PART 72 " Berlindung! "
Sejumlah pria dalam balutan seragam militer berbaur dengan lebat serta gelapnya keadaan hutan yang menjadi medan pertempuran.
sementara itu tak jauh
dari mereka tampak segerombolan orang bersenjata lengkap berjalan berbaris tak
teratur menuju sebuah barak darurat namun terlihat sangat kokoh dan fungsional
tak menyadari keberadaan sejumlah pria yang berdiam diri dibalik rimbun hutan
yang mengelilingi barak tersebut di tengah rintik hujan.
"Ndan..?",
tanya seorang prajurit. Melalui radionya, berusaha menanyakan apa yang harus
mereka lakukan setelah sesaat sebelumnya seorang musuh telah mereka lumpuhkan
senyap.
"Pertahankan
posisimu Utara..!", sahut sang Komandan.
".. Bersiaplah..,
mereka akan memasuki barak itu..", Gumam Hening pelan, namun sepertinya
seperti menyadari sesuatu.
" Baik.. Utara,
Sendok, semuanya ambil posisi tembak.., 1 dalam 2 kiri sapu bersih dalam
jangkauan..!", perintah sang komandan sembari bersiap menggunakan senapan
serbu yang disandangnya.
1 dalam 2 kiri sapu
bersih adalah formasi tembak yang memilih sasaran yang diawali dari musuh yang
berada di arah kiri dari posisi mereka berada dengan masing-masing penembak
sebisa mungkin harus bisa menembak 2 orang musuh yang terlihat, formasi sergap
cepat yang kebanyakan digunakan oleh pasukan Elit dalam pengintaian.
Dalam sekejap ke empat
anak buahnya mengambil posisi siap tembak, Utara, sendok, panah dan juga
Gembok, kecuali Hening yang tampak melepaskan senapannya seperti menyadari
sesuatu yang besar.
"..Ndan..!",
seru Hening bermaksud menunda serangan kejut rekan-rekannya, namun sang
komandan tak begitu mengerti maksud Hening memanggilnya.
" Tembak..!",
perintah sang Komandan regu meraung di tiap Headset yang terpasang di telinga
tiap prajurit, segera saja puluhan timah panas berhamburan meluncur.
"Tratata..tash..tash!"
Sejumlah musuh yang
diketahui adalah gabungan milisi dan seorang pasukan asing yang belum
teridentifikasi roboh bersimbah darah, sebagian dari mereka berlari cepat
berlindung di barak yang berada di tengah rawa tersebut, perasaan terkejut
sangat jelas terpampang di raut mereka masing-masing.
Namun di tengah situasi
menegangkan tersebut sayup-sayup terdengar gemuruh dengung mesin memenuhi
langit.
Sontak Utara dan yang
lainnya terkejut dan berusaha mencari tahu.
"Sial..!,
semuanya..! Berlindung!", seru Hening sembari bangkit dari tempat
persembunyiannya.
Tiba-tiba saja hadir
sebuah heli di tengah-tengah medan pertempuran tersebut, dengan cepat
menurunkan ketinggiannya serta langsung berputar mengitari barak di tengah rawa
tersebut.
Sungguh tak dapat
dipercaya sebuah Heli tempur musuh bisa melenggang bebas di kawasan wilayah
hutan NKRI, mungkin masuk melalui celah tak terpantau, atau bisa jadi sudah
lama berada dikawasan ujung indonesia ini, bukan main - main itu adalah Heli
tempur EC 665 tiger!
" Apa..?!",
kejut sang komandan terperangah, mendadak aliran darahnya berdesir, karena tak
jauh di depannya sebuah Heli gagah meraung di langit-langit hutan, samar -
samar namun tampak jelas heli itu meneteng persenjataan kelas berat lengkap.
"Tratatatash..tratash..!"
"Berlindung...!",
teriak komandan lantang sembari melepaskan tembakan ke arah Heli tersebut
berusaha memberi kesempatan untuk para anak buahnya agar segera berlindung
masuk ke dalam hutan.
"Teng..tang..teng.."
Benar saja, hantaman
peluru tembakan sang Komandan membuat perhatian pilot Heli itu tertuju padanya.
"Ini..?!?",
gumam Hening terperangah.
"Pssstt..!!!"
Sebuah roket Hydra tipe
70 ditembakkan ke arah dimana Posisi sang Komandan berada.
Utara yang menyadari itu
berusaha berbalik dari pelariannya untuk menyelamatkan Komandannya, namun
Sendok dengan cepat meraih dengan merangkulnya erat sehingga mereka berdua
terjatuh.
"BAAMMPp..!!!"
Ledakan menderu
menggetarkan tanah.
"
NDAAAAAANN...!!!", teriakan Utara membuat Sendok semakin erat
merangkulnya, sementara Panah dan Gembok kehabisan kata - kata bahkan ekspresi
melihat komandan mereka hancur lebur tanpa sisa.
"Kalian Mundurlah..!
Berlindung!", ucap Hening melalui radionya.
"..SiaL...!",
gumam Hening mengatur posisi senapannya dan segera membidik Heli tersebut
dengan senapannya.
"
Sialan...BEDEBAH..!!!", umpat Utara sembari berontak dari dekapan Sendok,
kemudian ia berlari ditengah kepulan asap terus maju sambil melepaskan tembakan
ke arah Heli tersebut.
" Utara!
Kembali..!", teriak Sendok.
Namun Utara tak
mengacuhkannya, liapan Emosi telah menguasainya, ia terus menembaki heli
tersebut.
"Tratatatatatash..!"
"Bodoh..! Tindakanmu
bisa membuat yang lain terbunuh..!", teriak Hening menyadari.
Sementara musuh yang
berupa para milisi bersama beberapa pasukan asing sebelumnya tampak
memperhatikan dengan seksama seolah - olah mereka sedang menonton pertunjukan.
Dan lagi - lagi ...
"Pssstt...!"
"BAAAAAMMpp..!!!"
Ledakan kembali
menggetarkan tanah, " aaakkkhh..!"
Sendok juga ikut
terpental karena ledakan karena posisinya yang lumayan dekat dengan dimana
Utara berada.
"Semuanya..! Jangan
gegabah..!", teriak Hening.
Sementara itu Gembok dan
Panah tampak berlari ke arah dimana Sendok tergeletak berlumuran darah.
"Sendok..
Bertahanlah! Kami akan membawamu..!", ucap Panah berusaha merangkul
rekannya itu.
"
Bertahanlah..", seru Gembok sembari berusaha melepas pakaian Sendok yang
masih mengepulkan asap karena sebagian tubuhnya terbakar.
" Sial..,
bertahanlah teman..", tambah Gembok kali ini berusaha menutupi raut
kesedihan ketika ia berusaha mennghambat darah deras yang mengucur dari perut
rekannya itu dengan tangannya, sebuah luka besar menganga di perut, di
kelilingi luka - luka robek disertai luka bakar yang memenuhi sekujur tubuh
rekannya itu.
"Gembok.. Tahan
itu..!", ucap Panah menyadari itu sembari merogoh kantong - kantong di
pinggangnya mengambil peralatan medis seadanya, namun tangannya yang sedang
membuka untaian perban tiba-tiba dihentikan oleh tangan Sendok yang menggenggam
tangannya.
"Sendok.. Tidak,
tidak teman.. Kau akan selamat..!" Bentak Panah terkejut, begitu juga
Gembok yang segera ikut menggenggam tangan rekannya tersebut.
Namun Sendok telah pergi
detik itu juga, pergi dengan tangan menggenggam erat rekannya.
"Sendok..???",
Panah dan Gembok terdiam sejenak, berusaha menenangkan diri dengan menerima
sebesar apapun perasaan sedih yang sedang menyerang mereka, mereka akan tetap
bertahan sampai titik darah penghabisan, sebagaimana semestinya seorang
prajurit Tentara Nasional Indonesia.
"...sialan
kalian..", umpat Hening mendengarkan detik - detik perginya Sendok dari
radionya.
"tsskk..!"
"Tang..!"
"Tskkk..!"
"Tang..",
"klak.."
"Tsskk..!"
"Tang..",
"klak.."
Hening terus menembak,
mengokang, dan menembaki lagi.
Karena posisi Hening yang
tak terlihat, pilot Heli musuh tersebut memutuskan menembaki seluruh area
didepan mereka dengan Giat 30 yang garang nangkring dibawah moncong mereka.
"Dum..dumdump..dump..!"
Mereka melakukan tembakan
menyusur 90 derajat dekat dengan tanah, membuat daerah pinggir rawa di hadapan
mereka tercincang rapi bak petani yang hendak membuka lahan.
"Krasshh..!"
"Krakk..!"
Batang - batang pohon
patah dan bertumbangan tak tentu arah.
"Tskk..!"
"Tang.."
Namun Hening terus
menembaki sembari berusaha menempatkan dengan tepat titik bidiknya karena heli
itu sedikit melenggang di udara.
Kedua pilot Helo itu pun
seakan meladeni tembakan Hening dengan memlihi juga melepaskan tembakan
menyusur, seolah - seolah duel siapa yang akan roboh lebih dahulu.
Benar saja, sapuan peluru
Giat 30 mereka perlahan tapi pasti terus mendekat dengan cepat ke arah dimana
posisi Hening berada.
"Dump..dumdumdummdumpp..!!!"
Desing tembakan Giat 30
dari Heli tersebut terus menggema.
"Krashh..!
Krakk!"
Dibarengi roboh serta
porak - porandanya pinggiran rawa tersebut.
"Tang..!"
Tembakan Hening juga
terus menghantam heli tersebut.
" Ayolah..!",
gumam Hening terus menembak.
Suara desingan peluru
sudah terdengar dekat dengannya, sejumlah pepohonan didekatnya juga sudah pada
roboh diterjang peluru, hanya terpaut beberapa puluh senti meter lagi.
Ditengah serpihan kayu,
dedaunan, serta tanah yang beterbangan, disertai kilatan proyektil yang mulai
tampak...
" Tsssskkk !!!"
Peluru tembakan Hening
meluncur lurus mengarah ke badan heli tersebut..
Tidak..,, tapi mengarah
ke pilot kokpit pilot heli tersebut..
tidak juga..,, hanya
mengarah ke begian rotor baling - baling yang sedari tadi terus ia tembaki...
"Crkkk..!
Ssshhh!"
Asap hitam mengepul,
sesaat kemudian Heli itu mulai kehilangan keseimbangan, Tepat! Disaat peluru
tembakan mereka yang terakhir menghantam batang pohon yang digunakan Hening
untuk bersandar, mungkin jika tadi ia gagal, peluru berikutnya akan melubangi
kepalanya, atau merobek tubuhnya, siapa yang bakal tahu?
" Tiit..tiit..tiit.."
Heli itu berputar -
putar, ketinggiannya terus menurun karena putaran baling - balingnya sudah tak
stabil, Asap hitam memenuhi udara, tak berapa lama heli itu terjatuh menyamping
ke rawa.
"BRakkkk!!!
Brsssppppp!!! "
"Krakk..krakk!
Krak!"
tak berhenti disitu,
baling - balingnya terus berputar mengenai sebagian barak di dekatnya hingga
membuat atap dan dinding barak yang terbuat dari kayu itu berterbangan tak
tentu arah, dan berhenti dengan posisi heli miring penuh kepulan asap.
Seorang milisi tampak
berusaha mendekati Heli Tiger yang jatuh itu atas perintah dari pasukan asing
yang berada diantara mereka untuk sekedar memeriksa.
"
Yah sepertinya salah satu
pilot EC 665 tiger itu selamat, meskipun berlumuran darah.
"Crsshhh!"
Tiba - tiba saja kepala
milisi tersebut tertembus peluru, seketika milisi tersebut roboh.
Bisa ditebak, itu adalah
tembakan dari Hening.
" Sniper! Waspadalah
kalian semua..!", perintah salah satu prajurit Asing yang berwajah penuh
codet.
"Chief.., sepertinya
kita tidak bisa menyepelekan mereka..", ucap salah seorang lagi yang
berada disebelahnya, yang berbadan lebih kecil dari yang lainnya, tampaknya
seseorang sebelumnya adalah komandan regu mereka.
"Aku tau Mark..,
kita harus melakukan sesuatu, Whitney sudah roboh akibat serangan kejut
mereka.., sementara kita diselamatkan oleh heli kita yang terlambat, bahkan
heli kita telah jatuh..", gumam Chief dari keenam prajurit asing tersebut
yang sekarang tinggal belima.
".. Ada
saran..?", tanya Chief itu lagi.
Sejenak Mark berfikir
sembari menggenggam erat senapan serbu M4-nya.
".. Sniper kita
Whitney telah roboh, akan sangat sulit menghadapi Sniper mereka, tapi dilihat
dari situasi sekarang.., mereka sedang terpojok meskipun kenyataannya kita yang
berada di pojok.., anda mengerti maksudku Chief..?", jelas Mark.
"Hmm... Aku
mengerti, baik.. Panggil mereka, kita lakukan seperti di Kongo..", sahut
Chief tersebut.
"Baik.."
" Zulu, Jackson,
Kim, kemarilah..!", Mark memanggil rekan - rekannya untuk berkumpul.
Tampak tiga orang berlari
cepat mendekat.
"
Bagaimana..?", tanya Zulu begitu mendekat, senapan mesin M60 gagah
disandangnya yang berwarna selaras dengan kulit hitamnya, kepala botak
membuatnya terlihat sebagai yang paling sangar diantara yang lainnya.
" ..Whitney telah
dibunuh mereka Chief..", ucap
" Ayo kita habisi
mereka..", sambut Kim, wajahnya kental campuran Asia - Eropa, sedikit
oriental namun sangar, berbadan tegap, ia memiliki sebilah sangkur yang beda
dengan milik rekan - rekannya, seperti sejenis Pedang, namun lebih pendek
menempel di pinggul belakangnya.
" Sniper itu.. Kita
lakukan seperti di kongo..", ucap Mark.
" Bagaimana dengan
yang lainnya..? Sepertinya aku melihat 2 orang dari mereka..", tanya Kim.
" Dua orang kan? Apa
kau bisa mengatasi itu Kim?", tanya Chief mereka.
" KLak..!"
"Serahkan padaku..",
sahut Kim sembari mengokang Senapan M4-nya.
" Aku ingin sekali
membawa kepala mereka sebagi cinderamata..", sambung Kim lagi.
" Waspadalah Kim,
jangan terlalu meremehkan mereka.. Aku yakin mereka dari satuan elit..",
sahut Chief mereka.
" Denjaka..? Kopassus?
", tanya Zulu.
"Mungkin
diantaranya..", sahut Chief mereka.
" Aku tau rumor
mereka, mereka hebat dimanapun mereka berada.. Mereka terdengar kuat, tapi aku
yakin mereka tidak lebih hebat dari kita..!", sambung Chief tersebut
berusaha membakar semangat anak buahnya.
" Yeah..!",
sahut keempat anak buahnya tersebut.
" Aku tak bisa
mendengar kalian.., sekali lagi..apa aku benar..!?!", tanya Chief itu
lagi.
"YEAH..!!!",
teriak Mark bersama yang lain bersemangat.
Bahkan Panah sayup-sayup mendengar teriakan
mereka.
" Mereka akan
menyerang.., bersiaplah..", Ucap Panah mengingatkan.
" Aku senang jika
mereka melakukan itu..", sahut Gembok yang baru saja selesai merapikan
jasad Sendok yang ia tutupi dengan dedaunan.
" Hening.. Kau
mendengarku..?", tanya Panah melalui Radionya.
" Tentu saja aku
mendengarnya..", sahut Hening yang tampak merayap berpindah posisi.
"Apa
rencanamu..?", sambung Hening bertanya.
"... Tidak ada..,
jika mereka menginginkan pertempuran.., kita berikan mereka pertempuran.., ini
bumi pertiwi kita..! Aku ingin sekali membuat tanah ini subur dengan tumpahan
darah-darah mereka..", ucap Panah membara.
Hening hanya diam, ingin
sekali ia mengatakan sebaiknya kalian pergi dari sini.., namun ia tak ingin
menghalangi semangat rekannya yang sedang membara.
" Kau siap
Gembok..?", tanya Panah.
" Kapanpun aku
siap..!"
"KLakk..!"
Sahut Gembok Garang.
Kedua pihak masing -
masing terbakar semangat untuk saling mengalahkan, bukan untuk adu ketangkasan,
bukan untuk melihat siapa yang terkuat...
Ini tentang HARGA DIRI
prajurit!
Chief pasukan asing
tampak membagi sisa pasukan Milisi yang tersisa menjadi dua regu, 5 orang
mengikuti Kim mendekat ke arah Panah dan Gembok, sementara sisanya 4 orang lagi
bergabung bersama Mark, Zulu, Jackson, beserta dirinya untuk mendekat ke arah
dimana posisi Hening berada.
"Mereka
bergerak..", ucap Hening memperhatikan dari balik teropongnya.
" Kalian Bergeraklah
dengan cepat setelah ini.. Mengerti?", perintah Mark kepada para Milisi
sembari mempersiapkan sebuah Granat Asap ditangannya.
" Klik.."
" Tak..!"
Granat asap dilemparkan
Mark ke tengah - tengah antara barak dan bibir rawa, tak berselang lama, asap
putih sudah mengepul.
" Menghalangi
pandanganku kah..?", gumam Hening.
" Sekarang..!",
perintah Mark.
Maka ke 4 milisi yang bersama
mereka segera berlari maju dari arah kiri menembus rawa.
" Mark.., Jackson.,
ayo..! Zulu..sekarang!", perintah Chief.
Terlihat Mark, Jackson,
dan juga Chief berlari sigap dari arah kanan, sementara itu Zulu bersiap
melepaskan tembakan perlindungan dengan tetap berada dibelakang.
"Tretereteretm..trereteret.."
Deru senapan mesin M60
Zulu menggema, menembak acak menembus gumpalan asap ke arah sekitar dimana
terdapat bekas tembakan Heli mereka.
Hening sedikit Kaget
karena terdapat sebutir peluru tersebut mengenai batang pohon yang berada
didekatnya.
" Kau hampir
beruntung.., tapi aku lebih beruntung..", gumam Hening sembari membidik
bersiap melepaskan tembakan.
" Tshhh.."
"DUARRR..!!!"
Ledakan tiba-tiba saja
muncul tak jauh dimana granat asap itu berada, bahkan bangkai Heli tiger yang
tergeletak di tengah Rawa ikut meledak.
" Sial..! Ini
jebakan kita..!", ucap Mark sedikit terpental terkena tekanan ledakan
tersebut.
"Teruslah
Maju..!", perintah Chief mereka sembari menundukan kepalanya karena sangat
banyak sampah dan kayu beterbangan bercampur dengan Air Rawa yang mencuat ke
udara.
Maka Mark dan Jackson
tampak terus maju tak menghiraukan para milisi yang tewas.
Tampak ke empat milisi
yang bersama mereka itu tewas terkena ledakan tersebut, karena memang posisi
mereka dekat dengan pusat ledakan tersebut.
" Sial..! ",
umpat Zulu, menghentikan tembakannya berusa berlindung dari sejumlah material
kayu yang beterbangan.
Ternyata Ledakan itu
adalah ledakan sejumlah Claymore yang terpasang di dekat barak musuh dan sengaja
ditembak oleh Hening.
Kim bersama ke 5 orang
milisi yang bersamanya juga tampak terkejut melihat ledakan itu, namun ia tak
begitu memperdulikannya dengan tetap memerintahkan ke 5 milisi yang bersamanya
untuk memburu Panah dan Gembok.
" Itu Hening.., sekarang
giliran kita..", ucap Panah pelan sembari mencabut sangkur dari
pinggangnya.
" Aku
mengerti..", sahut Gembok.
Kemudian mereka bergerak
berpencar.
" Tetap waspada..!,
tembak apapun yang bergerak..!", perintah Kim yang sudah memasuki hutan
pinggir rawa dan mendekat kearah dimana posisi Panah dan Gembok sebelumnya
berada didalam hutan.
"
Tratatatatar..!"
Tiba-tiba salah seorang
milisi melepaskan tembakan kearah semak, sontak membuat Kim dan sisanya
terkejut dan berlindung dibalik pohon.
"Apa itu?", tanya
Kim.
" Sepertinya aku
melihat gerakan pak..!", sahut milisi tersebut.
"Kalau begitu,
kalian berdua, periksalah..", perintah Kim.
" Baik..! "
Tampak dua orang milisi
bergerak perlahan mendekat ke arah semak tersebut untuk memeriksa.
"Tratarataratar..!"
Seketika Gembok tiba -
tiba muncul dari samping di jarak yang tak begitu jauh dan langsung menembaki
kedua milisi tersebut, kemudian ia bergegas berlari menyerong dari balik pohon
ke pohon untuk menghindari tembakan dari sisa milisi yang mendadak langsung menembakinya
ketika kedua rekan mereka roboh bersimbah darah.
"Krkk..krkkk.."
"Crshhh..crshhh"
Peluru mereka riuh
menghantam batang pepohonan.
" Sshhh..!"
Salah satu peluru dedikit
menyambar lengan kanan Gembok, segera ia berlari memutar dengan zigzag dengan
cepat ditengah tembakan ketiga sisa milisi yang bersama Kim, sambil berlari
Gembok berusaha menghitung jarak posisi musuh dan sudut tembak yang tepat
karena banyak terdapat pepohonan.
" Baiklah..!",
gumam Gembok dengan tiba - tiba berbalik, dengan cepat ia segera melepaskan
tembakan.
"
Tash...tash..tash..!"
Tiga butir peluru
meluncur diantara pepohonan dan rimbunnya dedaunan semak yang tumbuh dari celah
sempit yang didapat Gembok diantara batang pohon dengan batang pohon yang
sedikit lebih jauh, begitu seterusnya dengan sudut miring yang pas, sehingga
hanya tercipta sedikit ruang namun dapat melihat posisi musuh dengan jelas.
"
Ckkkk..crkk..crrkkk..!"
Ketiga butir peluru itu
pun tepat mendarat di dada masing-masing para milisi, Ketiga milisi tersebut
pun langsung roboh mengerang kesakitan, namun...
" Tash..!"
"Ekkhh..!"
Gembok terjatuh ketika
tiba - tiba sebutir peluru menembus bahu kirinya.
" Apa
ini..?!",gumam Gembok menahan sakit.
Dari kejauhan tampak Kim
dengan moncong senapannya yang mengepulkan asap, yah..Kim yang menembaknya,
dari awal kemunculan Gembok, Kim sudah berusaha membidiknya, namun baru saat
ini ia mendapatkan titik yang tepat, itupun karena Gembok berhenti untuk
berbalik menembak, namun itu tetap satu tembakan yang bagus.
"Hmm... Tembakanku
harusnya lebih baik dari tembakanmu tadi,, ternyata sulit menembak ditengah
gerimis dan hanya dibantu kilatan petir..", ucap Kim.
".. Tapi aku akui
kalian memang. . ", Kim menunda kata - katanya, ia tiba - tiba segera
berbalik menangkis sebuah sabetan sangkur dengan senapannya.
" Ting..!"
Kin menangkis sabetan
sangkur Panah yang tiba - tiba muncul dari belakangnya.
" HEBAT. . ! "
Sambung Kim sembari
meloncat kesamping, kemudian berdiri.
#KIM dan PANAH saling
berhadapan..!!!
" Hmm... tidak,
tidak, jangan berfikir seperti itu..", ucap Kim membidik dengan senapannya
begitu melihat Panah perlahan hendak meraih senapan dipundaknya.
" Cihh..",
gumam Panah mengurungkan niatnya.
" Sepertinya kau
harus mulai berdoa sekarang..", sambung Kim bersiap menembak Panah.
" . . Apa kau
takut..?", ucap Panah.
" Hah? Apa
maksudmu..?", Kim bingung.
" Apa kau takut
melawan musuhmu tanpa senjata..?", sambung Panah sembari buru - buru
melepas dan membuang senapannya.
" Tidak.. Tidak, ini
berbeda.., ini perang kawan, bukan pertarungan.., sudahlah, mestinya kau senang
aku akan membunuhmu dengan cepat..", sahut Kim.
"... Benarkah? ,
jika memang seperti itu kau pasti sudah menembakku sedari tadi.., namun kau tak
melakukannya karena kau seorang yang haus akan pertarungan bukan..?", ucap
Panah bergelora memanas - manasi Kim.
Kim hanya diam.
" Ayolah..! Lawan
aku pengecut..! Aku bisa melihat semua hasrat membunuh dari matamu..",
bentak Panah sembari mengayunkan Sangkurnya.
" .. Sshh,
seharusnya aku menembakmu sedari tadi.., tapi..", ucap Kim yang tiba -
tiba meloncat sembari mencabut pedang pendek yang menempel di pinggangnya
kemudian dengan segera menghunuskannya ke arah Panah.
"Ting!"
Panah dengan sigap
menepis Pedang Kim dengan menghantamkan sangkurnya, seketika hunusan pedang Kim
melebar.
Namun tak berhenti disitu
Kim yang bertumpu dengan pijakan kaki kanannya segera berputar kembali
mengayunkan pedangnya.
Panah juga tak kalah
lihai, ia segera menangkis sabetan pedang Kim dengan sangkurnya.
"Ting..!"
" Sshh..!"
" Ternyata kau
lumayan juga..", ucap Kim.
" Kuharap kau bisa
lebih baik dari itu..", sahut Panah yang sedang menahan pedang Kim dengan
sangkurnya, kedua senjata tajam mereka tampak beradu saling memberi tekanan.
" Oh.. Ternyata kau
lumayan bermulut besar..!"
" Buk ..!"
Ucap Kim sambil kembali
berputar melayangkan tangan Kiri nya seperi tamparan terbalik dengan tinju yang
telak mendarat di wajah Panah, membuat Panah mundur beberapa langkah.
" Hmm... Apa perlu
ku ambilkan tisu?", ucap Kim mengambil kuda - kuda.
" Cihh..,, ini
bukanlah apa-apa, ayo.. Cobalah lagi..", sahut Panah sembari mengusap
darah yang sedikit menetes di bibirnya.
Rintik hujan telah
berhenti, hanya tinggal tetesan air yang singgah di dedaunan yang berlomba
hendak turun ke bumi, bersamaan dengan itu suara binatang malam penghuni hutan
mulai sahut menyahut terdengar, seakan bertepuk tangan riuh atas pertarungan
dua prajurit ini.
Kim maju sembari berniat
mengayunkan pedangnya ke arah Panah, bak ingin membelah dua.
Panah mengelak kesamping,
sejenak segera melayangkan tendangan kaki kirinya ke arah wajah Kim.
Namun Kim dengan cepat
mengelak dengan menunduk, sedikit berputar dan bangkit sembari berniat menusuk
Panah, Namun tusukan pedang Kim segera melenceng karena hantaman sabetan
sangkur Panah.
" Hmm! Kau Terlalu
cepat.,", gumam Kim lanjut dengan melayangkan kepalan tinju kirinya ke
wajah Panah telak.
"Buk..!"
"Ekhh..!"
Panah kehilangan
keseimbangan dan sedikit goyah kebelakang, belum selesai sampai disitu, Kim
segera melayangkan tendangan Kaki Kanan dan menghantam dada Panah hingga Panah
terhempas ke tanah.
" Shhh..!"
Eram Panah segera
berusaha bangkit.
Namun Kim buru - buru
melompat sembari menghunuskan Pedangnya ke arah Panah.
" Ting..!!"
"Crsshh!"
Tampak darah mengalir
keluar dari bahu kanan Panah, tusukan pedang Kim sedikit melenceng akibat
berbentur dengan sangkur yang diayunkan Panah.
" Bagaimana
sekarang..?", Gumam Kim.
" Huh..huh..",
Panah terengah - engah tak menjawab.
"Aku bilang
bagaimana..?!?", teriak Kim sembari menggoyangkan pedangnya yang tengah
tertancap dibahu Panah.
"Ekkkhh..! Ergghh
", Panah mengerang kesakitan.
" Apa itu artinya
sakit..? ", ejek Kim yang kali ini menekan tusukannya hingga menembus Bahu
Panah dan tertancap ditanah, sungguh brutal.
"
Aaaaaaaargghhhh..!!!"
Panah menjerit menahan
sakit yang teramat sangat, hingga sangkur dalam genggamannya pun terlepas.
"Oh.., sepertinya
iya.., ayolah.. Katakan sesuatu, jangan hanya karena tusukan semacam ini kau
tak mampu lagi berbicara..", kata Kim sambil meraih sangkur yang
dijatuhkan panah.
" Ekh.., kau..",
gumam Panah.
"Apa..? Bisa kau
ulangi..?", tanya Kim.
"Persetan
denganmu..!", ucap Panah menatap tajam Kim.
" Hmm.. Hmm ..
Hahahahaha ", bisa - bisanya kau memaki musuhmu dalam keadaan seperti
ini.., apa kau ingin cepat mati???", sahut Kim tertawa.
" Apa aku kurang
jelas mengatakannya..? , PERSETAN DENGANMU..!!!", sambung Panah.
" Baiklah bila kau
ingin cepat mati, aku akan mengabulkannya..!", ucap Kim sembari hendak
menikam Panah dengan sangkur milik Panah yang terlepas.
" Tidak
akan..!!!"
"Aaaaaaaaargghhhhhhg!!!"
Teriak Panah menahan yang
sakit sembari melayangkan tinju Kirinya ke wajah Kim membuat Kim sedikit
terjungkal kebelakang, kemudian Panah segera menyambungnya dengan tendangan
lurus kaki kanannya telak ke wajah Kim.
"Buk..!"
Kim terpental kebelakang,
belum berakhir sampai disitu, Panah segera menendang Sangkurnya yang terlepas
dari tangan Kim.
" Apa..?!?"
Gumam Kim sempat melihat
gerakan panah sekilas dan segera melindungi wajahnya dengan kedua tangannya.
" Crshh!"
sangkur itu pun menancap
tepat dilengan kanan yang menutupi wajahnya, dan segera saja Kim terjatuh
tergeletak ditanah.
" Shhh..!"
" Menahan sakit
untuk melakukan serangan balik.., tak sampai disitu kau juga mampu memanfaatkan
situasi apapun hingga sempat berfikir untuk menendang bayonet mu yang terlepas
dari genggamanku.., sungguh hebat..", ucap Kim berusaha bangkit.
" Dia
tangguh..", pikir Panah.
" Tidak salah
lagi.., kalian pasti pasukan Baret merah itu
"Arrggghhhh!"
Teriak Kim menahan sakit,
darah segar mengalir keluar dari luka ditangan kanannya itu.
" Baret Merah ya..?
Akan sangat menyenangkan jika membawa kepala kalian untuk dijadikan
Cinderamata..!", ucap Kim yang telah kembali bangkit.
" Sial..
Ekhhh..", gumam Panah dilanda keletihan karena kehilangan banyak darah
akibat tusukan pedang yang masih tertancap dibahunya.
" Aku ingin tau..
Apa yang kau pikirkan disaat kau akan mati? ", tanya Kim melangkah
mendekati Panah yang tak berdaya.
"
Huh..huh..huh", Panah hanya terengah - engah mengatur nafas.
" Hmm.. Maafkan aku,
aku memang selalu banyak omong jika hendak menghabisi nyawa seseorang..",
sambung Kim bersiap menghabisi Panah dengan sebilah sangkur digenggamannya.
"Sungguh Ironi.. Kau
akan kuhabisi dengan pisaumu sendiri..", ucap Kim.
"
Benarkah..???", sahut Panah.
Tiba - tiba,
" Sial..!",
gumam Kim.
Kim baru menyadari
kehadiran Gembok yang tiba - tiba berada dibelakangnya, namun sudah terlambat,
Gembok telah mengayunkan Sangkurnya ke arah Leher belakangnya.
" Arrrgggghhhhh
..!", disaat - saat menegangkan tersebut, Panah menahan sakit sembari
mencabut pedang yang menusuk bahunya, dengan berdarah - darah ia segera bangkit
dan menghunuskan pedang tersebut kearah Kim!
Kim diserang dari dua
arah, ia terkejut dan kehilangan konsentrasi akibat apa yang dilakukan Panah,
belum lagi seorang lagi yang berada dibelakangnya, ia sudah yakin tak akan
lolos kali ini.
" Crusshhh!!!"
"Crkkk..!"
sangkur Gembok telak
menancap leher belakang Kim, dan tusukan pedang Panah langsung menembus dada
Kim.
Darah segar berhamburan
menutupi rerumputan semak ditanah.
"Ekhhhh..", Kim
terperangah.
Pemandangan bak dalam
adegan film action terjadi membatu..
Panah terengah - engah
dengan memegang sebilah pedang yg menembus dada Kim yg berdiri dihadapannya,
dengan Gembok yang berdiri menghimpit Kim dari belakang serta sangkur
digenggamannya yang masih menancap dileher Kim.
" Sepertinya kau
yang mati dengan pedangmu sendiri...", ucap Panah terengah - engah,
sepertinya ia masih menahan sakit.
Kim tak berkata apa -
apa, sepertinya kematian sedikit lagi akan menghampirinya.
Kim hanya menggerakkan
bola matanya melirik kebelakang, ke arah dimana Gembok berada.
" Kau ..! "
Gumam Panah terkejut.
Yah, tampak tangan Kiri
Kim yang mengenggam sangkur menusuk ke arah belakang dimana Gembok berdiri
menghimpitnya, dan tusukannya itu tepat diperut kiri dari Gembok.
Kim sempat tersenyum
kepada Panah.
"Arggghhh..!",
teriak Panah sembari mendorong tubuh Kim sehingga Kim roboh kesamping dan segera
menahan Gembok yang terjatuh ke arahnya.
" Gembok..!",
teriak Panah.
"Ekhh.., ini hanya
luka kecil, aku tak apa..", ucap Gembok.
"Diamlah..",
sahut Panah.
"bagaimana ini..
Salah satu diantara kita sepertinya tak ada yang akan bertahan..", sambung
Gembok lagi yang jauh sebelumnya juga terkena tembakan Kim dibahunya, dan
sekarang luka tusukan di perutnya.
Cipratan arah sudah
membuat seragam kedua prajurit ini tampak kemerahan.
" Bertahanlah
teman.. Kita akan selamat..", ucap Panah dengan wajah yang semakin pucat
karena telah kehilangan banyak sekali darah.
" Aku harap seperti
itu..", sahut Gembok yang wajahnya juga tampak memucat karena ia juga
telah kehilangan banyak darah.
" Hening kau
mendengarku..?", panggil Panah melalui radionya.
Hening tak menjawab,
sepertinya ia tak tau harus berkata apa pada saat seperti ini.
" Jika kau
mendengarku.. Kau harus berjanji untuk tetap hidup dan menceritakan tentang
kami kepada semua orang.., kau dengar itu Hening..", sambung panah lagi,
Gembok pun tampak tersenyum mendengarnya.
Hening hanya diam,
mungkin ia tak mendengarnya atau bagaimana kita tak ada yang tau.
" Berjuanglah
teman... Kami telah selesai.. Dan ingat janjimu..", ucap panah.
Dan itu kata - kata
terakhir dari rekan - rekan yang tersisa dan kembali ke pangkuan tuhan yang
maha esa dijalan seorang prajurit, jalan pertempuran.
Tak lama kemudian
terdengar gemerisik dari radio Panah.
" Srkkk.."
" Aku berjanji
teman...".