Part 65 " finished?"
"Brakk..!"
"Tash..tash..!"
Dua tembakan tepat
Letn.Angga merobohkan seorang pembelot yang menjaga Sir Robert, sementara dua
rekannya yang juga bertugas menjaga Sir Robert telah tewas terlebih dahulu juga
di tangan Letnan dua Raider ini.
"Apa anda baik saja
pak..?", tanya Letn.Angga sembari memeriksa tubuh pembelot tersebut
memastikan musuhnya tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"..saya baik saja..
Tapi..", sahut Sir Robert yang tampak tenang saja meskipun begitu banyak
hingar bingar suara letupan senjata api yang terdengar.
"..saya dari tentara
nasional
"Oh..
Begitukah?", gumam Sir Robert.
"Lalu, apa hanya kau
saja? Maksudku.. Apa kau sendirian..?", tanya Sir Robert sembari bangkit
dari kursinya.
"..hmm.. Mungkin
anda bisa menebaknya nanti.., atau anda dengarkan saja keramaian diluar..,
sekarang kita harus segera pergi dari sini pak.., kita tak punya banyak
waktu..", jelas Letn.Angga seakan tak ingin berlama-lama.
Markas pusat,
ketegangan masih terlihat
meliputi wajah semua orang yang berada di Ruang komando TNI, tampak tim medis
baru saja meninggalkan ruangan sambil membawa tubuh Maryadi dengan dikawal oleh
beberapa paspampres yang diminta mengawal langsung oleh Pres.Darwin. "..maaf
"Apa yang kau
katakan Har?", tanya Pres.Darwin sembari kembali duduk di kursinya.
"...tidak
"Letnan.., sebaiknya
kau kembali ke dalam, Letnan Angga dan yang lainnya pasti membutuhkanmu.., ini
perintah..", bisik Pang.Rokhim.
"Bagaimana dengan
semua ini panglima..?", tanya Let.Vega.
"Biar saya dan
Jendral Rokhim yang menanganinya..", jawab Pang.Rokhim.
"Tapi.., sepertinya
saya tadi menyadari sesuatu..", sambung Letn.Vega.
"Hmm..? Apa itu
Letnan..?", tanya Pang.Rokhim mendekat.
"...hmm tak apa
panglima.., saya rasa belum bisa saya ceritakan sekarang.., mohon ijin kembali
ke tugas panglima..", ucap Letn.Vega, memberi hormat dan segera berlalu
sembari melirik ke arah wapres Haryono.
Pang.Rokhim menoleh ke
arah Wapres Haryono, sesaat kemudian ia menoleh ke Jend.Purnomo.
Namun Jend.Purnomo hanya
menggelengkan kepalanya pertanda tak mengerti.
"Markas ke
srigala..", seru Letn.Vega melalui radio.
"Masuk.., Letnan
Angga kehilangan radionya, tapi sejauh ini sepertinya ia baik saja..",
jawab Sers.Tari menjelaskan.
"..maaf.. Kami juga
mendapatkan ketegangan disini.., Tari.. Bagaimana dengan yang lainnya..?",
tanya Letn.Vega.
"Kami baik saja..,
tapi kami tak bisa bertahan lebih lama lagi..! Komandan belum juga
muncul..!", seru Sers.Dimas segera memberi tahu.
"..jelaskan situasi
kalian.., segera..!", perintah Letn.Vega.
"Kami menunggu
komandan mencari target..!, tapi tak yakin bisa bertahan lebih lama lagi..,
selain amunisi, musuh sepertinya bukan orang-orang sembarangan..!", jelas
Sers.Dimas sambil sesekali melepaskan tembakan, sepertinya keadaan ia dan
Sers.Haryo tak begitu bagus.
"..hmm... Dan kau
Tari? Bagaimana statusmu saat ini..?", tanya Letn.Vega.
"Aku baik saja..,
tapi tidak dengan para polisi disana.., mereka terpojok..! Izinkan aku
menembak..!", jelas Sers.Tari sembari melirik dari teropongnya ke arah 4
orang polisi yang tersisa yang terpojok di balik mobil mereka, sementara itu
tampak tiga orang musuh mendekati mereka dengan terus memberondong tembakan.
"Negatif Tari..!
Tahan dirimu..!", seru Letn.Vega.
"..tapi kakak.., aku
rasa aku bisa menembak sekarang..", sela Sers.Tari sembari bersiap
menembak.
"TASH..! ",
"klak.."
"Satu..", guman
Sers.Tari berbarengan dengan robohnya salah seorang dari tiga pembelot tadi.
"TASH..! "
"Klak.."
"Dua..",
ucapnya lagi sembari kembali mengokang senapannya.
"Tari..! ",
seru Letn.Vega namun tak dihiraukannya.
"Hmm..? ",
gumam Sers.Tari melihat sasaran ketiganya menghilang, ia terus berusaha mencari
melalui teropongnya.
" Sial..!",
gerutunya sembari menundukkan kepalanya begitu ia melihat sejumlah pembelot
tampak mengarahkan senjata mereka ke arahnya, sesaat kemudian mereka
menembakinya.
Namun konsentrasi para
pembelot tersebut pecah ketika aungan sirene satuan Densus 88 datang.
"Tretereteretereteret..!"
Segera saja mereka
mengarahkan tembakan mereka ke arah 2 mobil khusus satuan Densus yang baru saja
datang.
"Tari..!", seru
Letn.Vega lagi.
"..pasukan khusus
polisi sampai disini kak..", jelas Sers.Tari.
"Itu berarti waktu
kalian sudah tak banyak..! Tari.. Mundurlah..!", perintah Letn.Vega.
"baik.., aku
mengerti..", sahut Sers.Tari langsung bergerak menjauh. Sementara itu
perhatian para pembelot didalam juga teralihkan dengan kehadiran satuan Densus
88, sepertinya ada sesuatu yang membuat para pembelot tersebut sangat ingin
menghabisi satuan khusus polisi tersebut.
"Kenapa dengan
mereka..?", gumam Sers.Haryo terengah-engah.
"Entahlah.., yang
terdengar hanya sirene polisi tiba disini..", sahut Sers.Dimas sembari
berusaha mengintip ke depan.
"Sebagian dari
mereka pergi keluar..!", sambung Sers.Haryo lagi.
"..itu terdengar
bagus.., tunggu.. Itu komandan..!", seru Sers.Dimas baru menyadari tampak
seseorang sedang melambaikan tangan ke arah mereka dengan sembunyi-sembunyi.
"Huhh.. Akhirnya
mereka melihat kita..", gumam Letn.Angga.
"lalu bagaimana kita
akan keluar dari sini..? Musuh kalian adalah orang-orang terlatih seperti
kalian..", sahut Sir Robert.
" Aku tau pak..,
mungkin anda bisa mengira-ngira dengan wajahku yang babak belur ini..",
ucap Letn.Angga sembari memberi perintah kepada Sers.Dimas dengan kode-kode
gerakan tangan.
"..wajahmu terlihat
bonyok..", sahut sir Robert.
"Terima kasih
pak..", ucap Letn.Angga.
"..dasar..orang
tua..", gumam Letn.Angga.
"..apa..?",
tanya Sir Robert.
"Hmm..tak ada pak..,
saya hanya anda segera bersiap.., ini akan memacu andrenalin anda..",
jawab Letn.Angga.
"Baiklah..",
sahut sir Robert merapatkan diri ke Letn.Angga.
"Haryo, komandan
ingin kita melempar granat tangan, setelah itu kita lepaskan tembakan
perlindungan..!", jelas Sers.Dimas memberi tahu.
"Tapi amunisi kita
tak banyak..", sahut Sers.Haryo sembari menunjukkan magazen terakhirnya.
"..itu sudah
cukup..", ucap Sers.Dimas sembari mengeluarkan sebuah granat dan bersiap.
"Bagus mereka telah
bersiap.., anda pakailah ini.., ini akan melindungi anda..", ucap
Letn.Angga sembari melepaskan rompi anti pelurunya dan memakaikannya pada Sir
Robert.
"..bagaimana
denganmu..?", tanya Sir Robert.
"..pak, ikuti saja
aku.. Mengerti?", ucap Letn.Angga sembari mengokang senjatanya, kemudian
ia segera memberi tanda kepada Sers.Dimas.
"Itu tandanya..,
Haryo bersiaplah..!", ucap Sers.Dimas
"Ayo kita
mulai..!", sahut Sers.Haryo.
" .... Tang...
Teng.. Teng.. Teng.."
Granat yang dilemparkan
Sers.Dimas mengejutkan sejumlah pembelot yang tersisa, mereka segera bergerak
menghindar.
"BAMMMppppp!!!"
Granat meledak
"Sekarang
pak..!", seru Letn.Angga buru-buru mengajak sir Robert bergerak menuruni
tangga.
"Ini sulit..! Aku
sudah tua..", celetus sir Robert di tengah pergerakannya.
"Haryo..!
Tembakan..!", seru Sers.Dimas keluar dari persembunyian-nya bersama
Sers.Haryo.
"Tash..tatatatattatatatshh..!"
Tembakan Sers.Haryo
semakin membuat para pembelot bingung.
Namun tak berselang lama
para pembelot yang tersisa didalam langsung membalas tembakan meskipun
ditengah-tengah kepulan asap bercampur debu berterbangan akibat ledakan granat
tadi.
"Ayo pak..! Bagaiman
keadaanmu ndan?", tanya Sers.Dimas yang menyongsong Sir Robert bersama
Letn.Angga.
"Saya rasa saya baik
saja, cepat bawa pergi target..! Haryo kita tahan mereka sejenak..!", seru
Letn.Angga mengambil posisi diikuti Sers.Haryo.
"Baik ndan..!",
sahut Sers.Haryo.
"Tretretretretetetetet..!"
Tembakan balasan para
pembelot semakin menjadi, sementara itu Sers.Dimas yang bertugas membawa Sir
Robert tampak kesulitan karena Sir Robert kelelahan.
"Ayo pak dubes..!
Saya minta anda bergerak lebih cepat lagi..!", ucap Sers.Dimas merangkul
Sir Robert.
"..aku sebelumnya
tak menyangka suatu hari akan berlari seperti ini..", sahut Sir Robert.
"..yah.., terkadang
sesuatu terjadi begitu saja pak.., tapi anda tetap harus berlari..
Ayo..!", seru sers.Dimas lagi.
"Ndan..!
Amunisi..!", seru Sers.Haryo memberi tahu bahwa amunisinya telah habis.
"Ini..! Yang
terakhir.., sebaiknya kita segera mundur..! Ayo..!", sahut Letn.Angga
sembari memberikan pistolnya, kemudian ia dan anak buahnya itu segera bergerak
mundur sambil sesekali melepaskan tembakan, sementara itu para pembelot mulai
mengejar mereka setelah samar-samar mereka melihat tim Letnan Angga membawa
sandera mereka.
"Mereka bergerak
ndan..", ucap Sers.Haryo sambil terus menembak.
"Berikan radiomu dan
segera susul Dimas dan Target..!", sahut Letn.Angga.
"Baik ndan..
Ini..!", ucap Sers.Haryo sembari memberikan radionya kepada Letn.Angga di
tengah-tengah pergerakan mundur mereka, dan ia segera mempercepat langkahnya.
"Markas
masuklah..!", ucap Letn.Angga melalui radio.
"Diterima Letnan..,
sepertinya kalian terdesak..", sahut Letn.Vega yang sedari tadi
mendengarkan dari Radio Dimas dan Haryo.
"Yah, tapi kami
berhasil membawa target.., tapi kami dikejar-kejar dan kehabisan
amunisi..", jelas Letn.Angga.
"Kalau begitu segera
tinggalkan lokasi dan bawa target bersama kita..!", seru Letn.Vega.
"Itu yang sedang aku
lakukan.., keluar..", sahut Letn.Angga sembari terus menembak, dilalin
sisi..para pembelot terus mendekat ke arahnya.
"Klek..klek..",
"Sial...", gumam Letn.Angga menyadari amunisinya telah habis, ia
segera berlari menjauh menyusul Sers.Haryo dan Sers.Dimas yang bersama Sir
Robert. "Tereteretreteret..!"
Tembakan para pembelot
semakin terdengar jelas seolah memberi tahu posisi mereka yang semakin
mendekat.
"Mengapa kalian
lambat sekali..?!?!", tanya Letn.Angga menyadari ia telah menyusul kedua
anak buahnya yang terlihat membopong sir Robert.
Sers.Dimas hanya menjawab
dengan melirik sir Robert.
" Sial..",
gumam letn.Angga dalam hati.
Tampak keempat orang itu
berlari ditengah hujan peluru yang ditembakan oleh para pembelot.
"Cshhh..!
Swinnggg..! Crsskk.."
Desingan peluru yang menghantam
tanah disekitar mereka terdengar jelas di tengah suara tembakan yang bergema.
"Ndan..! Kurasa kita
akan gagal..!", seru Sers.Haryo.
"Haryo tutup
mulutmu..!", sela Sers.Dimas, kedua sahabat itu berdebat sambil berlari
dengan membopong sir Robert.
"..orang tua ini
terlalu lambat..!", sahut Sers.Haryo.
"..huh..huh..huh..",
sir Robert hanya diam terengah-engah.
Sers.Dimas hanya melirik
letn.Angga.
"Diamlah.. Dan terus
bergerak..!", sela letn.Angga. "Crrkkk!!!"
"Aaaakhhh...!",
teriak Sers.Haryo setelah sebuah peluru mengenai paha kirinya, Haryo terjatuh,
membuat pergerakan mereka berhenti.
"Haryo..!",
seru sers.Dimas menyadari sahabatnya tertembak.
"Semuanya
menunduk..! Haryo, benamkan kepalamu..!", seru Letn.Angga sembari tiarap.
"Dimas..!
Granatmu..!", perintah Letn.Angga.
"Ini yang terakhir
ndan..!", sahut Sers.Dimas sembari bangun dan melemparkan granatnya dan
kemudian ia menunduk lagi.
"BAMMMPPP!"
Ledakan granat itu
sedikit memperlambat para pembelot yang mengejar mereka.
"Sekarang bagaimana
ndan..?!?", tanya Sers.Dimas yang memegangi Sers.Haryo, sementara sir
Robert hanya merapatkan tubuhnya ke permukaan tanah dan tak berani banyak
bergerak.
"Kita kembali ke
markas..", jawab Letn.Angga.
"Bagaimana
caranya..!?!", tanya Sers,dimas lagi.
Namun tiba-tiba sebuah
mobil melaju kencang mendekati mereka ditengah-tengah lapangan terbuka tersebut
dan berhenti tepat didekat mereka.
"Ayo naik..!",
seru Sers.Tari sesaat setelah ia membuka pintu depan.
Tanpa pikir panjang
segera saja Sers.Dimas menyeret Haryo naik ke mobil di bantu Sers.Tari,
sementara itu letn.Angga membantu sir Robert.
"Tengk..tengk.."
Peluru mulai menghantam
bodi mobil.
"Ayo..! Kita harus
cepat..!" Seru Sers.Tari.
Tak lama kemudian mereka
berhasil lolos dari kejaran para pembelot tersebut.
"Haryo bertahanlah..",
ucap sers.Dimas.
Sers.Haryo hanya
menganggukkan kepalanya.
"..gerakan yang
bagus Sersan..", ucap Letn.Angga.
"..terima
kasih..", sahut Sers.Tari."..kerja kalian bagus..huh..huh..",
ucap sir Robert terengah-engah. "Terima kasih..", sambung sir Robert
lagi.
"Tak apa pak.., kami
hanya melakukan tugas..", sahut Letn.Angga.
"Yah.., setelah ini
sebaiknya saya segera menghubungi negara saya.., tapi ada yang lebih penting
lagi..", sambung sir Robert.
"Apa itu
pak..?", tanya letn.Angga.
"Saya tau siapa
dalang dibalik kejadian ini.. Presiden kalian pasti akan terkejut..",
sahut sir Robert.
Sers.Tari dan Letn.Angga
hanya saling pandang mendengarnya.
Sementara itu..
sebuah mobil tampak
melaju pelan dan berhanti tak jauh dari kawasan rumah sakit militer milik TNI,
selain memegang kemudi, tangannya sibuk membuka dokumen-dokumen berupa
data-data serta foto beberapa orang berseragam militer.
Tak berselang lama
iring-irinulan yang dikawal sejumlah mobil-mobil berplat militer tampak
memasuki areal RS militer tersebut.
"Tidak salah lagi
perkiraanku, mereka terluka dan dibawa kesini.., sungguh mudah mencari
mereka..", gumam seseorang itu yang tak lain adalah Heru.
Ia menoleh jok belakang
mobilnya, memilih-milih seragam militer yang hendak ia gunakan untuk menyamar,
sepertinya ia berniat menyelinap kali ini.
"Kita
sampai..?", ucap Mahda.
"Yah.., perawat
cantik akan menangani kita mulai dari sini..", sahut Adam.
"Heheh..kalian
jangan berharap lebih, yang ku tau disini dokter dan susternya adalah
orang-orang yang sudah berpengalaman..", sela Elang tersenyum.
"Maksudmu para
dokter dan perawat tua dan gemuk..?", tanya Mahda.
"Yah.. Seperti
itulah..", sahut Elang.
"..bagaimana kita
akan cepat pulih?", tanya Mahda lagi.
"..hmm.. Aku tak
ingin membayangkannya..", sela Adam.
"Hahahahah..",
Elang terbahak.
Beberapa saat sejenak
mereka bertiga telah diturunkan dan segera dibawa menuju ruang perawatan untuk
memulihkan keadaan mereka. Sementara diluar, tampak orang asing berseragam PDL
memasuki areal rumah sakit tersebut tanpa kesulitan yang berarti, mengingat
keadaan kawasan tersebut penuh dengan para prajurit yang mengawal Elang dan
yang lainnya menuju kesini.
Ia adalah Heru, Dengan
tenang ia melangkah pelan mendekati pintu masuk rumah sakit, dan tanpa
sedikitpun gangguan ia sudah benar-benar masuk ke rumah sakit militer itu.
"Hmm..baiklah..,
sekarang dimana kalian..?", gumamnya pelan sembari merapikan topi
bergambar pangkat Lettu yang ia kenakan.
"Apa.!?!? Robert
menghilang..?!?!", bentak PM Dubbront terkejut akan kabar yang
diterimanya.
" ini tidak
mengada-ngada pak.. Sir Robert diculik di
"Apa mereka yang
melakukannya..!?", tanya PM Dubbront.
"..saya tidak bisa
menjawab pak.., tapi yang jelas ini terjadi di
"
"Marthy.., bagaimana
menurutmu?", tanya PM Dubbront pada mentri pertahanannya.
Sesaat sir Halley Marthy
membuka kaca mata tebalnya.
"Ini penghinaan bagi
kita pak.., sungguh berani mereka menculik utusan kita disana untuk
demokrasi.., dan mungkin saja mereka akan mengintrogasi sir Robert.. Itu akan
sangat berbahaya pak..", jelas sir Marthy mengemukakan pandangannya.
"Lalu..? Apa yang
menurutmu harus dan wajib kita lakukan..?", tanya PM Dubbront.
"Sebaiknya kita
segera menghubungi indonesia, kita minta mereka untuk melepaskan sir Robert
dalam tempo waktu.., atau..", ucap Sir Marthy.
"Atau.. Kita akan
deklarasikan Perang..!", sambung PM Dubbront.