Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

10. KONTA

Saat-saat selanjutnya pasti akan lebih me­nye­bal­kan. Apa yang pernah di­alaminya semasa men­dapat latihan mi­liter yang ketat ter­­bayang lagi.

Ia pasti harus melakukan push up 5 menit, sit up 3 menit, lari 12 me­nit, di­lakukan hampir seharian pe­nuh, dengan selingan istirahat 1 atau 2 menit, di antara tiap gerakan.

“Gila, apa seka­rang aku akan mam­pu mengerjakannya?” Harun men­desah ketika melihat kolam dan pa­rit kecil di dekat pagar beng­­kel. “Di­lihat da­ri tabiatnya, Sersan gendut itu pasti tak se­gan-segan me­nyuruh me­reka menyelam di ko­lam kotor itu se­lama 8 menit.”

“Harun!” tiba-tiba Peter berseru. “Ke sini kau!”

Harun menggosok matanya, bang­kit de­ngan sedikit lenguhan, lalu ber­­jalan meng­ham­piri.

“Cepat. Keledai sipil!”

“Siap. Ser..Ugh,” Harun hampir ter­sedak karena dengan buas Peter me­rengut kaos di ba­gian leher, dan me­nariknya hingga mimik wajahnya be­gitu de­kat bagai foto close up di ma­jalah.

“Kau mulai menyulitkanku, tapi itu me­nye­nangkan. Karena dengan de­mikian aku pu­nya alasan un­tuk membuat tulang-tulangmu be­­kerja lebih ke­ras.”

Harun memaksakan diri tersenyum. “Dan itu bisa dijadikan alas­an kuat un­tuk keluar dari se­mua ini, Sersan…”

Peter menariknya lebih dekat, “Itu yang ku­inginkan, hehehe,” ka­tanya sam­bil mendo­rong Harun hingga mundur dua tindak.

“Ayo semua kita mulai lagi !”

Apa lagi?

Apa aku harus mengalami HTFFF (How To Find, Fine Fighter) kem­­bali? Gi­la!

Itu berarti 23 jenis latihan ketat. Mulai dari menembak reaksi ce­pat, baik dengan sasaran yang tiba-tiba maupun dari tempat ber­gerak-tak sta­bil, ter­masuk menembak dart.

Dari cara melumpuhkan lawan dengan senjata sumpit, hingga per­tarung­an satu lawan satu, di mana ibu jari kita pun harus bisa me­matikan mu­suh, de­ngan menekan nadi di leher lawan.

Selain itu, apakah ia pun disuruh lagi berlatih menjebak musuh de­ngan im­provisasi bobby traps? Mulai dari cara yang konven­sional seperti pe­ledak C-4, dan peledak granat yang dihubungkan ka­wat tipis, hingga je­bakan buatan se­perti; ranjau dahan patah, hing­ga pola kurungan memper­gu­nakan rotan dan bambu.

Apakah ia harus melalui hal-hal mengesalkan, seperti latihan ke­cepatan dan penguasaan medan yang membosankan—seperti naik togel, turun hes–ty, ja­ring pendarat, dsb? Hal-hal itu sangat mem­buatnya muak.

Termasuk juga latihan mempertajam kemahiran lempar kam­pak, lempar pi­sau, sampai perkelahian terowongan tikus—yang di­sebut per­kelahian gaya Tikus Cu Ci (nama tempat di luar daerah Sai­gon).

Dahulu, waktu ia tak peduli nikmatnya dunia, sampai mati di latihan atau mati di pertempuran, ia tak peduli.

Sekarang situasinya berbeda.

Ia kini ingin bertahan. Dan tetap hidup!

Aku bukan Harun yang dulu. Aku sekarang ingin punya ke­hidupan,” pikirnya. Dan sekiranya ia menghadapi risiko. Solusi­nya satu: lakukan semua un­tuk tetap selamat.

Tapi Peter tidak mau mengerti!

Sersan itu tak memberi kesempatan berpikir lebih panjang.

“Tiarap semua! Cepaaaaaattt!”

 

****

 

Di ruang komando. Kulyubi, Oskar, dan Santoso serius memba­has strategi.

“Kita putuskan tidak masuk melalui pelabuhan. Kita tak memi­liki ke­pastian mengenai situasinya. Bila kita masuk ke sana dan di­ketahui mereka akan sangat merugikan. Mereka bisa merubah ren­cana, mengadakan barter senjata di tempat lain, dan ini akan mem­buat kita harus dari nol lagi. Ka­­rena itu, kita akan masuk da­ri tempat yang tak mereka duga. Selain un­tuk ke­amanan, juga un­tuk memperbesar improvisasi gerakan.” kata Os­kar.

“Pakai apa masuknya?” tanya Santoso.

“Kita sudah menghubungi Laksda Isman. KRI Hiu bisa digu­nakan untuk pe­nyelusupan. D-Hour 04.00. Kita masuk dari barat, lang­sung ke sasaran me­lalui jalur ini.” Oskar menunjuk garis hijau dan berkata lagi, “Wak­tu kita ha­nya 90 menit untuk pendaratan dan pendakian tebing. Men­jelang fajar ha­rus tiba di kaki bukit 105. Di titik ini pasukan dibagi dua. Re­gu I menyerang tar­get. Re­gu II mengamankan jembatan Bailey—sebagai ja­lan keluar. Se­te­lah ti­ba di dekat gua, regu I menunggu matahari terbenam. Te­­pat 19.30 waktu setempat, baru ber­gerak menuju sasaran. Ber­da­sarkan perhi­tungan, kita hanya punya waktu mak­simal 40 menit un­tuk menguasai lo­kasi itu. Itu cukup,” kata Oskar. “Kekuatan me­reka tidak terlalu kuat, ha­nya satu pele­ton,” sambungnya.

“Setelah meledakan emas di gua, langsung memutar ke utara, le­wat jem­batan Bailey yang sudah diamankan regu II. Dari situ me­nuju te­luk, untuk kembali dijemput KRI Hiu. Jumlah total waktu ope­rasi 66 jam,” tam­bahnya.

Kulyubi bereaksi, “Di mana posisi penjemputan dan berapa jauh jarak KRI Hiu dari garis pantai.”

Oskar menunjuk garis merah dari pantai di peta. “400 sampai 200 yard da­ri pantai.” Sambil memandang Santoso ia menambah ke­terangannya, “Kau ha­rus tiba di lokasi penjemputan sebelum 19.30.”

Kulyubi meneliti peta dengan seksama. Ia menunjuk pada sa­tu garis ber­warna biru. “Ini jalur keluar yang kau maksud?”

Oskar mengangguk. “Hanya ini satu-satunya jalan kita. Bila ki­ta meng­ambil jalur satunya lagi. Yang ini…” kata Oskar sambil me­nunjuk bidang war­na hijau, “akan lebih lambat. Menurut Harun, rim­banya sangat lebat.”

Santoso hendak bicara, tetapi setelah mendengar penjelasan itu menja­di ba­tal. Alasan Oskar cukup masuk akal.

“Alternatif lain?” Kulyubi bertanya lagi.

“Tak ada.”

“Toleransi distorsi waktu?”

“Nol.”

Kulyubi mengerutkan kening. Ia melirik Santoso. “Mayor?”

Santoso mengangguk. “Bagaimana jika emas itu ada di tempat lain. Mi­salnya di kapal laut atau pelabuhan?”

“Kita masih yakin bahwa emas itu disimpan di gua. Bila situasi ber­­ubah, kau boleh menggunakan imajinasimu untuk mengatasi ke­adaan. De­ngan satu ca­tatan, semakin jauh dari bukit, akan sema­kin jauh juga jarak ke titik jemput. Dan itu berarti waktumu bi­sa sangat terbatas.”

“Mengapa kita tidak menunggu mereka barter, dan kita han­curkan sen­jata-sen­jata itu. Emasnya mau di bawa MV Kwang Hung ke manapun bu­kan ma­salah kita,” sela Santoso.

“Kita tak mungkin bertindak pada kapal itu. Riskan bagi politik in­terna­sio­nal. Karena kapal itu resmi berbendera Korea Utara. Bi­la emas itu kita han­curkan, tak mungkin MV Kwang Hung me­­nurunkan senjatanya.”

“Kalau demikian MV Kwang Hung akan kita biarkan?” San­toso bertanya la­gi.

Kulyubi menghela nafas, ia yang menjawab pertanyaan itu. “Ya, aku se­pendapat dengan Oskar, menghancurkan emas lebih mu­dah dibanding meledakan senjata untuk dua brigade. Dengan de­mi­kian kau bisa mengerti, sasaran kita adalah emas, bukan sen­jata.”

“Bagaimana jadwal pelayarannya.”

“MV Kwang Hung tidak merubah jalur pelayarannya, tanggal 19 ti­ba di Kabilat. Tanggal 17 pagi, emas sudah harus dihancurkan agar per­tukaran sen­jata gagal. Hanya itu waktu yang kita punya. Tang­gal 20, di Ja­karta ada rapat pimpinan, kita harus sudah punya ke­pastian akan ma­­salah ini, untuk penentuan strategi keamanan na­sional selanjutnya. Bu­kankah de­mikian?”

Kulyubi mengangguk. “Ya, pada tanggal itu memang ada ra­pat gabungan. Da­­lam rapat itu Kastaf memberi laporan lengkap, Pa­pua Nuigini atau Austra­lia juga akan diberi penjelasan perihal ka­pal itu. Mau ditangkap atau tidak, itu ter­serah mereka. Bagi ki­ta, yang penting pihak pemberontak tidak me­miliki la­gi kekuatan un­tuk mendapat senjata. Karena tak mungkin para pe­dagang itu mau memberi gratis.”

“Tanggal 18 aku akan melapor kepada KASAD, dan hasilnya di­beber­kan da­lam rapat tersebut. Sebagai pimpinan yang bertang­gung jawab atas mi­­si ini, aku tidak ingin kegagalan. Mengerti?” Na­da Kul­yubi ber­getar sam­bil memandang dua bawahannya.

Oskar mengangguk pasti.

Santoso terdiam. Kulyubi bertanggungjawab langsung ke­pada KASAD. Jadi bisa dibayangkan arti kegagalan misi ini ba­ginya. Juga bagi KASAD maupun Kastaf.

Kebisuan muncul sesaat, ketiga orang itu bergelut dengan pi­kirannya ma­­sing-masing.

“Saya rasa hal ini sudah jelas…” Oskar berkata memecahkan ke­he­­ning­an.

Santoso menutup map. Begitu juga Kulyubi. Misi Konta telah di­mulai!

 

5 menit kemudian Oskar dan Santoso keluar. Setelah kedua orang itu per­gi, Kulyubi meraih telepon merah.

“Ya. Okto di sini,” Suara Brigjen Okto Maula, direktur intelijen AD, ter­­dengar sangat ramah.

“Kulyubi di sini. Aku perlu bantuanmu tentang Proyek Lor We­tan.”

“Lor Wetan? Bukankah proyek itu dibatalkan?”

“Aku tahu, tetapi aku butuh data-data personilnya.”

“Seingatku data itu telah masuk ke tempatmu.”

“Ada yang kurang.”

“Oke. Nanti akan kuperiksa. Unit mana yang kau butuhkan?”

“Laspalos.”

“Baiklah, nanti kubereskan. Eh, bagaimana kabar istrimu. Apa Nora baik-baik saja?” sambung Okto.

“Sudah agak baikan. Sekarang dia sedang senang bonsai.”

“Wah, itu bahaya untuk rekeningmu. Bonsai itu mahal, kau akan kehi­langan uang banyak hanya untuk tanaman kate seperti itu…”

Kulyubi tertawa, “Memang hobi itu mahal, tetapi isteriku sa­ngat pintar. Ia jarang membeli, tapi sering menjual. Tadi pagi ia me­nelpon, bahwa tiga bonsainya telah terjual pada temannya. Dan kurasa, kau juga tahu sia­pa yang membeli bonsai buatan is­teriku itu.”

“Siapa? Aku tak punya teman penggemar bonsai.”

“Ani Ariani. Nama bekennya adalah Nyonya Brigjen Okto Mau­la. Istrimu.”

“Hah, kau bergurau?” Suara komandan intelijen itu hampir ter­sedak.

“Kau terlalu sibuk. Kau awasi dunia, tetapi rumah sendiri lu­­put, sampai tak tahu kegemaran baru isterinya sendiri.”

“Mati aku…itu pasti mahal, kan?”

Matilah,” pikir Kulyubi.

Wanita memang lebih lihay dibanding pria.

Kecuali ia tentunya. Kulyubi.

Puh…