Part 60 " Bantuan atau Ancaman? "
"Apa yang mereka bicarakan?", tanya Pang.Rokhim beranjak bangun dari tempat duduknya, sejenak ia berusaha mengkaji percakapan Letnan Angga beserta anak buahnya yang terdengar jelas di loudspeaker ruang komando tersebut.
".. Saya rasa mereka
mendapatkan sebuah petunjuk Panglima..", sahut Letnan. Vega.
"Petunjuk..?
Maksudmu Letnan?", tanya Pang.Rokhim lagi sembari mendekat dan bergabung
dengan Letnan Vega.
"..dari pembicaraan
mereka.. Sepertinya musuh merupakan orang-orang yang sangat terlatih..",
jawab Letn.Vega dengan mimik serius.
"Orang-orang
terlatih..? Seperti prajurit-prajurit pembelot? Atau menurutmu semacam yang
lain?", tanya Pang.Rokhim.
"..mungkin tepat
seperti itu Panglima, yang jadi pertanyaan adalah.. Siapa musuh kita..? Saya
hanya mengkhawatirkan jika musuh merupakan prajurit jebolan setingkat komando..itu
akan sangat menyulitkan Letnan Angga dan yang lainnya..", jelas Letn.Vega
mengutarakan kecemasannya.
"Hmm..kau benar
Letnan.., sepertinya kita harus mengirimkan bantuan..", ucap Pang.Rokhim.
"Tidak Panglima...,
itu akan memakan banyak waktu, biarkan operasi ini tetap rahasia.. Sebaiknya
kita tunggu bala bantuan tak resmi..", sahut Letn.Vega tenang.
"Bala bantuan tak
resmi? Apa Maksudmu Letnan?", tanya Pang.Rokhim tak mengerti.
".. Sepertinya ada
sejumlah warga sekitar yang mendengar keributan disana.., dan mereka
melaporkannya pada polisi setempat.. Dan sepertinya polisi sedang dalam
perjalanan..", jelas Letn.Vega sembari menunjuk seorang prajurit operator
komunikasi yang mengkonfirmasi kejadian itu.
"Hmm... Sepertinya
ini semakin rumit, bagaimana jika satuan polri menemukan para paspampres yang
tergeletak disana? Ini akan menjadi berita besar.., belum lagi kehadiran Tim
Srigala..", ucap Pang.Rokhim sambil mengacungkan jempolnya pada operator
yang berhasil menyalin komunikasi utama polri di daerah yang sedang dilakukan
operasi.
".. Kita tidak punya
pilihan lain.., misi kita adalah menyelamatkan Sir Robert meskipun keributan skala besar pasti akan terjadi.., saya akan segera menyampaikan ini pada mereka
disana..", sahut Letn.Vega sembari meraih mikropon utama di ruang komando
tersebut.
"Markas ke srigala..
Markas ke srigala.. Disini Letnan Vega, apa kalian mendengarku?", seru
Letn.Vega.
"... Diterima
Letnan.., sepertinya kami dalam maslah.., kam I kalah jumlah dan butuh
bantuan..!", sahut Letn.Angga sembari memberi kode kepada Sersan Dimas dan
Sersan Haryo untuk mengawasi sekitar sementara ia berkomunikasi dengan Markas.
"Saya mengerti
Letnan.., tunggu sejenak.. Satuan Polri akan segera sampai disana, hanya itu
bantuan kalian..!", ucap Letn.Vega.
"Polisi??? Apa
terjadi kesalahan sehingga bantuannya hanya berupa polisi dan bukan pasukan
khusus??", tanya Letn.Angga.
"Tidak Letnan, itu
bantuan tak resmi.. Polisi itu hanya ingin mengamankan keributan yang terjadi
disana.., bukan untuk memBack-up kalian..! Misi ini tetap rahasia.., lanjutkan
misi dengan cepat..!", seru Letn.Vega.
Sejenak Letn.Angga
terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"...baik, aku
mengerti.., srigala keluar..!", ucap Letn.Angga.
"Tari.. Tari! Apa
kau mendengarku?", panggil Letn.Angga.
"Sangat jelas
Letnan..", sahut Sers.Tari.
"Berikan tembakan
pengacau situasi.., beri kami ketegangan disini..!", seru Letn.Angga.
"..aku mengerti
Letnan.., bersiaplah..!", jawab Letn.Tari.
"Dimas, siapkan
flashbang..! Haryo lindungi aku 4 meter kedepan!", perintah Letn.Angga.
Sersan Haryo sejenak
melirik kedepan melihat deretan mesin-mesin rusak yang berjejer.
"Baik.., saya
mengerti ndan!", sahut Sers.Haryo sembari bersiap pada posisi menembak.
"Dimas! Tunggu
aba-aba dari ku..!", ucap Letn.Angga.
"Baik ndan!",
sahut Sers.Dimas.
"Sersan..!",
seru Letn.Angga.
"..diterima!",
sahut Sers.Tari yang sedari tadi telah bersiap menekan picu.
"Tash!..klek Tash..!
Klek Tash..!"
Sejumlah eks.Kopaskhas
yang berada dibagian depan gedung buru-buru memendam kepala mereka ketika timah-timah
panas yang dilepaskan Sers.Tari menghantam Materil-materil yang melindungi
mereka.
Sementara Eks.Kopaskhas
yang berada didalam sesaat teralihkan dengan gemuruh tembakan dari senapan
Sers.Tari.
Segera saja Letn.Angga
keluar dan berlari maju kedepan diiringi tembakan perlindungan dari Sers.Haryo.
"Tash..tash..tashtashtash..!"
Para Eks.Kopaskhas itu
mendadak terkejut mengetahui rentetan tembakan mengerah ke arah mereka.
"Dimas!", seru
Letn.Angga.
Segera saja Sers.Dimas
melemparkan Flashbang yang sedari tadi telah ia persiapkan ke arah depan.
"Teng..teng.."
Flashbang itu jatuh dan
menggelinding pelan.
"Sial..!",
gumam Letn.Angga menyadari lemparan Sers.Dimas tak sampai ke posisi dimana para
musuh berada.
Segera saja Letn.Angga
berlari dan melompat menyongsong Flashbang yang dilemparkan Sers.Dimas.
Menyadari keberadaan
Letn.Angga, para Eks.Kopaskhas tersebut segera menembaki Danru Raider tim
srigala tersebut.
"Sialan
kalian..!", umpat Letn.Angga sembari melompat meluncur dilantai dan
menendang Flashbang yang segera akan meledak itu ke arah para Eks.Kopaskhas
yang menembakinya, dan segera bersembunyi dibalik dinamo tua tak jauh darinya
dan menundukkan kepalanya, tampak Sers.Dimas dan Sers.Haryo juga menundukkan
diri mereka dibalik dinamo-dinamo tua tempat mereka berlindung.
Sesaat sejumlah
Eks.kopaskhas tersebut terkejut melihat sebuah benda terjatuh di tengah-tengah
mereka, beberapa diantara mereka yang telah menyadari benda itu adalah granat
kejut, berusaha mundur dengan cepat.
"BAMPPPP..!"
Flashbang itu meledak,
membuat sejumlah dari mereka mengalami buta sesaat dengan keperihan yang
melanda mata mereka.
"Dimas..!
Haryo..!", seru Letn.Angga sembari bangkit dan mulai menembaki sosok-sosok
Eks.kopaskhas yang pada limbung dan tanpa mereka sadari mereka telah beranjak
keluar dari persembunyian mereka.
"Tash..Tastashtashtastash.."
Peluru-peluru yang
dilepaskan Letn.Angga beberapa kali merobohkan sejumlah Eks.Kopaskhas tersebut,
sejenak Letn.Angga menepi disudut dinding untuk mengganti magazennya dan
digantikan oleh Sers.Dimas dan Sers.Haryo untuk menggempur musuh yang tampak
jelas didepan mereka.
"Tash..tastastashtashtash.."
Butiran-butiran peluru
riuh halang melintang diruangan tersebut, tak jarang desing peluru yang tak
tepat sasaran dan menghantam dinding maupan materil yang terbuat dari besi
membuat ramai ruangan tersebut.
"..perimeter..!",
seru Letn.Angga sembari bangkit maju dan berhenti dibalik dinding pembatas
ruangan tadi keruangan selanjutnya, mirip misi penggrebekan di kebanyakan game
online.
Segera saja Sers.Dimas
dan Sers.Haryo juga mengambil posisi bersembunyi di balik dinding bersebrangan
dengan Letn.Angga.
"Huh..huh..",
engah Letn.Angga sembari menikamkan Sangkurnya ke dada seorang musuh yang masih
bergerak di dekatnya meskipun tubuhnya dipenuhi luka tembakan.
"Dimas..Haryo!
Bagaimana keadaan kalian!?", tanya Letn.Angga.
"Siap.., kami tidak
apa-apa ndan..!", sahut Sers.Dimas.
"Bagaimana dengan
anda ndan?!", tanya Sers.Haryo.
"Hmm..aku tak apa..,
tetap waspada..!", ucap Letn.Angga sembari mengusap darah di lengan
kirinya, sepertinya ia terserempet sebutir peluru.
"Mereka mengacaukan
kita.., semuanya..! Berhentilah menganggap remeh..! Kita harus lebih
berhati-hati..!", seru seorang Eks.kopaskhas kepada tiga orang didekatnya,
sepertinya mereka yang berhasil lolos dari serangan kejut tim Letn.Angga.
"Sekarang giliran
kita menghabisi mereka..!, dari gerakk geriknya mereka hanya tiga orang dengan
seorang penembak jitu diluar..! Bersiaplah..!", serunya lagi.
namun ketika mereka
hendak menyerang balik sayup-sayup terdengar aungan sirene dari kejauhan yang
semakin lama terdengar mendekat ke lokasi.