Part 69 " Claymore "
" Bergerak. . !", perintah sang Komandan.
Segera saja para prajurit
terlatih itu menyusuri rimbun hutan yang gelap gulita dengan sigap, Utara dan
Sendok sebagai pemimpin barisan terampil memanfaatkan kilatan petir sebagai
Flashing Light untuk menemukan rute terbaik meskipun lambat laun kilatan petir
mulai sedikit tak mampu menembus rimbunnya hutan yang mereka lalui.
Riuhnya rintik air serta
petir yang menggelegar memenuhi langit menjadi pelengkap peredam suara dari
setiap pergerakan mereka, sehingga mereka bisa bergerak dengan cepat meskipun
mereka terpaksa meningkatkan kewaspadaan mereka sebagai resikonya.
Sesekali mereka
dikejutkan oleh gerakan tangan Utara yang memberi tanda untuk berhenti,
kemudian setelah beberapa saat menerawang.. Utara atau Sendok kembali memberi
tanda untuk bergerak.
Tumbuhan setinggi
pinggang, ranting pohon terjuntai kebawah, ditambah tumpukan daun serta ranting
bahkan batang pohon yang membusuk ditanah membuat Area yang mereka lalui terasa
begitu menantang, membuat andrenalin masing-masing dari mereka bersemangat,
aneh memang, tapi itulah kenyataannya.
Lagi - lagi Utara memberi
tanda untuk berhenti, namun kali ini berbeda karena Sendok langsung bergerak
mendekati Komandan Regu.
" Lapor Ndan..,
kilatan kemungkinan kolam ikan..", ucap Sendok pelan.
Sang Komandan berfikir
sejenak sembari berusaha memperhatikan daerah sekitar.
" Apa kalian
yakin..?" Tanya Komandan tersebut.
" Hei..", seru
sendok ke arah Utara.
Namun Utara hanya
membalasnya dengan dua kali ayunan kepalan tangan ke bawah.
" Yakin Ndan.. Ada
aktivitas didepan sana..", sambung Sendok setelahnya.
" Ini jauh melenceng
dari data intelijen.., harusnya tidak sedekat ini dengan Dropping..", ucap
Komandan.
Elang hanya diam
mendengarkan sambil tetap menyiagakan senapannya.
" Intelijen kita
masih burul.., Sendok.. Kau dengan Utara buat perimeter penjagaan di pukul 8,
Gembok.. , kau bersamaku di pukul 6, dan kau Panah.., ikuti Hening ke arah
pukul 3.., kalian yang memimpin pengintaian, dan pergerakan kita selanjutnya
adalah hasil dari pengamatan kalian..", jelas Sang Komandan membagi tugas
kepada kelima anggotanya.
" Siap
Ndan..!", sahut mereka serempak.
" Ayo..", Ajak
Hening kepada Panah untuk bergerak terlebih dahulu.
" baiklah..",
sahut Panah mengikuti Hening yang telah merangsek maju.
"Baiklah.. Kita
bergerak..", perintah Sang Komandan garang.
Sementara itu hanya 100
meter dari mereka tampak turunan yang terlihat seperti lekukan jurang yang tak
begitu dalam, pepohonan tak tampak tumbuh disana, hanya semak belukar serta
ilalang tinggi yang tumbuh diatas rawa, dan tak lebih dari sekitaran 70 meter
dari sana terlihat cahaya yang sepertinya berasal dari sebuah sentir atau
semacamnya di dalam Kamp yang di duga sebagai kamp musuh, pantas saja Utara
dengan mudah mampu melihat posisi Kamp tersebut karena tak ada pohon yang
menutupi Kamp tersebut, terlebih lagi hanya dikelilingi rawa sehingga tampak
seperti kubangan raksasa ditengah hutan.
" Apa disini sudah
cukup..?", tanya Panah kepada Hening sambil berjongkok dibalik batang
pohon.
" Aku rasa belum..,
sebaiknya kita kesana..", sahut Hening sambil menunjuk sebuah batang pohon
tumbang tepat dibibir rawa.
"..baiklah..",
ucap Panah sembari kembali bergerak, sementara itu Hening terus mengikuti tanpa
mengendurkan kewaspadaannya.
Tak berapa lama kemudian
setelah memastikan sekitar aman, Panah bersiap dengan teropong malamnya (Night
vision).
" Baiklah kawan..,
semua berawal dari pengamatan kita..", ucap Panah sembari melirik jauh ke
tengah rawa melalui teropongnya dimana terdapat cahaya yang sebelumnya terlihat
oleh Utara dan Sendok.
" Apa yang kau
lihat..?", tanya Hening sembari mengatur teropong Night Vision yang
sengaja ia pasangkan dengan senapan M40-nya.
"Hmm.. Itu seperti
sebuah barak darurat..", sahut Panah melihat sebuah kamp yang terbuat dari
batang pohon yang dibelah di tambah dengan tenda biru sebagai atapnya.
" Ikan..?",
tanya Hening lagi menanyakan keberadaan musuh dengan kode "ikan".
" Tdak begitu jelas
dengan kacamata besar ini..", ucap Panah sembari menoleh menunjukan 'Kaca
Mata Malam'nya yang memang berukuran besar.
"Biar
kulihat..", sahut Hening sambil mengambil posisi dengan merebahkan
tubuhnya sembari mengatur posisi senapannya.
Hening mulai mengamati
sambil sesekali mengatur presisi teropongnya.
" Tidak ada
aktivitas sama sekali.., kemungkinan besar mereka tertidur..", ucap Hening
menjelaskan apa yang dilihatnya.
" Apa itu berarti
kita harus melakukan penyusupan?", sahut Panah.
"..mungkin itu yang
akan diperintahkan Komandan.., sebaiknya kau segera laporkan ini..", ucap
Hening menyudahi pengamatannya.
" Baiklah..",
ucap Panah langsung bergerak menuju posisi dimana Komandannya berada, sementara
itu tampak Hening memasang Peredam pada senapannya kemudian segera kembali
memantau kamp musuh melalui teropongnya.
" Begitu ya.. Hmm
", ucap Komandan mendengar laporan Panah.
" Baiklah.. Gembok,
panggil Utara dan Sendok kemari.. Kita akan menyusup", perintah Komandan.
" Baik ndan..",
sahut Gembok segera meluncur.
" Baik kalau begitu,
aku akan kembali ke tempat Hening..", kata Panah.
" Saya rasa itu tak
perlu.., untuk mengantisipasi apabila jumlah musuh yang belum diketahui, kita
akan bergerak tiga dalam dua sejajar.., Hening akan menjaga kita dari
jauh..", jelas Komandan.
Petir terus menggelegar
menyambung kilatannya memenuhi langit, sementara Hujan terus mengguyur tanpa
henti melengkapi kesunyian hutan yang ditinggal diam oleh penghuni malamnya.
"Bagaimana
Ndan..?", tanya Utara
" Baiklah, nyalakan
dan buka Radio kalian, Kita bergerak tiga dalam dua sejajar, kau dan Sendok
berada di kanan dan kiri saya.., Gembok dan Panah di baris kedua untuk
melindungi kita.., kita lakukan penyusupan terlebih dahulu, namun tetap
lumpuhkan jika terjadi kontak.., semua mengerti..!?!", jelas sang
Komandan.
" Siap
ndan..!", sahut Utara dan yang lainnya serempak.
"Hening, kau
mendengarkan?", tanya Komandan leawt radionya. "Sangat jelas
ndan", sahut Hening sigap.
Tak lama kemudian tampak
Komandan dan ke-empat anggotanya perlahan menuruni lereng dan berakhir berendam
dirawa yang tak begitu dalam tersebut.
" Sial..! Sepinggang
Ndan...", keluh Sendok baru menyadari kedalaman Rawa yang dipenuhi ilalang
dan semak belukar tersebut karena ia yang pertama memasuki rawa, Namun Sang
Komandan hanya tersenyum mendengar itu.
" Sudahlah,
berusahalah untuk tetap fokus!", sahut Utara pelan. " ...Klakk..!
"
" Penyusupan..
", gumam Hening sambil mengokang senapannya menyadari Panah yang tak
kunjung kembali ke posisinya, dan kembali mengamati kamp musuh didepannya.
Utara dan Sendok serta
yang lainnya bergerak pelan mengarungi rawa yang dipenuhi ilalang dan tanaman
menjalar tersebut, sesekali moncong senjata mereka bergerak sigap mengarah ke
Kamp di depan mereka.
" Disana...",
bisik Utara sembari menunjuk sebuah akses masuk yang terlihat di sudut kamp
tersebut.
" Baik, Gembok..,
panah, jaga punggung.. Kami menyusup..", ucap sang komandan pelan.
"Baik Ndan..",
sahut Panah mengambil posisi penjagaan di tengah rawa tersebut di ikuti Gembok
disebelahnya, sementara itu Komandan bersama Utara dan Sendok bergerak cepat
mendekati Kamp tersebut. Namun tiba-tiba saja Utara memberi aba-aba untuk
berhenti, segera saja Komandan dan Sendok berhenti dan segera bersiaga
memperhatikan sekitar.
" Ranjau ",
Gumam Hening memperhatikan dari teropongnya.
"
" Claymore!",
ucap Utara sembari memperlihatkan untaian kawat halus yang terhubung dengan
bahan peledak kelas berat Claymore yang sengaja di pasang di atas batang kayu
yang ditancapkan di atas rawa sehingga tak tenggelam tertutup semak belukar dan
ilalang.
" Gila ..! Mengapa
musuh punya peledak semacam itu?", ucap Sendok terheran-heran.
"Sudahlah.., kau
punya mata yang bagus Utara, sekarang mari kita lewati kawat ini secara
bergantian", sahut Komandan.
" Hati-hati Ndan..,
kawat-kawat itu sepertinya juga terpasang di dalam air", ucap Utara
mengingatkan sembari mengangkat pelan kawat itu dan meregangkannya sembari
berusaha agar tidak tertarik.
" Sendok, Ndan..,
cepat lewat..", ucap Utara yang tampak berkeringat memegangi umtaian kawat
tersebut membuka celah agar Komandan dan Sendok bisa melewatinya.
"Sial...! ",
gumam Gembok. " Ada apa?", tanya Panah.
" Pergerakan di
pukul 1, diulangi pergerakan di pukul 1..! ", ucap Gembok yang menyadari
seorang prajurit musuh tampak berjalan pelan di balkon yang berlantaikan
papan-papan kayu sembarang yang di buat mengitari kamp tersebut.
" Kau bisa
melumpuhkannya?", tanya Panah.
" Akhh.. Ilalang
ini..". Umpat Gembok kesal pandangannya terhalang ilalang yang berbaris
penuh memenuhi rawa.
" Hening.., kau
melihatnya?", tanya Utara setelah mendengar percakapan Gembok dan Panah..
"Sangat
jelas..", sahut Hening.
" Hening,
Konfirmasi..!", sambung Komandan.
"Sekarang menjadi
dua ikan menuju ke posisi anda Ndan.., minta di jaringkan..", jelas Hening
setelah melihat ternyata tampak dua orang musuh yang sepertinya sedang
berpatroli." Lumpuhkan segera..!", perintah Komandan yang sedang
kerepotan melewati untaian kawat jebakan yang terpasang beruntun.
"diterima..",
sahut Hening mulai mengarahkan titik bidik teropongnya ke kepala salah satu
dari dua musuh yang terlihat. " ..huhhhh..." "Byur.."
Terdengar sayup suara dua
jasad musuh itu tercebur ke dalam rawa.