9. BAYANG-BAYANG
Harun merasakan tubuhnya pegal. Persendian terasa
rontok. Ruangan sudah gelap, namun ia tak bisa tidur. Pikirannya kembali terusik
oleh pertanyaan yang selama ini belum dapat dijawabnya. Apa maksud tentara-tentara
itu menempatkan dia dalam persoalan ini?
Mereka hanya minta diantar ke gua 24F, apa sasaran mereka?
Fabian Ferte memakai tempat itu sebagai penyimpanan barang-barang berharga.
Bila mengingat kondisi ruang dan letak gua itu,
incaran tentara-tentara ini pasti sesuatu yang berukuran besar dan berat,
bila dihubungkan dengan kekuatan personil yang direkrut, benda itu tidak
mungkin direbut untuk diangkut. Satu cara lain untuk menetralisirnya, hanya
dengan menghancurkannya.
Ya. Pasti itu tujuannya. Menghancurkan.
Pertanyaannya kini. Apa yang akan diledakkan?
Harun mulai berpikir lain.
Baru saat ini ia sadar. Ia jadi mengutuk kebodohannya
sendiri. Selama ini ia benar-benar terbawa permainan Oskar dan Kulyubi. Ia
selalu merasa di bawah angin, karena tekanan psikis yang mereka ciptakan.
Ini adalah kekonyolan yang tidak perlu. Dirinya,
sebenarnya sangat penting bagi mereka.
Oskar maupun Kulyubi pasti tahu peran dan posisinya di
dalam organisasi Fabian. Aku tangan kanan Ferdinand, adik kandung Fabian.
Aku salah satu dari sedikit orang yang paham seluk beluk tempat tersebut.
Mungkin satu-satunya yang tahu, karena kelompok Fabian Ferte sudah lumat tak
bersisa, dihancurkan Interpol.
Mulai saat ini aku tak sudi mengalah lagi!
Bosan rasanya, selalu dianggap sebelah mata oleh
orang-orang yang merasa hidup di jalan normal.
Aku ada di jalan yang telah disediakan oleh kehidupan.
Warna kehidupan itu pun, bukan aku yang menentukan.
Tak pernah aku bercita-cita seperti ini.
Tak pernah aku memimpikan ingin hidup selalu dalam
bahaya. Aku larut di dunia seperti ini karena tidak punya pilihan lagi. Aku bukan
pembunuh Yap Khun Hin atau polisi itu! Aku hanya membela diri agar tidak terbunuh!
Bila aku jadi buronan, itu disebabkan oleh sistem yang
sudah tak kupercaya lagi. Siapa sih yang mau percaya padaku?
Orang yang mengambil nyawa dua orang di satu tempat? Dan siapa yang mau yakin
bahwa pengadilan akan membebaskan “pembunuh” polisi? Sialan! Gila!
Harun memejamkan mata sekadar menahan gemuruh dadanya.
Bayangan kekerasan yang dialaminya di Bangkok, Mekong,
Manila dan Kabilat, melintas dengan cepat, seakan menantang pembelaan
dirinya. Kepalanya berdenyut. Ia sudah tenggelam terlalu jauh, hidupnya tak
sebersih yang lain. Jadi sudah selayaknya bila ia menerima pandangan
diremehkan orang lain, karena ia bukan orang yang hidup normal.
Normal?
Uaaaahhh! Harun terbangun dan menggeram. Tanpa sadar ia
terduduk di sisi tempat tidur dengan pandangan nanar. Nafasnya terengah-engah.
Arti kata “normal” yang baru terlintas jadi begitu
mengerikan.
Ia menyadari dan punya pendapat sendiri tentang
pengertian hidup normal. Namun sekarang, hal itu benar-benar membuat dirinya
gelisah. Ia seolah terlempar ke sebuah sudut yang gelap.
Sebelumnya ia tak peduli. Tak ada keinginan atau
ambisi untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Biar sejuta orang menyebutnya
tak normal, ia tak akan mengacuhkannya. Ia berpendapat, mereka yang menilainya
itu, belum tentu tahu secara tuntas segala sesuatu yang ada pada dirinya.
Tapi saat ini terasa lain.
Di lubuk hatinya ada sebuah bayangan yang membuatnya
berontak. Ia jadi ingin dimengerti dan juga dimaklumi siapa dan mengapa
dirinya seperti itu.
Berpikir sampai disitu Harun menarik nafas.
Bayangan itu sungguh sulit ditaklukkan.
Bayangan itu membuatnya ingin dihargai.
Bayangan itu membuatnya berontak ingin diperhatikan.
Bayangan itu menyuruhnya berharap sebagaimana
orang-orang yang hidup normal.
Tetapi bayangan itu juga yang membuatnya ngeri, bila
hal-hal tersebut tidak bisa dilaksanakannya.
Ia jadi ngeri tak bisa dihargai lagi.
Ia jadi ngeri bila tak dipercaya lagi.
Harun mendesah dan menutup wajahnya dengan bantal. Ia
mencoba melupakan bayangan itu. Namun bayangan itu malah semakin jelas.
Harun menggigit bibir, mengapa bayangan tersebut mengejarnya? Gila.
Bayangan sepasang mata.
Bayangan segurat senyum.
Senyum Kinanti. Apa pula ini?!
10. H.B
Brang! Brak! suara kaleng ditendang, bunyi kursi
jumpalitan. Pruaaak!
“Bangun! Bangun semua!”
Tiupan peluit memekakkan telinga dan diakhiri hardikan
Peter. “Bangun, kumpul dalam 10 menit di lapangan. Cepat!”
Harun membanting selimutnya ke lantai. “Gendut
keparat, terkutuk, gila.”
Kepalanya pusing. Ia belum pulas total, sudah diganggu
lagi oleh sersan sinting ini. Ia melihat arloji. “Sialan, sudah jam setengah
lima pagi rupanya.” Saking lelahnya, ia tidur lelap.
Ia menengok ke bawah, Bertus sudah tak ada.
“Tak usah mandi,” kata Gerson sewaktu ia akan
mengambil handuk.
“Mengapa?” Harun merasa jadi orang tolol.
“Kau ingin kita semua dihukum, karena Ambon mabok itu
menunggu kau mandi?”
Gila! Aku benar-benar sudah di dunia yang
miring itu lagi.
Ia pun lari sambil memakai kaos oblong hijau
sebagaimana yang lain.
Peter sudah berdiri bertolak pinggang.
Mereka berbaris dan mulai menyebut nama masing masing.
Nama Bertus tidak didengarnya. Ke mana dia?
Aneh, Peter tidak mempedulikan ada anggota regu yang
mangkir.
Ia malah berteriak, “ Ya! 2400 meter dalam angka
delapan. Cepat!”
“Hah, 2400 meter?” Harun mengeluh. Tapi ia tak punya
pilihan lagi. Ia pun berlari. Siap menempuh jarak 2,4 km dalam bentuk angka
8.Gila!
500 meter pertama ia masih bertahan.
800 meter, dengus nafasnya masih teratur walau
dipaksakan.
1500 meter, lutut dan betis mulai mengeras.
2000 meter, pandangan mengabur.
2034 meter, perutnya membatu.
2150 meter ia terjerab…blug!
Di 2152 meter, sebuah tendangan mendarat dibokongnya.
Duk!
“Agh!” Harun menggeliat.
Peter pun mulai bernyanyi, “Hah, baru tahu rasa kau.
Bangun kecoa sipil. Kupencet hidungmu bila membandel”
Duk! Pangkal pahanya ditendang.
“Auuuw!” Harun mengerang. “Gil..,” makiannya tertahan.
Eko membekap mulutnya dan langsung menyeretnya bangun.
“Ayo, cepat, cepat, sebelum dia tambah gila.”
Harun menggeram, sebuah lengan yang kuat menyeretnya.
”Ayo, sedikit lagi. Aku tak ingin dihukum gara-gara kamu,” Baringin
membentak.
Harun menggentakkan gigi.
Tentara tentara sialan! Sebuah kenyataan menampar.
Ia merasa tidak tangguh lagi.
****
Pusaka tersenyum sendiri menyaksikan ulah pasukan yang
dikategorikan nongrata oleh komandan-komandan saat itu.
Mereka tepat disebut sebagai sebuah wujud kontradiksi
dari berbagai sifat yang melatarbelakangi arti sebuah keberanian.
Mereka secara sadar memilih sebuah cara hidup dalam
bentuk kehidupan yang selalu siap berhadapan dengan kematian.
“Kapten,” ucapan anakbuahnya memecahkan perhatian.
“Ya?”
“A-4, di saluran 3, “
Pusaka meraih telepon. “Ya…Kapten Pusaka di sini”
“Oh Kapten Pusaka, saya Sarpin Detlen. Kodam. Bisa
bicara dengan Pak Oskar?”
Pusaka ingat nama itu, “Oh Kapten Sarpin rupanya.
Kolonel Oskar di Mabes, dipanggil kastaf.”
Sarpin terdiam sejenak. Lalu menyambung lagi, “Saya
mau tanya. Apa Anda dulu ikut menangani kasus Waruna I?”
“Ya. Ada apa ?”
Waruna I adalah tambang minyak lepas pantai.
“Ini ada informasi, bahwa Hamid Basuki atau HB terlihat
di rumah Syaiful Hakim,” jawab Kapten Sarpin Detlen, staf komandan Garnizun.
“Hamid Basuki?”
Nama itu cukup dikenalnya. Seorang misterius, sulit
dilacak. Bekas intel yang piawai, yang telah dinonaktifkan sejak
indisipliner dalam peristiwa Waruna I di pesisir Jawa Selatan. Dia bertindak
sendiri tanpa perintah, menyebabkan tewasnya anggota tim dari General
Oil dan dua anggota pasukan khusus penjinak bom dari KIPAM AL yang
sedang beraksi di anjungan minyak lepas pantai, ketika kelompok teroris
memasang bom di tempat itu.
Saat itu, Hamid Basuki termasuk satuan tugas dalam
pembebasan anjungan minyak. Ia melanggar perintah dengan menyerang sendiri
tanpa koordinasi sesuai prosedur, sehingga kelompok teroris tidak punya
pilihan selain membuktikan ancamannya, menembak mati sandera.
Waktu itu muncul dugaan bahwa Hamid memiliki hubungan
dengan “Indonesia Bebas”, sebuah organisasi bawah tanah yang berdiri di
belakang kelompok teroris itu.
Tindakan Hamid yang di luar batas itu diduga untuk
menghilangkan jejak organisasi. Dengan tewasnya teroris, siapa otak penyanderaan
tak akan bisa dilacak. Namun karena tak ada bukti kuat, ia hanya sampai
diproses non-aktif tanpa pengusutan lebih jauh. Walau demikian ia tetap masuk
kualifikasi “harus diperhatikan.”
Dan Syaiful Hakim adalah seorang informan milik
kesatuan dimana Hamid berasal. Syaiful juga sudah tidak aktif, ia cacad sewaktu
bertugas di Aceh. Tetapi ia memiliki pengetahuan dan hubungan yang luas dalam
intelijen. Pertemuan itu jelas menarik. Karena sosok misterius yang masuk
daftar hitam seperti Hamid menemui seorang yang penting seperti Syaiful.
“Kapan itu?”
“Kemarin, nanti saya kirim laporannya.”
“Ya, baik. Terimakasih. Saya tunggu. Biar saya sendiri
nanti yang bicara pada Pak Oskar tentang info ini. Terimakasih.”
“Terimakasih kembali.”
Pusaka memencet angka Mabes, “Kapten Pusaka, hubungkan
dengan Kolonel Oskar.”
“Barusan keluar, dengan Brigjen Kulyubi.”
“Ke mana?”
“Ke Halim.”
“Halim?”
“Ya…”
Ke pangkalan udara, ini akan memakan waktu lama.
Berarti baru besok membicarakan hal ini.
Pusaka kemudian memanggil seseorang. “Abid, dengar
baik-baik!”
“Siap Pak.”
“Jika ada berita masuk dari Kapten Sarpin—Kodam, serahkan
langsung padaku.”
“Siap, laksanakan.”
Pusaka meraih teh manis di meja. Lalu diminumnya.
“Huh.Terlalu banyak gula. Dasar juru masak dari
Tegal,” pikirnya.