14
Pos Perbatasan Indonesia-Timor Leste di Motaain, Belu pukul 08.00 WIT
Suasana jalan raya yang membentang di pos perbatasan Indonesia dan Timor Leste tampak sepi. Kerusuhan dan pemberontakan yang berlangsung massif di Timor Leste membuat semua Pos Perbatasan tersebut ditutup untuk lalu lintas. Sejumlah prajurit TNI dari Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti terlihat relaks di pos perbatasan yang berjarak 30an kilometer dari Atambua. Para prajurit yang masih berusia 20an tahun itu tampak berkelakar walaupun tetap tidak meninggalkan sikap waspada sebagai pasukan penjaga perbatasan. Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti adalah pasukan tempur milik Kodam IX/Udayana yang dulu bermarkas di Lospalos kini mempunyai markas di Tobir 10 kilometer sebelah selatan kota Atambua.
"Ada pasukan datang!"seru salah seorang prajurit yang membuat rekan-rekannya segera bersiaga. Seorang sersan melihat ke arah yang dimaksud melalui teropong dan dilihatnya sejumlah kendaraan tempur dan truk-truk pengangkut pasukan bercat putih tampak beriringan mendekati pos perbatasan tersebut.
"Pratu Wanto..segera ke Pos Komando..lapor kepada Letnan Nugraha kita kedatangan tamu dari UNMIT"
"Siap Pak!"
Para prajurit TNI yang berjaga di pos perbatasan tersebut segera bersiaga dengan SS2 V1 di tangan mereka masing-masing. Beberapa di antara mereka memegang senapan buatan Pindad tersebut yang dilengkapi dengan peluncur granat serta beberapa personil lainnya membawa Senapan Mesin SM3 V2 yang juga buatan PT Pindad.
Iring-iringan berupa sebuah jeep Land Rover 110 dan lima buah truk Mercedez Benz Unimog berisi penuh pasukan dari UNMIT serta lima buah kendaran tempur ASLAV 25 yang kesemuanya bercat putih bertuliskan UN berhenti di depan pintu portal. Seorang tentara bule dengan seragam ADF berpangkat Letnan namun berbaret biru meloncat dari jeep Land Rover 110 tersebut.
Pada saat bersamaan lima buah panser Anoa 6x6 milik TNI datang dari arah Indonesia mendekat. Dari salah satu panser tersebut, sosok tubuh dengan pangkat Letnan meloncat gesit. Di tag nama seragam Letnan Infateri tersebut tertulis nama Nugraha.
"Selamat pagi Letnan Nugraha.. saya Letnan Patrick dari UNMIT mendapat perintah untuk memburu pemberontak Mayor Lorenzo yang menurut laporan intelejen berada di wilayah Indonesia"kata Letnan dari UNMIT tersebut.
Letnan Nugraha terdiam. Matanya memandang ke sekiling. Dilihatnya ada sekitar hampir 100an prajurit UNMIT yang dia yakin berasal dari Australia bersiaga dengan Austrayer F88 di tangan mereka. Lima buah ALVIS 25 di belakang mereka tampak bersiaga penuh tapi yang membuat dada Letnan ini berdegup kencang, kemunculan dua buah tank M1A1 Abrams dengan kanon 120 mm terarah ke pihaknya.Letnan Infanteri ini menarik nafas dalam-dalam.
"Intelejen anda salah letnan. Tidak ada pemberontak yang melewati perbatasan ini.Jika ada niscaya mereka akan kami tangkap!"ujar Letnan Nugraha dengan bahasa Inggris yang lancar.
"Sorry Sir..saya mendapat perintah untuk memburu mereka walaupun sampai Jakarta sekalipun! Jadi siapapun yang menghalangi akan kami habisi"desis Letnan Patrick membuat Letnan Nugraha mengernyitkan kening.
"Tidak mungkin!..itu namanya anda melanggar kedaulatan negera kami apalagi anda tentara PBB yang tentunya tahu hal itu"
"Jutsru karena kami adalah tentara PBB karena itu kami berhak masuk ke negera anda!"Suara Letnan Patrick terdengar meninggi.
"Tidak bisa..anda harus...ah fuck!!"Pekik Letnan Nugraha marah ketika matanya melihat tangan Letnan Patrick mencabut pistolnya dan dengan gerakan cepat pistol Barreta tersebut diarahkan ke arahnya.
Letnan Nugraha yang tidak menduga hal tersebut terkejut luar biasa. Dengan gerakan refleksnya, Letnan Infanteri ini berusaha sekuat mungkin menghindar ketika terdengar letusan pistol yang dipegang Letnan Patrick.
Sebutir peluru pistol tersebut meluncur mengarah ke jantung Letnan Nugraha namun dengan refleksnya yang luar biasa peluru itu hanya menyambar bahun komanda kompi penjaga perbatan tersebut. Darah segar seketika mengucur membasahi seragam doreng yang dikenakan Letnan tersebut bersama luka yang menganga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
Namun rasa sakit di bahu yang dirasakan Letnan Nugraha tertelan oleh kemarahannya. Secepat kilat dia mencabut senjata genggam jenis P2 dan segera diarahkan ke Letnan Patrick yang telah menembaknya. Sebutir peluru melesat namun Letnan dari Australia itu bergegas meloncat ke Jeepnya dan segera mundur ke tengah-tengah anak buahnya. peluru yang dimuntahkan Letnan Nugraha hanya mengenai lampu jeep tersebut dan memecahkannya.
"Fire !!"teriak Letnan Patrick kepada pasukannya. Satu kompi pasukan Australia berseragam UNMIT yang bersiaga semnajak tadi segera memuntahkan pelurunya melalui senapan Austrayer F88 yang berada di tangan mereka. Desingan ratusan peluru pun melesat dari ujung laras senapan ke arah pasukan TNI yang tidak menduga sama sekali akan diserang secepat itu.
Tentara Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti terkejut luar biasa ketika terdengar letusan puluhan Austrayer F88 di tangan tentara UNMIT asal Australia tersebut. Beberapa personil TNI ini tumbang dengan darah mengucur deras membasahi seragam mereka. Kesakitan dan kematian pun menyambangi pasukan TNI di sela raungan kemarahan yang beradu dengan suara letusan senapan yang ditembakkan oleh F88 Austrayer pasukan UNMIT tersebut. Tak dapat dihindarkan lagi, beberapa anggota TNI gugur dalam serangan tak bermoral pasukan UNMIT yang dilakukan secara tiba-tiba tersebut.
"Balas mereka!"teriak Letnan Nugraha yang segera menyambar sebuah Senapan SS2 V1 yang tergeletak tak jauh dari seorang anggota TNI yang sudah tidak bernyawa.
Dengan kemarahan yang luar biasa, Letnan Nugraha menyapu pasukan UNMIT dari Australia tersebut dengan SS2 di tangannya tanpa memperdulikan luka di bahunya yang berdarah. Pekik kesakitan dan jeritan kematian mulai terdengar dari arah pasukan UNMIT dari Australia tersebut.
Pasukan TNI yang tersadar dari keterkejutannya segera membalas seperti yang dilakukan oleh komandan mereka. Ratusan peluru dari senapan SS2 V1 pun berhamburan ke arah pasukan Australia yang segera berloncatan ke sebuah parit sebagai perlindungan. Sebagaian lain berlindung di balik Panser ALVIS 25 beroda delapan dan Tank Abram M1A1 yang masih belum memuntahkan peluru-pelurunya.
Tentara TNI berlindung di balik bangunan Pos Perbatasan dan beberapa bebatuan besar yang ada di sekitar lokasi. Tembakan balasan dari TNI ternyata sangat gencar apalagi TNI memang menguasai medan sehingga dalam waktu sekejap sejumlah personil UNMIT asal Australia tersebut bertumbangan menjemput kematian dengan luka mengucur deras.
Jeritan kematian dan lolongan kesakitan mewarnai suara letupan senjata api kedua belah pihak dan desingan ratusan peluru yang terhambur saling mengincar nyawa. Bau mesiu dan anyir darah mulai tercium menyengat di daerah pertempuran yang terjadi begitu cepat tersebut.
Markas Komando Batalyon Infanteri 744/Satya Yudha Bhakti di Tobir.
Komandan Batalyon Infanteri Letnan Kolonel Infanteri Fernandez terkejut luar biasa ketika mendapat panggilan melalui frekwensi radio dari pasukannya yang menjaga perbatasan
"Komodo ke Markas..Komodo ke Markas.. kami diserang UNMIT..Letnan Nugraha tertembak..beberapa anggota gugur.. mohon bantuan segera.!!"
"Apa?? UNMIT?kenapa mereka menyerang?!"
Wajah Letkol Fernandez tegang ketika melalui radio tersebut tedengar suara tembak menembak yang sangat gencar. Dahinya berkerut tampak berpikir keras. Sejumlah perwira yang berada di ruangan tersebut ikut mengerutkan keningnya dengan wajah tak kalah tegang dengan komandan mereka.
"Mereka tentara PBB..Jangan dilawan..mundur..mundur saja !"perintahnya kemudian.
"Negatif pak!..Mereka terus menyerang ..Lima buah Alvis dan 2 buah Abrams serta menyusul muncul dua buah Apache pak!!"
Melalui gelombang radio yang cukup jernih, terdengar suara tembak menembak yang gencar. Suara dentuman kanon tank yang disebutkan juga terasa ikut menggetarkan ruangan yang berjarak puluhan kilometer dari lokasi pertempuran.
"Nugraha mana?..mana?"setengah berteriak Letkok Frennadez bertanya.
"Letnan tengah bertempur di depan Pak!"
Komandan Batalyon Infanteri 744 tersebut mengatur nafasnya yang mendadak memburu menahan gejolak yang dirasakannya. Pandangan Komandan Yonif 744 ini terarah berputar kepada sejumlah perwira yang berada di ruangan itu seakan meminta pendapat.
Dalam pikiran Letnan Kolonel tersebut, melawan pasukan PBB adalah sebuah upaya bunuh diri. Pandangan sang Letnan Kolonel tersebut terhenti kepada Kapten Alex yang berdiri di dekat pintu dan perintah pun meluncur dari Letkol Fernandez.
"Kapten Alex..kau pimpin bantuan untuk mereka..bawa satu kompi lengkap dan juga bawa 6 Anoa yang kita punya..dan hubungi El Tari untuk meminta bantuan NBO 105!"
"Siap pak..segera laksanakan!"jawab kapten dan sedetik kemudian dia meninggalkan ruang komandannya setangah berlari.
Suara sirine tanda bahaya pun meraung di seantero markas Batalyon Infanteri tersebut emmbuat penghuninya segera bersiaga penuh.
"Dan kau Letnan..segera kirim berita ini ke Denpasar serta Jakarta..!"
Letnan Heru yang dimaksud oleh Letkol Fernandez segera berdiri dengan sikap tegak sempurna. Denpasar yang dimaksud Letkol Fernnadez adalah Markas Kodam IX/Udayana sementara Jakarta adalah Mabes TNI di Cilangkap.
"Siap pak..!"
Mata Letkol Fernandez membara melihat kesibukan yang terjadi di markas Batalyon Infanteri yang dipimpinnya. Bertahun-tahun dia tidak berperang serasa membuatnya jenuh. Darahnya menggelegak terdorong keinginan yang terpendam lama untuk bertempur apalagi setelah mendengar beberapa anak buahnya gugur di Motaain.
"Motaain tidak jauh dari sini" desis Letnan Kolonel yang berasal dari Kupang ini.(Bersambung)