Part 66 " Teman.. "
"Whuuussss... Tang!"
Sebuah peluru menembus
helm rekan disebelahnya, segera saja darah menetes tak karuan.
"Sialan..!!!",
seru seseorang tersebut merasa ia dikalahkan oleh musuh yang berhasil
mengelabuinya dan membunuh rekannya.
Segera ia berlari
berpindah posisi sembari kembali berusaha mencari posisi musuh dari balik
teropong senapannya.
Dan masih saja belum
terlihat, hanya gumpalan asap bekas ledakan yang sebelumnya telah mengecoh
dirinya sehingga rekannya meregang nyawa.
"Shhhh..! aku tak
akan pernah mengetahui posisinya jika tak ada pengecoh.., pengecoh
sungguhan!", ucapnya.
Beberapa menit kemudian.
. .
Dengan meneteskan air
mata ia kembali membidik dari balik teropongnya untuk mencari posisi musuh yang
sangat sulit ditemukan diantara jendela-jendela bangunan-bangunan tua jauh di
seberang
"Maafkan aku teman..
Maafkan aku.. Aku sungguh minta maaf..", ucap seseorang tersebut sembari
menangis.
Sejenak kemudian
seseorang tampak bangkit berada tak jauh dari dirinya, namun sesaat kemudian
sebuah peluru kembali menghantam seseorang tersebut.
"CRASShh!"
Namun sesaat kemudian ia
berhasil menembak tepat musuh jauh disana berkat sosok yang kembali bangkit di
dekatnya dan menerima tembakan telak dari musuh. Setelah itu tampak ia berlari
mendekati sosok tersebut dan buru-buru mengeluarkan sangkurnya dan segera
memotong sebuah tali yang terkait dengan sosok tersebut.
"Maaf.. Sungguh
maafkan aku. . ", ucapnya menangis perih.
Betapa tidak, sosok
tersebut adalah tubuh rekannya yang sebelumnya telah mati akibat tembakan
dikepala, namun dengan terpaksa ia menggunakan jasad rekannya tersebut untuk
pengecoh musuh yang ia ikatkan dengan tali pada sebuah kayu dan paku dinding
sehingga akan bangkit saat ia menarik tali yang berada digenggamannya, sehingga
musuh akan mengira itu adalah prajurit yang tersisa.
Dengan berurai air mata
ia meraih tubuh rekannya yang berlumuran darah itu dan menggendongnya, ia
berniat membawanya kembali ke markas.
namun..
"Whhuuummmmppppp"
Sebuah pesawat melewati
daerah itu sembari menjatuhkan bom bom berukuran besar.
"DUAAMMMPPpp!!!"
Sontak ledakan itu
membuat Elang terbangkit dari tidurnya.
"Hmm? Mimpi buruk
kah?", tanya seorang perawat yang sedang merapikan kain jendela kamarnya. "Humppm.?? Ah tidak.. Bukan.., bukan
apa-apa..", sahut Elang.
"Sebaiknya tenangkan
pikiranmu.., saya akan melihat temanmu sebentar, setelah itu saya akan memberikanmu
suntikan obat, tunggulah.. Saya hanya ingin melihat infusnya..", sahut
perawat itu lagi sembari hendak membuka pintu.
"Iya.., tak
apa..", ucap Elang, pikirannya masih belum tenang akibat bayangan masa
lalu yang singgah dalam tidurnya.
"Maaf.. Aku tak akan
menyiakan temanku lagi.., Jim adalah yang terakhir yang berkorban untukku.. Aku
berjanji..", gumam Elang sembari kembali berbaring.
Diluar..
Kesibukan sudah mulai tak
terlihat lagi, para prajurit-prajurit pengawal juga sudah mulai meninggalkan
halaman depan Rumah sakit militer tersebut, hanya tinggal beberapa prajurit di
pos depan serta sejumlah petugas rumah sakit yang masih berlalu lalang, sore
itu sepertinya langit akan segera menurunkan air hujan dari balik gumpalan awan
yang telah menghitam. Sementara itu Heru dengan seragam PDH berpangkat Lettu
yang ia kenakan tampak leluasa melangkah masuk menyusuri lorong demi lorong di
dalam rumah sakit tersebut, langkahnya sejenak terhenti ketika ia telah berada
di lorong dimana tempat kamar-kamar pasien kelas utama yang berada di lantai
dua.
"..hmm, terlalu
beresiko jika aku bertanya dimana ruangan mereka, tapi.. Sepertinya ini terlalu
sepi, mungkin hanya mereka saja yang dirawat dikelas utama disini..",
gumam Heru sembari merapikan seragamnya.
Sejenak ia memperhatikan
sekitar dan kembali melangkah pelan sembari merogoh sesuatu dari balik kemeja
hijaunya.
"..ini
bagus..!", seru Heru dalam hati menyadari hanya ada beberapa kamar
disepanjang lorong tersebut yang menghidupkan lampu, yang berarti hanya
dibeberapa ruangan tersebut yang berisikan seseorang dirawat.
"..1 .. 2.. 3.. 4,
mereka 3 diantaranya.., hmm baiklah..", gumam Heru mulai melangkah ke arah
kamar pertama.
"Emm.., maaf sus..
Yang dirawat didalam siapa ya..?", tanya Heru segera meskipun ia sedikit
terkejut tiba-tiba saja seorang perawat muncul keluar dari kamar yang ia tuju.
"Maaf pak..,
bukankah seharusnya bapak bertanya terlebih dahulu kepada petugas
dibawah..?", sahut perawat tersebut.
"Ya.. Tadinya saya
berniat seperti itu, tapi petugas dibawah sedang tidak ada sus..", jawab
Heru berbohong.
"..kalau bapak belum
mengisi data pembesuk berarti bapak tak di izinkan kesini bapak.., maaf bapak
disini kelas utama, sebaiknya bapak kembali kebawah dan melapor kepada petugas
dibawah..", jelas perawat tersebut, dari bentuk dan postur fisiknya
sepertinya ia perawat dari unit medis TNI.
"Oh begitu ya..?
Kamu dari satuan mana? Dan siapa komandanmu..? Kamu saya anggap membangkang
dari seorang Letnan seperti saya", tanya Heru berusaha menggunakan atribut
penyamarannya.
"Siap pak.., saya
Sersan Dina dari unit medis.. Tapi meskipun bapak melaporkan saya.. Bapak tetap
harus melapor ke petugas dibawah..", jawab perawat tersebut tetap
menjunjung aturan yang berlaku.
"Begitukah? Meskipun
kau akan ke mahkamah militer?", tanya Heru lagi.
"Siap pak.., memang
seperti itu peraturannya, saya minta bapak untuk segera kembali kebawah atau
saya akan memanggil unit keamanan dibawah..", jawab perawat itu lagi.
"Oh ya baik..,
maaf.. Aku hanya ingin mengujimu, kerjamu bagus, tapi..", ucap Heru
sembari mendekap mencekik leher perawat tersebut tangan kirinya dan segera
berputar dan mendekap perawat tersebut dari belakang.
Tak lama kemudian sebuah
pistol berperedam ditangan kanannya menempel dikening perawat tersebut.
" Saya rasa kamu
jangan bersuara lagi atau rekan-rekanmu akan lembur untuk membersihkan otakmu
yang tercecer dilantai..!", ucap Heru sembari menyeret perawat tersebut
masuk ke kamar dimana ia keluar tadi.
"..aduh sus..! Aku
hendak tidur, aku rasa cukup suntikannya..", ucap seseorang yang terbaring
dikamar mendengar pintu kamarnya berdecit.
"Hmm.. Dia salah
satunya..!", ucap Heru dalam hati melihat sosok Mahda terbaring
membelakanginya di tempat tidur.
"Terima kasih
sersan..!",
"CRKkkk!!!"
Ucap Heru sembari
menembak kepala Perawat tersebut.
Darah beserta gumpalan
cairan kekuningan berhamburan didinding dibarengi robohnya perawat tersebut.
Mahda menyadari sedikit
kegaduhan segera berbalik.
" Hah?!? Apa yang
anda lakukan?? Tidak.., siapa kau..?!?!", tanya Mahda sesaat setelah ia melihat
seorang perawat terbaring dengan kepala yang berlubang.
"Hmm.. Aku rasa aku
tak ingin banyak bicara.." Ucap Heru sembari langsung mengarahkan
pistolnya ke arah Mahda yang tengah berbaring.
"Tass tass!"
Mahda melompat ke bawah
sesaat sebelum Heru melepaskan tembakan, ia tak memperdulikan tangannya yang
berdarah akibat jarum infus yang terlepas secara paksa akibat tertarik saat ia
melompat.
"Hmm?", gumam
Heru sembari berjalan mendekat dengan terus mengerahkan pistolnya.
" Hiaaaa..!"
Mendadak Mahda muncul
sembari melempar sebuah piring alumunium ke arah Heru.
"Tang!"
Piring itu menghantam dan
menjatuhkan pistol itu dari genggaman Heru.
Sesaat kemudian Mahda
melompat ke arah Heru hingga Heru terjatuh kelantai.
Namun dengan satu pukulan
ke arah rusuk sudah mampu melemahkan cengkraman Mahda yang berniat mencekik
Heru.
"Sepertinya kau
sedang sakit ya?", tanya Heru meledek sembari bangkit hendak mengambil
pistolnya kembali yang tergeletak dilantai.
" Sial..!",
gumam Mahda merasakan sakit diseluruh tubuhnya dari luka-luka yang baru saja ia
dapat pada pertempuran sebelumnya di papua bersama Elang dan Adam.
Namun ia berusaha tak
memperdulikan rasa sakit ditubuhnya dan kembali meraih leher Heru dari
belakang.
" ?!?, kau
ini..!", geram Heru sembari menahan memegang tangan Mahda yang mencekiknya
lalu dengan sekuat tenaga ia tarik Mahda kedepan dengan sedikit membungkukkan
tubuhnya.
" Hiaa..!"
Sejenak kemudian Mahda
segera terjungkal kedepan dan terbanting dilantai keramik ruangan dimana ia
dirawat
"Buk!"
"Ekhh..!", eram
Mahda kesakitan.
"Sudahlah, aku akan
mengakhiri penderitaanmu..", ucap Heru yang telah mendapatkan pistolnya
kembali.
"Ekhhh.. Siapa
kau??", tanya Mahda dengan seluruh luka-lukanya yang kembali mengeluarkan
darah akibat terlalu banyak bergerak. "Sudah kukatakan.., aku tak akan
banyak bicara.., siapkan saja doa terakhirmu..", sahut Heru yang bersiap
menarik pelatuk.