Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

18


Markas Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti di Tobir, Atambua

Letkol Infanteri Fernandez menggretakkan giginya menahan kegusarannya ketika dia mendapat perintah dari Cilangkap, untuk menarik kompi bantuan pimpinan kapten Alex yang terlanjur dikirimkan membantu Letnan Nugraha dan pasukannya di perbatasan. Perwira menengah kelahiran Nusa Tenggara Timur ini bisa memahami alasan yang disampaikan Mabes TNI walaupun darahnya bergejolak hebat oleh keinginan dapat turun ke medan tempur. Namun Letkol Fernandez menyadari bagaimana keadaannya, pasukan negara manapun di bawah bendera PBB tidak mungkin dilawan.


"Bilang ke Alex. Segera balik ke markas..cepat!"bentak Letnan Kolonel tersebut kepada seorang perwira radio penghubung.


"Siap pak..laksanakan!"


Kapten Alex yang membawa satu kompi prajurit bantuan serta 6 buah panser Anoa yang tiga diantaranya dilengkapi kanon 90 mm, baru sepuluh menit meninggalkan gerbang markas Batalyon Infanteri 744 ketika terdengar kontak dari markas kepada pasukannya.


"Markas kepada macan kumbang yang meluncur…segera kembali ke Markas! Misi dibatalkan!"


“Apa?!”


Kapten Alex terlonjak kaget sambil mengernyitkan keningnya tanda heran yang luar biasa. Kapten Angkatan Darat ini mencoba konfirmasi berulangkali namun perintah tersebut tetap tidak berubah. Dengan gusar dan penuh tanda tanya akhirnya dia memerintahkan pasukan yang dibawanya agar kembali ke Markas.


Sesampainya di Markas, Letkol Fernandez telah menyambutnya dengan raut wajah tegang. Dengan tergesa-gesa Kaptean Alex melompat dari kendaraan yang membawanya dan memberi hormat kepada komandan batalyon tersebut


"Kapten kau pilih dari pasukanmu 50 orang dalam waktu 10 menit..buang seragam kalian semua..bawa SS1 saja.. kalian akan berangkat dengan orang-orang PPI"perintah Letkol Fernnadez.


"Orang-orang PPI?"


"Iya..orang-orang pimpinan Eurico Gutteres dulu....kita tidak mungkin berperang melawan PBB dengan seragam dan juga panser-panser kita....mereka tentara PBB walaupun dalemnya Australia ** SENSOR **! Orang-orang eksodus dari Timor Leste di Motaain sudah siap membantu. saya sudah kordnasi dengan Koramil dan Polsek setempat"


"Siap pak..kerjakan!tapi bagaimana dengan bantuan udara dari Kupang?"


"Sudah diperintahkan return to base!Tidak mungkin untuk diteruskan"


Kapten Alex menarik nafas dalam-dalam. Akan terjadi pertempuran yang berat tanpa adanya bantuan dari udara apalagi menurut laporan di lapangan terdapat dua helikopter Apache.


Sepuluh menit kemudian..dua buah truk Mitsubishi Cancer 120 Ps berwarna kuning gading masuk ke halaman Markas Batalyon tersebut. Satu truk penuh berisi orang-orang berwajah garang berjumlah sekitar 50 orang sambil menenteng senjata organik berbagai macam namun yang mayoritas adlah SS1. Mereka mengepalkan tangannya ke udara menyapa pasukan batalyon Infanteri 744 tersebut. Satu truk lagi hanya berisi sopir yang mengemudikan truk tersebut


"Cepat naik!"perintah kapten Alex kepada limapuluh orang yang telah dipilihnya.


Limapuluh anggota Batalyon Infanteri 744 yang telah dipilih oleh Kapten Alex bergegas menaiki truk yang kosong. Para tentara anggota Yonif 744 tersebut tidak memakai seragam doreng seperti yang biasa mereka gunakan namun mereka memakai jeans dan baju kaos. Kapten Alex sendiri memakia jeans warna hitam dan kaos longgar bergambar Bob Marley.


Letnan Kolonel Fernandez menyaksikan dari ruang komando ketika dua buah truk tersebut meluncur meninggalkan markas yang dipimpinnya. Satu truk berisi puluhan sipil bersenjata satu lagi berisi militer bersenjata yang berpenampilan sipil. Kedua truk berwana kuning gading tersebut meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah timur…ke arah perbatasan Timor Leste.




Pos perbatasan Indonesia Timor Leste Motaain, Belu, Nusa Tenggara Timur.

Terror kematian yang ditebarkan dua buah helikopter ARH Tiger milik tentara Australia ternyata lebih mengerikan daripada 2 buah tank Abrams yang telah dilumpuhkan Letnan Nugraha dengan roket RPG 30 buatan Rusia. Kanon senapan mesin 30 mm di helikopter tersebut seakan tak henti menghujani posisi pasukan-pasukan TNI dengan muntahan-muntahan peluru yang mampu menjebol tembok rumah.


Pasukan UNMIT yang mendapat angin dengan dua helicopter tersebut menjadi beringas memuntahkan peluru-peluru mereka ke arah posisi pasukan TNI. Posisi pasukan TNI yang semula lebih menguntungkan menjadi tidak berarti menghadapi tank terbang buatan eurocopter tersebut. Bebarapa anggota TNI gugur dalam keadaan yang mengerikan diterjang peluru kanon helikopter tempur tersebut.


Panser-panser Anoa buatan Pindad yang masih tersisa juga tidak berdaya melawan serangan helikopter serbu tersebut. Laras kanon 90 mm itu dicoba ditembakkan ke arah helikopter-helikopter serang tersebut namun dengan lincah dua Tiger ARH tersebut menghindari tembakan kanon-kanon tersebut bahkan sebaliknya, beberapa misil Hellfire yang merupakan misil udara ke daratan secara telak menghantam panser-panser buatan Pindad tersebut. Sebuah panser milik TNI kembali meledak hangus dengan suara ledakan yang menggelegar terpanggang oleh misile dari sebuah Helikopter ARH Tiger milik Australia.


Letnan Nugraha melihat keadaan pasukannya yang porak poranda segera memerintahkan mereka untuk mundur, namun dia sendiri justru maju ke depan. Bersama seorang sersan, Letnan Nugraha yang masih memanggul RPG 30 mengendap diantra desingan ratusan peluru yang saling menghambur. Pasukan Australia yang berbaju UNMIT bergerak merangsek maju bersama 3 panser ASLAV 25 yang masih tersisa. Meriam M242 Bushmaster 25 mm sebagai senjata utama panser beroda delapan serta senapan mesin kaliber 12,7 dan 7,92 mm yang sejajar dengan senjata utama membuat panser tersebut menjadi mesin perang yang menakutkan.


Letnan Nugraha memerintahkan panser Anoa 6x6 menembakkan granat asap untuk mengaburkan pandangan agar pasukan TNI lebih leluasa bergerak mundur. Namun selimut asap terebut dibuyarkan oleh hempasan baling-baling helicopter ARH Tiger yang sengaja terbang rendah dalam posisi diam mengapung secara vertikal. Letnan Nugraha mencoba peruntungannya ketika dia melihat helikopter tempur tersebut terbang rendah vertikal tidak jauh dari tempatnya berdiri yang terlindungi reruntuhan bangunan pos perbatasan.

RPG 30 yang disandang di bahunya pun diarahkan ke ekor helikopter ARH Tiger buatan Eurocopter


Tidak sampai satu detik kemudian meluncur roket 105 mm menghantam ekor pesawat. Sistem radar helikopter tersebut sempat mengeluarkanperingatan akan datangnya bahaya, namun dekatnya jarak membuat helikopter tempur tersebut tak mampu menghindar.Roket 105 mm tersebut tetap meluncur menghantam ekor helikopter milik tentara Australia. Terdengar ledakan keras disusul hancurnya ekor helikopter ARH Tiger yang menakutkan tersebut.


Helikopter menjadi kehilangan keseimbangan terbang. Badan helickopter serbu itupun berputar-putar beberapa saat seblum jatuh berdebum menghunjam ke tanah. Letnan Nugraha sempat melihat kepanikan di wajah dua awak helikopter tempur tersebut sebelum helikopter tersebut meledak menjadi sebuah bola api yang besar seiring dengan ledakan dahsyat(Bersambung)