Part 67 " Kegilaan... "
Heru tersenyum penuh kemenangan sesaat ia akan menarik pelatuk pistolnya, sementara itu Mahda hanya terdiam tak mampu berbuat banyak menyaksikan seseorang bersiap menghabisinya.
"Mungkin hanya
sampai disini. . ., kuharap semua perjuanganku berarti untuk negeri ini. .
.", gumam Mahda dalam hati sembari menutup matanya.
"Disinilah aku
kembali"
"Brakk!"
Elang muncul secara tiba-tiba
dengan menendang pintu dan langsung meraih tangan Heru yang menggenggam pistol.
"Tassh!"
Tembakan Heru menghantam
dinding hanya beberapa inci dari kepala Mahda.
" Apa!?!?",
gumam Heru yang terkejut dan kehilangan keseimbangan hingga ia ikut terjatuh
bersama Elang yang menerjang ke arahnya.
" Bukk.."
Mereka berdua terguling
dilantai sehingga Heru menjatuhkan kembali pistolnya.
Sesaat kemudian segera
saja Elang melayangkan siku kanannya ke wajah Heru.
"Bukk!"
"Mahda..! Kau tak
apa..?!?", seru Elang, namun Mahda hanya tercengang sembari menahan sakit.
"Syukurlah..",
gumam Elang setelah memperhatikan sosok temannya masih bernafas.
"bukk!"
"Aarggh!"
Teriak Elang ketika Heru melayangkan tinjunya ke arah rusuk kanannya.
"..sebaiknya kau
tunggu giliranmu untuk kuhabisi..!", seru Heru sembari kembali melayangkan
tinjunya.
Namun Elang berguling
menghindar.
"Ekhh..!,
sial..", gumam Elang meraba tubuhnya masih dipenuhi dengan rasa sakit
mengingat ia baru saja mendapatkan perawatan akibat luka-luka ditubuhnya.
"..heheh.. Bukankah
kita saling mengenal..?", ucap Heru sembari beranjak bangkit.
"..aku ingat siapa
kau bocah sialan..!", sahut Elang.
"Hei tenanglah..,
aku tak yakin kau mampu berkelahi dengan kondisi seperti itu..", ucap Heru
tersenyum sinis.
Elang hanya diam sembari
bangkit.
" Hmm.. Setidaknya
aku tak repot-repot mencarimu..!", seru Heru langsung melayangkan
tendangan kaki kanannya ke arah kepala Elang.
Namun dengan sigap Elang
menunduk menghindarinya.
"Heheh..", Heru
tersenyum sembari menyambungnya dengan tendangan putar kaki kirinya.
"Bupp!"
Elang menangkis dengan
tangan kirinya, namun terjatuh karena tendangan Heru terlalu keras untuk
keadaan fisiknya yang sedang lemah.
"Shkkk...! ",
erang Elang sembari langsung beranjak bangkit.
"Bukk!"
Namun Heru tela bergegas
mendekatinya sembari melayangkan tinjunya.
"Bukk..bukk!"
Heru kembali melayangkan
tinjunya secara beruntun tak menyia-nyiakan kesempatan saat Elang kehilangan
keseimbangan akibat pukulan pertamanya.
"Ekhh!",
Elang mencengkram kepalan
tinju Heru, namun dengan sigap Heru bergerak menyamping dan berputar kebelakang
Elang sehingga kina leher Elang ada dalam cengkraman kedua tangannya.
"Ekkhhh!!!",
elang tak bisa banyak bergerak ketika Heru menguatkan cengkramannya dilehernya.
Kedua tangan Elang berusaha
menahan kedua tangan Heru, namun tak begitu berpengaruh banyak.
"Heheh.. Sepertinya
kali ini segala keahlian tempurmu tak begitu hebat seperti yang banyak
dibicarakan diluar
"Sialan kau..!
Ekhhh..!", sahut Elang, tampak menahan sakit, wajahnya juga tampak memerah
dengan mulutnya yang mengeluarkan darah.
"Elang...!",
seru Mahda, ia hendak bangkit membantu, namun ia tak mampu menggerakkan
tubuhnya.
"..kenapa kau
melakukan ini..! Ekkhh..!", tanya Elang.
"Hei, sudahlah..
Biarkan aku melakukannya dengan cepat, sehingga kau juga bisa lebih cepat
bertemu dengan teman boybandmu..", sahut Heru mempererat cengkramannya
dileher Elang.
Sejenak Elang teringat
akan sosok sahabatnya Jim ho..
Elang teringat
detik-detik Jim ho meregang nyawanya..
"..aku akan selalu
menjagamu..",
Elang teringat kata-kata
yang diucapkan Jim ho.
"..apa yang kau
katakan tadi. . ?", tanya Elang sembari melepaskan tangannya yang sedari
tadi berusaha meraih lengan Heru yang mencengkramnya.
"Oh.. Akhirnya Kau
menyerah ya?!? Baguslah..! Dengarkan! Sampaikan salamku pada teman
" Sungguh kau. .
.", gumam Elang.
"Arggghhh..!!!"
Elang tak memperdulikan
rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya dan langsung melompat mendorong
tubuhnya ke arah belakang.
" Shh!",
Heru terhenyak ketika
tubuhnya menghantam dinding.
Kemudian dengan penuh
amarah Elang menghantamkan kepalanya ke wajah Heru yang berada dibelakangnya.
Tak berhenti disitu,
Elang mencengkram dengan sangat kuat salah satu lengan Heru yang mencengkramnya.
" Aaaarhhh!",
eram Heru kesakitan.
"
AaaArrggghhhh!!!", teriak Elang sembari mengerahkan seluruh tenaganya
hingga kuku-kukunya merobek kulit lengan Heru.
"Aaarrrrhhh!!!",
Heru semakin menjerit kesakitan dan melonggarkan cengkramannya.
Namun Elang tak berhenti,
ia malah semakin kuat mencengkram hingga tak pelak seluruh ujung kukunya
tertancap dilengan kiri Heru tersebut.
"Kau..!!!",
seru Elang sembari melompat kedepan secara tiba-tiba.
"Crkkksshhh!!!"
Membuat lengan Heru
terobek lebar..
"Aaaarrrhhhh..!",
Heru mengerang kesakitan hingga tertunduk dilantai, darah mengalir deras dari
tangannya.
"Kau.. Ingin tau
untuk apa aku dilatih..?!?!", ucap Elang yang bangkit dan berbalik
mendekati Heru, tampak ujung-ujung jari kedua tangannya meneteskan darah,
bahkan tampak sebagian kulit dan sedikit daging tangan Heru yang tercabik, tak
heran mengapa Heru mengerang kesakitan tak karuan.
"Akan aku tunjukan
kepadamu bagaimana caraku menghabisi orang yang membunuh
teman-temanku..!!!", ucap Elang sembari memegang kepala Heru yang masih
merintih kesakitan bersimbah darah.
"Arrgghhh..!",
"Bukkk!!!"
Elang menghantamkan
kepala Heru dan membenamkannya kelantai, tak sampai disitu saja, sesaat
kemudian Elang melompat kecil dan mendaratkan lututnya di bagian belakang
kepala Heru yang wajahnya masih menempel dengan lantai ruangan berkeramik itu.
" Krkk..!" Sejumlah
keramik retak dibarengi darah yang mengalir.
"Shrrkkkhh...",
Heru tak mampu berkat-kata lagi.
"Elang..! Elang ..!
Sudah cukup..! Ia sudah. . . ", seru Mahda berusaha menghentikan kegilaan
temannya tersebut, namun Elang tak menghiraukannya.
" . . . Jadi ini
yang mereka sebut.. Kegilaan ketika kau terlalu banyak melihat orang terbunuh
dan kepedihan. . . ? ? ?", gumam Mahda dalam hati mengingat kata-kata
seorang teman lamanya tentang tekanan selalu menghantui para prajurit pasukan
khusus yang sudah banyak memakan asam garam pertempuran.
"... Mungkin kau
berfikir aku ini gila bukan..?", ucap Elang mengangkat wajah Heru yang
penuh darah.
Heru tak mampu menjawab,
tampak ia berusaha mengatakan sesuatu namun tak mampu.
"..kau tau. .
.", sambung Elang sembari menarik tunuh Heru dan kemudian ia berjongkok
meletakkan lututnya tepat dibelakang leher Heru.
". . Jika kau
berfikir aku gila. .", ucap elang merapatkan genggamannya ke kening Heru.
"Kau
benar..!!!", teriak Elang sembari menarik kepala heru sekuat tenaganya.
Kali ini terdengar jelas
erangan kesakitan Heru memenuhi ruangan.
"Krkkhh!"
Leher Heru patah dengan
sangat mengerikan, kepalanya terjuntai kebelakang...
Elang merangkak pelan ke
arah Mahda.
"Kau baik-baik saja.
. . ?", tanya Elang terbata.
" i..iya..
Aku..ba..baik..saja..", jawab Mahda bergetar.
"Syukurlah...",
ucap Elang yang kemudian roboh kehilangan kesadaran.
Tak lama kemudian muncul
petugas keamanan berupa provost dan beberapa dokter muncul..