Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

17

 

Kapten Benowo dan anak buahnya terus bergerak di tengah kegelapan dek KD Ganas 3503 bagaikan siluman laut. Kapal TLDM yang tengah bersiaga dengan seluruh perhatian termasuk senjatanya tertuju kepada KRI Layang tidak menduga kehadiran anggota KOPASKA di kapal tersebut.


Rudal Exocet, meriam Oto Melara 76mm dan Bofors 40 mm yang terpasang di kapal tersebut tak punya arti apapun ketika Kapten Benowo dan anak buahnya bergentayangan di dek ini. Satu persatu personel TLDM ini roboh tak sadarkan diri oleh serangan cepat pasukan khusus Angkatan Laut tanpa tembakan.


Kapten Benowo memberi isyarat kepada tiga anggota Kopaska untuk mengikutinya menuju anjungan sementara sisanya diprintahkan menyebar terutama ke ruang mesin dan ruang senjata. Kapten Benowo dan tiga anak buahnya mengendap naik ke arah anjungan kapal perang Malaysia ini. Terdengar suara Komandan kapal perang Malaysia tersebut membentak-bentak KRI Layang, namun KRI Layang justru membisu.


Kapten Benowo memberi isyarat dan sedetik kemudian keempat anggota pasukan khusus Angkatan Laut mendobrak masuk ke dalam anjungan.


"Angkat tangan dan jangan bergerak!"bentak Kapten Benowo sembari menodongkan pistol P2 yang dibawanya, tiga anak buahnya mengokang SS2 M1.


Semua yang berada dalam anjungan terkejut luar biasa melihat kemunculan empat anggota Kopaska dengan seragam laut hitam-hitam dengan senjata terkokang. Para perwira dalam anjungan tersebut termasuk komandan kapal perang Malaysia tersebut membeku oleh keterkejutannya namun beberapa saat kemudian, komandan kapal menjadi marah luar biasa.


Dengan gerakan yang cepat, dia mencabut pistol di pinggangnya namun ternyata kapten Benowo lebih cepat. Sebutir peluru melesat dari laras pistol kapten Benowo menghantam pistol yang telah dicabut komandan kapal Malaysia dari sarungnya. Wajah sang komandan seketika memucat ketika pistol yang baru dicabutnya kemudian terlempar ke lantai.


Tanpa banyak bicara, kapten pasukan khusus TNI Angkatan Laut ini segera mengambil alih kemudi. Melalui bantuan speaker dia berbicara.


"Perhatian semua..saya kapten Benowo dari TNI Angkatan Laut Indonesia mengambil alih kemudi untuk keluar dari perairan Indonesia. Semua yang bersenjata letakkan senjatanya!. Terima kasih. Letnan tolong lucuti semua senjata!"


Letnan yang diperintah kapten Benowo masih berada di atas dek kapal. Mendengar perintah tersebut, dia bergerak bersama lima anggota Kopaska lainnya. Tanpa mendapat perlawanan, seluruh senjata Tentara Laut Diraja Malaysia di kapal tersebut dapat dikumpulkan.


"KRI Layang 805, di sini KD Ganas 3503 siap meninggalkan perairan Indonesia, mohon dikawal"suara Kapten Benowo melalui transmisi radio ke KRI Layang.


Di atas KRI Layang, meledak tawa Letkol Hasibuan

"Dasar orang-orang gila!"


Kapten Yudha yang mendengar akhir cerita kakak iparnya tersebut ikut tertawa.


"Ya akhirnya kita bawa kapal tersebut keluar dari perairan kita tanpa pertumpahan darah."


Kapten Yudha menarik nafas dalam-dalam. Kontas sekali dengan apa yang dilakukannya di Timor Leste, namun memang operasi yang dilakukan kakak iparnya disorot dunia bukan seperti dirinya yang sangat rahasia.


"Ada nggak PASKAL yang ikut dalam kapal tersebut?"


"Ada..bahkan banyak anak buahku dikenal mereka sebagai senior waktu mereka ikut pendidikan di Kopaska.."


"Ooo.."


"Ya..udah..Yudh…pulsaku dah bengkak neh.. ajak Larasati ke Surabaya..anakmu dah bisa diajak jalan jauh khan..?"


"Ya insya Allah mas..setelah saya dapat cuti panjang"


"Ya sudah.dulu..aku harus ke markas dulu…besok kamu yang harus gantian cerita nangkap ayam broiler di rumah tetangga itu.."


Kaptan Yudha hanya tertawa mendengarnya.



Perbatasan Indonesia-Timor Leste di Motaain, Belu, NTT pada saat yang sama..

Dua buah Tank Abrams M1A1 bercat putih bertuliskan UN tersebut seakan dua monster mengerikan yang menyerang posisi-posisi pasukan TNI. Empat buah panser Anoa 6x6 buatan PT Pindad dengan kanon 90 mm berupaya meladeni monster-monster darat tersebut namun panser-panser beroda enam tersebut tetap kewalahan menghadapi tank-tank tersebut. Kelincahan panser-panser tersebut bermanuver memperpanjang usia mereka untuk tidak hancur dihantam tembakan kanon 120 mm Tank Abrams M1A1.


Tentara Australia berseragam UNMIT tersebut merangsek maju sambil berlindung di badan tank untuk menahan hujan tembakan dari pasukan TNI. Sambil melepaskan tembakan balasan mereka berlindung di sebelah tank tersebut yang dapat melindungi dari siraman peluru pasukan TNI, namun tak ada yang berada di belakang tank tersebut karena gas buang tank yang sangat panas.


Ada beberapa tentara Australia yang tidak sadar bergeser di belakang tank tersebut dan mereka serasa disengat bara sehingga. Spontan mereka bergeser menjauh namun akibatnya fatal. Beberapa peluru kaliber 7, 62 mm dari senapan mesin TNI menyambarnya membuat tubuh tentara malang ini tercerai berai termasuk kepalanya yang rengkah mengeluarkan segala isinya.


Suara dentuman berulangkali terdengar bersama rentetan tembakan senapan mesin dan serbu dari kedua belah pihak. Granat asap yang dilontarkan kedua pihak membuat suasana pertempuran menjadi samar. Yang terlihat hanya kilatan-kilatan senjata dari laras-laras senjata.


Suara jeritan kematian dan raungan kesakitan bercampur dengan bau mesiu dan anyir darah. Pos Perbatasan yang dibangun megah tersebut hancur berantakan menjadi puing. Tulisan Welcome to Indonesia yang semula tampak gagah melintang di atas jalan raya, terlempar jauh dan hangus dihantam tembakan mesin tempur darat tentara Australia berbaju UNMIT tersebut.


Letnan Nugarha mengendap di antara desingan peluru. Bersama beberapa prajuit, dia berupaya mendekati tank Abrams tersebut. Letnan Angkatan darat ini membawa RPG 30 buatan Rusia di pundaknya. Letnan tersebut terus maju hingga sampai ke bangkai panser Anoa yang meledak dihantam kanon tank Abrams kaliber 120 mm.


Gemeletuk gigi letnan Nugraha melihat panser buatan Pindad ini hangus menghitam dan tentunya bersama para tentara yang berada di dalamnya. Darahnya bergejolak menahan kemarahan dan rasa sedih yang merembet di hatinya.


Di sela bangkai panser Anoa tersebut, dia melihat sebuah tank Abrams M1A1 tampak begitu dekat, hanya sekitar 150 meter dari dirinya. Di tengah anggota pasukannya yang gigih memuntahkan peluru-pelurunya ke arah pasukan UNMIT asal Australia, Letnan Nugraha membidik.


Dilihatnya Tank Abrams tersebut tengah menyerang panser-panser Anoa yang terus memberikan perlawanan. Sebelah kanan tank tersebut berada di jalan beraspal namun roda sebelahnya berada di jalan tanah membuatnya dalam keadaan miring. Di sebelah dalam terlihat para tentara UNMIT berlindung dengan body tank. Letnan Nugraha segera melepaskan tembakan RPG 30 di bahunya.


Roket anti tank kaliber 105 mm yang keluar dari RPG 30 melesat menghajar bagian bawah tank Abrams M1A1. Ledakan dahsyat terdengar. Tank tambun tersebut terangkat sebelah dengan bagian bawah hancur dihantam roket anti tank dari RPG 30.


Para tentara Australia yang berlindung di balik tank tersebut terkejut luar biasa ketika tank yang semula menjadi pelindung mereka justru hendak menimpa mereka. Terdengar suara berderak disusul jeritan kematian para tentara Australia yang tertimpa tank mereka sendiri. Sisanya berusaha menyelamatkan diri secara serabutan.


Tank buatan General Dynamics tersebut akhirnya tumbang ketika tembakan roket dari RPG-30 disusul dengan tembakan kanon 90mm dari sebuahpanser Anoa 6x6 buatan Pindad menghajarnya. Tank tersebut terguling miring menimpa sebagian tentara Australia yang semula berlindung di baliknya.


Pekik kesakitan dan kepanikan tentara UNMIT dari Australia membuat bulu kuduk Letnan Nugraha meremang. Yang berhasil menyelamatkan diri disambut pasukan TNI yang menyiram dengan ratusan peluru berbagai kaliber. Medan pertempuran tersebut seakan berubah menjadi konser kematian yang dipenuhi jeritan ajal dan raungan kesakitan menyeramkan. Sebuah monster darat milik tentara Australia tersebut tumbang, semangat bertempur pasukan TNI semakin membara.


Letnan Nugraha kemudian mengincar Tank Abrams M1A1 yang satunya lagi. Setelah RPG 30 diisi kembali, dia membrikan isyarat kepada 3 buah panser Anoa 6x6 untuk menembakkan kanon 90mm ke arah tank Abrams bersamaan dirinya membidikkan roket 105 mm dari RPG 30 di bahunya.


Roket kaliber 105mm itupun melesat bersamaan dengan tembakan kanon 90mm Panser Anoa enam roda buatan Pindad. Ledakan keras kembali terdengar. Tank Abrams M1A1 yang menyadari diserang dari beberapa arah dengan tembakan mematikan berusaha menghindar namun tank tersebut terlalu lamban bergerak.


Ledakan terdengar menggelagar, begitu dahsyatnya ledakan tersebut membuat tank tersebut terangkat sesaat sebelum terbanting ke tanah dengan keras. Bagian depan yang diserang hancur termasuk laras kanon 120mm yang mematikan tersebut.


Namun pada saat yang bersamaan dua buah helikopter serang penuh persenjataan telah melayang di atas pertempuran dengan suara yang bergemuruh.


Letnan Nugraha mendongak. Dalam jarak yang lebih dekat dia baru mengenali kedua helikopter tersebut adalah ARH Tiger buatan Eurocopter bukan Apache seperti yang diduganya semula. Dari kejauhan kedua helikopter serbu tersebut memang mirip dengan Apache, namun letnan tersebut tidak lagi punya waktu untuk memikirkannya.


Dua helikopter Tiger ARH buatan Eurocopter tersebut menyerang posisi pasukan TNI dengan kanon kaliber 30 mm. Bahkan misil Hellsfire AGM telah meluncur menyerang panser-panser buatan Pindad. Empat Panser Anoa 6x6 buatan Pindad tersebut bermanuver gesit namun salah satu diantaranya tak sempat menghindar.Sebuah ledakan keras terdengar.Misil tersebut menghantam panser buatan Pindad dan sekali lagi Panser Anoa 6X6 tersebut meledak hangus bersama awaknya. Letnan Nugraha berteriak marah. (Bersambung)