Part 68 "Misi Rahasia"
Ruang Komando Pusat..
ketegangan yang baru saja
reda tampak kembali memenuhi raut wajah Letn.Tari dan yang lainnya ketika kabar
Elang dan yang lainnya mendapat serangan di Rumah sakit, seketika semua orang
yang berada di ruang komando tersebut terheran-heran bagaimana bisa serangam
individual bisa terjadi disana.
"Panglima.., saya
mohon izin untuk undur diri sebentar untuk melihat keadaan disana..", ucap
Jend.Purnomo meminta izin untuk segera melihat keadaan Elang dan yang lainnya.
"..pak
Presiden?", sahut Pang.Rokhim sembari memalingkan wajahnya meneruskan
permintaan izin itu ke orang Nomor satu di nusantara ini.
"... Silahkan
Jendral.., katakan pada kami nanti bahwa mereka baik-baik saja..", sambung
Pres.Darwin mengizinkan.
"Terima kasih pak
presiden..", ucap Jend.Purnomo sembari memberi hormat dan segera berlalu
meninggalkan ruang komando tersebut.
"Baiklah..
Sepertinya kita tinggal menunggu Letnan Angga dan yang lainnya yang sedang
dalam perjalanan bersama Sir Robert.., bagaimana menurut anda Panglima?",
ucap Letn.Vega.
"Gawat. . .
"Maksud anda
pak..?", tanya Letn.Vega, tampak juga Pres.Darwin dan Wapres.Haryono spontan
menyimak.
"..menurut informasi
inteligen yang baru saya terima, sepertinya Australia akan mengambil tindakan
tegas setelah mereka kehilangan komunikasi dengan duta besar mereka..",
jelas Pang.Rokhim.
"Maksudmu mereka
akan memulai peperangan?", tanggap Presiden Darwin.
"..saya rasa begitu
pak.., tapi saya rasa itu tak akan terjadi karena kita telah membawa kembali
duta besar mereka Sir Robert..", jawab Pang.Rokhim.
"..baguslah.., ini
sungguh saat-saat yang kritis.., Letnan.. Dimana mereka sekarang?", ucap
Pres.Darwin.
"Siap pak presiden,
mereka akan segera sampai tak kurang dari 10 menit lagi..", jawab
Letn.Vega sigap memperkirakan waktu perjalanan Letn.Angga dan yang lainnya.
"Sebaiknya siapkan
tim medis untuk menyambut mereka kembali..", sahut Pang.Rokhim.
"Baik
Panglima..", ucap Letn.Vega sembari meraih sebuah telepon untuk memberi
koordinasi kepada tim medis.
Rumah Sakit militer..
Elang tampak duduk tenang
setelah baru saja sadar, ia bersama kedua rekannya juga telah dipindahkan ke
dalam satu ruangan khusus untuk merawat mereka yang dijaga dengan empat orang
prajurit bersenjata lengkap, terlihat beberapa petugas keluar meninggalkan
mereka bertiga setelah sedikit meminta informasi kronologi kejadian sebelumnya.
"Bagaimana ini
terjadi..? Mengapa ia diam saja..?", tanya Adam yang tak tau menahu atas
apa yang baru saja terjadi.
"Nanti kujelaskan..,
dan sebaiknya kita biarkan saja ia menenangkan dirinya dahulu..", sahut
Mahda pelan sembari melirik ke arah Elang.
"Baiklah.. Tapi apa
kalian baik saja?", tanya Adam lagi.
"Yah, kami baik
saja.. Tapi pasti aku akan mati jika saja ia tak muncul..", jawab Mahda.
"Sudahlah.. Yang
penting kita semua baik-baik saja..", sahut Adam.
"Yah.. Aku rasa
begitu..", sambung Mahda.
Sementara itu Elang hanya
duduk diam di atas ranjang perawatannya, tatapannya juga kosong bak memikirkan
sesuatu hal.
(Flashback...)
Papua, 15 juli 2003
"Deg..deg..deg.."
Deru suara mesin
helikopter sedikit terdengar sayup tertutup oleh derasnya hujan, pekatnya malam
juga ikut menyamarkan helikopter angkut yang membawa 2 orang kru serta 6 orang
prajurit terlatih dikabinnya selain 2 orang pilot.
Sudah 5 jam helikopter
itu mengudara, meliuk-liuk diantara pepohonan karena memilih untuk terbang
rendah melewati lereng-lereng serta hutan lebat yang terbentang.. sesekali sang
pilot juga bermanuver menghindari pepohonan atau bukit yang terlalu tinggi,
membuat 6 prajurit yang dibawanya spontan bersiaga mengira bahwa mereka telah
sampai di "drop zone" mereka, namun salah satu dari kru Helikopter
segera menggerakkan tangannya memberi tahu bahwa mereka belum sampai.
Raut-raut wajah para
prajurit di kabin helikopter tersebut sama sekali tak menunjukkan raut
kecemasan, keraguan atau apapun itu, sepertinya latihan keras juga doktrin
rahasia yang diajarkan pada mereka sepenuhnya berhasil membuat mereka menjadi
sosok "batu es", mereka adalah Grup 2 kopassus, satuan elit tempur
yang dimiliki TNI angkatan darat nusantara, namun mereka tak mengenakan emblem
bergambar Naga terbang yang bertuliskan Dwi Dharma Bhirawa Yudha dilengan
seragam mereka karena ini adalah misi rahasia.
Karena itu mereka tak
akan di akui jika tertangkap musuh, hingga butiran peluru yang mereka pakai pun
tak tertera dari mana peluru itu berasal demi kerahasiaan misi ini.
Tak lama kemudian sang
pilot tampak memutari suatu area diikuti gerakan tangan seorang kru Helikopter
yang memberi tanda bahwa mereka telah sampai di area yang mereka tuju, ke enam
prajurit itu tampak bersiap.
"3 menit dari
sekarang!", seru salah seorang pilot memberi limit untuk menghindari
kemungkinan ada yang melihat mereka.
Segera saja kedua Kru
Helikopter itu mengulurkan 2 tali dikana dan kiri badan Heli tersebut yang
langsung digunakan oleh keenam prajurit Para Komando untuk turun.
Tak berselang lama
Helikopter pun kembali berputar dan pergi meninggalkan area tersebut..
Sejenak keadaan kembali
seperti sedia kala, hujan terus turun menerjang kawasan hutan lebat itu, ke
enam prajurit tadi seperti hilang ditelan bumi, baru setelah 15 menit berlalu..
Satu persatu dari mereka muncul dari tempat persembunyiannya dan berkumpul
dibawah sebuah pohon besar di tengah derasnya hujan, hal itu sengaja mereka
lakukan untuk mengantisipasi bila ada yang mengetahui kehadiran mereka.
"Baik, semuanya
sudah dijelaskan di markas, kita lakukan sesuai rencana, kita bergerak cepat,
lakukan yang terbaik", ucap salah satu dari mereka yang sepertinya adalah
komandan tim.
"Utara, Sendok,,
kalian di depan bergerak sejajar sebagai pemimpin jalan, gembok dan Panah,
kalian bersamaku di tengah mengikuti Utara dan Sendok..",
"Siap ndan!!!",
sahut para kelima prajurit tersebut mendengar formasi bergerak dari komandan
mereka, dan sepertinya mereka menggunakan nama Sandi dalam misi ini.
"Dan kau
Hening..", ucap komandan melirik prajurit ke enamnya.
"Siap ndan..?",
sahut seorang prajurit ber-Sandi Hening itu.
"Awasi jauh ke depan
dan belakang.., jaga kami.., kau dapat rotasi bebas kali ini..", sambung
Komandan tersebut.
"Siap dan mengerti
Ndan!", sahut prajurit bersandi "Hening" itu yang ternyata
adalah Elang.