Part 63 " Versus "
10 oktober 2012
Lanud Abdurrahman Saleh,
16.40
Sejumlah tim medis tampak
buru-buru menjemput ketiga penumpang yang baru saja diturunkan.
"Sepertinya kita
sudah sampai...", ucap Adam.
"..tapi aku tak
melihat jendral..", sahut Mahda sembari berusaha melirik sekitar terduduk
di tandu yang di angkat oleh dua orang prajurit tim medis, berbarengan dengan
dua buah tandu yang juga membawa kedua temannya.
"..apa yang
dilakukannya sehingga tak menyambut kedatangan kita..?", sambung Mahda.
"..mungkin ada
sesuatu yang sedang dikerjakannya.., mungkin saja sesuatu yang sangat
penting..", sela Elang berusaha menjawab peranyaan teman-temannya sembari
meraba luka-luka di tubuhnya yang ia dapatkan saat bertempur dengan US Green
Berets.
"Aku rasa begitu..,
tapi lihat ini.. Ini sangat mengganggu..", ucap Mahda sembari
memperlihatkan sebotol infus yang harus ia pegang sendiri.
"Heheh.. Sudahlah,
setidaknya kita sudah disini", sahut Adam.
"..hmm.. Dan
sepertinya kita akan beberapa hari menginap di hotel bintang 7 ..",
sambung Adam.
"Maksudmu rumah
sakit militer?", tanya Mahda.
tapi Adam hanya
menjawabnya dengan tertawa kecil.
Sementara Elang hanya
diam menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya di tengah lalu lalang
orang-orang yang beraktivitas di sekitar landasan terbang tersebut.
Tak berapa lama tampak
sebuah minibus ambulan hijau berplat militer datang mendekati posisi mereka,
membuka pintu bersiap membawa mereka ke rumah sakit untuk menjalani perawatan
intensif.
Tim Srigala Letn.Angga,
Sejumlah pasukan pembelot
yang berada di dalam berniat melepaskan tembakan ketika melihat sosok
Letn.Angga yang berlari hendak menuju anak tangga di sudut ruangan tersebut,
namun niat mereka digagalkan oleh serentetan tembakan dari Sers.Dimas dan
Sers.Haryo.
"Tash..tashtatatatatatsh..!"
Tembakan kedua Sersan
dari satuan Raider itu membuat pasukan pembelot tak memiliki kesempatan untuk
menembaki Letn.Angga.
"Bagus..!
Pertahankan posisi kalian..!", ucap Letn.Angga yang telah menaiki tangga
melalui radionya.
"Baik ndan..!
Berhati-hatilah..!", sahut Sers.Dimas.
"Haryo.., kau awasi
sisi kiri..! Sepertinya mereka bisa mendapat celah disana..!", seru
Sers.Dimas sembari menunjuk ke arah dimana terdapat sudut yang sedikit tak
terjangkau oleh pengawasan mereka karena ruangan ini cukup luas dengan
onggokan-onggokan mesin-mesin tua yang terdapat di beberapa sudut.
"Aku mengerti..,
kita tahan mereka sampai komandan kembali..!", sahut Sers.Haryo.
"Ndan.., saya harap
anda bergerak cepat..", ucap Sers.Dimas.
"..pertahankan saja
posisimu dimas..", jawab Letn.Angga sembari bergerak mengendap memeriksa
sejumlah ruangan kecil berpintu yang berbaris di lorong yang dilaluinya.
"Tretretretretretret..!!!"
Pasukan pembelot membalas
tembakan secara bertubi-tubi namun terarah ke arah Sers.Dimas dan Haryo.
"Teng..! Teng..!
Tang..!"
Desing butiran peluru
yang menghantam besi bibir pintu dimana dua orang Sersan Muda berada membuat
kedua sersan itu harus membenamkan seluruh tubuh mereka dibalik dinding.
"Tatatatatatsh..!"
Sers.Dimas berusaha
membalas dengan melepaskan tembakan acak.
"Sial..! Tembakan
mereka sangat akurat..! Haryo..! Berhati-hatilah sebelum bergerak..!",
seru Sers.Dimas mengingatkan.
" Ya.. Aku tau,,
sepertinya mereka benar-benar orang-orang terlatih..!", sahut Sers.Haryo
yang masih berlindung dari tembakan musuh.
Sementara itu keadaan
diluar juga tak jauh berbeda, atau malah lebih buruk lagi.
Beberapa anggota polisi
terkapar diterjang peluru-peluru yang dilepaskan pasukan pembelot yang bertahan
di depan bangunan, sejumlah anggota polisi lainnya bahkan tak berani menjangkau
posisi dimana terdapat sejumlah rekan-rekan mereka yang tertembak mengingat
tembakan terarah pasukan pembelot sangat menyulitkan mereka, bahkan beberapa
orang dari pasukan pembelot berusaha merangsek maju setelah mereka menyadari
ancaman dari Sersan Tari sudah tak ada.
"Markas..! Markas..!
Kalian mendengarku..! Markas masuk..! Markas..!", seru Sers.Tari berusaha
menghubungi markas.
"Huh.. Apa yang
kakak lakukan disana? Dimana semua orang..??", gumam Sers.Tari dalam hati.
"Letnan..! Kau
mendengarku?", sambung Sers.Tari.
"..sangat jelas
Sersan..", sahut Letn.Angga pelan sembari mengendap perlahan menyusuri
lorong dihadapannya.
".. Markas tak
mendengarku.. Apa yang sedang terjadi..?", tanya Sers.Tari.
"Entahlah.., aku
juga tak bisa memastikan apa yang sedang terjadi disana, hanya saja yang jelas
kita harus menyelesaikan ini segera..", jawab Letn.Angga.
"Tapi apa yang harus
kulakukan..? Aku diperintahkan untuk diam disini.., sementara dihadapanku
pembantaian mungkin akan segera berlangsung..!", jelas Sers.Tari
menjelaskan apa yang dilihatnya.
"..kita tak ada
pilihan lain.., itu bukan prioritas kita, untuk kerahasiaan misi ini tetaplah
tenang Sersan.. Tahan posisimu..", ucap Letn.Angga mengarahkan.
"Tapi..,
polisi-polisi itu terpojok.., sangat jelas mereka tak berkutik menghadapi
musuh..!", sela Sers.Tari.
"Apapun yang terjadi
Perintah harus tetap kita patuhi Sersan.., musuh bukanlah orang sembarangan..
Aku dan anak buahku juga merasakan ketegangan didalam sini, jadi kuharap kau
mengerti dengan prioritas misi kita,keluar..", ucap Letn.Angga menyudahi
percakapannya.
"Sial..!",
gumam Sers.Tari, tangannya bergetar menggenggam erat senapannya menahan amarah
dan emosi yang bergejolak menyaksikan satu persatu satuan polisi jauh disana
roboh diterjang peluru-peluru musuh, tampak jelas perbedaan skill tempur
disana, namun Sersan cantik dari satuan Kopassus itu tak bisa berbuat apa-apa,
hanya diam menyaksikan ajang pembantaian yang sedang berlangsung.
"Mereka mungkin
datang untuk menyelamatkan anda..", ucap seorang pembelot yang berada
disebelah Sir Robert.
"..lalu apa yang
akan kalian lakukan..? Membunuhku..?", tanggap Sir Robert dengan tenang.
"Heheheh.. Mungkin
itu bisa jadi pilihan terakhir kami, idemu sungguh bagus tuan..", sahut
pembelot tadi.
"Kalian tunggu
disini.., keributan sangat terdengar jelas dibawah.., aku akan memeriksa
sebentar..", ucap pembelot itu lagi kepada dua orang rekannya sembari
melangkah mendekati pintu untuk keluar.
"Dan jika terjadi
sesuatu yang buruk. ... Bunuh dia..", sambungnya lagi sembari melirk Sir
Robert yang hanya duduk diam.
"Baik.. Kami
mengerti..", sahut salah satu dari dua rekannya tersebut sembari mengokang
senjatanya.
"Treteretereteretertet..!!!"
Tembakan demi tembakan
pasukan pembelot yang berada diluar terus menggema, sementara itu tampak
sejumlah anggota satuan polisi yang tersisa berusaha berlindung dibalik
mobil-mobil mereka yang juga sudah remuk dihantam timah-timah panas
pembelot-pembelot yang merangsek mendekat, mereka mendekat dan merampas senjata
dari polisi-polisi yang roboh disekitar mereka dan tak hanya itu, mereka segera
mengeksekusi polisi-polisi yang terluka dan masih hidup itu dengan tembakan
dikepala.. Dan lagi-lagi Sersan Tari hanya bisa diam menyaksikan itu semua dari
balik teropongnya, sesekali jarinya bergetar ingin segera menekan picu
mengikuti titik bidiknya yang juga sesekali ia tempatkan tepat di tubuh-tubuh
pembelot-pembelot tersebut.
"Dimas..Haryo,
bagaimana keadaan disana?", tanya Letn.Angga.
"..ramai ndan..! Ku
harap anda bergegas..!", sahut Sers.Dimas yang sesekali membalas tembakan
meskipun tengah berlindung.
"..tunggu
sebentar.., pertahankan posisi kalian.. Dan. . ."
" !!! "
Letn.Angga tak
melanjutkan kata-katanya begitu ia menyadari sebuah tangan berusaha meraih
lehernya, dan tampak juga tangan lain dengan sebilah pisau meluncur ke arah
perutnya.
" !?!?
Sial..!!!", gumamnya dalam hati sembari berusaha menghindar dengan
mengayunkan popor senapannya ke arah belakang dimana kemungkinan seseorang yang
ingin menyergapnya berada, sembari menggerakkan tubuhnya meloncat kebelakang.
"Bukk..!"
Gerakannya berhasil
menggoyahkan kedua tangan yang menyerangnya secara tiba-tiba itu, dan jelas
seseorang berada tepat dibelakangnya, namun belum selesai sampai disitu..ketika
tubuhnya menghimpit tubuh seseorang itu ke dinding dibelakang mereka, lagi-lagi
seseorang tersebut kembali mengayunkan pisaunya ke arah perut Letn.Angga.
" Sial..!",
Dengan sigap Letn.Angga
menahannya dengan tangan kanannya membuat senapannya lepas dari genggamannya
dan terjatuh dilantai, sementara tangan kirinya berusaha menahan tangan musuh
yang lain yang kini merangkul lehernya berusaha untuk meremukkan lehernya.
"Ndan..! Ndan..! Apa
yang terjadi..!?!?", seru Sers.Dimas mendengar keributan di radio
Letn.Angga.
"Sial..! Terjadi
sesuatu dengan komanda dan kita tak bisa membantunya..", ucap Sers.Haryo
yang juga menyadarinya.
"Ini benar-benar
menyebalkan...!", geram Sers.Dimas.
"Heheh..ternyata
kalian yang datang kesini..", ucap seorang pembelot yang menyergap
Letn.Angga.
"Shh..!"
Letn.Angga terus berusa
lepas dari cengkraman orang tersebut dengan mendorong tubuhnya ke arah dinding
lain mencoba menghantamkan tubuh musuh yang berada dibelakangnya ke dinding.
Namun setelah beberapa
kali ia melakukannya, seperti tak berpengaruh sama sekali.
"Huh..huh..huh..",
Letn.Angga terengah-engah.
" Heheheh.., Raider
ya? Apa aku benar..?",tanya pembelot tersebut.
"Hiaaaahhh..!!",
Letn.Angga berhasil
melepaskan dirinya dengan meronta sekuat tenaga.
"Huh..huh..huh,,
sepertinya kau tau banyak..", ucap Letn.Angga terengah-engah.
"kau akan banyak tau
jika kau banyak melihat.., lebih baik pulang tinggal nama dari pada kalah dalam
pertempuran.. Begitukah yang sering kalian ucapkan..?", sahut pembelot
tersebut, tampak tubuhnya tinggi dan berbadan besar..tak heran Letn.Angga
sebelumnya sangat kesulitan melepaskan diri dari cengkramannya.
"Cihh.. Dilihat dari
kemampuan kalian membantai polisi-polisi disana.., kau dan juga teman-temanmu
mungkin pernah berseragam sepertiku bukan..? Tapi aku rasa sebaiknya kau diam
disana..", ucap Letn.Angga sembari hendak mencabut sebuah pistol yang
berada di paha kanannya.
"Hei..hei..
Bagaimana kalau kita lakukan ini dengan jantan..?", tanggap pembelot
tersebut sambil membuang pisaunya dan meletakkan senapan AK-47nya yang sebelumyan
tersandang dibahunya ke lantai.
"Aku rasa tidak..,
heheh mengapa kau lepaskan senjatamu? Itu adalah tindakan bodoh..", sahut
Letn.Angga yang sudah mengarahkan pistolnya ke pembelot tersebut.
"..oh begitu ya..?
Kau tak mencerminkan keangkeran simbol di lenganmu itu.., Raider.. Kabarnya
kalian cukup hebat dalam situasi apapun..", ucap pembelot tersebut dengan
tenang.
"Aku tak begitu
memperdulikan itu.., sekarang angkat angkat tanganmu dan berbaliklah, atau kau
akan kehilangan isi kepalamu..", sahut Letn.Angga.
".. Katakan saja kau
takut.., seorang anggota Raider takut terhadap musuh yang tak bersenjata..,
heheheh..sungguh ironi.., Raider pengecut..!", ucap pembelot tersebut.
"..jaga bicaramu..
Atau kau akan ku buat menyesal telah mengatakan hal itu..", sahut
Letn.Angga.
"Letnan.. Jangan
terpancing, segera tembak saja ia,, letnan..!", seru Sers.Tari yang
ternyata sedari tadi mendengarkan radio Letn.Angga.
"Oh maaf.., apa yang
kukatakan tadi..? Raider Pengecut? Atau Raider Penakut?", ucap pembelot
itu lagi.
"Letnan..!",
seru Sers.Tari.
"Aku bilang jaga
bicaramu..", sahut Letn.Angga tak menanggapi Sers.Tari.
"..bagaimana kalau..
Raider Pengecut dan sampah penakut!?!?", ucap pembelot itu memanas-manasi
Letn.Angga. "Aku bilang hentikan..! ", teriak Letn.Angga sembari
menyarungkan kembali pistolnya dan melompat menerjang ke arah pembelot
tersebut.