Part 71 " Geng Putih "
Langit masih dipenuhi kilatan petir yang beramai-ramai mencoba menghias permukaan putih awan, meskipun begitu, hujan telah reda seakan mundur untuk beristirahat sejenak setelah hampir seharian penuh menyirami bumi pertiwi.
"Tidak ada apa-apa
yang bisa digunakan untuk mengenalinya Ndan..", ucap Utara setelah
memperhatikan dengan seksama sesosok mayat yang mereka temukan.
" Hmm.. Sudahlah..,
Sendok.. Rapikan jasad ini, kita akan membawanya kembali bersama kita
nanti..", sahut Komandan sembari berusaha memperhatikan sekitar.
"Hmm? Hening
masuklah.. Hening..", ucap Komandan lagi teringat sebelumnya tak ada
jawaban dari Hening saat di panggil oleh Utara melalui Radio.
"... Dimana
dia?", tanya Komandan.
" Tak ada apa-apa
Ndan.., biasanya jika seperti ini dia sedang benar-benar mengamati..",
jawab Sendok.
"Mengamati?
Maksudmu?", tanya Komandan sembari mengerutkan dahi, begitu juga Panah dan
gembok sepertinya juga bingung.
"Hmm.. Hei Utara,
Panah, Gembok.. Apa kalian tak ingat apa yang dilakukannya saat di
kalimantan?", tanya Sendok.
"
"Ya.., aku ingat..
Dia memang seperti itu..", sahut Utara tersenyum, begitu juga dengan yang
lain, sepertinya mereka bersama-sama kembali teringat akan sebuah kejadian.
"Dia pasti baik saja
Ndan.., dia selalu seperti itu, terlebih jika Komandan tak sedang turun bersama
kami.." sambung Utara.
Sementara tak begitu jauh
dari lokasi Utara dan yang lainnya berada, 20 orang pria bersenjata lengkap
bergerak ke arah mereka, tampaknya mereka adalah pasukan musuh yang telah
kembali dari patroli rutin yang mereka lakukan.
Namun ada yang berbeda,
sekitar 5 sampai 6 orang dari mereka mengenakan seragam yang berbeda dari yang
lainnya, ditambah kulit putih mereka membuat keberadan mereka kian mencolok,
terlihat sangat jelas sekali diantara yang lain yang kebanyakan berkulit hitam.
" Musuh dalam
selimut..", Gumam Hening yang ternyata sedari tadi memperhatikan dari
balik teropongnya di kejauhan, titik bidiknya mengarah ke salah satu pria asing
dalam rombongan musuh tersebut.
"Semuanya..
Bersiaplah..", Beritahu Hening melalui radio.
"Eh?"
" Apa? Dimana
posisimu??", sahut Utara sedikit terkejut Hening tiba-tiba saja menontak
melalui radio.
" Hening dimana
posisimu sekarang? Berapa jumlah musuh?", sela Komandan.
" pada jam 3, musuh
sekitar 20 orang lengkap, diantara mereka ada geng putih..", jelas Hening.
" Hah? Apa kau tak
salah?", tanya komandan lagi.
"Aku bisa melihatnya
dengan jelas..
"
"Apa
maksudmu?", sela Hening yang mendengar ucapan Utara.
"Lihat.. Kami
menemukan jasad salah seorang dari prajurit kita.., lalu sejumlah pasukan musuh
dengan beberapa geng putih.., pasti ada sesuatu yang besar di daerah
ini..", jelas Utara.
"Hmm.. Kau benar,
tak mungkin ini hanya kebetulan saja..", sahut Komandan.
"Utara.. Komandan,
Sebaiknya bersiap untuk tembakan..", sela Hening.
"Dimana
posisimu..?", tanya Utara.
"Aku bisa melihat
musuh dengan jelas dari sini.., keluar...", ucap Hening.
"Dia selalu seperti
itu..", ucap Panah menanggapi.
"Sudah, ia selalu
bisa diandalkan.."
"Komandan? Apa yang
harus kita lakukan..?", sahut Utara.
"Hmm.., baiklah
dengarkan..!"
" Kita lakukan
dengan cepat... Tanpa ampun, kita tak butuh sandera, habisi tanpa bekas, musuh
teridentifikasi terdapat Geng putih.. Maka dari itu, selesaikan..!", ucap
Komandan mengarahkan.
" Siap
Ndan..!", sahut Utara, Sendok, Panah dan juga Gembok serempak.
"Sangat berbahaya
jika kita membuka kontak di barak ini, sebaiknya kita ke depan..", ucap
Komandan sembari menunjuk ke arah luar.
"Utara, Panah,
kalian merata di sisi kanan depan di pingggir rawa.., kau sendok dan kau Gembok,
bersama saya ratakan sisi kiri.., kita biarkan mereka melewati kita.., setelah
mereka memasuki barak, kita gempur mereka.., jelas?!?", jelas Komandan.
"Hmmm...",
Utara dan yang lainnya menganggukkan kepala.
"Hening pasti
mengCover kita.., baiklah.. ayo bergerak..", seru Komandan.
Tak butuh waktu lama,
utara dan yang lainnya telah berusaha berbaur dengan kondisi alam berusaha
untuk tak terlihat.
"Hmm... Jebakan
ya?", gumam Hening dalam hati setelah melihat pergerakan rekan-rekannya
dari kejauhan.
"Krikk...kriikk..."
Suara jangkrik serta
binatang lainnya satu-persatu kembali meramaikan belantara hutan di penghujung
bumi pertiwi ini, bak mempersilahkan area pertempuran yang telah tersaji secara
tak langsung.
Hanya terpaut 50 meter
dari posisi dimana Utara dan yang lainnya bersembunyi para pasukan musuh telah
jalan mendekat, obrolan-obrolan para prajurit asing diantara prajurit musuh
juga sudah terdengar, dari pergerakannya, mereka sepertinya belum mencurigai
apapun saat ini sehingga mereka hanya tampak seperti berjalan-jalan malam tanpa
kewaspadaan, terlebih para prajurit lokal yang sepenuhnya adalah milisi
pemberontak NKRI, mereka terlihat kelelahan dan didera kantuk.
"Apapun yang akan
kau lakukan, tunggu mereka kembali ke barak mereka. . . ", bisik Utara kepada
Hening dengan merapatkan mulutnya ke mikropon radio yang menempel di lehernya.
Namun Hening tak begitu
memperdulikannya, tangannya masih memegang erat senapannya, matanya terus
menatap tajam titik biding teropongnya.
"..bersiaplah..,
mereka mulai tampak..", bisik Panah.
" Ya.., aku
tahu..", sahut Utara sembari mulai menyembunyikan kepalanya di balik semak
belukar.
"Ndan.., 30
meter...", bisik Gembok yang sedari tadi sudah memperhatikan gerak pasukan
musuh didepan mereka.
"Bagus.., tetap
menunduk.., tahan diri kalian.., kita tunggu mereka masuk..", sahut
Komandan.
"Srkkk..srkk.."
Kisruh suara langkah kaki
para praajurit musuh juga terdengar membelah tumpukan semak serta tumbuhan liar
yang memenuhi permukaan tanah.
"
Satu..dua..tiga..empat.. Hmm ada enam geng putih..", ucap Utara dalam
hati.
" Tahan diri kalian.
. .", bisik Komandan melalui radio saat musuh sudah berada pada jarak tak
lebih dari sepuluh meter.
Hanya selang beberapa
saat, para prajurit musuh sudah lewat tepat dihadapan mereka, terlebih Utara dan
panah yang hanya berjarak 3 meter dari gerombolan musuh yang lewat.
" Tak ada
emblem?", ucap Komandan dalam hati berusaha memperhatikan emblem pasukan
Asing yang berada diantara para milisi pemberontak.
Sebagian besar musuh
telah keluar dari batas hutan dengan rawa dan memasuki lantai yang terbuat kayu
menuju barak mereka, beberapa diantara mereka yang berada paling depan
terdengar tertawa terbahak, mereka menertawakan kedua teman mereka yang mereka
sengaja tugaskan untuk menjaga barak tak kunjung muncul dengan mengira merek
tidur dan lari dari tugas.
"Sial...",
gumam Hening merespon sesuatu.
"Tenanglah
Utara..", ucap Komandan dalam hati ketika menyadari ada salah satu dari
pemberontak yang berjalan ke arah dimana Utara berada, dari gerak-geriknya
sepertinya ia hendak buang air kecil.
Panah yang berada dekat
Utara tak bisa bergerak, jika dia bergerak sedikit saja musuh akan segera
menyadarinya.
Komandan, Gembok, dan
Sendok tampak telah bersiap dengan apapun yang akan terjadi dengan menggenggam
erat senapan mereka masing-masing ketika salah seorang pemberontak tadi
berhenti tepat di depan Utara.
pemberontak tersebut
tampak memperhatikan sekitarnya sejenak, ia mengarahkan pandangannya ke kiri
dan ke kanan, berusaha memastikan tidak ada apa-apa.
Sejenak Utara perlahan
berusaha mengayunkan tangannya untuk meraih sangkurnya, namun terlalu beresiko,
sementara senjatanya berada tepat di punggungnya, sungguh sial baginya.
"Trskk!!!"
Tiba-tiba saja darah
berhamburan dari kepala pemberontak itu, menyadari itu, tanpa berfikir panjang
lagi Panah segera mbangkit dan melompat kecil untuk menahan tubuh pemberontak
tadi agar tak jatuh menimpa ranting-ranting yang tercecer di tanah hingga
membuat keributan.
"Hah!?!..",
Komandan hampir saja bangkit dari persembunyiannya jika saja Sendok tak menahan
pundaknya dengan tangannya.
Sepertinya sendok sudah
membaca apa yang terjadi.
"..bagus sekali
teman..", ucap Utara sembari membersihkan cipratan darah yang mengenai
wajahnya.
"Hampir
saja..!", gumam Panah menghela nafas sembari memperhatikan sejumlah
pemberontak yang berada paling dibelakang.
"Sepertinya mereka
tak menyadarinya..", ucap Panah lagi.
"KLak!"
Hening mengokang
senapannya.