Part 64 " Duel "
Letn.Angga langsung melayangkan tinju kanannya ke arah pembelot tersebut.
Namun dengan tenang
pembelot tersebut menghindar dengan menolehkan kepalanya, tak berhenti sampai
disitu Letn.Angga kembali mengayunkan tangan kanannya kembali sehingga tampak
seperti hendak akan menghantam wajah pembelot tersebut dengan sikunya.
"Buk..!"
Lagi-lagi dengan tenang
pembelot itu kali ini menangkisnya dengan tangan kirinya.
"Ssssh...! "
Menyadari serangannya
gagal, Letn.Angga mengambil dua langkah mundur dengan cepat dan segera
melayangkan tendangan putar dengan kaki kanannya.
"Bukk..!"
Dan lagi, pembelot itu
dengan tenang menahan tendangan Letn.Angga, malah kali ini ia memegang erat
kaki Letn.Angga.
"Sial..!"
Letn.Angga segera
melanjutkannya dengan melayangkan kaki kirinya sambil setengah melompat.
"Bammp..!"
Kali ini tendangannya
berhasil menghantam dada pembelot tersebut, membuat pembelot itu terjatuh
kebelakang.
Seakan tak ingin
berlama-lama Letn.Angga langsung bangkit dan berlari, sesaat kemudian ia
langsung menindih pembelot tersebut dan langsung mwnghujani wajah pembelot
tersebut dengan pukulan dari tangan kanan dan kirinya.
"Bukk...bukk..bukk..!"
"Anjinkk..! Mampus
lu ** SENSOR **..!"
Umpat Letn.Angga sembari
terus saja memukul, seakan tak memberikan kesempatan sedikitpun kepada musuhnya
itu.
Namun entah sudah berapa
banyak tinju Letn.Angga menghantam wajah pembelot tersebut hingga cipratan
darah dan memar-memar sudah mulai memenuhi wajah pembelot tersebut.
"Huh..huh..huh..",
letn.Angga terengah-engah menghentikan pukulannya, dirasanya pukulan demi
pukulan yang dilancarkannya sedari tadi telah membuat musuhnya itu tak berdaya,
apa lagi dilihat dari memar-memar yang didapat musuhnya tersebut bak maling
sepeda motor yang dihakimi
"..huh..huh.., jaga
bicaramu.. Ingat itu.. Huh..", ucap Letn.Angga terengah-engah.
Namun tiba-tiba saja
kedua tangan pembelot tersebut meraih leher Letn.Angga dan mencengkramnya.
"Ekkkhhh..!",
rintih Letn.Angga terkejut.
"Apa..? Sebaiknya
kau lihat dulu siapa yang menjadi musuhmu..!", seru pembelot tersebut
sambil mendorong tubuh Letn.Angga ke depan, kemudian dengan cepat pembelot
tersebut menyambungnya dengan tendangan telak ke dagu Letn.Angga.
"BUKK..!"
"Ekkkhhhh!"
Letn.Angga kembali
merintih, ia terpental kebelakang dan terhempas ke lantai dengan keras,
Seketika rasa ngilu menggerayangi tubuhnya. bagaimana tidak, lehernya
dicengkram dengan kuat dan kemudian ia lemparkan, sesaat tubuhnya mengambang
beberapa inci dari lantai secara tiba-tiba sebuah tendangan telak mendarat di
dagunya.
"..ekkhhh..shhhh...",
rintih Letn.Angga sembari berguling memegangi dagunya.
"Sshh...si
sial..", gumam Letn.Angga sembari berusaha meraih pistolnya.
" Maaf.. Ini baru
kita mulai, jangan terburu-buru..", ucap pembelot tersebut sembari
langsung merebut pistol Letn.Angga dan melemparnya jauh ke lantai.
"..kuharap kau
menikmati ini..", ucap pembelot tersebut sembari memegang kaki kanan
Letn.Angga.
"Sshhh"
Letn.Angga berusaha
sedikit meronta untuk melepaskan kakinya, namun ia belum bisa berbuat banyak
karena rasa ngilu di dagunya masih melemahkannya.
"Hiaaaa..!"
Tiba-tiba saja pembelot
tersebut mengayunkan Letn.Angga yang tergeletak dilantai ke arah dinding.
" Whummmp..BUKK!!!"
"Sshhkkkk..aaaaaaahh!",
rintih Letn.Angga.
"Heheh.., bagaimana?
Kau menikmatinya..?!?! ", ucap pembelot tersebut, dengan masih mencengkram
kaki kanan Letn.Angga ia menyeret Letn.Angga dan langsung saja kembali
menghantamkan tubuh Letn.Angga ke arah dinding.
"BUKKK...!" "Arkkkhhhh...!",
teriak Letn.Angga ketika tubuhnya serta kepalanya menghantam dinding, darah
mulai menetes dari hidung dan mulutnya.
"Letnan..!",
seru Sers.Tari menyadari itu dari Radionya.
"Hmm..?"
Teriakan Sers.Tari
membuat pembelot tersebut menyadari radio tersebut dan segera mengambilnya dari
letn.Angga.
"Apa ini..? Heheh..
Mainan anak-anak..!", ucap pembelot tersebut sembari membanting dan
menginjak radio tersebut.
"Sial..! Kita
kehilangan kontak dengan komandan!", seru Sers.Dimas yang tengah adu
tembak dengan musuh didepannya.
"Bagaimana
ini..?", tanya Sers.Haryo.
Sementara dilain sisi
Sers.Tari juga tampak panik.
"Sungguh sialan..!
Apa yang sedang terjadi disana..?!?", gumam Sers.Tari.
"Hmm.. Kau tau..,
prajurit itu bukan hanya tentang membunuh atau dibunuh..", ucap pembelot
tersebut yang kali ini menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Letn.Angga
yang tampak tak berdaya.
"..tapi tersiksa
atau terpaksa.., kita akan tersiksa jika kita terpaksa.., atau kita akan
terpaksa jika tersiksa.. Kau mengerti maksudku..?", sambung pembelot itu
lagi.
"...ekhhh...sshhh..
Persetan de..ngan..mu..", sahut Letn.Angga.
"Ohh?? Nyalimu besar
juga bocah..", ucap pembelot tersebut yang langsung mencengkram kepala dan
seragam Letn.Angga dan menarik memaksanya untuk bangkit.
"Heheh..kau
tau?...", tanya pembelot tersebut.
Sejenak Letn.Angga
berusaha melirik musuh yang kini berada di belakangnya.
"..aku suka
pekerjaan ini..!", seru pembelot tersebut sembari mendorong tubuh
Letn.Angga dan mengarahkan kepala Letn.Muda tersebut ke sebuah jendela kaca.
"KRAshhhhkkk..!!!!"
Pecahan kaca berhamburan
jatuh dari lantai dua bangunan tersebut.
"Disana..",
gumam Sers.Tari menyadari itu dan berusaha melihat melalui teropongnya.
"SHhh...",
rintih Letn.Angga merasakan sejumlah kecil pecahan kaca menancap di wajahnya.
"..heheh.. Apa
menurutmu akan tampak sedikit sadis jika seorang prajurit dilempar dari sini
hah..?", tanya pembelot tersebut sembari menunjukkan keadaan dibawah yang
penuh dengan tumpukan besi tua berserakan.
"..disana.. Huh...
Semoga saja..", gumam Letn.Angga di dalam hati seperti mengharapkan
sesuatu.
"Apa kau sudah
selesai..?", tanya Letn.Angga.
"..apa..? Heheheh..
Kau lucu juga prajurit..", sahut pembelot tersebut.
"..tentang ucapanmu
sebelumnya itu.. EkHhh...apa kau tak ingin menariknya kembali?..", tanya
Letn.Angga.
"Hmm? Maksudmu
tentang kepayahan satuanmu itu..? Hahahahah.. Kau berbicara seolah kau mampu
melakukan sesuatu..", sahut pembelot tersebut.
"..baiklah... Kalau
begitu matilah...!!!", seru Letn.Angga sembari menghantamkan kepalanya ke
arah belakang ke wajah pembelot yang berada dibelakangnya.
"Bukk..!"
"Ekhh..!",
rintih pembelot itu terkejut.
Buru-buru Letn.Angga
menundukkan kepalanya, dan secara tiba-tiba..
"Crkkk..!!!"
Sebutir peluru menembus
bahu kanan pembelot tersebut, cipratan darah melayang di udara.
Menyadari itu Letn.Angga
segera berbalik sembari mencabut sangkurnya dan kemudian mendorong tubuh
pembelot tersebut.
"Bukk..",
"Ekhhh..., tak ku
kira akan ada yang menembak... Shhh.. Dan itu membuatmu langsung menguasai
situasi ya..", ucap pembelot tersebut tergeletak dengan bahunya yang terus
mengucurkan darah.
"..hmm.. Sepertinya
begitu..", sahut Letn.Angga pelan, Tampak sebilah sangkur digenggamannya
menempel erat dileher pembelot tersebut.
"..tentang penembak
tersebut.., bagaimana kau tau ia akan menembak meskipun kau tak menggunakan
radio untuk berkomunikasi..?", tanya pembelot tersebut mengingat saat-saat
sebutir peluru menembus bahunya sesaat sebelumnya.
"Itu mudah.. aku
jelas sudah tau pasti dimana posisi tiap orang dari timku, tentang tembakan
itu.. Aku tak memberi tanda atau apapun.. Aku hanya mencoba peruntungan dengan
berharap ia akan melihat dan bersiap untuk menembak.. Itu saja..", ucap
Letn.Angga.
"..peruntungan ya..?
Tapi sepertinya kalian tim yang hebat..", sahut pembelot tersebut tanpa
menatap Letn.Angga, begitu juga dengan Letn.Angga yang tak menatapnya.
"..sebenarnya ia
bukan tim ku.., baru kali ini kami bekerja sama.., ia penembak dari kopassus..
Bukan dari Raider ku..", sela Letn.Angga.
"Kopassus..? Orang
itu Elang kah..?", tanya pembelot tersebut yang kali ini tampak
menggerakkan tangannya berusaha meraih sesuatu dari sakunya. "Elang..?
Tidak, aku tak mengenal nama itu..!", sahut Letn.Angga semakin merapatkan
sangkurnya melihat pergerakan tangan musuhnya, tampak tajam sangkur miliknya
telah sedikit melukai leher musuhnya itu.
" Bukan dia ya..?
Baguslah.. Akan sangat memalukan jika prajurit kopassus seperti ia melihatku
dihabisi olehmu..!!!", ucap pembelot tersebut sembari mengeluarkan sebutir
peluru dan berniat menusukkannya ke wajah Letn.Angga.
"CRSHHHH...srkkkhhh..errkhhh..."
Namun terlebih dulu
Letn.Angga menyayat lehernya.
Darah seketika mengalir
dilantai, menyeruak keluar dari balik urat-urat dibalik daging, Letn.Angga
telah menghabisi musuhnya, tampak sorot tajam matanya tak berniat melihat sosok
musuh yang kepalanya hampir terpisah dengan tubuhnya tersebut.
"..semoga tuhan
mengampuni dosaku dan dosamu.." Gumam Letn.Angga yang segera beranjak
bangkit.
"..huh...syukurlah...",
gumam Sers.Tari melihat Letn.Angga dari teropongnya yang muncul sembari
mengacungkan jempol.
"Tembakan
bagus..!", ucap Letn.Angga segera melangkah pelan, meraih senjatanya yang
tergeletak dan kembali melanjutkan misi utamanya.
Sejenak ia menyadari
terdengar seseorang datang ke arah dimana ia berada sekarang.
" Klekk.."
Letn.Angga mengokang
senapan MP-5 nya.
Tak lama kemudian tampak
seorang bersenjata yang terlihat terkejut menyadari temannya telah tergeletak
tak bernyawa, ia tak menyadari keberadaan Letn.Angga yang menunduk bersiap di
balik pintu.
"Siapa yang
melakukan ini pada komandan..!!! Bajingan..!!!", teriak orang itu.
"Komandan..? Tak
salah lagi mereka adalah orang-orang terlatih..", gumam Letn.Angga sembari
keluar perlahan dari persembunyiannya.
"Hmm.."
Letn.Angga mengarahkan
pijera-nya ke kepala orang tersebut.
Orang tersebut terkejut
ketika ia membalikkan badannya tampak seseorang telah bersiap menembaknya.
"Kau yang membunuh
komandan? Hah?!?", tanya orang itu penuh emosi, tampak hendak seperti akan
menggunakan senapan AK-47 yang disandangnya.
"Hmm mm.."
Letn.Angga menggelengkan
kepalanya bermaksud memberitahu agar musuhnya itu tak menggunakan senjatanya.
Namun sepertinya musuhnya
tak menghiraukannya.
"..** SENSOR **
kau..!!!!", teriak orang itu sembari hendak menembak Letn.Angga.
"Crshhhhkk...!"
Sebuah lubang dikepalanya
segera menghentikan pergerakannya, orang itu pun langsung tersungkur di lantai.