15
Pos Perbatasan Indonesia-Timor Leste di Motaain, Belu, 10 menit setelah pecah pertempuran.
Pasukan UNMIT yang dipimpin oleh Letnan Patrick menjadi kewalahan menghadapi gempuran balik TNI yang menyapu dengan gencar.Puluhan tentara UNMIT asal Australia itu yang meringkuk di dalam parit dangkal nyaris tak kuasa membalas semburan peluru kaliber 5,56 yang keluar dari laras SS2 V1 di tangan pasukan TNI.Beberapa diantara mereka terjungkal dengan jeritan memilukan ketika peluru-peluru tersebut menembus tenggorokan dan pelipis mereka. Darah segar memancar deras bersama lolongan kesakitan membuat para prajurit lain yang melihatnya seakan terbang nyalinya.Parit kecil itu mulai memerah airnya tercampur darah yang mengalir deras dari luka tentara UNMIT.
Letnan Patrick mengumpat panjang pendek ketika melihat satu persatu anak buahnya meregang nyawa. Posisi TNI yang lebih mengenal medan membuat tentara dari Batlyon Infanteri 744 ini cepat sekali menebar kematian di antara pasukan UNMIT asal Australia. Apalagi ketika beberapa senapan mesin jenis SM V2 yang dipegang TNI mulai menyalak menyembur ratusan peluru berkaliber 7,62mm membuat tentara UNMIT yang berlindung di balik parit tak berani berkutik. Beberapa pasukan UNMIT yang mempunyai nyali untuk membalas tembakan harus membayar dengan kepalanya yang pecah terbelah tersambar peluru senapan mesin milik TNI. Cairan merah bercampur cairan otak yang kekuningan menyembur bersamaan. Tubuhnya berkelojotan sebelum kemudian terdiam dengan kepala rengkah.
Balasan dari pasukan UNMIT hanya berasal dari pasukan yang berlindung di balik lima buah panser ASLAV 25 serta dua buah MBT Abram M1A1 yang mempunyai kemampuan menahan tembakan yang dimuntahkan pasukan TNI. Tembakan balasan dari F88 Austeyer dibantu senapan mesin AUG LMG sempat menyeruak diantara hujan peluru dari pasukan TNI, namun posisi TNI yang lebih menguntungkan membuat Letnan Patrick memberikan perintah agar kendaran tempur yang bersamanya memberikan tembakan balasan.
Dua buah Tank Abram M1A1 yang menggetarkan jantung tersebut maju ke depan. Kanon kaliber 120 mm itu terarah pada posisi pasukan TNI. Lima buah ASLAV delapan roda yang bersenjatakan kanon M242 Bushmaster 25 mm sebagai senjata utama serta senapan mesin kaliber 12,7 dan 7,92 mm segera menyebar. Dalam hitungan detik, mesin-mesin perang UNMIT beroda delapan asal Australia tersebut memuntahkan peluru-pelurunya menghantam posisi pasukan TNI, disusul kanon 120 mm pada MBT Abrams M1A1 yang menyertainya.
Dua buah bangunan pos jaga perbatasan dihantam oleh tembakan tank hingga hancur berantakan. Pasukan TNI yang semula berposisi di dalamnya segera berloncatan begitu mereka melihat moncong kanon tank tersebut mengarah ke mereka. Tembakan yang menggelegar dari dua Tank Abrams tersebut menghancurkan dua buah bangunan pos perbatasan di wilayah Indonesia. Tulisan Welcome to Indonesia pun ikut tumbang berderak setelah bangunan pos tersebut hancur.
Lima buah APC Anoa 6x6 buatan Pindad yang kemudian bereaksi meladeni. Lima APC Anoa 6x6 yang telah dilengkapi kanon CSE-90/MK-III kaliber 90mm serta senjata mesin kaliber 12,7 mm balas menghantam. Granat asap pun terlontar untuk mengaburkan medan sehingga yang terlihat hanya kilatan-kilatan senjata di antara gelapnya asap medan pertempuran.Medan pertempuran menjadi semakin mengerikan.Ledakan-ledakan mesiu disertai desingan peluru yang berhamburan mencari sasaran.
Pertempuran semakin sengit. Diantara desingan peluru senapan mesin panser-panser ASLAV 25, Panser ANOA 6x6 buatan Pindad tersebut bergerak lincah.Dalam sebuah kesempatan, beberapa tembakan dari kanon 90 mm panser-panser tersebut membuat dua buah ASLAV milik tentara Australia terjungkal. Letnan Patrick meradang melihatnya. Tanpa pikir panjang dia segera meminta bantuan udara ke markas UNMIT terdekat. Awak MBT Abrams M1A1 melihat dua buah ASLAV terjungkal tersulut emosinya, kanon tank berkaliber 120 mm segera diarahkan kanon sebuah panser ANOA milik TNI. Tanpa sempat menghindar,kanon 120 mm tank tersebut menghajar panser buatan Pindad hingga meledak hancur. Panser buatan Pindad tersebut memang bukan lawan sepadan bagi tank buatan General Dynamics yang sudah malang melintang di berbagai pertempuran.
Letnan Nugraha yang terluka di bahunya menjadi tegang melihat keadaan pertempuran. Letnan muda ini semula tidak merasakan sakit di bahunya namun akhirnya peluru Barreta dari letnan Patrick yang bersarang di lukanya terasa berdenyut sakit. Letnan Nugraha melirik ke arah lukanya dilihatnya darah merah menyembur deras membasahi seragam dorengnya. Dirobeknya seragam yang telah memerah basah.
Dengan geram dicabutnya pisau belatinya lalu dengan belati tajam tersebut dikoreknya luka yang masih menyemburkan darah kemerahan. Letnan Nugraha menggigit bibirnya kuat-kuat menahan sakit yang luar biasa. Ujung belatinya telah menemukan yang dicarinya. Dengan satu sentakan, peluru yang telah melubangi bahunya dicongkel keluar. Darah semakin deras menyembur bersama keluarnya peluru tersebut dari lukanya membuat letnan muda ini seakan mandi darah.
Seorang sersan medis yang melihat apa yang dilakukan komandannya segera memberikan bantuan. Luka yang memancarkan darah tersebut ditaburi dengan obat untuk memampatkan darah yang mengalir lantas dibalut dengan kain seadanya.
"Kau..perintahkan orang untuk kontak markas..beritahu kita diserang satu kompi pasukan UNMIT dengan lima panser ASLAV dan dua Abrams dan….kau lihat itu?"kata Letnan Nugraha sambil meringis menahan perih ketika obat yang ditaburkan sersan medis tersebut terasa mulai bekerja.
Sersan yang tengah membalut luka sang letnan mengikuti arah pandangan Letnan Nugraha. Mata sersan medis dari Yonif 744 ini membelalak ketika melihat dua helikopter penuh senjata muncul dari balik pepohonan.
"Apache!..gila! PBB gila! Kenapa mereka menyerang kita?!"umpat sersan dengan marah.
"Cepat cari bantuan..Tinggalkan aku..aku masih bisa bertempur!" bentak Letnan Nugraha.
Sersan yang dibentak tersebut segera berlari mencari prajurit komunikasi untuk segera meminta bantuan markas.
Sepeninggal sersan, letnan Nugraha melihat suasana pertempuran yang semakin liar. Dentuman dan rentetan senjata mesin-mesin perang menebarkan bau mesiu yang bercampur dengan anyir darah.
Bagi Letnan tersebut, yang harus dihancurkan terlebih dahulu adalah dua tank Abrams M1A1 sebelum dua Apache penuh senjata tersebut beraksi. Letnan Nugraha memberi isyarat kepada anak buahnya, sesaat kemudian sebuah RPG 30 diambil Letnan tersebut.
Cilangkap, Markas Besar TNI pukul 08.00 wib
Jenderal Andi Zulkarnain terkejut ketika menerima berita terjadinya konflik bersenjata antara TNI dnegan UNMIT di ruang kerjanya.
"Hubungkan saya dengan presiden cepat!"perintah jenderal asal Makassar yang juga Panglima TNI ini kepada staffnya. "Panggil juga para kepala Staf Angkatan."
Beberapa saat kemudian, Jenderal Andi Zulkarnain berhasil menghubungi Presiden Agung Wibowo. Dengan raut muka tegang, jenderal TNI berbintang empat ini melaporkan konflik yang terjadi kepada orang nomer satu di negara ini.
"Bantuan sebanyak satu kompi telah meluncur, Presiden!"ujar Jenderal Andi Zulkarnain mengakhiri laporannya.
"Jangan..tarik bantuan segera!..perintahkan kepada pasukan kita yang tengah konflik untuk mundur…yang kita lawan adalah PBB..!"
"Tapi pak.."
"Ya..saya tahu ….memang janggal dan saya duga UNMIT yang bikin kekacauan dengan tentara kita tersebut insubordinasi…tapi jangan konflik dulu dengan PBB"
Jendral Andi Zulkarnain terdiam dengan wajah tegang. Tiga kepala staf angkatan yang telah hadir di depannya dan mendengar pembicaraan panglima mereka dengan presiden ikut merasa tegang.
"Saya tahu ada yang gugur pada pasukan kita…tapi yang terbaik adalah jangan melawan…mundur! Perintahkan anak-anak untuk mundur! Belum saatnya..!"kali ini suara presiden di seberang telpon mulai meninggi ketika para jenderal tersebut tidak memberikan reaksi.
"Siap pak..segera laksanakan!"jawab Jenderal Andi Zulkarnain dengan sigap.
"Saya minta Jenderal Andi dan tiga kepala staf angkatan segera hadir ke Istana segera!"
"Siap pak!"
Departemen Luar Negeri, jalan Pejambon, Jakarta Pusat.
Menteri Luar Negeri Indonesia Dr Andrianus Simanjuntak terkejut ketika dia mendapat laporan adanya konflik bersenjata antara TNI dengan pasukan PBB di perbatasan Timor Leste.
"Bagaimana mungkin??apa UNMIT tidak tahu aturan?"reaksi Menteri Luar Negeri dari Medan ini dengan gusar.
Tiba-tiba telepon di mejanya berdering yang segera disambarnya.
"Pak..Presiden Agung Wibowo di saluran satu"suara staffnya di telepon.
"Ya sambungkan segera!"
Beberapa saat terdengar suara nada sela sebelum kemudian terdengar suara presiden.
"Pak Andrianus sudah mendengar kejadian di perbatasan Timor Leste?"
"Sudah pak..saya yakin itu insubordinasi dari UNMIT pak!"
Ya..mungkin saja..kita belum tahu..saya minta Pak Andrianus segera ke Istana saat ini..kita bicarakan masalah ini dengan menteri-menteri yang terkait"
"Baik pak..segera ke sana"
"Hubungi dulu Pak Wibisono di New York..kabarkan apa yang terjadi pagi ini sambil kita lihat perkembangan apa yang akan terjadi. Katakan kepada Dr Wibisono agar menyampaikan kepada Sekjen PBB bahwa saya sudah perintahkan agar anak-anak untuk tidak melawan pasukan PBB."
"Ya pak..segera saya laksanakan"
Setelah presiden menutup telepon, Dr Andrainus segera mencari kontak Dr Arya Wibisono, Duta Besar Indonesia untuk PBB(Bersambung)