Part 61 " PEMBELOT "
" Polisi???",
kaget sejumlah Eks.Kopaskhas yang berada didepan.
Dan tak lama dua sedan
polisi serta dua mobil patroli yang membawa sejumlah polisi bersenjata lengkap
telah muncul dan berhenti menyilang tak jauh dari mobil hitam yang digunakan
para Paspampres sebelumnya.
"Treteretereteret..!!!"
Segera saja para
Eks.kopaskhas tersebut menembaki satuan polisi yang sampai disana.
Mendapat sambutan meriah,
para personil polisi tersebut langsung mengambil posisi diantara mobil-mobil
mereka dan materil yang berada disekitar serta langsung membalas tembakan.
"Tratatatatat..!"
"Trteretereteret!"
Suasana semakin ricuh
dengan kehadiran pemain tambahan dari satuan polisi yang datang.
"Ini
kesempatanku..", ucap Sers.Tari melihat para Eks.kopaskhas itu seperti
lupa bahwa ada sepucuk senapan yang mengincar mereka dari kejauhan.
"Tari tahan
tembaknmu..!",seru Letn.Vega.
Sers.Tari terkejut
kakaknya menghentikannya.
"Maaf.., kenapa
kakak?? Aku mendapatkan ruang tembak yang sangat jelas..!", ucap
Sers.Tari.
"Tidak Tari, untuk
saat ini tahan tembaknmu.., kita tak ingin para polisi itu menganggap kau
adalah penembak gelap dan mengincarmu.., biarkan misi ini tetap
rahasia..", jelas Letn.Vega.
"Tapi kak..?",
sela Sers.Tari.
"Kakak bilang tahan
tembakanmu..!", bentak Letn.Vega.
"Ba..ba..baik
Letnan..", sahut Sers.Tari yang sesaat ia lupa bahwa ia dan kakaknya
sedang mengenakan seragam.
"Letnan.. Laporkan
statusmu..!", seru Letn.Vega.
"Diterima Letnan..,
kami sudah berada didalam, saat ini sedang berusaha melacak posisi target,
ganti..", sahut Letn.Angga.
"Baik, lakukan
dengan cepat Letnan.., kita tak punya banyak waktu.., dilihat dari
situasi..sepertinya tak lama lagi Gegana atau Densus polri akan sampai
disini.., saya tak ingin kita terpaksa menghadapi mereka untuk kerahasiaan misi
ini..!", jelas Letn.Vega.
"Tapi bukankah ini
untuk kestabilan negara? Polisi-polisi itu mungkin bisa diajak kerja sama..",
sahut Letn.Angga.
"Hmm...".
Letn.Vega menarik nafas pelan.
"Letnan.., apa kau
percaya pada mereka..? Bagaimana dengan para paspamres tadi..?", tanya
Letn.Vega.
Letn.Angga terhenyak,
mengingat beberaa Paspampres tadi, Paspampres yang dipercaya sebagai unit
pengamanan presiden saja mampu berkhianat pada negara ini, bagaimana dengan
yang lainnya?
"...baik.., aku
mengerti Letnan.., segera melacak posisi target, keluar..", ucap
Letn.Angga sembari memperhatikan ruangan yang berada didepannya, pandangannya
tertuju pada sebuah anak tangga yang menuju ke lantai atas.
"Dimas.. Haryo,
lindungi aku.., aku akan naik ke tangga itu, dan kalian tetaplah disini..,
tahan lokasi ini sampai aku kembali.., mengerti..!", seru Letn.Angga.
"Siap ndan..!",
sahut kedua Sersan itu serempak.
"Saya rasa
kekhawatiranmu sangat masuk akal Letnan..", ucap Pang.Rokhim.
"Terima kasih
Panglima.., tapi..", kata kata Letn.Vega terpotong dengan kehadiran
Jendral Purnomo yang memasuki ruangan diikuti presiden Darwinsyah serta Wapres
Haryono dan tampak pula Mayjen Maryadi selaku komandan utama pasukan
Paspampres.
"Terima kasih
Jendral.., Rokhim.. Segera jelaskan pada saya apa yang sebenarnya sedang
terjadi..", ucap pres.Darwin serasa tak begitu penasaran hingga Jendral
Purnomo memintanya hadir disini ditengah kesibukannya sebagai pemimpin negara
ini.
"Baik pak.., saya
akan langsung saja pada poin-poin pentingnya..", ucap Pang.Rokhim sembari
melirik Mayjen Maryadi.
"..ini perihal
operasi penyelamatan Sir Robert pak..", sambung Pang.Rokhim.
"Hmm..jadi apakah
kita telah mendapatkannya Panglima?", tanya Wapres Haryono menyela.
"Belum pak wapres..,
anak-anak kita menemukan hal yang sangat mengejutkan dilapangan.., dan saya
rasa anda akan terkejut akan hal ini..", sahut Pang.Rokhim.
"Apa itu
Rokhim..?", tanya Pres.Darwin.
"Kami menemukan
sejumlah anggota Paspampres disana.., dan mereka terindikasi bekerja sama
dengan musuh..", jelas Pang.Rokhim.
"Apa..?!?",
Pres.Darwin terhenyak.
"Pasmpampres???",
wapres Haryono seakan tak percaya dengan yang dikatakan Pang.Rokhim sembari
melirik ke arah Mayjen Maryadi.
"..apa itu sudah
dikonfirmasi kebenarannya Panglima???", Mayjen Maryadi buru-buru bertanya.
"Sudah, dan sangat
akurat..,, dan sangat jelas ada pihak yang berusaha menjatuhkan kepemerintahan
Pak Darwin saat ini..", jawab Pang.Rokhim dengan mimik serius.
"Begitukah..?
Sepertinya negara ini penuh dengan tanda tanya..", sela Pres.Darwin
sembari tersenyum kecil.
"Maaf menyela..,
tapi sepertinya anda bertanggung jawab akan hal ini Mayjen..", sela
Letn.Vega bergabung meninggalkan ruang komando misi.
Semuanya terhenyak
melihat Letnan cantik itu menunjuk ke arah Mayjen Maryadi, kecuali Pang.Rokhim
yang tampak setuju dengan pernyataan Letn.Vega.
"Letnan.. Apa
pernyataanmu ini beralasan??", tanya Jend.Purnomo menanggapi keagresifan
Letnan kepercayaannya tersebut.
"Tentu saja
Jendral.. Menurut peraturan sangat jelas ini tanggung jawab dari pemimpin
divisi.., tapi ada alasan lain...", sambung Letn.Vega.
"Hah?"
Kali ini semua melirik ke
arah Letnan Cantik tersebut sambil sesekali melirik Mayjen Maryadi.
"Alasan lain..? Apa
kau bermaksud menuduhku Letnan? Apakah kau sadar kapasitasmu menyatakan hal
seperti itu terhadapku..?", sahut Mayjen Maryadi bangkit dari tempat
duduknya.
"... Dengan segala
hormat Mayjen.. Saya sadar dengan jelas kapasitas saya menghadapi anda.., namun
penghianat seperti anda tak pantas mengatakan hal tentang peraturan dasar
jabatan kepada saya...!", sahut Letn.Vega.
"Vega..! Tahan
bicaramu.. Kau sudah sangat berlebihan..!", sela Jend.Purnomo.
"Saya mengerti
Jendral.., namun saya tak punya alasan untuk membiarkan seorang penghianat
lolos...!", sahut Letnan Vega.
"Ini sungguh
menegangkan.., tapi sepertinya kau harus punya bukti Letnan.., atau kau akan
tamat sampai disini..!", sela Mayjen Maryadi yang tampak tenang-tenang
saja.
"Yah spertinya kau
harus menjaga sikapmu Letnan.., saya sudah mendengar peranmu dalam setiap
pertempuran.., tapi itu tak bisa di ajukan sebagai acuan sekarang...",
Wapres Haryono menanggapi.
"Hmm.. Baik, saya
akan tunjukan sesuatu..", ucap Letn.Vega.
Sementara Pang.Rokhim
tampak menjadi bingung, sepertinya ia tak membahas bukti dengan Letnan Cantik
itu sebelumnya.
"Tolong
sekarang..", perintah Letnan Vega kepada seorang Prajurit operator
komunikasi.
"Baik
Letnan..", sahut prajurit tersebut sembari menekan beberapa tombol.
Tak lama terdengar
rekaman percakapan antara dua orang melalui telepon, dan salah satu suaranya
sangat mudah dikenali bahwa itu adalah suara Mayjen Maryadi yang tengah
berbicara dengan seseorang. Semua yang berada diruangan terkejut seakan tak
percaya dengan apa yang mereka dengar.
(Sfx: suara percakapan
dua orang di sekmen akhir part 59, yang ternyata adalah percakapan Mayjen
Maryadi dengan seseorang)
Seketika wajah Mayjen
Maryadi berubah pucat, meskipun ia berusaha untuk tenang tetap saja sangat
jelas terlihat ia syok akan percakapannya yang berhasil disadap.
"Saat saya
mengetahui ada sejumlah Paspampres disana.., saya meminta mereka untuk
mengawasi anda, saya meragukan mereka mau melakukan hal semacam penghiatan
tanpa perlindungan atau bayang-bayang dari atasannya", ucap Letn.Vega
menunjuk ke dua orang Prajurit operator Komunikasi utama.
"..dan tak disangka
tebakan saya benar, jika anda terlibat akan hal ini pasti anda akan menghubungi
seseorang.., malah saya mendapatkan jackpot dengan berhasil mendengar langsung
keterlibatan anda dari mulut anda.., jadi saya tak perlu repot-repot mencari
bukti lain..", sambung Letn.Vega.
" ..Maryadi!!!
Kau????", gumam Pres.Darwinsyah seakan tak percaya.
"Hmm... Tak ku
sangka, kita memiliki seorang yang cepat bertindak sepertimu Letnan..
Tapi..!!!", gumam Mayjen Maryadi yang tiba-tiba hendak mencabut pistol
dari pinggangnya.
"Tash!"
Namun seorang pengawal
Pres.Darwin lebih sigap dan terlebih dulu menembak Mayjen Maryadi.
Komandan Paspampres
tersebut tersungkur dengan luka tembakan di punggungnya, segera saja sejumlah
pengawal mendekati dan mengamankan Mayjen Maryadi.