Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

8. WAJAN PERLAYA

 

“BAGI YANG RAGU-RAGU, BALIK KA­NAN SEKARANG JUGA!”

Harun bersiul pelan setelah mem­­ba­ca ka­limat itu. Ditulis dengan war­na me­­rah, latar bela­kang hijau da­lam ukur­an raksasa. Dipasang se­ca­ra men­colok, ki­ra-kira 100 meter se­belum pin­tu gerbang.

“Mengapa diam, mau diterus­kan atau ti­dak?” tanya Pusaka sambil meng­­hentikan laju mo­bil. Harun tak ber­komentar, permen karet­nya di­ku­nyah se­makin cepat.

Pusaka tersenyum. Ia jalankan kem­­bali mobilnya menuju pintu ger­bang Pu­sat Pasukan Komando Tak­tis TNI AD-Yon 011 Terpadu BRA­JA­MUSTI.

Lagi-lagi mengambil nama da­ri pe­wayang­an,” bisik Harun da­lam hati. “Apa tak ada ide la­gi? Men­tang-mentang Pre­siden dari Jo­wo, pengge­mar wayang kulit, semua la­tah pakai iden­titas simbol budaya itu.

Dalam ce­ri­ta wayang, Braja­musti memang ksa­tria he­bat, ia me­nitis ke diri Gatut­kaca, putra Bima, dan berdiam se­bagai aji (kekuatan) di kepalan­nya. Jadi, ka­­lau Gatutkaca nonjok, dengan di­lam­bari ajian Bra­ja­musti, kontan si korban akan perlaya alias lepas nyawa.

Namun ada yang membuat Harun penasaran, dan ia bergu­mam, “Nomor Yon-nya aneh…”

 

Pusaka mengangguk. Yon ini memang mem­punyai nomor yang ti­­dak lazim. Tidak me­miliki nomor divisi sebagaimana bia­sanya. Hal ini disebabkan berbagai alasan yang melatarbe­lakangi pen­diriannya. Dan ini tentu saja tak bisa dijelaskan pada Harun. Na­­mun ia menjawab singkat, “Bukan urusanmu.”

Pasti begitu jawabannya. Militer mana mau terus terang,” pi­kir Harun.

 

Melihat suasana tempat itu, anggota mili­ter biasa pun pasti agak ra­­gu-ra­gu untuk ma­suk. Apalagi orang sipil, bisa deg-degan di­buat­nya.

Di lapangan rumput yang terletak di bagian bela­kang. Ter­pasang se­­buah plat baja hitam sete­bal 0,8 cm. Berbentuk segi em­pat dan ber­­­ukuran besar se­kitar 4×4 m. Penuh lubang peluru, se­hingga me­nimbulkan kesan angker dan kehancuran.

Di tengah bidang plat baja itu terdapat sebuah gambar ke­­pal­an ta­­ngan dari sudut pandang depan (frontal), di tengah ko­bar­­an api, diapit dua pisau komando da­­lam posisi bersilang, dileng­ka­­pi tulisan  Yon 011 KO­MANDO TERPADU AD-BRAJAMUSTI da­­­­lam warna merah menyala.

Pasti gambar lambang kesatuan.

Selain itu, di dinding bangunan yang berada di sekitarnya ter­dapat ba­­nyak tulisan dan semboyan yang menyiratkan bahwa ke­sa­tuan ini merupakan ga­bungan personil terunggul yang di ambil da­ri berba­gai kesatuan pasukan tem­pur AD.

Di antara semboyan itu ada satu yang mem­buat Harun ter­tarik.

“MEM­BUAT NKRI TERUSIK AKAN MERUGI. MEMPER­HITUNG­KAN KAMI SANGAT BIJAK. KAMI PRAJURIT BANG­SA DAN TA­NAH AIR”

Sangat arogan, tapi meyakinkan.

Kesombongan terkadang perlu untuk memperkuat rasa juang ke­­­satuan. Pa­sukan ini jelas manusia pilihan dari yang terpilih. Na­mun untuk me­nantang maut dalam pertempuran, semangat me­reka harus tetap ter­pelihara. Sem­boyan ter­masuk salah satu cara yang ma­sih manjur dalam me­melihara se­ma­ngat. Dan juga me­rupakan sa­lah satu ciri militer yang khas.

 

Pusaka membawa Harun menemui seseorang.

“Letnan Risman Zihari.” Dia mengenalkan dirinya. “Silahkan du­­duk.”

Ramah juga. Manusia penuh pengalaman, pikir Harun.

Duapuluh menit letnan itu memberikan penjelasan berkaitan de­­ngan ke­hadiran Harun di sana. “Mari, kita ke tempat Sersan Pe­ter!”

“Sekarang?” tanya Harun.

“Ya, dia orang yang menyenangkan.”

Harun merasa dirinya semakin jauh terseret ke dalam pusaran tan­­pa tu­juan, satu gejolak baru muncul. Detik pertama proses sur­vive telah di­mulai. “Apa saja yang harus kulakukan?”

“Kau sudah tahu,” jawab Pusaka.

“Apa ini perlu…,” ia berlagak bodoh.

“Di sini, bukan pertanyaan yang dibutuhkan, hanya kesiapse­diaan me­­laksanakan perintah,” guman Pusaka.

Harun manggut. Ia sadar akan posisi dan identitasnya. Sela­lu di­pandang se­belah mata.

Peter sedang melakukan tugas rutin. Para prajurit berdiri te­gak me­nyi­mak instruksi yang keluar dari bentakan-bentakan khas­nya.

“Pasukan, istirahat gerak!” seru Peter ketika melihat kedata­ngan me­reka.

“Sersan, ini orang yang pernah kuceritakan.”

Peter tersenyum, menyeringai lebar untuk kemudian menjadi ta­­­wa men­ce­mooh.

“Mulai sekarang kau berada di bawah pengawasan Sersan Pe­ter. Ku­­ha­rap kamu bisa bekerja sama dengannya,” ujar Pusaka.

Harun tersenyum pahit. Ia maklum akan tujuan ini. Ia tak bi­sa beron­tak, pi­lihannya hanya satu, maju terus.

Pusaka mendekati Harun dan bicara agak keras, “Perlu kau cam­­kan, sebenarnya aku ingin ta­­hu lebih banyak. Mengapa Mayor San­­toso dan Kolonel Oskar mendesak me­ma­sukkanmu ke dalam prog­ram latihan ini. Dan kurasa Sersan Peter pun de­mi­kian.”

“Ya, aku pun ingin tahu siapa kamu sebenarnya,” balas Peter sam­­bil me­­nyeringai.

Pusaka tersenyum. Dada Harun ditekan dengan telunjuknya. “Kau se­be­­nar­nya tidak begitu bodoh. Sayang, sedikit dungu dalam me­­milih nasib.”

Harun tak bereaksi. Ia malas bicara. Ia sudah pasrah, tetapi ju­­ga siap.

“Aku tahu kepenasaranmu akan semua yang harus kau laku­kan. Na­mun pe­rintahnya sangat jelas. Membangkang berarti keluar, dan misi tetap akan ber­jalan tanpa orang sepertimu.”

Harun menatap Pusaka. Ia merasa penasaran terhadap situasi dan kon­disi yang diciptakan kapten itu. Dirinya selalu dibuat ter­pojok, dan tak ada ce­lah melakukan sesuatu untuk mengubahnya.

Pusaka tersenyum. Senyum khas penuh arti seorang intelejen mi­­liter. Me­lihat Harun tak juga menjawab, ia berkata lagi perlahan, “Ingat kata-ka­taku. Ini Indonesia, bukan tempat murahan bagi pe­­tualang picisan seperti­mu,” bisik Pusaka dengan serius.

Harun ingin memaki, namun hanya mampu sebatas dalam ha­ti. “Gi­la, bang­sat. Goblok juga aku sampai harus mengalami hal ini.”

“Semoga kau bisa menyesuaikan diri secepatnya,” kata Pu­saka sam­bil me­ninggalkan tempat itu. “Sersan, sekarang dia mi­likmu!” se­runya pada Pe­­ter.

“Siap, kapten. Laksanakan!”

“Sialan, sekarang sersan badut dari Ambon ini yang berbaha­gia atas nasibku,” pi­­kir Harun.

 

“Baru sekarang ini aku melatih orang sipil. Tetapi jangan kha­wa­tir, kau akan menerima yang terbaik dariku. Dari mana asal­mu?”

“Bandung”

Peter mendekat. Dekat sekali, sehingga aroma keringatnya yang mi­rip bau ikan asin bisa tercium.

“Ada yang ingin kau katakan sebelum menerima perintah yang per­­tama?”

Harun menggeleng.

“Jangan bohong. Matamu tidak jujur. Bicaralah…”

Harun menyeringai masam. Tapi Peter menyeringai lebih lebar de­ngan se­nyum menghina. “Sipil penakut…dasar kecoa ka­cangan…”

Kening Harun mengerut. Sialan ni orang.

“Katakan!” bisik Peter.

Harun jadi terusik, ia tak mau dihina seorang yang keduduk­annya se­­perti Pe­ter. “Aku tidak punya tujuan berbakti, apalagi di­maki-ma­ki di si­ni.”

Peter tertawa lebar dan kemudian menggeram, “Tutup mu­lutmu yang bau! Aku tidak peduli kau akan menjerit atau menolak. Bahkan mam­pus di tem­pat ini pun, tak seorang pun yang pe­duli…”

“Kalau begitu, bagaimana jika kita sama-sama… mati…?” bi­sik Ha­run agak memberanikan diri.

Peter tertawa lagi, bola matanya yang bundar bergerak jena­ka. Ba­hu Ha­­run ditepuk-tepuk dengan senangnya. “Hehehe… rupa­nya ka­mu senang gu­rau ju­ga. Sudah kuduga orang sepertimu se­lalu penuh de­ngan hu­mor…humor kerbau du­ngu.. hehehe… hehe..”

Ia tertawa lagi, tapi begitu selesai, wajahnya berubah drastis ja­­­di pe­nuh te­kukan menegang, “Tidak, tidak, jangan salah sangka. Kau tidak akan mati! Kau tidak mungkin kubiarkan mati di tempat ini. Kau bukan mi­liter. Jangan sa­lah paham dulu..hehehe.” ia ter­­tawa la­gi perlahan.

Dan begitu usai, tangannya bergerak dengan cepat. Leher ba­­ju Ha­run di­­rengut, ditarik dengan kasar, suara sengaunya pun ter­­dengar sangat je­las. “De­ngar baik-baik sipil sombong, murah­an…kau ti­dak akan mati. Pegang ka­ta-kataku. Kau di sini tidak akan mati! Ha­nya…di antara hidup dan mati! Me­ngerti!”

Harun tertegun. “Selera humor sersan ini buruk sekali,” pi­kir­­nya.

Peter terus tertawa sambil menepuk-nepuk pipi Ha­run. “Se­ka­rang, ber­­gabunglah dengan pejuang-pejuang tulen. Harus­nya kau bersyukur, ka­­­rena tempat ini adalah sebuah kehormatan un­tuk­mu, dibanding sebuah sel bau yang dibutuhkan tikus got se­perti­mu…” desis Peter.

Harun memaksa diri tersenyum. Darahnya naik, tapi akal se­hat­nya me­­­larang bertindak. Melawan atau menonjok Peter sam­pai semaput ha­nya akan membuat keadaan semakin runyam. Tak ada guna.

“Apa kau siap dengan perintah pertama?!” Pe­ter bertanya la­gi.

“Apa?”

“Buang permen karetmu!”

Hah, sialan ni orang!

“Buang!”

Harun menarik nafas. Siang hari ini terasa jauh lebih panas da­ri ke­marin.

“Dan ingat, selama kau masih berurusan denganku, mulutmu ha­­rus tetap ber­sih dari benda menjijikkan itu. Mengerti!”

Sesukamulah, pikir Harun.

 

Di tengah lapangan

“Siapa dia? Desersi…?” komentar Eko.

Sok tahu. Lihat tampangnya. Di sini tak ada orang macam dia,” tu­kas Go­no.

“Dia pasti mahasiswa. Siapa berani taruhan. Go ceng?” Ja­jang tak bisa diam jika melihat peluang.

“Sialan, dasar jiwa lotre lu!”

“Ini serius. Dia pasti mahasiswa. Paling tidak, bekas maha­siswa. Li­hat sa­ja gayanya masih seperti koboy kuliah di kempus,” Ja­jang ber­argu­men.

“Bukan kempus, tapi kampus. Dasar bego!”

“Sedikit nginggris gak boleh?” balas Jajang sambil nyengir, na­­mun teriakan Peter membuatnya terdiam.

“Apa yang kalian ributkan, hah?”

Harun menarik napas, “Aku kembali jadi kurcaci. Sialan!”

“Akulah penentu! Aku yang menentukan ka­­pan kalian boleh ma­­ti, kapan kalian harus dua pertiga sekarat, atau buang hajat. Ka­lian ha­­nya­lah kambing congek. Tak boleh ada bantahan, juga raung­an. Aku tak pe­­duli dari mana kalian berasal, dan tak mau ta­hu pada medali yang per­nah ka­lian peroleh. Kalian ingat itu? Ja­wab!” Peter berkata lan­tang.

12 kurcaci menjawab serempak. “Ingat…!”

“Bodoh kalian semua! Bukan ingat, yang kubutuhkan adalah me­­ngerti. Me­ngerti!”

“Mengerti! Braja!”

Peter tersenyum sinis, tapi kutukannya mengalir. “Udik! Sung­guh memalukan, 12 prajurit dari kelompok istimewa tak ubah­nya se­perti burung Beo. Ma­na ke­beranian kalian? Mana?! Menga­pa tak ada yang menjawab?!”

“Gila ini orang,” pikir Harun. “Dia nanya barat, pengen di­jawab uta­ra. Dijawab utara, kata dia maksudnya selatan.”

“Apalagi kau, heh cecunguk sipil kotor! Kau bilang, kau bu­kan mi­liter dan tak mau mati. Mengapa sekarang seperti banci? Ma­ju enam langkah ke de­pan. Cepaaat!

Harun melirik kiri-kanan. Ia ragu. Apakah yang dimaksud Pe­ter ada­lah dir­i­nya?

“Cepat…!”

Pikiran Harun bekerja secepat kilat. Spontan ia maju…

Tetapi,…

“Goblok, siapa yang menyuruhmu maju? Apa aku menyebut na­­ma­mu?”

Harun terkesiap. Sudah lama tak ada yang membentak dirinya se­­perti itu.

“Jawab. Cepat!”

Akhirnya ia nekad. “Yaa…”

“Plak, plak, plak, plak”. Empat kali tamparan mendarat dipi­pinya.

Harun tak sadar menggeram gusar. Refleksnya bekerja membuat gaya un­tuk melawan.

“Melawan hah?” Peter memekik.

Sebelum Harun sadar, sang sersan sudah berbalik ke tengah la­­pangan, se­olah tak ada kejadian apa-apa.

Bangsat, ia menghindar,” Harun mengutuk.

Dan…

“Kalian lihat cecunguk sipil itu? Heh Baringin, Gono, Eko, Ja­jang, ka­­­lian lihat?”

“Braja, lihat sersan!” serentak.

“Bagus! Satu bandel ingin melawan, berarti 12 orang harus di­­hukum push-up 50 kali. Semua! Cepaaat!”

Bum!

Harun mengerti maksud Peter. Satu untuk semua. Semua un­tuk satu.

Pepatah usang tapi tetap kontemporer.

Braja—badan ke atas

Musti—badan ke bawah

Braja, musti, braja, musti, braja, musti.

Begitulah teriakan sambil push up.

Harun berseru dalam hati, “Gilaaa…!”

Hari yang tenang hanyalah kemarin slogan kuno dunia militer, mu­lai me­nimpanya lagi.

 

* * *

 

Ribuan kilometer ke arah utara. Di sebuah pos komunikasi.

“Ini berita dari Merah Tiga, let.”

Letnan Yahya bangkit dan membacanya. Atasannya harus di­beri tahu me­ngenai perubahan rencana ini.

Ia berjalan dengan perasaan malas. Di depan pos komando, se­­orang pen­­jaga tertidur, ke dua kakinya ditaruh di atas meja. Yah­ya me­nendang de­­­ngan kasar, serta menghardik pengawal ter­sebut. Orang se­waan selalu me­­­muakkan.

Mereka terkadang lebih hebat dari tentara tulen, namun ke­di­siplinan me­­­reka hanya patut diberi nilai nol dengan koma.

Dan di pulau Kabilat ini, ia harus memimpin pasukan sewaan yang tak ia senangi. Sudah hampir dua bulan. Mereka men­ja­di­kan pu­lau ini se­bagai tempat pusat distribusi bantuan dari luar ne­geri.

Pulau ini dipilih karena, selain “tak bertuan,” juga memiliki nilai stra­tegis yang cukup. Semua bantuan bisa dialirkan dengan aman ke Pa­pua Nuigini. Da­ri sana dialirkan lagi melalui jalur ra­hasia ke NTT. Ke­lompok mereka saat ini sedang menyusun kem­bali kekuatan. Baik per­sonil maupun persen­ja­­taannya.

Tiba di depan pintu ia mengetuk.

“Masuk!”

Yahya melangkah ke dalam. Atasannya duduk sambil meng­isap ro­­kok. Di atas meja berserakan peta dan buku-buku. Kolonel Bo­lil me­natap ta­­jam. “Apa yang kau bawa?”

“Merah tiga berubah arah, mereka akan sampai tanggal 18, bu­­kan tang­gal 15 seperti rencana semula.”

Bolil berpikir sejenak. Ia mengangguk. “Aku juga baru menda­pat berita dari Markas Besar. Barter tetap harus dilakukan di sini, ka­­rena sudah tak mungkin berubah rencana.”

“Apa itu bisa aman?”

“Ini kawasan Internasional…”

“ABRI juga akan sependapat?”

“Akan kusapu bersih jika mereka berani mendekat”

Yahya meraih minuman dan meneguknya.

Bolil memperhatikan dengan serius. Ia sudah hafal tingkah ba­­wahan­nya. “Apa yang menjadi pikiranmu?”

“Tugas ini tak kupahami. Terlalu banyak main-mainnya,” ba­las Yah­ya.

Bolil mendengus. “Mengapa sampai punya pemikiran seperti itu?

“Kita sudah terlalu jauh dengan ikut campur ke dalam masalah bar­­ter sen­­jata ini. Penuh dengan permainan kucing-kucingan. Se­jak me­lakukan ser­­gapan di pesawat, tak pernah kuterima informasi mau­­pun tugas yang jelas. Se­lalu berkisar pada tugas-tugas yang tak boleh lagi diketahui maksud dan tu­juannya.”

“Kau keberatan?”

“Aku hanya ingin tahu di mana letak kita berdiri saat ini?”

“Maksudmu?”

Yahya menatap tajam. “Kita di sini adalah pelarian politik, na­mun se­­cara nya­ta kita tetap militer. Karena itu pula kita bisa dan ber­sedia mem­­bantu orang-orang keriting itu, yang seideologi de­ngan kita. Namun akhir-akhir ini aku merasakan perubahan tu­juan ki­ta. Apalagi dengan ma­salah emas yang kita tangani se­karang. Aku me­rasa ini bukan lagi per­juangan.”

Bolil tertawa kecut, “Kamu masih mimpi rupanya. Masih me­rasa se­­­bagai mi­liter nasional. Lihat lambang kesatuan di le­nganmu. Hanya gam­bar kanak-ka­nak. Ini semua permainan. Orde Su­ci meng­anggapnya sebagai per­­juangan ke­merdekaan. Tetapi ba­giku saat ini ha­nyalah omong kosong. Me­reka tidak realis­tis. Se­cara militer dan po­litis, mereka sudah hancur.”

 

Sambil bangkit dan berjalan ke jendela ia bicara, “Kau tahu, saat ini kita bekerja sama dengan siapa? Dengan rampok berkulit po­­­litik. Mereka me­mobilisasi sisa-sisa pengikut, dengan tujuan tak jauh be­da dengan se­orang bankir. Mereka bebas menggunakan emas untuk mem­beli senjata. Me­reka berdalih membentuk pasukan, un­tuk mendirikan negara ba­ru. Buk­tinya? Mereka tidak pernah memben­tuk pasukan dari warganya sen­diri, malah mem­persenjatai kita. Kita, orang-orang se­waan. Karena de­ngan demi­kian, mereka bisa terus bertahan dan besar men­jadi perampok ber­­daulat. Menarik keuntungan ganda. Punya pasukan sen­diri, pu­nya du­kung­an rakyat yang tertipu, uang komisi dari penye­lundup sen­jata, samaran po­­litis demi mencari dana, dan juga ja­minan keselamatan internasional bi­la me­reka digulung habis oleh Ja­karta.”

“Tidak semua seperti itu.”

“Ya, tapi mereka yang benar-benar murni berjuang, sudah le­mah ti­dak pu­nya kekuatan.”

“Kalau tahu mereka lemah dan ada persamaan tujuan dengan ki­ta, me­nga­pa kita tidak membantunya agar lebih kuat.”

 

Bolil menunjuk keningnya sendiri.  “Pakai otakmu, jangan ha­nya pera­saan. Saat ini mereka itu sudah hancur, pecah menjadi be­berapa kelom­pok. Ka­lau tetap mengikuti garis ideal, kita pasti ha­bis tanpa ha­sil. Jadi ki­ta harus bisa menempatkan diri. Di posisi ter­aman dan mempu­nyai peluang un­tuk kemajuan hidup kita sendi­ri.”

“Itukah alasan kita berada dengan kelompok ini?”

“Kau cepat menangkap maksudku.”

“Tapi kelompok ini oportunis, berbeda dengan kelompok lain­nya yang be­nar-benar bertujuan mencapai pembaruan.”

“Tapi paling cocok untuk tujuan kita saat ini. Melihat pemim­pin Orde Suci sekarang, aku pun tak menghormatinya. Aku tahu tu­juannya dalam kemelut ini. Dia hanya ingin memperkaya diri sen­­diri. Tapi kita membutuh­kannya. Dia sanggup membuat pasu­kan dan men­dapatkan senjata. Itu hal penting untuk kehidupan ki­ta saat ini, juga untuk masa depan kita.”

Yahya terdiam.

“Kau kira kita sudah hebat bisa merampas emas dari ten­tara In­­donesia? Konyol kalau berpendapat demikian. Kita berhasil kare­na per­main­an seorang pengkhianat di Jakarta.”

Yahya tertegun tak mengerti.

 

Bolil menyulut rokok. Dengan didahului senyum kemenangan, ia me­­­nyambung lagi. “Kekuasaan, jabatan, dan uang, adalah ja­lan termudah untuk me­­­mancing seseorang jadi pengkhianat. Di se­mua tempat di dunia ini, tak ada yang bersih dari pengkhianat. Be­gitu juga dengan Jakarta. Aku ta­­hu siapa orang­nya.”

“Apa ABRI tahu posisi dan rencana kita di Kabilat ini?”

“Aku belum bisa memastikan. Bila pun mereka berani ke si­ni. Akan ku­­­libas mereka sewaktu masih mengambang.”

Yahya menangkap getar dendam kesumat di dalam kata-ka­tanya yang ter­­akhir. Dendam seorang bekas Pasukan Istimewa Re­publik Indonesia.

“Bagaimana dengan tawanan kita?” Yahya bertanya lagi.

“Harusnya mereka itu kuhabisi dari dulu. Sejak di pesawat,” ja­wab Bo­lil sambil mengambil pisau cukurnya.

Ia meraba dagunya yang ditumbuhi jenggot kasar. “Waktu itu aku ber­­pi­kir, mereka bisa jadi sandera dalam perjalanan ke si­ni. Dan kita me­mang se­la­mat hingga sekarang. Tetapi setiap aku berpikir untuk mengha­bisi mereka, firasatku me­ngatakan, sua­tu waktu mereka itu akan ada gu­na­nya. Terutama si Amerika. Ten­tang perwira Siliwangi itu, aku me­mang ingin melihat ia men­derita le­bih lama.”

Yahya tak memberi komentar. Ia keluar dengan berbagai pe­rasaan ber­­­kecamuk.

 

****

 

Harun memandang ke ufuk barat. Rona merah membayang sepan­jang ho­rizon.

Seorang prajurit tinggi kurus berwajah dingin memandangnya de­ngan ta­tap­an sinis. Harun mengangguk, mengajak tersenyum. Ba­ru saat ini ia ber­­ada di dekatnya. Tetapi prajurit itu tetap diam, tak ada reaksi. Pan­dangannya meng­getarkan.

Harun mencoba mendekat, namun Sidik menggamitnya sera­ya ber­bi­sik. “Ayo, kita ke sana. Biarkan saja dia.”

“Mengapa?”

“Sudahlah, dia jarang mau ditemani.”

“Siapa dia?” Harun jadi ikut melangkah.

“Bertus. Si Peluru Beku.”

“Pasukaaan, siaaap!” Teriakan Peter kembali membahana.

Harun menengok ke belakang. Bertus masih tetap meman­dangnya.

Gila, sorot matanya bagai mayat hidup.

 

Mereka masuk barak ketika hari telah gelap.

Di sini tidak ada jadwal tetap. Semua tergantung situasi. Ba­rak mereka ter­pisah dari yang lain. Paling sudut, paling kumuh.

“Mengapa kita terpisah?” Harun tak dapat menahan keheran­annya.

Jajang nyengir, Eko tersenyum tanpa komentar.

Baringin mewakili,  “Ini semua gara-gara si kampret sialan itu, juga aki­­bat si Arab konyol ini,“ gerutunya sambil menunjuk Ja­jang dan Mansur.

“Tapi juga karena si mandor kodok itu,” ia menoleh pada Fa­jar Sidik.

Mereka satu regu. Satu bikin ulah, semua kena akibatnya.Tapi ru­panya me­­reka tak peduli akan hal itu. Kesalahan demi kesalahan se­lalu terulang. Mem­­buat mereka tidak pernah habis-habisnya men­jalani hukuman alias ja­di peng­huni barak terkumuh di seluruh tang­si.

“Tempat tidur antum paling sudut.“ kata Mansur sambil ter­se­nyum le­bar. Ramah tapi ngeledek.

Tempat tidur reyot, pikir Harun. Langkah Harun ter­henti. Se­pasang ma­ta dingin menerpanya.

Mata Bertus.

“Aku di mana?” Harun bertanya perlahan.

Bertus tak menyahut.

Harun pura-pura tak peduli. “Maaf,” bisiknya sambil menaruh ran­sel di kasur.

Bertus memalingkan wajah dan melangkah keluar.

Harun memandang ke sekelilingnya. Semua tersenyum penuh ar­ti. Mansur melambaikan tangan, “Semoga tabah sampai akhir, ana doa­kan…,” ucapnya perlahan sambil tersenyum.

Mereka sengaja menaruhku dekat manusia setengah hi­dup.Gila!