12. OLSON
Olson Wels seperti biasanya, ia terus membaca,
seakan tak menghiraukan penjelasan yang dibawa Joan dan Guy.
Masalah mereka seakan tak berharga. Bagi Olson
yang Demokrat, ia tidak begitu menyenangi masalah di kawasan
yang baru dikenalnya tiga bulan ini. Masalah Joe Adams, baginya ibarat
saus yang akan menempel di lengan kemejanya. Karena itu, ia tak ingin jabatannya
dikotori.
Ia malas mengurus tetek bengek warisan kaum Republik pendahulunya.
Ia lebih tertarik membaca berita seorang Iran tua berjenggot putih, bersorban
hitam di Paris. Yang akan mampu menggetarkan sendi-sendi tahta kerajaan
“Merak” Iran.
Hanya sewaktu Guy menyinggung persoalan Albert
Heinz dari Port Moresby wajahnya sedikit berubah.
“Selanjutnya apa rencanamu?” kata Olson dengan mata
tak lepas dari “Paris Macth”nya.
“Kita sebaiknya berinisiatif demi keselamatan Joe,”
kata Guy.
“Kita harus mengirim unit aktif tanpa setahu
mereka,” Joan menyela dengan ketus. Ia muak melihat ulah atasan barunya ini.
Dari tampangnya, Olson cocok dijuluki personil dengan tampang tergoblok di
kedutaan.
“Tak mungkin. Kita tidak boleh membuat Vietnam kecil
di sini. Aku muak argumen kuno kaum Republik, yang telah menyesatkan dan
membuat kita berkubang dalam got bau tengik bernama Vietnam,” tukas Olson.
“Pulau itu adalah zona internasional. Jadi kita tak
usah khawatir membuat insiden politik yang berat.”
“Dan aku tak ingin peristiwa ini jadi kasus
internasional,” Sela Olson.
“Tetapi nyawa Joe jadi taruhan,” potong Joan.
Olson makin ketus, “Itu tidak berarti harus ditambah
dengan nyawa lainnya. Masalah ini soal sepele. Penyelundupan, sindikat, dan
mungkin juga pengkhianatan akibat ketamakan. Heh… sudah berapa lama kalian
bertugas di Asia?”
“Apa maksudmu?” Joan jadi sengit.
Pikirannya langsung menyumpahi presidennya sendiri.
Presidennya sekarang, bekas petani kacang. Anakbuahnya pasti hanya punya
keberanian sebesar kacang. Carter itu lebih cocok jadi pendeta United
daripada jadi Panglima Tertinggi AS.
“Asia adalah masa silam yang tak sulit berakhir. Di
sini, semua yang kita kenal sebagai korupsi, kolusi, dan apa pun sebutannya,
bisa sah hanya karena sebuah tandatangan dan sepotong logam di pundak. Demokrasi
di wilayah ini hanyalah berupa bahan pelajaran. Yang dalam pelaksanaannya boleh
ditentang atau dikhianati dengan sebuah istilah yang sangat sederhana. Tergantung
kepentingan yang ingin dicapai. Landasan pelaksanaannya hanya sebatas
tujuan praktis. Moral, etika, maupun hukum, hanya hiasan. Kita tak punya
hak merubah pandangan itu. Dan untuk saat ini, terutama untuk kita yang baru
keluar dari Vietnam, memikirkannya pun sudah termasuk sangat berlebihan.”
Olson berhenti sejenak, dan meneruskan kembali kicauannya, “Sialnya
pikiran-pikiran arogan kaum Republik masih mengganggu tujuan tugasku di
sini.”
“Pandanganmu yang keterlauan,” tukas Joan.
“Aku hanya tidak mau ada lagi warga AS harus konyol,
gara-gara si Joe yang pecundang,” kata Olson sambil memandang sinis.
Politikus sialan. Joan mengumpat dalam hati. Manusia
seperti Olson, saat ini sedang laku keras.
Guy tampaknya mempunyai cara lain. Ia bertanya penuh
selidik. “Apakah ini sudah final?”
Olson menarik nafas, majalah ia lempar ke atas meja
sudut. “Selama kau berpikiran cupet, kau tidak akan bisa memahami apa yang
kumaksud. Aku bertugas di sini bukan untuk membikin ribut, tapi mengawasi.
Tugasku di biro ini sesuai keputusan senat yang baru. Aksi maupun anggaran
kita sudah dibatasi.”
“Jadi tugasmu sekarang ini hanya mengawasi?”
“Begitu yang tertulis. Yang penting aku harus menjaga
dan melakukan hubungan sederhana dengan negara-negara di kawasan ini. Ini
perintah formal yang diberikan oleh Washington. Aku tidak bertanggung jawab
bila ada tindakan di luar peraturan tertulis tersebut. Kalian paham yang kumaksud?”
Guy dan Joan terdiam. Namun beberapa saat kemudian Guy
tersenyum. “Terima kasih. Kurasa kau bisa jadi Duta Besar yang baik di masa
datang.”
“Cukup. Aku ingin istirahat. Pergilah kalian!” sahut
Olson ketus.
Guy mengedipkan mata, mengajak Joan keluar.
Begitu di luar, Joan langsung menyerang Guy. “Kau
sungguh pengecut. Bagaimana nasib..,” kutukan Joan terhenti, karena tiba-tiba
Guy merangkul dan mengajak menuruni tangga dengan cepat.
“Cepat kontak Bangkok. Suruh mereka kirim unit aktif
D!” kata Guy dengan penuh semangat.
“Kau akan bertindak sendiri, memakai orang Thai?”
“Kau dengar yang dikatakan politikus sialan itu. Ia
berkata tentang demokrasi yang boleh ditentang, tergantung dari mana tujuan
ingin dicapai, dan juga dia menyindir posisinya yang dibatasi oleh hukum dan
etik. Kau tahu artinya? Dia ingin berbuat, tapi bila hal itu dilakukan,
kedudukannya akan terancam. Dalam persoalan ini, dia akan bertindak sebatas
mengawasi, dan bekerja seperti yang telah ditetapkan, tidak mau secara
langsung memberi perintah.”
“Politikus sialan. Licik, tapi juga pintar,” pikir
Joan.
“Jadi, kita boleh bertindak melalui jalur tidak
resmi?”
Guy mengangguk, “Kau tak percuma jadi patnerku.”
Joan mengutuk lagi, “Pantas orangtuaku berdoa supaya
anaknya tidak jadi politikus.”
Guy tertawa, “Simpan kutukanmu, kita harus menolong
Joe. Lebih baik hubungi bekas suamimu, sekarang dia sudah berlabuh di Subic.
Dia punya akses untuk mendapatkan foto Kabilat dari satelit. Aku tahu AWACS
memiliki data akurat setiap jengkal wilayah Filipina Selatan dan Pasifik Barat.
Berarti Armada ke VII mempunyainya.”
“Aku harus menghubungi Kurt?” tanya Joan dengan dahi
berkerut. Sudah lama ia tak berjumpa dengan bekas suaminya. Sungguh risi,
harus menghubunginya dengan embel-embel informasi seperti yang dimaksud rekannya.
“Bukankah dia sekarang staff Komandan Komunikasi
di USS Coral Sea?”
Joan terdiam sejenak. Kapal induk itu memang baru
selesai dari tugasnya.
Melihat Joan belum bereaksi, Guy menarik nafas. Ia
sadar akan posisi Joan, tapi saat ini ia sangat membutuhkan informasi tersebut.
“Bukannya aku tak mengerti. Kau tidak boleh menolak. Ini demi Joe…”
“Aku…hanya belum bisa memastikan apakah dia bersedia
melakukan permintaan itu….,” bisik Joan, mencoba mengelak dari rasa
risinya.
“Semasa perang, Kurt mempunyai 12 simbol bintang
merah di pesawat F-4 Phantomnya. Ia petarung yang mahir. Veteran
‘Nam seperti dia, tak mungkin membiarkan seorang veteran petarung dari negaranya
menderita dalam tawanan musuh. Sesama veteran tak pernah meninggalkan
kawan. Aku tahu itu…”
Joan mengangguk. Selain hebat, bekas suaminya itu
memang “gila”. Sayang, Kurt itu juga gila wanita. Hal itu yang membuat ia
minta cerai.
“Dari mana aku bisa menghubungi USS Coral Sea?” tanya
Joan.
USS Coral Sea, kapal induk bertenaga nuklir,
sekelas USS Nimitz, termasuk gugus tugas Armada Pasifik AS. Menghubungi kapal
induk seperti USS Coral Sea tidak bisa sembarangan. Bila keadaan tenang, kodenya
berganti tiap dua minggu. Bila dalam status siaga, kode berubah setiap 36
jam.
“Kita hubungi Pearl. Jeniffer Ashton punya
utang padaku,” jawab Guy.
“Apa?”
“USS Coral Sea di bawah komando Armada VII berpusat di
Pearl. Jeniffer perwira sandi Pusat Komando. Aku dan dia pernah sekelas
dalam program Blue Star Berlin. Aku dekat sekali dengannya.
Adiknya, seorang marinir, gugur di Hue, sewaktu offensif Tet.”
Joan mengangguk. Ia tak tertarik mengetahui lebih
jauh.