Part 62 " Drama "
Keadaan ruang komando tersebut mendadak hening, semua mata tertuju pada sosok Mayjen Maryadi yang tengah diamankan oleh beberapa pengawal.
"Heh..heheh",
Mayjen Maryadi tertawa kecil, membuat semua orang bingung melihat gelagatnya.
"Apa yang anda
tertawakan...?", tanya Letn.Vega.
"Hmm...".
Sesaat Mayjen Maryadi
dalam posisi tertunduk dengan dekapan beberapa pengawal mengangkat wajahnya
mengarahkan pandangannya ke arah Letn.Vega.
" Kau sungguh hebat
Letnan... Ekhh..", ucap Mayjen Maryadi pelan.
".. Jika saja aku
memiliki orang sepertimu.. Mungkin saat ini..negara busuk ini telah terbebas
dari belenggu kepemerintahan bodoh ini..", sambung Maryadi lagi.
"..? Dari
sepengetahuanku, kau adalah prajurit yang setia.., mengutamakan tugas dibanding
apapun.., mengapa kau bisa sampai sejauh ini?", sela Jend.Purnomo seakan
tak menyangka pria paruh baya itu yang dikenal atas loyalitas tingginya telah
berkhianat hingga seperti ini.
"Maryadi... Ada apa
denganmu..? Bukankah aku mempercayaimu untuk menjagaku..?", tambah
Pres.Darwin sembari mengingat masa-masa dimana Maryadi beserta anak buahnnya
menjaganya saat sedang berlangsung pertemuan disuatu aula.
Presiden Darwin juga
mengenang dimana Maryadi memilih memimpin operasi pengamanan atas dirinya
ketimbang berlibur dihari raya agama bersama keluarganya,
Dan Presiden Darwin juga
mengingat saat Maryadi bersama para anak buahnya dengan sigap menjadikan tubuh
mereka sebagai tameng hidup ketika keadaan sedang kacau disuatu pertemuan.
"... Mengapa kau
melakukan ini..?", tanya Pres.Darwin lagi.
"Huh... Kau selalu
seperti itu, bertanya disaat kritis.. Kau tak pernah tau keadaan di luar
istanamu.., kau hanya tau keadaan didalam pemerintahanmu.., kau tak pernah
mencoba peduli pada sekitarmu!", sahut Mayjen Maryadi setengah membentak.
Pres.Darwin memberi tanda
kepada para pengawal untuk melepaskan dekapan mereka karena Maryadi juga sedang
terluka.
"..kau merasa
memahami bangsamu.., padahal kau tak pernah paham apa yang membuat orang-orang
menentangmu..!", tambah Maryadi.
Sejenak Pres.Darwin
teringat sosok PM Ghoydee yang dihianati Panglimanya, kemudiam ia teringat
Jend.Irwan yang juga tampak sepertinya jua akan menghancurkan negaranya
sendiri.
"Maryadi..! Jaga
bicaramu..!", sahut Jend.Purnomo.
Namun Pres.Darwin menyela
dengan menganggukkan kepala pertanda tak apa-apa.
"Lalu menurutmu..apa
kesalahanku sebagai pemimpin?", tanya Pres.Darwin.
Sementara itu Letn.Vega
tampak memperhatikan.
"Kesalahanmu..?!?
Kesalahanmu adalah terlalu sibuk dengan kekuatan negaramu!! Kau tak pernah
memikirkan apakah rakyatmu sudah makan siang hari ini?!?! Hah..!?!? Apa
menurutmu kekuatan negara itu lebih penting dari kemakmuran rakyatmu!?!?",
bentak Mayjen Maryadi.
Sejenak semua tertegun
dengan ucapan Mayjen Maryadi.
"Tapi, Jika itu
alasanmu berkhianat.. Itu sungguh tidak masuk akal..", sela Jend.Purnomo.
"Hmm...
Begitukah?", sahut Maryadi.
Tiba-tiba saja Maryadi
bangkit dan berbalik merebut pistol sambil menendang seorang pengawal dan
langsung mengarahkan pistol rampasannya ke arah Pres.Darwin.
Seketika keadaan menjadi
tegang, semua pengawal yang berada disana segera mengarahkan moncong
pistol-pistol mereka ke arah Maryadi.
"Tunggu...!!!
Hentikan Maryadi..! Hentikan..!", teriak Jend.Purnomo.
" Sial..",
gumam Letn.Vega.
"Semuanya...
Tenanglah...", sela pres.Darwin.
"Maryadi... Jika
menurutmu aku tak pantas diposisi ini, mengapa kau tak memintaku mundur sebelumnya?..",
tanya Pres.Darwin.
"Hah...? Kau selalu
berkata seolah-olah kau berwibawa dan terhormat.., asal kau tau.. Aku tak
pernah menghormatimu sejak...", sahut Maryadi yang tengah mengarahkan
pistolnya ke arah Presiden Darwin bersamaan dengan belasan pucuk pistol lain
yang mengarah pada dirinya.
"Sejak apa
Maryadi..? Ini bukanlah dirimu yang ku kenal.. Apakah gerangan yang merubahmu
hingga seperti ini?", tanya Pres.Darwin lagi.
Maryadi hanya diam tak
menanggapi.
".. Kau selalu
melindungiku.. Keluargaku.. Teman-temanku.., itu hal baik yang selalu kau
lakukan..", sambung Pres.Darwin.
"Itu sudah menjadi
tugasku..!", sahut Maryadi.
"Aku tak sedang
membicarakan tugas, aku membicarakan dirimu..! Jiwamu yang kau serahkan pada
bangsa ini..! Jika kau membenciku mengapa kau bawa negara ini dibelakang
kesalahanku..?? Mengapa kau lemahkan bumi pertiwi dimata dunia disaat seperti
ini..? Mengapa kau melakukannya..?", tanya Pres.Darwin sembari bangkit
dari tempat duduknya.
Maryadi hanya diam tak
menjawab, sementara semua orang yang berada disitu memperhatikan dengan mimik
tegang.
"Baiklah.. Mungkin
aku seperti yang kau katakan, aku terlalu sibuk dengan kekuatan bangsa ini,
sekarang...Jika kau membenciku dan menyalahkanku.. Tembak aku sekarang juga..!
Tapi aku mohon padamu.., jangan buat bangsa ini lemah dimata dunia dengan
menghianatinya..!", bentak Pres.Darwin.
"Pak
presiden!", sela Letn.Vega, namun Pres.Darwin tak menghiraukannya.
Sesaat Mayjen Maryadi
menundukan kepalanya.
"... Aku... Aku
hanya tak ingin melihat negara ini hebat di mata dunia Tapi rakyatnya
menderita...,, negara ini terlalu banyak drama hitam politik, korupsi dan yang
lainnya tak bisa dihentikan dan terus berkembang, belum lagi ekonomi yang tak
pernah stabil..", ucap Maryadi dengan mata berkaca-kaca.
Semua terhenyak
mendengarkan.
"..negara selalu
mengumbar kesejahteraan, namun rakyatnya tak pernah tau apa itu sejahtera..,
bahkan mereka lupa bagaimana rasanya.., mereka setiap hari hanya disuguhkan
drama kisruh politik, peperangan.., apa kalian tau? Itu bukanlah perwujudan
Indonesia yang ku bela selama ini..., ketika aku mencoba memahami semuanya, aku
tau ini semua berawal sejak kau duduk di singgasana kepresidenan..",
sambung Maryadi sambil menatap Prers.Darwin.
"... Negara ini
semakin kehilangan jati dirinya.., hal-hal yang di anggap mengganggu
pemerintahan segera dilenyapkan..", ucap Maryadi sembari melirik
Jend.Purnomo dan Pang.Rokhim.
"..dan ketika semua
perbuatan kita menjadi bumerang, pasti ada yang berhasil membuat negara ini
tetap di atas angin...", ucap Maryadi lagi sambil melirik Letn.Vega.
". . . Orang
ini...", gumam Letn.Vega dalam hati.
"...Darwin.. Aku
mencintai negaraku.. Dan Jika saat ini aku telah melukai indonesiaku.. Berarti
aku telah gagal.. Maka dari itu..", sambung Maryadi lagi.
Namun kali ini maryadi
menurunkan pistolnya dan menempelkan pucuk pistolnya ke kening kirinya.
"Maryadi...! Bukan
itu maksudku..! Hentikan itu Maryadi..!", seru Pres.Darwin.
".. Tidak.., aku
rasa aku sudah cukup membuat melukai indonesiaku sampai disini..", sahut Maryadi
bersiap menarik pelatuk pistol yang menempel dikepalanya..
"Darwin.., biarkan
saja ia... Ia seorang penghianat..", bisik Wapres Haryono pelan, namun
Pres.Darwin tak menghiraukannya.
" Sial...! Tidak ada
pilihan lain..!", gumam Letn.Vega sembari langsung bergerak.
"TASH..!"
"Teng..." "Tash!"
Suara tembakan
menggemama, Pistol yang di genggam Maryadi terpental sembari melepaskan sebutir
timah panas.
"Ekkhh..!"
"..
Maryadi..!", seru Pres.Darwin.
Dua orang pengawal segera
melompat meraih tubuh Maryadi yang limbung.
"...ekh..ApA yang
dilakukannya..", gumam Maryadi menyadari tangannya ditembus peluru.
"Maaf Pak.. Saya
rasa saya tak bisa membiarkan tindakan anda..", ucap Letn.Vega dengan
sebuah pistol yang masih mengeluarkan asap ditangannya.
Sementara itu tampak
Maryadi di apit oleh dua orang pengawal, tampak juga luka serempetan peluru
memanjang di samping kepalanya, juga luka tembakan di tangan kanannya.
Sepertinya Letn.Vega
sengaja menembak tangan Maryadi agar keseimbangan pistol Maryadi goyah sehingga
mnaryadi tak akan bunuh diri.
"Bagus
Letnan...", ucap Pang.Rokhim.
"Ekhhh.... Mengapa
kau lakukan itu Letnan..?", tanya Mayjen Maryadi yang tersungkur dilantai
dengan dua orang pengawal yang memeganginya.
"Panggil tim medis..
Panggil mereka cepat..!", seru Pres.Darwin sembari melangkah hendak
mendekati Maryadi.
"..ada dua alasan
yang membuat saya tak membiarkan anda mati.., pertama.. Saya ingin mengetahui
orang yang mengendalikan anda hingga sejauh ini...", jawab Letn.Vega.
"..benar.. Masih ada
seorang misterius yang berbicara dengannya di telepon..", gumam
Pang.Rokhim dalam hati.
"Kedua.. Anda adalah
bagian dari tentara nasional