Part 70 " Drama "
" Bingo! ", ucap Hening melalui Radionya sambil kembali mengokang senapannya.
" Bagus !",
"Kalau begitu kita
harus cepat.., kita belum tahu jumlah pasti musuh kita ", ucap Komandan
perlahan berhasil melewati untaian kawat pemicu Ranjau yang dipegangi oleh
Utara.
" Sendok.., cepat
sedikit!", eluh Utara.
"Baik.., maaf teman
", sahut Sendok sembari berusaha melewati untaian kawat tersebut.
Sementara itu tak jauh
dari posisi mereka tampak Panah dan Gembok terus mengamati sekitar area
tersebut sambil sesekali mengarahkan moncong senapannya.
" Hei..! Kau lihat
itu?", tanya Panah kepada Gembok karena merasa melihat sesuatu.
"
" Hah? Itu
seperti... Hening! Kau bisa melihatnya?", tanya Gembok melalui Radionya.
" Posisi..?"
Tanya Hening.
" Pukul 2
merayap..!", sahut Gembok.
Segera saja Hening
mengarahkan teropongnya ke arah pukul 2 di sebelah kanannya dan menurunkan
bidikannya.
"Hmm?" Gumam
Hening.
"Kau bisa melihat
apa itu..?", tanya Gembok.
"Tunggu..! Aku
terhalang..", sahut Hening sembari berpindah posisi dan langsung kembali
melihat dari
Sementara itu Utara
tampak mendengarkan percakapan rekan-rekannya itu dari radionya sembari masih
berusaha melewati untaian kawat ranjau musuh.
" Itu terlihat
sepertii bunker! Ternyata bukan.. Itu sebuah jalan!", jelas Elang setelah
mampu melihat bahwa itu adalah potongan kayu yang dibuat sebagai pijakan menuju
bibir rawa di timur.
" Hanya lantai
pijakan ternyata..", gumam Gembok.
"Tidak seperti
itu... Ini ..., Ndan, anda mendengarkan?", sahut Hening.
"Yah.., saya tau apa
yang kau pikirkan..", jawab Komandan.
" Apa
maksudnya..?", tanya Gembok sembari melirik Panah.
Panah hanya meletakkan
telunjuknya di mulutnya bermaksud menyuruh rekannya itu untuk diam dan
mendengarkan.
" Apa tepat seperti
yang juga aku pikirkan Ndan?", tanya Utara sembari memanjat naik ke balkon
barak musuh tersebut.
"Hey.. Jangan
ceroboh..!", tanggap Sendok.
"Sendok
waspadalah..", beritahu Komandan.
"Tapi Ndan..!",
sahut Sendok melihat Utara dengan santai berjalan masuk ke barak musuh
tersebut.
Selang beberapa saat
Utara kembali berjalan keluar.
"Hah? Tak ada
siapa-siapa lagi?", Sendok merasa bingung, melihat Utara berjalan santai
di barak musuh.
" Apa yang harus
kita lakukan Ndan?", tanya Utara.
" Sepertinya ini
akan ramai..", sahut komandan sembari menjulurkan tangannya hendak naik ke
balkon yang terbuat dari kayu tersebut.
"
"Baiklah.., Panah,
Gembok, kalian menemukan akses lain untuk masuk ke barak ini.. sebelumnya hanya
ada dua musuh yang dilumpuhkan oleh Hening..", ucap Komandan dari radionya.
"Lalu..?",
tanya Gembok.
" Kemungkinan musuh
lain sedang berpatroli keluar dari barak mereka.., sebaiknya kita berkumpul
disini untuk melakukan serangan kejutan kepada mereka jika mereka
kembali..", jelas komandan.
"Baik Ndan!",
sahut Panah kemudian mengajak gembok bergerak ke arah jalan masuk ke barak
musuh tersebut.
Sementara itu tampak
Hening bergerak cepat menyusuri bibir rawa menuju arah timur dimana akses masuk
kebarak tersebut berada.
"Sendok, periksa
keseluruhan barak ini.., mungkin ada sedikit informasi..", perintah
Komandan.
"Baik Ndan!",
sahut Sendok sembari bergerak masuk ke barak.
"Berarti intelijen
kita salah.., tidak ada aktivitas besar disini.., ini hanya pos kecil..",
ucap Komandan sembari berjalan pelan masuk ke barak di ikuti Utara.
"Hmm... Tidak ada
apa-apa disini..", ucap Utara melihat-lihat keadaan didalam barak ini yang
memang kosong, hanya terlihat sebuah mesin genset listrik disudut ruangan.
"Hmm? Genset?",
gumam Utara sejenak lalu melirik je arah sentir yang menggantung.
"Ini..?!?",
gumam Utara kembali sambil berlari keluar.
"
"Sepertinya ini
bukan pos kecil komandan..!", jelas Utara.
"Maksudmu?",
tanya Komandan beranjak keluar mengikuti Utara.
"Itu
komandan..", ucap Utara sembari menunjuk kabel lampu yanr terjuntai di
atas dengan beberapa lampu menyebar ke tiap sudut.
"Komandan.., anda
harus melihat ini..!", ucap Sendok serius melalui Radio.
"Hah? Dimana
posisimu?", tanya Komandan.
"Didepan.., eh
dibelakang, aku tak tau ini depan atau belakang..", sahut Sendok.
Segera saja Komandan
berjalan cepat menuju posisi Sendok diikuti Utara.
"Hening dimana
kau?", tanya Utara.
"Jawab aku..!
Hening.., shhh!", eluh Utara tak ada jawaban dari Hening diluar
"Ndan..! Hening tak.
. . ", Utara sejenak terdiam tak melanjutkan kata-katanya terkejut melihat
apa yang dilihat Komandan dan Sendok.
"Ini. . . ",
gumam Utara badannya mulai bergetar.
"Sungguh
sialan...", raut wajah Sendok juga tampak berubah memerah.
sementara Komandan
berjongkok dan berusaha meraih sesuatu.
"...
"Entahlah.. Ayo kita
bergegas..", ajak Gembok mempercepat langkahnya.
" ..sebaiknya kita
segera bergerak Komandan. . . ", ucap Utara.
"Tahan dirimu
prajurit..., seharusnya kita bersyukur atas apa yang kita temukan disini..
Sehingga kedatangan kita kesini tak akan sia-sia..", sahut Komandan.
"Ini keterlaluan
Ndan...", sambung Sendok masih tak percaya dengan apa yang diketemukannya.
Panah dan Gembok yang
baru saja sampai juga tampak tercengang melihat apa yang ada di hadapan
Komandan dan kedua rekannya tersebut, tiba-tiba saja tubuh mereka bergetar
hebat, bukan perasaan takut yang menyelimuti.. Tapi semacam amarah yang muncul
dari jiwa mereka.
"Klak..!"
" Kita harus
membalasnya Komandan!!!", ucap Gembok sembari mengokang senjantanya.
"Bedebah..!",
ucap Gembok sembari memukulkan tangannya ke lantai.
"Tahan diri
kalian.., jangan biarkan ini mengganggu konsentrasi kalian.. Rekan kita ini
pasti tenang kita telah sampai disini..", sahut Komandan.
"Utara. . .",
panggil Komandan.
"Baik Ndan..",
sahut Utara mengerti.
"Semuanya..! Berikan
penghormatan terakhir..! Hormaaat grak!", bentak Utara.
Segera saja semua
memberikan hormat.
Keadaan berubah menjadi
dingin ketika kelima prajurit tersebut memberikan penghormatan terakhir kepada
seseorang dihadapan mereka yang sudah tak bernyawa lagi. Yah..,, mereka
menemukan mayat salah satu dari mereka, mayat seorang prajurit berseragam
militer