Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

11. GRANAT

“Tembak!” Lembah itu menjadi riuh.

 

Belasan M-16 menyalak garang, mem­babat sa­­saran yang bergerak cepat, yang dibuat khu­sus untuk latihan. Ha­run penasaran, tem­bakannya tidak aku­rat. Ia merasa kemahir­annya ber­ku­rang banyak. Bidikannya tidak kon­s­tan. Jarak antara bekas peluru dan sasaran terlalu reng­gang. Ia berniat mengganti magazin, tetapi te­riak­an Peter membuatnya ha­rus segera bang­­kit.

“Maju!”

Harun meloncat menyerbu ke de­pan, ber­lari zig-zag kira-kira 30 me­ter, dan kemudian me­rangkak de­ngan siku serta tumit di bawah rin­ta­ngan kawat ber­duri.

Sret!  Bahunya tersayat kawat. Ha­run me­ringis.

Baru saja ia selesai menyelesaikan rintangan itu, Peter sudah berte­riak, “Ser­buuuu!”

Harun menerjang lagi.

Boneka-boneka sasaran muncul se­cara me­kanis dari tempat yang tak ter­­duga. Sialan! ku­tuk Harun. Ia meng­ayunkan popor dan meng­ayun­kan tu­sukan sangkurnya secara ref­lek. Tiga sasaran bisa dilumpuhkan­nya.

Tiga orang memperhatikan.

“Hm boleh juga orang itu,” desis Pusaka.

“Tajam,” tambah Peter.

“Bagaimana dengan Bertus?”

Peter mengangkat bahu. “Tadi Sidik ham­pir pingsan kena han­taman popor se­napan­nya.”

“Kurasa kau terlalu keras, Pet…,” Ris­man berkomentar.

Peter menyeringai dan menjawab sambil berlalu, “Jika begitu, bu­barkan sa­­ja kesatuan ini…”

 

Harun menyeka keringat di dahinya.

Jajang mendekat. “Asalnya dari mana?”

“Bandung.”

“Maksudku dari kesatuan apa?”

“Aku? Sipil,” jawab Harun tak acuh.

“BAIS?”

Harun menggeleng.

“Intel ya?”

“Bukan.”

Jajang termangu. Imajinasinya liar menduga-duga. “Mahawarman?”

Harun terdiam sejenak. “…dulu pernah jadi itu, tapi…”

Jajang tak menunggu ucapan itu selesai, “Hey, Eko benar kan tebak­anku.”

“Apa?”

“Dia mahasiswa, bekas Mahawarman. Cepat bayar lima ri­bu.”

“Konyol kamu. Aku tak pernah bertaruh.”

Mansur Al-Katiri, si turunan Arab jadi tertarik. “Bagaimana sam­pai bi­sa ga­bung ke sini?..”

“Tak mungkin dijawab. Antum ini datang bersama Kapten Pu­saka. Si kap­ten saudara jauh 007. Jadi tak mungkin dia mau te­rus terang. Pasti be­gitu kan. Mengerti antum.” Jajang me­motong, ta­pi wajahnya seperti meng­ejek Mansur.

Ana tidak bertanya padamu, goblok,” Mansur jadi agak meng­kal.

Ana, ana. Tidak ada Ana di sini. Kamu yang goblok, harus­nya kamu me­ngerti sendiri. Si Kapten Pu­saka itu kerjanya bikin teka-teki, karena dia itu intel. Si…si mahasiswa ini, pas­ti urus­an­nya tak jauh dari itu. Eh…nama ka­mu Harun kan?”

Gila juga tentara satu ini. Sinting, jahil, usil, tapi jujur.” Ha­run meng­angguk.

Suasana mendadak terganggu oleh suara Peter, “Hey, siapa yang me­nyu­­ruh istirahat. Dasar otak semut bernalar penyu. Bangun semua! “

“Wah, dia sudah ngidam buah lagi. Payah kita.”

“Buah?” kata Harun tak mengerti.

“Lihat yang dipegangnya.”

 

Peter tersenyum lebar dengan tangan kiri bertolak pinggang, ta­ngan ka­­nannya mengepal-ngepal benda agak bulat. “Kedong­dong mungil ini me­­­le­dak 20 detik setelah menyentuh tanah. Per­mainan kita sekarang, me­lem­­par kedongdong ke lingkaran putih di sana. Dilakukan sambil berlari ke ben­­dera kuning, tempat perlin­dungan kalian. Jarak da­ri sini ke bendera kuning sekitar 120 m, ja­rak ke lingkaran putih sekitar 90. Ber­arti untuk sampai ke tempat per­lindungan yang berjarak 30 m, ka­lian ha­­nya punya waktu 7 de­tik. Bila lebih dari itu, jangan salahkan aku ka­lau se­­bagian dari tu­buh kalian terkelupas. Tujuan latihan ini hanya untuk menge­­ta­hui siapa yang bernyali besar, dan siapa yang akan memboroskan APBN un­­tuk membeli kaki atau leher palsu. Mengerti!”

Semua terdiam.

“Mengapa diam? Ini hanya permainan. Kalau hanya untuk bi­­sa me­lem­par granat, cukup jadi cacing sayur atau kurcaci ca­dangan saja, jangan ga­bung di sini. Apalagi jadi anggota regu pa­ling tak berharga ini.”

Beberapa orang mulai tersenyum kecut. Jajang paling lebar, Pan­ji se­dikit ma­sam, Eko nampak kian bodoh, hanya Margono yang seperti ter­mangu.

“Hei, masih diam juga. Kalian takut hah? Ayo jawab!”

“Tidak, sersan!” seorang berseru dengan keras. Jajang.

“Siapa itu?! Dasar ayam kampung salah gaul, sudah kuperi­ngatkan ber­kali-kali, aku tidak butuh jagoan. Aku butuh regu! Ti­dak butuh orang to­lol nekad. Ka­­lian takut? Kuhitung sampai ti­ga. Kalau masih dungu, kusuruh be­renang se­muanya. Bagai­mana!“

“Siap. Braja!” hampir semua berseru keras.

Peter menyeringai, ternyata pasukannya lebih takut berenang di com­ber­­an daripada tertusuk pecahan granat. “Hehehe, bagus, ba­gus. Kalian me­­mang ulat-ulat sial.”

Meskipun begitu ia mencatat dalam hati, “Bertus dan bajingan itu la­gi,” um­patnya. Dua orang itu selalu tutup mulut, tak pernah ikut berseru.

“Nah, sekarang siapa duluan?”

Semua terdiam.

“Hey, Aku bertanya siapa yang berani duluan?”

Mereka masih juga diam.

“Hey, kalian tuli?! Sekali lagi aku bertanya. Siapa yang ingin ja­di pe­cun­dang maju dua langkah!”

Masih diam juga. Tak seorang pun bergeser.

Peter tersenyum kian lebar. “Senyum masa kecil tak baha­gia,” pikir Ha­run.

“Baringin!”

“Siap, Braja!”

“Kau yang pertama!”

Mampus kau Si Patokahan,” pikir Jajang sambil nyengir ke­senangan.

Ba­ringin maju, granat di­genggam erat-erat.Teman-temannya berkumpul di ­belakang dan mulai ber­ko­mentar memberi sema­ngat.

“Ngin, ayo, ngin. Jangan takut. Lari-lempar-tiarap. Hanya be­gitu,” ko­­mentar Eko.

“Iya hanya gitu. Kalau tidak begitu. RSAD kelas tiga!” seru Bram.

“Jangan ragu-ragu, ngin!” sambung Panji.

“Hei, timang-timang dulu tu granat!” Jajang berseru.

“Apa?”

Timang-timang anakku sayang. Horas bah!”

“Huh, dasar sunda gelo,” kutuknya.

“Siap!” Peter memberi aba-aba.

Baringin siap menarik picu. Granat harus dilempar ke sasaran mak­si­mal 10 detik.

“Yaaaa!” hardik Peter.

Baringin melesat. Semua menahan nafas.

Kau sembrono, Baringin. Seratus nasihat tak mampu masuk di otak­mu. Itu sebabnya kau tak maju-maju. Sudah begitu, kau ta­kut pula  meran­tau. Me­lempar mangga, kau kampiun. Tapi, mo­dal itu saja takan cu­kup untuk jadi lelaki, itu keluhan opung­nya sewaktu Baringin berusia 15 tahun.

Opung salah besar. Ia bukan penakut. Hampir sepertiga Nu­santara ia je­lajahi. Bukan sebagai so­pir angkot, dan juga bukan se­bagai penyanyi, te­tapi sebagai prajurit pilihan. Apa tak hebat? Ki­ni lemparannya pun telah se­makin jitu. Baringin makin ber­se­mangat.

Ia tak bisa menghitung secara tepat, saat itu ia benar-benar ber­gan­tung pada instingnya.

Satu, dua… dan ketika nalurinya menghentak. Tangannya meng­ayun de­­ngan sigap. Yeaaaah… granat dilempar ke sasaran.

Detik berikutnya. Hup! Ia pun segera tancap gas, berlari me­nuju tem­­pat perlindungan.

Mak…!” ia berteriak panjang dan langsung menjatuhkan di­ri­nya ke da­­lam lubang, dan…

Bum! granat meledak.

 

Harun menunduk, jantungnya bergetar. Orang-orang di sini be­nar-benar sin­ting. Ia melongok ke depan, ke arah ledakan. Asap te­bal masih bersisa di tem­pat itu. Mana Baringin?

“Mana si Batak itu?” ucap Jajang.

“Di lubang,” sambut Eko perlahan.

“Iya, aku juga tahu dia ada di lubang. Tapi apa dia selamat?”

Mansur bangkit dan berlari. Semua jadi sedikit tegang.

“Tuh dia..,” unjuk Eko.

Baringin muncul. Tertawa dengan wajah penuh pasir.

Semua bersorak.

Tanpa sadar Harun tersenyum. Gila. Orang bermain maut disorak-so­raki. Benar-benar gila.

Peter tertawa lebar seperti penonton menikmati acara badut dalam sirkus.

Tetapi hal itu berlangsung tidak lama, “Ya. Ayo, siapa lagi?!”

Tawa dan sorakan meredup dengan cepat.

“Sidik, maju! Margono, bersiap! Juga kau Gerson, dan Man­sur.”

Semua serius lagi. Acara itu berlangsung cukup lama. Satu per­satu me­re­ka selamat mengerjakannya. Hanya Bertus yang maju tan­pa dipanggil.

Harun jadi gelisah. Ia orang terakhir.

Bukan karena takut. Ia juga pernah mengalami hal yang relatif sa­­ma, te­tapi situasi dan kondisi saat ini sangat berlainan. Beban psi­kis bahwa di­rinya berbeda, terutama bahwa dirinya sudah jadi si­pil, dan perasaan bahwa ia “orang luar” yang dilecehkan, terasa meng­ganggu juga. Ia jadi kikuk.

Tetapi aneh, Peter tidak memberi perintah, sersan gendut itu malah me­nyu­ruh se­mua berkumpul.

“Hehehe, aku sungguh senang hari ini. Ternyata kalian pem­berani. Apa kau juga begitu, heh, koboi sipil?!”

Kelopak mata Harun bergerak-gerak setengah terpicing. Pasti aku yang ja­di acara istimewa si sersan tigaperdelapan waras ini.

“Tangkap ini!” tiba-tiba Peter berseru.

Granat!

Harun kaget, nalurinya bereaksi. Granat itu disambutnya! Dan lang­sung dilemparnya ke tempat kosong. Detik berikutnya, ia pun men­jatuhkan di­rinya ke tanah dengan dua tangan melindungi ke­pala. Tiarap!

Duk! Gedebuk! Eko yang ada didekatnya ikut jatuh.

Harun memejamkan mata. Menunggu ledakan…

Tapi yang meledak justru suara Peter. “Ayam sayur! Koboi si­pil pe­ngecut! Bu­ka matamu lebar-lebar!”

Buk! sebuah tendangan menghantam pahanya.

“Ow!” Harun melenguh. Ia melirik ke samping, kepada Peter, lalu meman­dang ke tempat ia melempar granat.. Dan ia pun mengu­tuk dirinya sendiri.

Granat itu tak aktif. Pinnya masih ada…

Sialan! Gila! Dasar sersan setannnn! Sungguh konyol!

Geramnya mencuat. Sersan ini mempermainkannya, ingin rasanya ba­las meng­hardik.

“Mau melawan?! Ayo bangun. Aku senang bila punya alasan untuk menge­­luarkan kau dari pasukanku.”

Harun menghela nafas. Ia bangun lagi.

Peter menyeringai penuh rasa menang. Ia tahu Harun bukan orang bodoh un­tuk terpancing begitu saja menentangnya. “Hehe, pu­nya otak juga rupanya kau.”

Harun pura-pura tidak mendengar. Tadi itu ia memang ter­kejut se­tengah mati.

 

Terdengar aba-aba, “Pasukan Siap! Lari keliling markas! Ce­pattt!”

Mereka pun berlari-lari mengelilingi lapangan.

Satu!” Peter berseru.

Dua!” Pasukannya menjawab.

Tiga!” Peter berseru lagi.

“Empat!” balas anakbuahnya.

Satu, dua,tiga, empat!” Peter berteriak lebih keras…

Dan semua pun bernyanyi sambil berlari.

Satu dua tiga empat!

Kalau nembak harus cepat!

Lima enam tujuh delapan!

Itu aturan garis depan!

Sembilan.

Sepuluh!

Tembak!

Oe. Oe. Oe .Oe! Prajurit Braja sulit mati!

Ya. Aku juga tak ingin mati,” pikir Harun. Dan rekan-re­kannya terus bernyanyi…

 

Ya beginilah, nasibnya komando

Digasak-gasak, untuk tambah jago

Tapi biar, tidak apa…

Asal untuk negeri kita

Prajurit Komando…

Hidup dan matiku.

 

Braja!