13. API
Balok diapungkan, ditangkap kembali. Naik dan
memanjat dinding kayu, beton setinggi 7 meter, kemudian terjun dengan
seutas tambang. Tetapi yang paling merangsang adalah berlari cepat menembus
beberapa kusen pintu yang dibakar
“Edan, sersan ini selalu bertambah sinting, bukannya
sadar…huh” umpat Eko setelah berhasil menembus “pintu” api itu. Rambutnya terbakar
sedikit.
Harun mengatur nafas. Apinya memang besar, semula ia
pun was-was.
Kini giliran Bram. Ia berkomat-kamit, wajahnya
sedikit tegang. Ia menyesal bukan yang pertama. Saat gilirannya api sudah
membesar.
“Hei cicak, tunggu apa lagi. Cepat,” teriak Peter.
Bram berpaling, “Emangnya gua takut…”
Ia menahan nafas sejenak, dan… “Yeaaaah,” ia berteriak dan berlari ke
depan…dan secara serentak pula Peter menyiram api dengan minyak.
Bussss….! Api berdesis, berkobar semakin besar, dan
“wuaaa…” sebuah lolongan tertahan berkumandang.
Buk! Brakkk! Bram jatuh tunggang langgang di tengah
tumpukan kaleng minyak. Ia kaget melihat api tiba-tiba membesar, dia langsung
berubah arah menabrakkan dirinya ke tengah jejeran tempat minyak dan oli.
Semua terkesima kecuali Peter.
“Goblok!” Ia berteriak.
Bram kelihatan kaget, tetapi setelah sadar apa yang
terjadi, wajahnya yang memutih berubah tegang, dan perlahan-lahan mengeras
menahan marah. Dia bangkit dengan cepat, dan langsung menyerbu ke arah
Peter.
Yang lain terperangah, namun detik selanjutnya semua
mempunyai kesimpulan yang sama. Peter sudah terlalu edan.
Tetapi keadaan berubah cepat.
Entah bagaimana, terdengar suara teriakan keras Bram,
rupanya prajurit itu jadi mata gelap dan menerjang pelatihnya. Dua tubuh
berguling, dan berhenti ketika Peter sudah menindih sambil mencekik
leher Bram. “Diam! Berani berontak, kucekik sampai mampus kau.”
Bram berontak, tapi sebuah tinju mendarat di dagu.
“Diam! Goblok kau! Dasar Cicak!”
Eko, Baringin , Sidik, spontan maju.
“Berhenti!”
Sidik tertahan sejenak, kemudian berkata ketus
setengah parau. “Kau keterlaluan sersan…”
Peter memandang sekelilingnya. Matanya berkilat,
tetapi pitingan ke leher Bram tambah kuat. “Kalian menentang? Mau melawan?
Mau mengeroyok? Goblok! Sungguh tolol, dasar kurcaci semua! Apa kalian kira
aku sudah gila. Mau membunuh orang semacam dia?”
“Tindakanmu kurang waras.”
Peter menyeringai. “Kalian yang tidak waras. Aku
diberi tugas supaya kalian hidup terus, bukannya mati. Dan aku melakukan
tugas itu sebaik-baiknya.”
“Dusta!” bentak Mansur.
Harun bangkit. Ia akan melihat tontonan menarik. Ia
sependapat dengan para prajurit itu.
Peter menyeringai, ia mencekik lebih kuat. Nada bicaranya
serius. “Kalian boleh berbicara seperti itu. Aku tak mau membela diri.
Apa ada di antara kalian yang bisa mewakili aku untuk menerangkannya?”
Peter berpaling ke pinggir lapangan. “Letnan,
sebaiknya kau yang menjelaskan.”
Perhatian beralih. Keadaan berubah membisu.
Risman yang berdiri di pinggir lapangan berjalan ke
tengah. Sambil memandang Mansur ia mengangguk, “Dia benar. Dia ingin kalian
hidup bukan mati konyol.”
“Apa maksudnya?” tanya Baringin.
Risman menarik nafas, “Sejauh yang kualami. Kalian pun
pasti telah mengalaminya. Dalam pertarungan, kita selalu mengalami masalah
yang mengundang emosi tinggi. Terkadang kita sulit mengontrol diri, dan membuat
kita kehilangan separuh daya kritis untuk mengatasi bahaya yang datang secara
tiba-tiba. Bram, barusan terbukti bisa mengatasi hal itu. Kita memang paling
dekat dengan maut, karena itu kita selalu harus mendatanginya tanpa diundang.”
“Tapi, bagaimana kalau tadi Bram gagal dan terbakar?”
Eko masih penasaran.
“Dia hanya akan terbakar, dirawat di rumah sakit. Dan
tak usah pergi mendatangi kematian.” Peter berseru.
“Tapi…” Sidik menyela.
“Tak ada tetapi!” tukas Risman, “Kalian prajurit Yon
011. Apa bedanya api dengan peluru tajam sewaktu kalian ingin memiliki baret
kesatuan? Apa bedanya diberi tahu atau tidak, jika kalian sudah bertarung dengan
musuh? Kalian memang sudah pernah tugas tempur. Tapi latihan tetap perlu,
termasuk latihan seperti ini!
Harun menarik nafas. Ucapan Kapten Pusaka kembali terngiang.
“Ini Indonesia. Jajarbatu.”
Peter melepaskan himpitannya.
Bram terhuyung kelemasan. Dan kemudian dipapah oleh temannya
ke pinggir.
“Untung saja dia tak menghukum kita semua,” bisik Eko.
“Untung? Untung apa? Rambut jadi tekor begini
masih juga disebut untung?” Jajang menggerutu.
Baringin mencengkeram tengkuk Jajang, “Diam. Kau ingin
aku ikut dihukum pula?!”
Jajang siap balas mengumpat, tapi tangan Eko lebih
cepat membekap mulutnya. Up!
“Diam Jang..diam!” Eko pun khawatir seperti Baringin.
Harun nyengir.
Margono bertanya perlahan, “Ada apa?”
Harun berpaling, “Hah?”
“Ada apa ribut-ribut?”
“Kau dari mana?”
“Ada. Duduk di sana…”
Gerson yang kebetulan di dekat mereka, mendorong
kening Margono kuat-kuat, hingga si gempal itu agak terhuyung. “Dasar buncit.
Masih juga sempat tidur sambil duduk.”
Margono membetulkan topinya. “Suka-suka aku
dong…”
“Ya, tapi ketololanmu itu jangan dipelihara, dong.
Memalukan teman saja,” kata Eko.
“Aku tidak tolol, hanya ngantuk,” balas Margono.
“Ah, kamu memang tidak normal. Mengapa kau jadi pengantuk
kalau sudah di sini?”
“Aku juga tak tahu.”
“Karena kalau di sini tak akan mampus. Tapi kalau
sedang bertugas, takutnya setengah mati. Itu sebabnya kau di garis depan tak
pernah tidur.”
Harun mengangkat bahu, dasar orang-orang “istimewa,”
tabiatnya tak pernah linier.
Ia pun melangkah, berkumpul lagi.
Gono mengikuti dari belakang sambil terus bergumam,
“Apaan sih pakai ribut-ribut segala…”