Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

14. GERBANG ANGIN

Mereka berkumpul kembali.

“Basso…Mansur… maju!”

Yang dipanggil segera bergerak.

“Cabut pisau kalian!”

Keduanya terdiam sesaat, ke­mu­dian men­cabut pisaunya.

Harun menahan nafas, ia sadar apa yang akan terjadi.

“Mulai!” Peter berseru.

Srttt! Pisau Ahmad Basso mem­bu­­ka se­rang­an, Mansur mengelak tang­­­kas sambil me­nyasar lengan Bas­­so. Namun ia juga cukup ge­sit da­­lam meng­elak.

“Bagus,” terdengar komentar.

Keduanya kembali bertarung. Ha­­run me­ng­­­amati gerakan keduanya de­­­ngan seksa­ma. Ge­rakan Basso me­­mang cepat, tapi penuh emo­­­si. Ber­­beda de­ngan Mansur si “bulat” ini, te­­­nang dan penuh perhitungan. Da­­lam menit ke tiga, Harun sudah da­­pat memastikan siapa yang bakal ja­­di pecundang.

Aaah! Terdengar jerit tertahan.

Dugaannya te­pat. Basso undur ti­­ga lang­kah sambil meme­gang ba­hu­nya yang tergores. Bas­so melepas pi­­sau­nya.

“Bodoh!” Teriak Peter, “Me­ngapa pisau­mu dilepas!”

Buk! Ahmad Basso terhuyung karena tinju Pe­ter ke rahang­nya. Ha­run terkesiap, begitu ju­ga yang lainnya. Mereka sungguh tak menger­ti, menga­pa Peter demikian beringas.

“Kau harus ingat. Senjatamu adalah milik­mu satu-satunya. Se­lama kau ma­sih bernafas, tak ada alasan untuk melepaskannya. Me­ngerti!?”

Basso meringis sambil mengangguk.

“Bodoh!” Buk! Ia pun terguling.

”Mundur kau!”

Semua terdiam. Harun menggigit bibir. Peter benar-benar ke­lewatan. Sa­pi gendut ini membuatnya sebal. Tanpa sadar ia me­raih Basso.

“Heh, koboi sipil apa yang kau perbuat? Siapa yang menyu­ruhmu maju!?”

Harun tak peduli, ia menarik bahu Basso.

“Lepaskan! “

Tapi Harun seperti tuli.

Peter naik pitam. “Lepaskan!” dia maju menendang. Bug!

Harun terguling.

Bangsat! Harun berseru. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Me­mang­nya sia­pa aku ini begitu bebas diinjak-injak. Darahnya naik. “Kerbau sialan,” ia meng­geram.

“Apa kamu bilang?!”

Harun menyeka bibir. Lidahnya terasa asin. Darah.

“Ngomong apa kamu?” hardik Peter sambil bergerak men­cengkeram, “Ja­ngan berlagak di depanku.”

Harun mengibas dengan lengannya. Ia coba bertahan.

Peter terus merangsek. “Apa maumu, hah? Kau jangan berla­gak di de­­panku, kau bukan prajurit, kau hanya lendir busuk!”

Kesebalan Harun tak terbendung lagi.“Terserah! Apapun ke­inginan­mu akan kuladeni…”

Peter terhenyak. Begitu juga lainnya.

 

Menyaksikan peristiwa itu, Risman yang berada di pinggir la­pang, akan ber­tindak maju, namun Pusaka menahannya, “Biar­kan saja…”

Peter menyeringai, ia ingin melihat pertunjukkan menarik.

“Baringin cabut pisaumu!”

Baringin maju. Semua sudah pada tahu, Baringin jagonya main pi­­sau.

“Siapkan pisau hadapi lawanmu.” Peter berkata.

Harun menatap Peter. Ia menggeleng dan berkata, “Aku me­nantang­mu.”

Mata Peter menyipit. Seakan tak percaya terhadap yang dide­ngarnya. “Apa? Ulangi?”

Harun mencabut pisau. Ia sudah nekad, bosan dipandang se­belah ma­­ta oleh sersan ini. “…cabut pisaumu, sersan.”

Semua tertegun.

Peter adalah pelatih kawakan. Mahir berbagai senjata dan per­tarungan.

“Hehehe,…kalau tak ingat kau bukan militer. Kubeset kulitmu se­jak ki­ta bertemu.”

Harun memegang pisaunya dengan lentur.

Lihat mata dan bahu lawan, hilangkan pikiran akan diserang, pusatkan per­hatian pada titik dimana kau harus menye­rang. Bergeraklah dengan hati. Posisikan pisaumu selalu di ba­wah garis pandang lawan. ” ia pun jadi ter­­ingat kata-kata Vinegar Brown, kawannya dahulu.

Bajingan kecil ini sungguh kurang ajar, kutuk Peter. Namun ia langsung sa­­dar, hanya orang bernyali besar berani menantang­nya. Sipil ini pasti sudah tak waras be­­­rani mengajak bertarung. Te­tapi sebagai seorang yang berpengalaman, ia tak mungkin bisa ber­main-main. “Ayo, maju kunyuk kecil…hehehe.”

Belum sempat ia menghabiskan tawanya, Harun bergeser ke kiri dan me­­nyabetkan pisaunya ke kanan.

Heh! Peter terkejut, tubuhnya mundur dengan posisi kaki te­tap di tem­pat, dan langsung menyerang balik dengan tusukan ke depan.

Harun menghindar setindak. Gila juga si gendut ini. Hanya ma­nusia pilihan yang bisa menyerang ba­lik seperti itu.

“Hehehe…kau boleh juga kunyuk kecil,” Peter menyeringai ke­senangan.

Harun menusuk ke depan dengan cepat, tetapi sebelum me­nye­ntuh tu­buh la­wan, pisaunya langsung berganti arah menjadi se­buah cungkilan le­bar ke arah atas.

Huh! Peter kaget, namun indera keenamnya sangat tajam, sa­­dar teng­gorokannya terancam ia langsung menarik tubuhnya ke belakang, diiringi ge­rakan kilat, tangan kirinya menangkap per­ge­langan Harun, dan disusul se­buah tikaman mematikan ke arah lam­­bung.

Harun terkesiap. Nalurinya bereaksi. Tangan kirinya bergerak tang­­kas.

Hap! Tangan kanan Peter ditangkapnya, namun tangannya ju­­ga tepat di­tangkap oleh Peter. Hup!

Detik berikutnya, keduanya berkuketan dengan beringas. Ha­run meng­ayunkan dengkul ke selangkangan.Te­pat saat Peter meng­­hantam da­gunya dengan siku.

Akhh!, keduanya pun terjungkal.

Yaaa…..! Harun berteriak, langsung bangkit. Akan menerjang la­­gi… te­­tapi sebuah teriakan membuatnya tertegun.

“Berhenti!”

 

Risman berdiri angker. Pertarungan dua jurus itu bukan main-main lagi. Matanya yang terlatih sudah bisa menilai, bila dibiarkan akan sa­ngat berbahaya.

“Berhenti! Tahan! Ada pengumuman penting!”

Risman sengaja membuat buyar keadaan. Ia tidak ingin me­ne­gur secara langsung. Bisa menurunkan wibawa Peter sebagai pe­­latih karena mengadakan pertarungan berbahaya.

Peter menahan diri, begitu juga Harun. Nafas mereka terse­ngal-sengal.

“Kalian mulai saat ini harus siaga, dan siap berangkat setiap wak­tu. Un­tuk itu kalian diharapkan dalam kondisi penuh!”

“Siap! Braja!” Serempak terdengar jawaban.

“Siap latihan pantai, besok pagi kalian pergi ke Cadasbolong!”

Semua tercekat.

Cadasbolong sebuah nama yang seram untuk telinga mereka. Om­­bak dan alam sekelilingnya begitu sulit ditaklukan.

Harun belum mampu berpikir panjang. Emosinya belum reda. Na­­ma pan­tai neraka tersebut tak begitu dihiraukan.

“Kalian harus melakukan sesuatu yang khusus untuk tu­gas men­­datang. Mengerti!?”

“Siap. Laksanakan, Braja!”

“Sersan aku ingin semua pasukanmu siap dan memelihara ke­­siapan fi­siknya.”

“Siap, laksanakan. Braja!”

Risman balik lagi ke tempat semula.

“Bagus letnan, kau bertindak cepat…,” sambut Pusaka.

Risman menggeleng perlahan. Peter dan orang muda itu benar-benar gila. Sama-sama nekad dan mematikan.

 

Harun mengusap bibirnya. Ia masih penasaran,begitu juga Pe­­ter.

“Heh, lain waktu aku ingin mengulanginya lagi hehehe…,” Pe­­ter meng­ancam.

Harun mendengus. Tiba-tiba ia mengayunkan pisaunya de­ngan cepat.

Tab! Pisau itu menancap. Batangnya bergetar. Tertanam kuat di sebuah ram­bu tan­da berhenti! Kira-kira 6 meter dari tempatnya. Te­­pat di tengah hu­ruf O dari kata-kata STOP.

Peter tersenyum mengejek, dan langsung berteriak kembali. “Pa­­sukan siap!”

“Ke Cadasbolong? Ngapain kita ke sana lagi?” Eko setengah ber­­bisik.

Tempat itu lebih seram dibanding pantai Permisan, Nusa Kam­­bang­an—lo­kasi latihan untuk Komando—yang sudah masuk kua­­lifikasi men­dirikan bu­lu kuduk.

“Alih propesi. Mungkin menurut Komandan, kita lebih cocok jual­­an ikan daripada jualan nyawa, hehehe…”

“Profesi, bukan propesi. Tolol sekali kau ini. Dasar Sunda be­­leduk!” Ba­ringin menyela ke­tus.

“Kau juga salah. Yang betul kalau ngomong. Beleduk tak ada artinya. Ka­lau belegug (bodoh) baru aku mengerti…,” dan se­­perti biasa Jajang te­­rus nye­rocos, “Juga jangan sampai ketuker de­­ngan kajedug (terbentur), be­dug (be­duk), budug (koreng), atau gu­­gug (anjing), ya…belegug! “

“Stt!” Jamal memperingatkan.

Mereka mulai lagi.

 

Pandangan Harun menumbuk Bertus yang sedang meman­dang­nya tak berkedip. Harun merasa tengkuknya ditiup sesuatu. Ada cahaya ancam­an da­lam kilat matanya.

Harun mengalihkan perhatian. Tetapi hatinya jadi tak nyaman sewaktu me­­­lihat  luka Basso. Tanpa sadar ia meraba cacat di bawah kuping kirinya. Ia ju­ga punya luka akibat duel dengan se­­orang Dac Cong VC, di atas tong­­kang di sungai Mekong, se­wak­tu kapalnya disergap.

Melihat yang lain berkumpul. Harun mendekat. Mereka su­dah bia­sa lagi. Seperti tak ada kejadian apa-apa. Dasar orang-orang gi­la.

Semua yang terjadi hari ini, sebelumnya, maupun esok, ha­nya­lah tu­­gas ru­tin.

Mereka tangguh, memiliki jam tempur tinggi, dan telah tercip­ta sebagai peng­­hancur untuk setiap medan. Setiap saat harus se­­lalu siap dikirim ke me­­dan tempur.

“Harus selalu siap untuk HIDUP.”

Bagi yang masuk kesatuan ini. Kematian itu sudah terjadi, ka­­ta Peter. Ja­­di tujuan utamanya adalah hidup. Bila ingin hidup, te­­robos jalan kematian. Se­­makin sering bergelut dengan kematian, ki­­an sering merasa hidup. De­ngan be­gitu setiap tugas adalah salah sa­­tu cara untuk melewati kematian se­kaligus mem­perpanjang hi­dup.

Itu bagi mereka. Aku lain.

Tapi, “ Akh…sialan!” Harun mengumpat.

 

“Kenapa bung?” Sebuah pertanyaan perlahan menyambar­nya.

Harun memandang Bertus. Tetapi sekali ini, entah mengapa ia tak mau me­ngalah dalam bertatapan.

“Apa yang kau cari di sini ?” kata Bertus setengah bertanya.

Harun menggeleng, “Aku hanya tidak ingin berpikir,” balas­nya sambil ber­jalan dan sengaja menyentuhkan dirinya ke tubuh Ber­­tus.

“Berapa banyak gerbang sudah kau kocok?”

Harun terhenti. Punggungnya terasa dingin mendengar kata-ka­­ta ter­sebut.

“Aku…aku sudah lupa…” tanpa sadar ia menjawab.

Bertus mendengus. “Sekali waktu aku ingin menyaksikan ca­­ramu…”

“Untuk apa?” Harun berbalik. Nadanya bergetar.

Bertus tersenyum dan ngeloyor pergi.

Gila! orang ini benar-benar berdarah dingin.

“Gerbang angin,” istilah Cina untuk tempat di bawah teng­ko­rak bagian belakang le­her. Sedikit di atas tengkuk. Sebuah titik me­­matikan. Sasaran utama penyergap berpisau.

Dan hal itu sama sekali bukan untuk bergurau. Bukan. Juga un­tuk­nya.