8. WAJAN PERLAYA
“BAGI YANG RAGU-RAGU,
BALIK KANAN SEKARANG JUGA!”
Harun bersiul pelan
setelah membaca kalimat itu. Ditulis dengan warna merah, latar belakang
hijau dalam ukuran raksasa. Dipasang secara mencolok, kira-kira 100 meter
sebelum pintu gerbang.
“Mengapa diam, mau
diteruskan atau tidak?” tanya Pusaka sambil menghentikan laju mobil. Harun
tak berkomentar, permen karetnya dikunyah semakin cepat.
Pusaka tersenyum. Ia
jalankan kembali mobilnya menuju pintu gerbang Pusat Pasukan Komando Taktis
TNI AD-Yon 011 Terpadu BRAJAMUSTI.
“Lagi-lagi
mengambil nama dari pewayangan,” bisik Harun dalam hati. “Apa tak
ada ide lagi? Mentang-mentang Presiden dari Jowo, penggemar wayang kulit,
semua latah pakai identitas simbol budaya itu.”
Dalam cerita wayang,
Brajamusti memang ksatria hebat, ia menitis ke diri Gatutkaca, putra Bima,
dan berdiam sebagai aji (kekuatan) di kepalannya. Jadi, kalau
Gatutkaca nonjok, dengan dilambari ajian Brajamusti, kontan si korban akan
perlaya alias lepas nyawa.
Namun ada yang membuat
Harun penasaran, dan ia bergumam, “Nomor Yon-nya aneh…”
Pusaka mengangguk. Yon
ini memang mempunyai nomor yang tidak lazim. Tidak memiliki nomor divisi
sebagaimana biasanya. Hal ini disebabkan berbagai alasan yang melatarbelakangi
pendiriannya. Dan ini tentu saja tak bisa dijelaskan pada Harun. Namun ia
menjawab singkat, “Bukan urusanmu.”
“Pasti begitu
jawabannya. Militer mana mau terus terang,” pikir Harun.
Melihat suasana tempat
itu, anggota militer biasa pun pasti agak ragu-ragu untuk masuk. Apalagi
orang sipil, bisa deg-degan dibuatnya.
Di lapangan rumput
yang terletak di bagian belakang. Terpasang sebuah plat baja hitam setebal
0,8 cm. Berbentuk segi empat dan berukuran besar sekitar 4×4 m. Penuh
lubang peluru, sehingga menimbulkan kesan angker dan kehancuran.
Di tengah bidang plat
baja itu terdapat sebuah gambar kepalan tangan dari sudut pandang depan
(frontal), di tengah kobaran api, diapit dua pisau komando dalam posisi
bersilang, dilengkapi tulisan Yon 011 KOMANDO TERPADU
AD-BRAJAMUSTI dalam warna merah menyala.
Pasti gambar lambang
kesatuan.
Selain itu, di dinding
bangunan yang berada di sekitarnya terdapat banyak tulisan dan semboyan yang
menyiratkan bahwa kesatuan ini merupakan gabungan personil terunggul yang di
ambil dari berbagai kesatuan pasukan tempur AD.
Di antara semboyan itu
ada satu yang membuat Harun tertarik.
“MEMBUAT NKRI TERUSIK
AKAN MERUGI. MEMPERHITUNGKAN KAMI SANGAT BIJAK. KAMI PRAJURIT BANGSA DAN TANAH
AIR”
Sangat arogan, tapi
meyakinkan.
Kesombongan terkadang
perlu untuk memperkuat rasa juang kesatuan. Pasukan ini jelas manusia
pilihan dari yang terpilih. Namun untuk menantang maut dalam pertempuran,
semangat mereka harus tetap terpelihara. Semboyan termasuk salah satu cara
yang masih manjur dalam memelihara semangat. Dan juga merupakan salah
satu ciri militer yang khas.
Pusaka membawa Harun
menemui seseorang.
“Letnan Risman
Zihari.” Dia mengenalkan dirinya. “Silahkan duduk.”
Ramah juga. Manusia
penuh pengalaman, pikir Harun.
Duapuluh menit letnan
itu memberikan penjelasan berkaitan dengan kehadiran Harun di sana. “Mari,
kita ke tempat Sersan Peter!”
“Sekarang?” tanya
Harun.
“Ya, dia orang yang
menyenangkan.”
Harun merasa dirinya
semakin jauh terseret ke dalam pusaran tanpa tujuan, satu gejolak baru
muncul. Detik pertama proses survive telah dimulai. “Apa
saja yang harus kulakukan?”
“Kau sudah tahu,”
jawab Pusaka.
“Apa ini perlu…,” ia
berlagak bodoh.
“Di sini, bukan
pertanyaan yang dibutuhkan, hanya kesiapsediaan melaksanakan perintah,”
guman Pusaka.
Harun manggut. Ia
sadar akan posisi dan identitasnya. Selalu dipandang sebelah mata.
Peter sedang melakukan
tugas rutin. Para prajurit berdiri tegak menyimak instruksi yang keluar dari
bentakan-bentakan khasnya.
“Pasukan, istirahat
gerak!” seru Peter ketika melihat kedatangan mereka.
“Sersan, ini orang
yang pernah kuceritakan.”
Peter tersenyum,
menyeringai lebar untuk kemudian menjadi tawa mencemooh.
“Mulai sekarang kau
berada di bawah pengawasan Sersan Peter. Kuharap kamu bisa bekerja sama
dengannya,” ujar Pusaka.
Harun tersenyum pahit.
Ia maklum akan tujuan ini. Ia tak bisa berontak, pilihannya hanya satu, maju
terus.
Pusaka mendekati Harun
dan bicara agak keras, “Perlu kau camkan, sebenarnya aku ingin tahu lebih
banyak. Mengapa Mayor Santoso dan Kolonel Oskar mendesak memasukkanmu ke
dalam program latihan ini. Dan kurasa Sersan Peter pun demikian.”
“Ya, aku pun ingin
tahu siapa kamu sebenarnya,” balas Peter sambil menyeringai.
Pusaka tersenyum. Dada
Harun ditekan dengan telunjuknya. “Kau sebenarnya tidak begitu bodoh.
Sayang, sedikit dungu dalam memilih nasib.”
Harun tak bereaksi. Ia
malas bicara. Ia sudah pasrah, tetapi juga siap.
“Aku tahu
kepenasaranmu akan semua yang harus kau lakukan. Namun perintahnya sangat
jelas. Membangkang berarti keluar, dan misi tetap akan berjalan tanpa orang
sepertimu.”
Harun menatap Pusaka.
Ia merasa penasaran terhadap situasi dan kondisi yang diciptakan kapten itu.
Dirinya selalu dibuat terpojok, dan tak ada celah melakukan sesuatu untuk
mengubahnya.
Pusaka tersenyum.
Senyum khas penuh arti seorang intelejen militer. Melihat Harun tak juga
menjawab, ia berkata lagi perlahan, “Ingat kata-kataku. Ini Indonesia, bukan
tempat murahan bagi petualang picisan sepertimu,” bisik Pusaka dengan
serius.
Harun ingin memaki,
namun hanya mampu sebatas dalam hati. “Gila, bangsat. Goblok juga aku sampai
harus mengalami hal ini.”
“Semoga kau bisa
menyesuaikan diri secepatnya,” kata Pusaka sambil meninggalkan tempat itu.
“Sersan, sekarang dia milikmu!” serunya pada Peter.
“Siap, kapten.
Laksanakan!”
“Sialan, sekarang
sersan badut dari Ambon ini yang berbahagia atas nasibku,” pikir Harun.
“Baru sekarang ini aku
melatih orang sipil. Tetapi jangan khawatir, kau akan menerima yang terbaik
dariku. Dari mana asalmu?”
“Bandung”
Peter mendekat. Dekat
sekali, sehingga aroma keringatnya yang mirip bau ikan asin bisa tercium.
“Ada yang ingin kau
katakan sebelum menerima perintah yang pertama?”
Harun menggeleng.
“Jangan bohong. Matamu
tidak jujur. Bicaralah…”
Harun menyeringai
masam. Tapi Peter menyeringai lebih lebar dengan senyum menghina. “Sipil
penakut…dasar kecoa kacangan…”
Kening Harun
mengerut. Sialan ni orang.
“Katakan!” bisik
Peter.
Harun jadi terusik, ia
tak mau dihina seorang yang kedudukannya seperti Peter. “Aku tidak punya
tujuan berbakti, apalagi dimaki-maki di sini.”
Peter tertawa lebar
dan kemudian menggeram, “Tutup mulutmu yang bau! Aku tidak peduli kau akan
menjerit atau menolak. Bahkan mampus di tempat ini pun, tak seorang pun yang
peduli…”
“Kalau begitu,
bagaimana jika kita sama-sama… mati…?” bisik Harun agak
memberanikan diri.
Peter tertawa lagi,
bola matanya yang bundar bergerak jenaka. Bahu Harun ditepuk-tepuk dengan
senangnya. “Hehehe… rupanya kamu senang gurau juga. Sudah kuduga orang
sepertimu selalu penuh dengan humor…humor kerbau dungu.. hehehe… hehe..”
Ia tertawa lagi, tapi
begitu selesai, wajahnya berubah drastis jadi penuh tekukan menegang,
“Tidak, tidak, jangan salah sangka. Kau tidak akan mati! Kau tidak mungkin
kubiarkan mati di tempat ini. Kau bukan militer. Jangan salah paham
dulu..hehehe.” ia tertawa lagi perlahan.
Dan begitu usai,
tangannya bergerak dengan cepat. Leher baju Harun direngut, ditarik dengan
kasar, suara sengaunya pun terdengar sangat jelas. “Dengar baik-baik sipil
sombong, murahan…kau tidak akan mati. Pegang kata-kataku. Kau di sini tidak
akan mati! Hanya…di antara hidup dan mati! Mengerti!”
Harun tertegun. “Selera
humor sersan ini buruk sekali,” pikirnya.
Peter terus tertawa
sambil menepuk-nepuk pipi Harun. “Sekarang, bergabunglah dengan
pejuang-pejuang tulen. Harusnya kau bersyukur, karena tempat ini adalah
sebuah kehormatan untukmu, dibanding sebuah sel bau yang dibutuhkan tikus got
sepertimu…” desis Peter.
Harun memaksa diri
tersenyum. Darahnya naik, tapi akal sehatnya melarang bertindak. Melawan
atau menonjok Peter sampai semaput hanya akan membuat keadaan semakin runyam.
Tak ada guna.
“Apa kau siap dengan
perintah pertama?!” Peter bertanya lagi.
“Apa?”
“Buang permen
karetmu!”
Hah, sialan ni
orang!
“Buang!”
Harun menarik nafas.
Siang hari ini terasa jauh lebih panas dari kemarin.
“Dan ingat, selama kau
masih berurusan denganku, mulutmu harus tetap bersih dari benda menjijikkan
itu. Mengerti!”
Sesukamulah, pikir Harun.
Di tengah lapangan
“Siapa dia? Desersi…?”
komentar Eko.
“Sok tahu.
Lihat tampangnya. Di sini tak ada orang macam dia,” tukas Gono.
“Dia pasti mahasiswa.
Siapa berani taruhan. Go ceng?” Jajang tak bisa diam jika melihat
peluang.
“Sialan, dasar
jiwa lotre lu!”
“Ini serius. Dia pasti
mahasiswa. Paling tidak, bekas mahasiswa. Lihat saja gayanya masih seperti
koboy kuliah di kempus,” Jajang berargumen.
“Bukan kempus, tapi
kampus. Dasar bego!”
“Sedikit nginggris gak
boleh?” balas Jajang sambil nyengir, namun teriakan Peter membuatnya terdiam.
“Apa yang kalian
ributkan, hah?”
Harun menarik napas,
“Aku kembali jadi kurcaci. Sialan!”
“Akulah penentu! Aku
yang menentukan kapan kalian boleh mati, kapan kalian harus dua pertiga
sekarat, atau buang hajat. Kalian hanyalah kambing congek. Tak boleh ada
bantahan, juga raungan. Aku tak peduli dari mana kalian berasal, dan tak mau
tahu pada medali yang pernah kalian peroleh. Kalian ingat itu? Jawab!”
Peter berkata lantang.
12 kurcaci menjawab
serempak. “Ingat…!”
“Bodoh kalian semua!
Bukan ingat, yang kubutuhkan adalah mengerti. Mengerti!”
“Mengerti! Braja!”
Peter tersenyum sinis,
tapi kutukannya mengalir. “Udik! Sungguh memalukan, 12 prajurit dari
kelompok istimewa tak ubahnya seperti burung Beo. Mana keberanian kalian?
Mana?! Mengapa tak ada yang menjawab?!”
“Gila ini orang,”
pikir Harun. “Dia nanya barat, pengen dijawab
utara. Dijawab utara, kata dia maksudnya selatan.”
“Apalagi kau, heh
cecunguk sipil kotor! Kau bilang, kau bukan militer dan tak mau mati. Mengapa
sekarang seperti banci? Maju enam langkah ke depan. Cepaaat!”
Harun melirik
kiri-kanan. Ia ragu. Apakah yang dimaksud Peter adalah dirinya?
“Cepat…!”
Pikiran Harun bekerja
secepat kilat. Spontan ia maju…
Tetapi,…
“Goblok, siapa yang
menyuruhmu maju? Apa aku menyebut namamu?”
Harun terkesiap. Sudah
lama tak ada yang membentak dirinya seperti itu.
“Jawab. Cepat!”
Akhirnya ia nekad.
“Yaa…”
“Plak, plak, plak,
plak”. Empat kali tamparan mendarat dipipinya.
Harun tak sadar
menggeram gusar. Refleksnya bekerja membuat gaya untuk melawan.
“Melawan hah?” Peter
memekik.
Sebelum Harun sadar,
sang sersan sudah berbalik ke tengah lapangan, seolah tak ada kejadian
apa-apa.
“Bangsat, ia
menghindar,” Harun mengutuk.
Dan…
“Kalian lihat cecunguk
sipil itu? Heh Baringin, Gono, Eko, Jajang, kalian lihat?”
“Braja, lihat sersan!”
serentak.
“Bagus! Satu bandel
ingin melawan, berarti 12 orang harus dihukum push-up 50
kali. Semua! Cepaaat!”
Bum!
Harun mengerti maksud
Peter. Satu untuk semua. Semua untuk satu.
Pepatah usang tapi
tetap kontemporer.
Braja—badan ke atas
Musti—badan ke bawah
Braja, musti, braja,
musti, braja, musti.
Begitulah teriakan
sambil push up.
Harun berseru dalam
hati, “Gilaaa…!”
Hari yang tenang
hanyalah kemarin slogan
kuno dunia militer, mulai menimpanya lagi.
* * *
Ribuan kilometer ke
arah utara. Di sebuah pos komunikasi.
“Ini berita dari Merah
Tiga, let.”
Letnan Yahya bangkit
dan membacanya. Atasannya harus diberi tahu mengenai perubahan rencana ini.
Ia berjalan dengan
perasaan malas. Di depan pos komando, seorang penjaga tertidur, ke dua
kakinya ditaruh di atas meja. Yahya menendang dengan kasar, serta
menghardik pengawal tersebut. Orang sewaan selalu memuakkan.
Mereka terkadang lebih
hebat dari tentara tulen, namun kedisiplinan mereka hanya patut diberi
nilai nol dengan koma.
Dan di pulau Kabilat
ini, ia harus memimpin pasukan sewaan yang tak ia senangi. Sudah hampir dua
bulan. Mereka menjadikan pulau ini sebagai tempat pusat distribusi bantuan
dari luar negeri.
Pulau ini dipilih
karena, selain “tak bertuan,” juga memiliki nilai strategis yang cukup. Semua
bantuan bisa dialirkan dengan aman ke Papua Nuigini. Dari sana dialirkan lagi
melalui jalur rahasia ke NTT. Kelompok mereka saat ini sedang menyusun kembali
kekuatan. Baik personil maupun persenjataannya.
Tiba di depan pintu ia
mengetuk.
“Masuk!”
Yahya melangkah ke
dalam. Atasannya duduk sambil mengisap rokok. Di atas meja berserakan peta
dan buku-buku. Kolonel Bolil menatap tajam. “Apa yang kau bawa?”
“Merah tiga berubah
arah, mereka akan sampai tanggal 18, bukan tanggal 15 seperti rencana
semula.”
Bolil berpikir
sejenak. Ia mengangguk. “Aku juga baru mendapat berita dari Markas Besar.
Barter tetap harus dilakukan di sini, karena sudah tak mungkin berubah
rencana.”
“Apa itu bisa aman?”
“Ini kawasan
Internasional…”
“ABRI juga akan
sependapat?”
“Akan kusapu bersih
jika mereka berani mendekat”
Yahya meraih minuman
dan meneguknya.
Bolil memperhatikan
dengan serius. Ia sudah hafal tingkah bawahannya. “Apa yang menjadi
pikiranmu?”
“Tugas ini tak
kupahami. Terlalu banyak main-mainnya,” balas Yahya.
Bolil mendengus.
“Mengapa sampai punya pemikiran seperti itu?
“Kita sudah terlalu
jauh dengan ikut campur ke dalam masalah barter senjata ini. Penuh dengan
permainan kucing-kucingan. Sejak melakukan sergapan di pesawat, tak pernah
kuterima informasi maupun tugas yang jelas. Selalu berkisar pada tugas-tugas
yang tak boleh lagi diketahui maksud dan tujuannya.”
“Kau keberatan?”
“Aku hanya ingin tahu
di mana letak kita berdiri saat ini?”
“Maksudmu?”
Yahya menatap tajam.
“Kita di sini adalah pelarian politik, namun secara nyata kita tetap
militer. Karena itu pula kita bisa dan bersedia membantu orang-orang
keriting itu, yang seideologi dengan kita. Namun akhir-akhir ini aku merasakan
perubahan tujuan kita. Apalagi dengan masalah emas yang kita tangani sekarang.
Aku merasa ini bukan lagi perjuangan.”
Bolil tertawa kecut,
“Kamu masih mimpi rupanya. Masih merasa sebagai militer nasional. Lihat
lambang kesatuan di lenganmu. Hanya gambar kanak-kanak. Ini semua permainan.
Orde Suci menganggapnya sebagai perjuangan kemerdekaan. Tetapi bagiku
saat ini hanyalah omong kosong. Mereka tidak realistis. Secara militer dan
politis, mereka sudah hancur.”
Sambil bangkit dan
berjalan ke jendela ia bicara, “Kau tahu, saat ini kita bekerja sama dengan
siapa? Dengan rampok berkulit politik. Mereka memobilisasi sisa-sisa
pengikut, dengan tujuan tak jauh beda dengan seorang bankir. Mereka bebas
menggunakan emas untuk membeli senjata. Mereka berdalih membentuk pasukan, untuk
mendirikan negara baru. Buktinya? Mereka tidak pernah membentuk pasukan dari
warganya sendiri, malah mempersenjatai kita. Kita, orang-orang sewaan.
Karena dengan demikian, mereka bisa terus bertahan dan besar menjadi
perampok berdaulat. Menarik keuntungan ganda. Punya pasukan sendiri, punya
dukungan rakyat yang tertipu, uang komisi dari penyelundup senjata, samaran
politis demi mencari dana, dan juga jaminan keselamatan internasional bila
mereka digulung habis oleh Jakarta.”
“Tidak semua seperti
itu.”
“Ya, tapi mereka yang
benar-benar murni berjuang, sudah lemah tidak punya kekuatan.”
“Kalau tahu mereka
lemah dan ada persamaan tujuan dengan kita, mengapa kita tidak membantunya
agar lebih kuat.”
Bolil menunjuk
keningnya sendiri. “Pakai otakmu, jangan hanya perasaan. Saat ini
mereka itu sudah hancur, pecah menjadi beberapa kelompok. Kalau tetap
mengikuti garis ideal, kita pasti habis tanpa hasil. Jadi kita harus bisa
menempatkan diri. Di posisi teraman dan mempunyai peluang untuk kemajuan
hidup kita sendiri.”
“Itukah alasan kita
berada dengan kelompok ini?”
“Kau cepat menangkap
maksudku.”
“Tapi kelompok ini
oportunis, berbeda dengan kelompok lainnya yang benar-benar bertujuan
mencapai pembaruan.”
“Tapi paling cocok
untuk tujuan kita saat ini. Melihat pemimpin Orde Suci sekarang, aku pun tak
menghormatinya. Aku tahu tujuannya dalam kemelut ini. Dia hanya ingin
memperkaya diri sendiri. Tapi kita membutuhkannya. Dia sanggup membuat pasukan
dan mendapatkan senjata. Itu hal penting untuk kehidupan kita saat ini, juga
untuk masa depan kita.”
Yahya terdiam.
“Kau kira kita sudah
hebat bisa merampas emas dari tentara Indonesia? Konyol kalau berpendapat
demikian. Kita berhasil karena permainan seorang pengkhianat di Jakarta.”
Yahya tertegun tak
mengerti.
Bolil menyulut rokok.
Dengan didahului senyum kemenangan, ia menyambung lagi. “Kekuasaan, jabatan,
dan uang, adalah jalan termudah untuk memancing seseorang jadi pengkhianat.
Di semua tempat di dunia ini, tak ada yang bersih dari pengkhianat. Begitu
juga dengan Jakarta. Aku tahu siapa orangnya.”
“Apa ABRI tahu posisi
dan rencana kita di Kabilat ini?”
“Aku belum bisa
memastikan. Bila pun mereka berani ke sini. Akan kulibas mereka sewaktu
masih mengambang.”
Yahya menangkap getar
dendam kesumat di dalam kata-katanya yang terakhir. Dendam seorang bekas
Pasukan Istimewa Republik Indonesia.
“Bagaimana dengan
tawanan kita?” Yahya bertanya lagi.
“Harusnya mereka itu
kuhabisi dari dulu. Sejak di pesawat,” jawab Bolil sambil mengambil pisau
cukurnya.
Ia meraba dagunya yang
ditumbuhi jenggot kasar. “Waktu itu aku berpikir, mereka bisa jadi sandera
dalam perjalanan ke sini. Dan kita memang selamat hingga sekarang. Tetapi
setiap aku berpikir untuk menghabisi mereka, firasatku mengatakan, suatu
waktu mereka itu akan ada gunanya. Terutama si Amerika. Tentang perwira
Siliwangi itu, aku memang ingin melihat ia menderita lebih lama.”
Yahya tak memberi
komentar. Ia keluar dengan berbagai perasaan berkecamuk.
****
Harun memandang ke
ufuk barat. Rona merah membayang sepanjang horizon.
Seorang prajurit
tinggi kurus berwajah dingin memandangnya dengan tatapan sinis. Harun
mengangguk, mengajak tersenyum. Baru saat ini ia berada di dekatnya. Tetapi
prajurit itu tetap diam, tak ada reaksi. Pandangannya menggetarkan.
Harun mencoba
mendekat, namun Sidik menggamitnya seraya berbisik. “Ayo, kita ke sana.
Biarkan saja dia.”
“Mengapa?”
“Sudahlah, dia jarang
mau ditemani.”
“Siapa dia?” Harun
jadi ikut melangkah.
“Bertus. Si Peluru
Beku.”
“Pasukaaan, siaaap!”
Teriakan Peter kembali membahana.
Harun menengok ke
belakang. Bertus masih tetap memandangnya.
Gila, sorot matanya
bagai mayat hidup.
Mereka masuk barak
ketika hari telah gelap.
Di sini tidak ada
jadwal tetap. Semua tergantung situasi. Barak mereka terpisah dari yang lain.
Paling sudut, paling kumuh.
“Mengapa kita
terpisah?” Harun tak dapat menahan keheranannya.
Jajang nyengir, Eko
tersenyum tanpa komentar.
Baringin
mewakili, “Ini semua gara-gara si kampret sialan itu, juga akibat si
Arab konyol ini,“ gerutunya sambil menunjuk Jajang dan Mansur.
“Tapi juga karena si
mandor kodok itu,” ia menoleh pada Fajar Sidik.
Mereka satu regu. Satu
bikin ulah, semua kena akibatnya.Tapi rupanya mereka tak peduli akan hal
itu. Kesalahan demi kesalahan selalu terulang. Membuat mereka tidak pernah
habis-habisnya menjalani hukuman alias jadi penghuni barak terkumuh di
seluruh tangsi.
“Tempat tidur antum paling
sudut.“ kata Mansur sambil tersenyum lebar. Ramah tapi ngeledek.
Tempat tidur reyot,
pikir Harun. Langkah Harun terhenti. Sepasang mata dingin menerpanya.
Mata Bertus.
“Aku di mana?” Harun
bertanya perlahan.
Bertus tak menyahut.
Harun pura-pura tak
peduli. “Maaf,” bisiknya sambil menaruh ransel di kasur.
Bertus memalingkan
wajah dan melangkah keluar.
Harun memandang ke
sekelilingnya. Semua tersenyum penuh arti. Mansur melambaikan tangan, “Semoga
tabah sampai akhir, ana doakan…,” ucapnya perlahan sambil
tersenyum.
Mereka sengaja
menaruhku dekat manusia setengah hidup.Gila!