Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

16


Perumahan Perwira Kopassus Cijantung pukul 08.00 wibb.

Kapten Yudha baru saja selesai mandi terlihat segar. Tubuhnya yang tegap dengan dada yang bidang hanya terbungkus handuk biru sebatas perut keluar dari kamar mandi. Dilihatnya istrinya tengah berbicara di telepon genggam sementara di arah lain ibunya tampak asyik bermain dengan Rama Aditya di ayunan.


"Mas..dari mas Ben mau bicara"seru Larasati istri Kapten Yudha tersebut sambil menyerahkan handphone yang dipegangnya ke arah suaminya.


"Mas Ben?"ulang Kapten Yudha sambil menerima handphone dari tangan istrinya.


Larasati mengangguk.

Mata perempuan berusia 30 tahun ini berkilat melihat tubuh suaminya yang nyaris sempurna untuk seorang laki-laki. Ingatan perempuan yang telah menjadi istri kapten Yudha melayang ke arah bekas kekasihnya beberapa tahun silam yang kini menjadi aktor laga terkenal di Indonesia.


Sebagai seorang aktor laga tentu bekas kekasihnya mempunyai tubuh seperti suaminya, hanya yang berbeda adalah tempaan. Suaminya ditempa medan pertempuran yang garang dan taruhannya adaalh nyawa sementara sang aktor hanya ditempa di fitness center. Larasati merasa beruntung memiliki suami seperti kapten Yudha walaupuan dari sisi finansial tentu hanya seujung kuku dibandingkan kekayaan sang aktor.


"Apa kabar, Kapten Yudha?"sapa suara di seberang telepon


"Kapten Benowo!..apa kabar mas?"balik bertanya kapten Yudha dengan gembira kepada orang yang disebutnya mas Ben, lengkapnya Kapten (laut) Radenmas Benowo Adinegoro, kakak kandung istrinya yang juga perwira di Komando Pasukan Katak (Kopaska) Angkatan Laut yang angker.


"Kata Laras kamu baru pulang dari tugas, ke mana?"


"Cuman ke tetangga mas..ambil ayam broiler yang lepas..hahaha"


Kapten Benowo di seberang telepon ikut tertawa

"Lho masih hidup ayam broilernya?..kirain dah disembelih"


"Belum dulu mas…nunggu bertelor dulu.."

Kembali kedua lelaki yang saling bersaudara ipar kembali tertawa terbahak-bahak. Larasati yang mendengar percakapan kedua laki-laki yang dekat dengannya tersebut hanya bengong tidak mengerti.


"Mas..gimana oleh-oleh dari Ambalat?"tanya Kapten Yudha. Kapten Kopassus ini memang tahu kalau kakak iparnya ini ikut dalam tugas mengamankan perairan Ambalat deri gangguan negara Malaysia.


Kapten Laut Benowo yang berada jauh di Surabaya tersenyum mendengar pertanyaan adik iparnya tersebut. Kejadian sekitar seminggu yang lalu masih diingatnya dengan jelas.



Perairan Ambalat, sekitar karang Unarang pukul 19.00 WITA seminggu lalu.

Kapten Benowo, seorang perwira dari kesatuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan anak buahnya dari kesatuan Kopaska berada di KRI Layang bernomor lambung 805 yang berpatroli di sekitar Karang Unarang.


Di ruang anjungan kapal berjenis Fast Patrol Boat (FPB)-57 buatan PT PAL Surabaya, Kapten Benowo bersama Komandan Kapal Letkol Laut F. Hasibuan berbincang dengan santai. Beberapa kali terdengar suara tertawa di sela-sela obrolan dua perwira TNI Angkatan Laut tersebut. Topik yang yang mereka bincangkan sekitar ulah kapal-kapal Malyasia di perairan Ambalata yang tengah mereka jaga. Beberapa perwira lain yang berada di ruangan tersebut ikut tersenyum mendengar guarauan komandan kapal mereka bersama perwira Kopaska tersebut. Tiba-tiba….


"Beep..Beep"

Obrolan di atas anjungan kapal FPB-57 buatan PT PAL tersebut seketika berhenti. Wajah para tentara laut Indonesia tersebut menegang.


"Ada apa?"tanya Letkol Hasibuan mendengar radar INDRA anti kapal yang dipasang di kapal perang tersebut berbunyi.


"Siap pak..sebuah kapal asing terdeteksi!"

Lekol Hasibuan mengamati layar monitor dengan alis berkerut.


"Identifikasi segera dan siapkan posisi siaga tempur!"perintahnya kemudian.


"Siap Pak! Segera lakansanakan"

Keadaan di atasa KRI Layang yang semula dalam keadaan santai berubah menjadi siaga penuh. Dua meriam Bofors kaliber 57mm dan 40 mm yang berada di kapal tersebut disiagakan. Dua orang personel sebagai gunner telah juha bersiaga dengan dua meriam anti serangan udara Rheinmetall kaliber 20mm dan dua buah tabung yang berisi rudal anti kapal C802 ikut disiapkan dalam kondisi siap tempur. Kapten Benowo sendiri ikut memberikan perintah siaga kepada anggota Kopaska yang berada dalam kapal tersebut.


Melalui radar INDRA buatan dalam negeri yang dikembangkan khusus, posisi kapal segera diidentifikasi dengan jelas sebagai sebuah Kapal Perang dari Malaysia. Letkol Laut Hasibuan mengambil teropong lalau memerintahkan bagian komunikasi mencari trasmisi kapal asing tersebut yang dengan cepat segera dapat ditemukan. Melalaui transmisi radio, komandan KRI Layang beruapaya mengadakan kontak dengan kapal perang Malaysia tersebut.


"Di sini Kapal Republik Indonesia Layang 805! Kapal asing..anda memasuki perairan Indonesia tanpa izin..diharap meninggalkan perairan Indonesia segera!"


Sesaat sepi. Letkol Hasibuan kembali mengulangi perintahnya berapa kali hingga terdengar jawaban.


"Kami kapal Diraja Malasyia KD Ganas 3503..ini perairan Malyasia..awak ni yang harus keluar!"


Memerah wajah Letkol Laut ini mendengar jawaban dari kapal Malaysia tersebut namun dia hanya menarik nafas dalam-dalam. Di tatapnya lautan yang kelam di malam hari dan beberapa saat kemudian terlihat KD Ganas 3503 dalam gelapnya malam perairan Ambalat.


"Gila mereka malah mendekat!"


Seluruh awak kapal KRI Layang telah bersiaga tempur menghadapi kapal Malaysia yang mereka kenal sebagai kapal jenis kapal perang berpeluru kendali.


"Tahan tembakan! Kita tidak dibolehkan Jakarta untuk menembak lebih dulu!"perintah Letkol Laut membuat wajah para tentara laut tersebut tampak gusar.


"Biar kami mencoba mengusirnya!"ujar Kapten Benowo kemudian yang dijawab senyuman oleh Letnan Kolonel Laut yang telah mengenal Kapten Komando Pasukan Katak dengan baik tersebut.


Jarak KD Ganas dengan KRI Layang semakin dekat. Kapten Benowo segera memberikan komando kepada anak buahnya untuk bersiaga. Tidak banyak yang mereka bawa kecuali peralatan selam standar Kopaska, beberapa ranjau serta bom laut jenis B-1, tali khusus yang dilengkapi pengait serta senapan serbu SS2 M1 buatan Pindad.Pakaian khusus renang laut berwarna hitam legam kini membalut tubuh mereka.


"Ingat..tidak ada tembakan..ini perintah dari Jakarta!"ujaar kapten Benowo dengan nada dalam kepada anak buahnya.


"Siap pak..laksanakan!


Para pelaut TNI AL di KRI layang berdecak kagum ketika mereka melihat Kaptean Benowo dan sembilan anak buahnya serentak terjun ke laut. Ombak perairan laut yang cukup ganas tersebut seakan menelan satu regu Kopaska yang segera menghilang dalam kegelapan malam.


Hanya Letkol Hasibuan dan beberapa perwira yang masih bisa mengikuti gerakan pasukan elit Angkatan Laut tersebut di tengah ombak lautan melalui teropong yang dilengkapi dengan Night Vision.


"Orang-orang gila!"desisnya sambil geleng-geleng kepala. Suara di radio dari kapal perang Malaysia tidak digubrisnya sama sekali.


Di tengah ombak laut, kapten Benowo terus berenang bersama anak buahnya mendekati KD Ganas yang juga melaju kian dekat. Perlahan namun pasti sepuluh anggota Kopaska ini berenang melawan ombak lautan mendekati kapal perang milik Malaysia tersebut. Anggota pasukan khusus Angkatan laut yang terbiasa rutin renang selat Madura sejauh 5 kilo meter ini tidak terlalu kesulitan ketika harus berenang mendekati kapal perang yang kini hanya berjarak 3mil laut dari KRI Layang. Namun mereka tetap harus waspada ketika mereka kian mendekat badan kapal perang tersebut.


Lunas kapal perang itu melaju membelah air dilautan. Kapten Benowo dan pasukannya tidak ingin hancur tubuhnya ditbarak lunas kapal perang Malaysia tersebut. dengan isyarat komando, pasukan khusus milik Angkatan Laut itupun berenang menyebar ke samping kapal. Dengan perhitungan yang matang, kapten Benowo memrintahkan anak buahnya untuk melemparkan tali khusus yang dilengkapi pengait ke arah kapal perang milik Malaysia tersebut. Yang mereka incar adalah pagar besi di pinggir kapal tersebut, maka meluncurlah tali-tali tersebut dalam kegelapan malam yang pekat.


Pengait di ujung tali-tali tersebut bekerja dengan baik dan 10 anggota Kopaska tersebut memegang tali tersebut. Mereka membiarkan dirinya terayun-ayun di tali ikut terseret laju kapal perang Malaysia tersebut.


Kapten Benowo memberikan isyarat komando dan secara serentak anggota pasukan khusus Angkatan Laut inipun pun merayap naik melalui tali-tali tersebut hingga ke bibir dek. Lalu dengan satu loncatan, mereka berayun melambung ke atas dan mendarat di atas dek kapal perang Malaysia bagaikan hantu laut yang tiba-tiba muncul dari kegelapan laut.


Seorang tentara Lauta Diraja Malaysia yang menyandang senjata terkejut luar biasa, ketika tiba-tiba muncul sosok hitam dari arah laut dan belum menyadar apa yang terjadi, sebuah pukulan lurus terarah ke pangkal leher membuatnya roboh seketika. tak sadarkan diri.


Seorang Tentara Laut Diraja Malaysia yang lain hendak berteriak namun dia keburu disergap dari belakang oleh sosok tubuh hitam yang lain, dan sebuah pukulan yang keras di tengkuknya membuatnya roboh seperti temannya.(bersambung)