenarnya aku ini. Aku ju�ga
jebolan latihan khusus!
Aku, ya ini aku. Harun.
Spontan, ia pun berteriak menyaingi ombak. "Ayo cepat. Da�yung,
cepat! Cepaattt!"
Beberapa temannya memandang heran. Baru saat ini mende�ngar
Harun ber�teriak-teriak sebagaimana mereka.
"Hei! kau dimasuki setan?" Baringin bertanya.
"Bukan! Dia sedang unjukrasa ke Ratu Laut! Minta BBM tu�run!"
teriak Jajang.
"BBM?" Eko keheranan.
"Bibi-bibi merangsang!"
"Sunda beleduk!" kutuk Baringin.
Teriakan makin riuh, dan gerak dayung pun kian kuat mem�belah
arus.
"Hei, lihat mayor juga ikut!" Jajang menunjuk ke perahu yang
lain.
"Mau ngapain dia ikut?"
"Dia juga lapar. Dia mau makan di puncak tebing bersama ki�ta. Ayo,
ce�pat! Aku
sudah lapar!"
Mendengar ucapan Jajang, yang lain jadi bersemangat. Air di�ngin
sudah tak dirasa. Harun mengayuh kuat, ia merasa ingin se�perti
beberapa tahun la�lu.
"Arah jam tiga, ayo, ayo!"
Dua perahu bergerak menyiasati arus dan gelombang. Men�de�kati
tebing.
Kemarin sore mereka gagal empat kali. Kini, walau cahaya bu�lan ti��dak be�gitu
gelap, ombak dan arus tetap sama buruknya. Ris�man berpaling ke��pada San�toso. Mayor itu duduk di bagian bela�kang
sebagai pengatur arah. "Siap ma�yor ?!"
Santoso mengiyakan. Aba-abanya mulai terdengar. "Arah jam lima, ja�ga
jarak!"
"Arah jam lima! Jaga jarak!" Risman mengulang lebih keras. Men��dengar
itu Harun mengganti arah dayung. Sebuah gelombang be�sar
muncul da�ri ki�ri belakang. Perahu mendadak menurun, ge�lom�bang itu langsung mengibas pe�numpangnya
dengan bengis.
Byurrr, semua tersiram jadi basah kuyup!
Dua perahu itu ibarat dua ekor semut bandel di tengah genang�an air,
te�tap
merangsek maju walau keadaan tak bisa dipastikan.
Sesuai intruksi, regu pertama yang harus mendarat. Bram di pe�rahu I
dan Gerson di perahu II sudah siap dengan tambang�nya. Mereka ber�tugas mencari tempat untuk tambatan.
Bram berteriak agar perahu lebih mendekati tebing. "Terus, te�rus se�dikit
lagi ayo!"
Suaranya mendadak lenyap, semua isi perahu tersiram ge�lom�bang.
Di antara debur terdengar perintah keras. "Terjun kamu!"
Bram terperangah, ia berbalik. "Ya, mayor!?"
"Terjun! Berenang! Sangkutkan tambang!" Santoso berseru di
tengah siut��an angin dan raung ombak.
"Apa?" Bram mengira yang harus dilakukannya seperti sebe�lumnya.
Pe��rahu
diusahakan merapat ke tebing, kemudian mencari tam�batan.
"Berenang!"
Berenang dari posisi sekarang sangat riskan, jaraknya cukup jauh, se�kitar
limapuluh meter. Apalagi dalam cuaca dan kege�lapan seperti saat ini.
Buk! Satu tendangan membuatnya terpelanting. "Berenang!"
Risman menoleh penuh tanda tanya. Santoso mengerti arti pan��dangan
ter��sebut.
"Merapat ke tebing jauh lebih sulit daripada be��re�nang ke
tempat itu!"
Harun yang berada di perahu lain tertegun. Santoso sungguh gi���la me�nyuruh
berenang dalam keadaan cuaca seperti ini.
Bram yang terjatuh ke laut berusaha sekuat tenaga. Tubuhnya tim�bul teng�gelam
dibanting-banting ombak. Walau tidak begitu je�las, kesulitan yang di�alami�nya bisa diamati oleh yang lain. Risman sa�dar
situasi yang di�alami anak�buahnya. Ia berseru, "Regu dua ma��ju!"
Peter sebagai kepala regu berseru ganas, "Gerson! Terjun!"
Prajurit itu nampak ragu. Harun heran, walau tidak jelas, ia me��lihat pa��ras
Gerson agak berubah. Seperti ada sesuatu yang meng��ganjal.
Tetapi hal itu ti�dak berlangsung lama, karena prajurit itu sudah loncat
ke laut.
Tapi kondisinya malah lebih payah. Tubuhnya yang kecil nam�pak sulit
un�tuk bisa
mengatasi keadaan.
Kedua orang itu terus berusaha. Gelombang tetap dahsyat. Pe�rahu se��ma��kin sulit
dikuasai.
"Pertahankan posisi!"
Gila! Harun terus mengayuh menjaga keseimbangan kapal. Ha�run me���lihat
Bram dan Gerson terbawa arus balik, yang membuat mereka kem�bali ke
te�ngah.
Baringin berseru, "Kembali! ombaknya terlalu besar."
"Maju terus!" Santoso marah.
"Mereka bisa terbentur tebing!"
"Diam kau prajurit!"
"Tapi�"
"Pertahankan posisimu!" Santoso membentak.
"Letnan! Bram terbawa arus!" teriak Eko sambil memegang tali
peng�ikat tu�buh
kawannya erat-erat.
"Pegang kuat-kuat. Jangan sampai terlepas!"
Bram berhasil keluar dari gulungan ombak. Kenekadannya muncul. Apa
bedanya ombak, cadas, dan peluru baginya, sebagai anggota pasukan khu��sus?
Ombak datanglah, kau kutunggu!
Ia berteriak memanggil temannya, "Gerson, kau mau ikut?"
"Apa?"
"Kita ikuti gelombang. "
"Bisa terbentur karang!"
"Terserah�"
Gerson memandang tebing. Ia seakan ditantang. "Kamu du�luan!"
Bram mengacungkan tinju. "Braja!"
Begitu juga Gerson.
Gelombang rakus muncul, buihnya mengalur sejajar mena�kutkan.
Bram me�nanti,
dan ketika gelombang itu bergerak me�nyerbu tepian, ia lang�sung mem�biarkan dirinya terbawa dengan de�ras ke
tebing!
Harun menelan ludah. Tubuh Bram dan Gerson menghilang!
"Mampus�," desis Bertus.
Di perahu I Risman memandang Santoso, namun wajah Ma�yor itu
te��tap ke�ras
seperti tidak ada kejadian apa-apa.
"Bram! Gerson!" Eko dan Margono berteriak-teriak me�nyaingi
ge�muruh om�bak.
Tak ada sambutan. Semua mulai was-was, waktu terus me�rambat.
Harun melihat Peter mengikat pinggangnya dengan tali. Si gen�dut ini
akan terjun juga.
Tiba-tiba terdengar Margono berseru girang, tali ditangannya ter�sentak be�berapa
kali.
Isyarat dari Gerson!
"Dia hidup! dia hidup! Talinya ditarik!"
Sidik merasa tambangnya ada yang menarik, "Mayor! Tanda da�ri
Bram!"
Peter berseru. "Mayor! Isyarat dari Gerson!"
"Ikuti tali! Turun dari perahu! Berenang ke tebing!" perintah
San�toso.
"Braja!"
Semua meloncat ke air dan berenang mengikuti arah tali. Bram dan Gerson
ha�nya
lecet-lecet kecil. Tak seorang pun ber�tanya bagaimana cara mereka men�capai
tempat itu. Kelompok ini bagai persatuan manusia-manusia yang se�lalu
kontra dengan teo�ri keselamatan, pola pikir maupun gerakannya selalu me�lawan
kebiasaan.
Setelah mendarat di tebing, perahu ditarik beramai-ramai. Begitu sele�sai. San�toso
memberi isyarat kepada Risman.
Risman mengangguk dan langsung memberi komando untuk meman�jat te�bing.
"Eko, Sidik, kalian di depan!"
Harun memeriksa gesper, tali, dan juga sepatunya. Ia memandang ke atas.
Tinggi tebing ini rasanya cukup lumayan untuk mempercepat kema�tian.
Perasaannya berbisik bahwa ada yang sedang memperhati�kannya.
Ia ber��paling ke
kiri, rupanya Santoso sedang menatapnya. Si�nis.
Harun tak peduli. Ia segera mendaki.
Sebelum fajar mereka harus sudah tiba di puncak!
Dan mereka berhasil melaksakannya.
Braja!
Braja gila, pikir Harun.