Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

7. “VOLUNTER TRAINEE!”

 


Pada saat yang sama. Di kawas­an Ci­putat, Ja­karta Selatan.

Sebuah mobil mewah de­ngan nomor korps diplomatik ma­suk ke ha­lam­an sebuah ru­mah ber­ukuran besar. Se­orang wanita ku­lit pu­tih, cantik ber­isi, turun dan langsung menuju ke ruang be­la­kang.

Di pinggir kolam renang, Guy M. Lu­bord Jr. Kepala Seksi 09 yang mem­ba­wahi satuan tu­gas Asia Pasifik, ber­ba­ring di kur­simalas.

Melihat kedatangan wanita itu, ia ber­henti membaca sammbil mem­buka ka­ca­mata pelindung si­nar mataharinya. “Kau terlambat 20 menit…”

“Kehilangan 20 menit tak ada ar­ti­­nya dengan informasi yang ku­­peroleh hari ini.”

“Apa pun yang kau peroleh, tak per­nah bisa membuatku sibuk.”

Joan C. Isby melemparkan se­buah chip ke pang­kuan Guy.

“Aku memperolehnya dari Ni­cholas.”

“Nicholas? Bagaimana dia bisa mem­beri­kan sesuatu?”

“Cukup panjang dan ada hubungannya de­ngan Saito Ohara di Tokyo.”

“Saito? Pengusaha licik itu …”

“Nicholas tahu Joe hilang dalam tu­gas menyelidiki sindikat pen­jualan sen­jata di Asia Tenggara. Dia ke­mudian mengontak Al­bert Heinz di Port Mo­resby. Heinz mengatakan bah­­wa Joe masih hi­dup dan ditahan pemberon­tak.”

“Albert Heinz!? Bukankah ia agen serdadu sewaan di Brus­sel?”

Joan mengangguk

“Dari mana Heinz tahu?”

“Beberapa anakbuahnya disewa dalam penculikan Joe dan ju­ga pem­ba­jakan emas.”

“Emas?”

“Milik Lisboa Bank, emas itu direbut ABRI dari pemberontak, ta­­pi pem­berontak merebutnya lagi dari pesawat. Joe ada di pe­sawat ter­sebut.”

Guy terhenyak sesaat. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Detailnya dia tak tahu. Joe mungkin masih hidup. Tapi Heinz meng­­­anjurkan Nicholas menyelidiki sindikat Saito Ohara.”

Guy menggeleng. “Apa dia mampu…?”

Joan tersenyum, “Saito punya akuntan bernama Tetsu Igaki. Tet­­su su­dah la­ma termasuk orang yang diawasi, punya beberapa ke­­lemahan yang diketahui sek­si kita di Tokyo. Nicholas berhasil me­­nekan Tetsu untuk men­dapatkan in­formasi senjata gelap di Asia Teng­gara yang ada hubung­annya dengan ke­hilangan Joe dan kegiatan Sai­to saat ini.”

“Penakut juga dia itu.”

Joan mengangkat kaki dan menaruhnya di pangkuan Guy, “Tet­su tak pu­nya pilihan. Daripada kecurangan pembukuannya di­beberkan dan dibunuh Oha­ra, ia lebih memilih buka suara pada Ni­cholas.”

Guy memijat betis indah itu perlahan.

“Tetsu menceritakan, dua bulan yang lalu seseorang yang ber­­sandi LO­TUS mengontak Saito Ohara. Menawarkan informasi t­entang emas jutaan dol­lar.”

Guy terhenyak. “Milik Lisboa Bank itu?”

Joan merebut rokok dari tangan Guy dan menghisapnya.

“Saito membelinya?” Guy bertanya lagi.

“Tetsu tak menceritakan lebih jauh. Tetapi menurut dia. Saito ma­­lah ja­­di terlibat langsung dalam masalah emas itu dengan sese­orang dari Jakar­ta.”

“Ha, dari Jakarta. Siapa?”

“Hanya itu yang diketahui Tetsu, dan yang berhasil dikorek Ni­­cholas.”

“Apa hubungannya dengan sindikat senjata yang diselidiki Joe?”

“Kita lihat rentang waktu antara info dari Heinz dan Tetsu. Sai­to Oha­ra di­hubungi Lotus sekitar dua bulan yang lalu. Saito ke­mudian men­jual in­formasi tersebut ke orang Jakarta. Dan Joe hi­lang dengan emas pada ha­ri yang sama, dalam sebuah peristiwa pem­bajakan di atas kapal AD. Apa ke­simpulanmu?”

Guy bersiul perlahan. “Orang yang membeli informasi tersebut mere­but emas lewat tentara, tapi direbut lagi oleh pemberontak di pesawat AD, Itu mak­sudmu?”

“Bukankah itu menarik?,” Joan tertawa, “Orang dalam mem­be­li rahasia ten­­tang emas dari Saito, kemudian merebut emas itu da­­ri pemberontak, te­tapi mem­biarkan direbut lagi. Selain itu ada yang sa­ngat istimewa. Albert Heinz mem­punyai info dari Saito me­ngenai ke­giatan militer beberapa jen­deral di Ja­karta. Dia mem­berikannya ju­ga pada Nicholas.”

“Tak mungkin. Jenderal-jenderal di sini bergeraknya seperti han­­tu, ser­ba sa­mar,” potong Guy.

“Aku juga tak mengerti mengapa Heinz bisa memperolehnya. Ta­pi me­nurut Nicholas, ada kemungkinan Heinz memperolehnya da­ri se­jawatnya yang ada di pihak pemberontak.”

“Apa pekerjaan Heinz di Port Moresby?”

“Pemberontak butuh pasukan tempur yang terlatih. Heinz, di sam­ping agen serdadu sewaan, adalah instruktur jempolan. “

“Pasti ada alasan kuat selain sekedar teman, sampai Nicholas mau mem­­bantumu mencari berita Joe Adam?” kata Guy sambil me­­nimang-ni­mang mik­ro itu.

“Waktu Nicholas bercerai, Joe pernah menolong masalah keuangannya. Joe juga yang menolong Nicholas dari tahanan pa­su­kan Pha­langist di Bei­­rut, serta membantunya pindah pos ke Dub­lin. Ia ingin membalas budi de­ngan menolong Joe, itu motiva­sinya.”

“Apa kesimpulanmu?’

“Kita tahu Joe hilang. Tapi sampai saat ini kedutaan tetap bung­­kam. Bi­la semua yang diberikan Heinz kepada Nicholas benar. Ki­ta ha­rus hati-ha­ti.”

Guy mengangguk dan membawa pemberian Joan ke ruang da­­lam.

Joan membuka pakaian tanpa ragu, dan berenang dengan ha­nya seca­rik kain di bagian bawah perutnya.

Menit menit berlalu. Guy sibuk di kamar kerja.

Di depan komputer generasi saat itu, informasi yang dibawa Joan te­lah mem­buatnya sibuk. Sampai-sampai kedatangan Joan ke kamar itu pun tidak diketahuinya. “Hmm…kau sudah dua se­te­ngah jam di ruang ini…” kata Joan.

“Bakal ada operasi militer ke pulau Kabilat.” Guy berdesis per­la­han.

“Pulau Kabilat? Di mana? Kapan?”

“Hanya tanggalnya yang belum ditentukan.” Balas Guy sam­bil ber­diri dan mengecup bibir Joan, dan setelah itu langsung me­­me­rintahkan sesuatu. “To­long aku. Buka fail SEAAMO 1969-1975, periksa ar­sip MACV (Ko­man­do Pendukung Militer AS di Viet­nam), dan sub-unit kegiatannya. Dan ju­­ga buka arsip mengenai “Vo­lunter Trainee” di Vietnam. Cari nama Harun, me­ngapa dia sam­pai bisa bergabung da­lam operasi ini.”

“Volunter Trainee? Bukankah itu unit sewaan di bawah divisi lo­­gistik ke­tika perang hampir berakhir?” sahut Joan sambil meng­utak-nga­tik kom­puternya.

“Ya. Waktu itu Pnom Penh telah dikepung komunis. Jalur ban­tuan ha­nya bi­sa melalui Mekong. Divisi logistik AL sedikitnya ha­rus menge­­luarkan 70 ju­ta dollar untuk membayar ratusan pelaut se­waan sin­­ting, meng­angkut beras dan amunisi kepada pasukan Lon Nol.”

“Oke, MACV telah kudapat. Apa lagi…?” sela Joan.

“Civillian Irregular Defense Group (CIDP)”

“Apa itu?”

“Kita di Vietnam memiliki kekuatan lain. Selain pasukan AS dan Viet­nam Selatan, CIDP adalah batalyon yang terdiri dari etnik cam­­­puran—non Viet­nam. Green Berets memiliki 10.000 personil da­ri CIDP untuk se­lu­ruh jang­kauan operasi di seluruh Vietnam. Bi­la kau da­patkan CIDP, mung­kin di situ ada informasi kekuatan se­jenis yang di­rekrut SEAL. Volun­ter Trainnee ada­lah rekrutan SEAL untuk meng­amankan jalur pantai dan sungai.”

Joan sibuk lagi. Beberapa kali ia menggerutu, karena sulit dan la­manya meng­akses data-data. Tapi akhirnya ia berhasil juga.

“Oke, telah kudapat. Dan,…tunggu. Ini dia—Other Company—,” Joan meng­arahkan cursornya ke sebuah icon. Dan ia pun ter­senyum puas.

“Ya. sudah kubuka….”

“Buka Alies OJT…” Guy meneruskan, “Mereka dilatih oleh SEAL yang bertanggung jawab atas semua kegiatan perairan dan su­­ngai se­lama perang Vietnam. Volunter Trainee semula dibentuk khu­­sus untuk pe­laut sewaan yang menginginkan lebih dari sekadar uang. Tempat latih­an mereka di Chu Lai. Lulusannya tersebar di del­ta dan sungai. Tetapi menje­lang kejatuhan Kamboja, fung­sinya ber­ubah, kesatuan itu menjadi unsur pen­du­kung operasi. Ang­gota-ang­gotanya dipecah sesuai kebutuhan taktis SEAL—ka­rena sesuai Per­janjian Paris—pasukan darat Amerika se­cara res­mi akan ditarik. Yang aku ketahui, ketika Vietnam Utara menyer­bu ke Selatan, kesa­tuan ini termasuk sebuah palang pintu penting un­tuk menahan mu­suh yang mencoba masuk Saigon melalui Me­kong. Harun yang dili­batkan oleh Oskar adalah anggota kesatuan ter­sebut.”

“Aku memperolehnya,” seru Joan tertahan.

“Buka lagi mengenai Tim Konsep US NAVY. Kalau tidak ada, la­cak ar­sip Laporan Setelah Kejadian (AAR) di situ pasti ada do­ku­mentasi menge­nai ke­giatan SEAL.”

“Hm, akan kucari. Mudah-mudahan ini, nah bagaimana de­ngan ini? Arsip Pusat Pengembangan Tes Tempur Gabungan, dan …ini!” Joan meng­arah­kan ujung panah di layar komputer ke tu­lisan Proffessional FOR.

Di layar monitor terpampang nama-nama unit kegiatan dan or­­ganisasi ben­­tukan militer AS di Vietsel.

“Kita mendapatkannya,” bisik Guy serius bersemangat. “Co­ba ca­ri di V.”

Joan bersiul perlahan ketika sebuah lambang segitiga, dengan ling­­­karan kon­figurasi dari delapan titik mata angin, muncul di la­yar mo­nitor.

Numba ten-Bo doi kalimat yang tertera di bawah lambang itu. Ke­­duanya terdiam. Jari Joan bermain lagi di keyboard. dan….

Binggo!” Joan berdesis. “Ini dia Volunter Trainee.”

 

Guy mengambil alih, memeriksa data organisasi dan sistem rek­­rut.

Joan mengambil minuman, ketika masuk kembali, Guy nam­pak sedang merokok sambil memperhatikan komputer.

Joan mendekat serta ikut membaca. Di situ terangkum data yang me­reka cari.

“Hm.Yang kita peroleh hanya kegiatannya sewaktu di ‘Nam. Dia lulus pen­­didikan khusus. Kau lihat dalam rentang tiga bulan an­ta­ra Juni-Agustus, dia menyelesaikan dua tugas penting di da­taran Illalang di bawah komando Beaver3—satu gugus tugas SEAL. Mereka ber­­tu­gas menghancurkan sa­rana-sarana penting yang telah direbut mu­suh. Sua­tu hal yang tak mungkin di­sebut bia­sa.”

“Apa perannya dalam kegiatan sekarang ini?”

“Ini yang membuatku penasaran, Jenderal-jenderal di sini li­cin, su­lit diduga tujuannya.”

“Apa yang akan mereka lakukan?”

“Dari dokumen yang kau bawa, kita bisa menyimpulkan akan ada ope­rasi militer ke pulau Kabilat untuk menggagalkan pengi­riman sen­jata ba­gi pem­berontak”

“Tempat Joe ditahan?”

Guy mengangguk pasti.

“Apa Joe masih hidup?” nada Joan sedikit bergetar.

Guy berpaling, wajahnya mengeras, “Setelah tahu semua ini. Tapi aku te­tap diam, tak bertindak, kau akan melihatku sebagai orang yang pa­ling menyesal di antara manusia yang pernah ber­tobat. Se­baiknya pakai la­­gi bajumu. Duduk di situ, hubungi semua orang yang kita kenal dan mau mem­bantu persoalan ini.”

“Tapi kedutaan di sini tak mungkin mau mem­­bantu un­tuk ma­salah Joe, demikian juga pos di Manila.”

“Pimpinan kita tak mungkin membantu. Namun di Asia Teng­ga­ra, Joe dan aku memiliki teman sepuluh kali lipat lebih banyak di­­banding me­reka yang bertugas di gedung kedutaan. Tapi…”

Joan heran melihat Guy tiba-tiba seperti berpikir keras. “Apa yang mem­­buatmu ragu?”

“Kau tahu arti info yang didapat Albert Heinz di Port Mores­by?”

Joan tertegun sejenak. ”Ada kebocoran di Jakarta….”

Guy mengangguk. “Ini menarik. Siapa sumbernya?”

“Hanya mereka yang ada di posisi penting yang mempunyai ak­­ses ke da­ta serinci itu.”

“Yang lebih penting lagi, mengapa masuknya ke Port Mo­resby?”

Joan termenung. Begitu juga Guy.

“Di Port Moresby banyak kelompok pendukung pemberon­tak. Mung­­kin un­tuk…”

Untuk menggagalkan operasi militer itu sendiri.” Guy ber­ka­ta hampir se­tengah berbisik.

Keduanya terdiam.

 

****

 

Waktu menunjukkan pukul empat sore ketika Oskar menerima te­le­pon dari Kul­yubi. “Bagaimana, kau sudah cek nama itu?” tanya Kul­­yubi.

“Mereka berteman sejak SMA. Sidharta malah dipromosikan un­­tuk ber­­tugas di Medan oleh atasannya. Saya beranggapan kun­jung­an ini tidak ber­ma­salah. Harun sering ke tempat itu.”

“Apa makna ucapanmu itu?”

Oskar tersenyum, “Tak ada yang penting. Tak perlu khawa­tirkan dia, jen­deral.”

Klik. Hubungan putus.

Oskar langsung mengontak ke tempat lain.

“Santoso?”

“Ya, pak.”

“Dia masih di bawah pengawasanku. Lusa pagi partnermu ku­­bawa ke tem­patmu.”

“Ya…” Santoso tersedak.

Partner. Istilah itu sungguh menyakitkannya.

Ia bangkit dari kursi dan berseru memanggil sopir priba­di­nya, “No­hat!”

“Ya, Pak.”

“Keluarkan mobil!”

 

****

 

Langit di ufuk timur sudah berwarna jingga. Seperti biasa, suasana Ming­­­gu so­­re menyiratkan kelelahan. Harun melihat Sidharta sudah me­­­nyalakan lam­pu ha­laman. Dengan malas ia berjalan ke ruang be­­la­kang.

Bermain catur dengan ayah Sidharta membuatnya lupa wak­tu. Ki­ni ia bu­­tuh suasana lain untuk mengendurkan syaraf. Biasanya ia menemukan hal itu di kolam ikan. Tetapi sekarang kolam itu kering.

Tiba-tiba seorang memanggilnya. Harun melihat ke ruang ma­kan, Ki­­nanti melambaikan tangan, “Minum, Mas…”

Harun menolak dengan gelengan kepala.

“Sini dong, masuk. Jangan di situ aja.”

Harun masuk. Mereka mengobrol di ruang makan.

“Kin, kapan ke Bandung?”

“Tak tahu. Jadwal kuliah juga kacau. Teman-teman masih de­­monstra­si?”

“Kenapa?”

“Sekarang kan sedang aksi GERMO.”

“Apa itu?”

“Gerakan moral.”

Harun mengeluarkan rokok. Dari koran yang ia baca, bekas se­kolahnya akan jadi pecundang untuk waktu yang la­ma.

“Senang di seni rupa?”

“Wah asyik deh. Dulu Mas Harun di arsitektur ya, kenapa sih tidak di­te­ruskan? Dulu kan kalau ngobrol dengan Kinkin, pasti jan­ji bi­kin is­tana.”

Harun tersenyum pahit. Ketika ia kuliah. Kinanti masih gadis ke­­cil. Ia se­ring menggoda dengan bualan. Bahkan menyuruhnya un­­tuk membeli makanan.

Dua tahun terakhir ini, ia melihat Kinanti semakin dewasa. Ber­jumpa pun sangat jarang, karena dia kuliah di Bandung. Bila ber­temu, me­reka hanya me­ngobrol singkat dan seperlunya.

Namun dalam pertemuan yang terakhir, kira-kira 2 bulan yang lalu, Ha­r­un merasakan sesuatu yang lain. Ia seakan terpanggil un­tuk men­curi pan­dang pa­da wajah adik sahabatnya ini, dan entah me­ngapa ia pun sering me­mergoki Ki­nanti menatapnya secara sem­bunyi.

Hal itu membuat sebuah bayangan tertentu, dan kini pung­gungnya terasa di­ngin, begitu juga tengkuknya. Ia merasa bayang­an itu men­desak mencari ja­lan keluar.

“Kenapa seperti gelisah?”

“Lapar.”

“Ngomong dong dari tadi. Makanya, kalau catur dengan ayah, me­­nga­lah saja. Untuk apa buang waktu lama-lama!?” kata Ki­nanti sam­bil ter­tawa.

“Bikin nasi goreng dong. Seperti waktu itu.”

Emangnya senang nasi goreng bikinan Kinkin?”

“Enak.”

“Ah, bisa saja. Nanti bikin lagi, asal Mas Harun bantu bikin bum­bu ca­­be­nya. Malas kalau malam-malam harus ngulek cabe.”

“Siapa yang mau bikin nasi goreng? Aku ingin yang pedas,” Si­dharta men­­dekat, ia baru keluar dari kamar mandi.

“Tuh… kan, Mas Dharta selalu begitu. Kalau mau bikin apa-apa selalu ikut-ikutan.”

“Anggap saja aku ini si Wisnu.”

“Ih…, amit-amit ya,” kata Kinanti sambil cepat-cepat pergi.

Sidharta tertawa sambil mengeringkan rambut dengan han­duk.

“Wisnu? Siapa sih?” tanya Harun.

“Pacarnya.”

“Hei, enak saja. Jangan percaya, Mas. Siapa mau pada laki-la­ki genit ma­cam dia.” Kinanti berseru.

 

Sidharta tertawa, dan berkata lagi pada Harun. “Tunggu se­ben­tar. Aku mau shalat dulu. Dan kau, kapan mau mulai shalat?”

Harun mendengus perlahan sambil menunduk, “Nanti…”

“Keburu mati, nggak di shalatin orang, baru tahu rasa.”

Harun tertawa hambar.

Hambar sekali.

 

Kejadian selanjutnya begitu penuh tanda tanya.

Ia duduk sambil membaca koran di ruang makan. Menunggu Si­­dharta se­lesai sembahyang. Kinanti muncul dari kamar, ia telah ber­­ganti pakaian. Ba­­hu Harun ditepuk.

“Mau nasi goreng, enggak?”

“Tidak. Sudah tak lapar.”

“Sungguh?”

Harun mengangguk sambil tersenyum. Hatinya agak gundah, en­­tah apa se­babnya. Pikirannya berbenturan tak karuan sewaktu Si­­dharta menye­but na­ma teman lelaki Kinanti.

Ia merasa ada rongga kecil di dadanya. Sebesar jarum, tetapi cu­­kup am­­puh menganggu jalan darahnya. Ia jadi merasa serba sa­lah de­ngan pera­sa­annya. “Sialan…”, kutuk Harun, namun na­danya sa­ngatlah le­mah.

Lemah.

“Heh, kok melamun?” kata Kinanti sambil membetulkan anting di ku­ping ki­rinya.

Harun menyeringai sambil menyangga kepalanya dengan kedua ta­­­­ngan yang dilipat ke belakang. Pinggiran rongga dadanya se­perti di­­­­sentuh sesua­tu.

“Heh, Mas Harun, siapa sih pacarnya? Kenapa tak pernah di­ajak ke­­­­­­ mari?” kata Kinanti lagi.

Anting kirinya dilepas.

“Banyak, jadi kalau dibawa ke sini, bisa bertempur semuanya.”

Kinanti tertawa dan duduk di hadapannya.

Dia benar-benar sudah dewasa, pikir Harun.

Gila, Harun kembali mengutuk pikiran yang bagi dirinya sen­diri aneh.

Kinanti tetap sibuk dengan kupingnya.

“Mengapa ?” tanya Harun

“Mau lepas saja. Dasar anting butut.” Kinanti mencopot anting ka­­­­nan dan menaruhnya di meja.

“Mas Harun masih sering nonton? Dulu kan gila banget sama film.”

“Tidak lagi.” jawab Harun sambil meraih anting Kinanti, dan meng­­­­­amati­nya sekedar mencari kesibukan. Menghindari rasa cang­­gung yang me­nyergap ti­ba-tiba.

“Kalau lagu?”

“Memangnya kenapa?”

“Tak apa-apa. Kalau ingat dulu, Kin sering tertawa.”

Harun tersenyum. Ma­sa la­lunya muncul sekilas.

Anting Kinanti dipandangnya agak lama. “Anting murah buat­an Kota Gede,” pikirnya.

Tiba-tiba ajakan Kinanti membuatnya tertegun. “Masih berani main mo­­nopoli? Tapi, kalau kalah, jangan pakai alasan macam-ma­cam.”

Harun mengiyakan. Dulu permainan itu sering mereka lakukan.

Kinanti mengajaknya ke ruang depan, dengan setengah hati ia pun meng­­ikuti.

Mereka pun mulai main.

Setengah jam berlalu tanpa terasa.

Sidharta keluar dari kamar. Sewaktu malalui ruang tengah, ter­de­ngar ta­wa adik dan sahabatnya.

Ia pun ke dapur, membuat minuman.

Sepercik pikiran muncul. Baru saat ini ia mendengar Harun ter­­tawa le­pas, begitu ringan dan riang.

Share This: