Part 59 " Musuh ada dimana-mana "
Dalam gerak yang sangat lambat tampak sebutir peluru meluncur ke arah dada salah seorang dari ketiga orang dari Paspampres tersebut, sementara itu dilain sisi Tim Srigala juga tampak telah berada masuk di kawasan hangar tua, mereka adalah Letn.Angga beserta Sers.Dimas dan Sers.Haryo yang telah berada dalam posisi siap tembak dalam pergerakan mereka.
"Crkkk ! "
Seorang anggota
Paspampres roboh dengan kucuran darah di dadanya.
Sesaat kedua penjaga dan
dua Paspampres yang tersisa terkejut dan panik mengetahui salah seorang
diantara mereka roboh.
" Kita ketahuan..!
Bawa dia! Kita harus segera pergi..!", seru salah seorang Paspampres
mengajak rekannya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Tidak akan
kubiarkan kalian lolos..! Penghianat!", gumam Sers.Tari menyadari
pergerakan mereka dan segera mengokang kembali senapannya.
"Hmm?!",
Sers.Tari seperti menyadari sesuatu.
"Kalian mau menjebak
kami?!? Membawa mereka kemari hah?!?! ", seru salah seorang penjaga merasa
ini adalah semacam drama serangan untuk jebakan.
Tampak kedua penjaga
tersebut meraih senapan serbu yang mereka sandang.
"Tunggu dulu..!!!,
ini tidak seperti yang kalian kira!", teriak seorang Paspampres berusaha
meyakinkan kalau ini bukanlah rencana mereka.
" Benarkah?!? Lalu
bagaimana kalau begini??", sahut penjaga tersebut sembari mengarahkan
senapannya ke arah dua orang paspampres tersebut.
"Oh sial..!",
gumam paspampres tersebut segera melompat berlindung di balik mobilnya.
"Treteretereteret!!!"
"Teng...teng..teng
teng teng"
Butiran peluru menghantam
body mobil hitam yang digunakan para Paspampres tersebut.
"Hmm.. Maaf.. Kalian
terlihat..", gumam Sers.Tari sembari kembali melepaskan tembakan ke arah
seorang Paspampres yang terlihat jelas di titik bidiknya.
"Crrkkk!!!"
Segera saja sebuah timah
panas lagi-lagi menembus tubuh salah seorang paspampres tersebut.
"Semuanya keluar..!
Kita diserang, kau jaga tawanan kita, aku akan menghubungi bos! Cepat!",
seru seorang anggota penculik Sir Robert memerintahkan rekan-rekannya yang
ternyata tak sedikit.
"Hmm??? Mereka
datang untuk menyelamatkanku???", gumam Sir Robert dalam hati.
Sementara itu Tim srigala
yang di komandoi Letn.Angga sudah bergerak pelan mendekati pintu belakang
hangar tersebut.
" Aku rasa mereka
masih fokus pada Sersan Tari, ini kesempatan kita, bersiaplah..Kita masuk dalam
hitungan ketiga!", ucap Letn.Angga.
"Hmm"
Angguk kedua Sersan
mudanya itu.
"Satu..!",
Agak jauh didepan
terlihat kedua penjaga masih menembaki mobil yang digunakan oleh para
Paspampres tadi sembari sekali-kali mereka juga mengarahkan tembakan acak
berusaha menebak posisi Sers.Tari.
"Dua..!",
Sementara didalam hangar
dua gerombolan orang yang masing-masing terdiri dari 5 sampai 8 orang tampak
melakukan formasi, gerombolan pertama bergerak ke depan, sisanya mengarah ke
bagian belakang dimana Tim Srigala Letn.Angga berada.
"Tiga..!", seru
Letn.Angga sembari menendang pintu dan segera masuk dengan sigap dalam posisi
siaga diikuti Sers.Dimas dan Sers.Haryo.
"Sial..!!!
Berlindung...!!!", seru Letn.Angga mendadak menyadari bahwa dalam bangunan
ini segerombolan orang telah mengarahkan senjata-senjatanya ke arah timnya dari
jarak hanya belasan meter.
Sontak mereka bertiga
melompat berlindung di balik sebuah mesin dinamo yang berjejer disepanjang
ruangan belakang bangunan tersebut.
"Tretretretretrertetetetet...!!!"
Sekitaran 8 orang yang
tampaknya juga terkejut dengan kehadiran Tim Letnan Angga segera menghamburkan
puluru-peluru mereka.
"Tang tang teng ting
tang tang.."
Desingan suara peluru
menghantam lempengan besi mesin-mesin yang Letn.Angga dan lainnya gunakan untuk
berlindung, gemuruh suara itu bersatu dengan letupan senjata disertai kilatan
api dari pucuk-pucuk senjata yang jelas terlihat ditengah keadaan ruangan yang
memang remang-remang, mengingat hampir tak ada sinar matahari yang masuk.
"Tash..tashtatataatashh"
Letn.Angga berusaha
membalas dengan mengarahkan acak senapannya samabil tetap menundukkan
kepalanya.
"Hentikan..! Ini
bukan ulah kami..! Apa kalian tak bisa melihat??? Dua temanku tewas?!?!",
teriak seorang Paspampres yang tersisa ditengah gemuruh tembakan yang dilepaskan
dua orang penjaga tadi yang merupakan anggota dari para penculik Sir Robert, ia
mulai panik menyadari jumlah para penculik Sir Robert yang semakin banyak
berdatangan, belum lagi Sers.Tari yang berusaha mengeksekusinya dari kejauhan.
"Aku mohon hentikan..!!!
Buka mata kalian! Dua temanku telah tewas!!", teriak Paspampres itu lagi.
Kali ini para penculik
Sir Robert menanggapinya dengan menghentikan tembakan mereka, terlihat mereka
saling pandang dan berusaha memperhatikan sekitar sambil bersembunyi di antara
materil-materil yang ada di sekitar situ.
Tak lama Paspampres itu
keluar dari tempatnya berlindung, ia berjalan menunduk pelan mendekati para
penculik Sir Robert dengan mengangkat sebelah tangannya, sementara tangannya
yang satunya lagi tampak memegangi perutnya yang mengucurkan darah, sepertinya
sebutir peluru berhasil merobek tubuhnya.
"Lalu apa menurutmu
yang sedang terjadi sekarang..?", tanya seorang penculik Sir Robert yang
tetap menundukan kepalanya dibalik bongkahan materil besi tua.
"Mereka telah
mengetahui kita.. Ini ulah pasukan khusus..,sebaiknya kalian selamatkan
tubuh-tubuh rekanku atau rencana ini akan terbongkar..!", ucap Paspampres
tersebut.
"Apa kau bisa
meyakinkan kami??", tanya penculik Sir Robert tadi lagi.
"... Apa kau itu bodoh??
Lihat..! Dua rekanku telah tewas..! Kalian masih menganggap ini rencana
kami?!?", jawab Paspampres tersebut sembari menahan perih luka tembakan di
perutnya.
"Hmm... Itu bisa
saja terjadi, apa saja pasti dikorbankan oleh negar ini untuk sebuah keberhasilan
meskipun itu hal kecil..", ucap Penculik Sir Robert tersebut.
"...? Bagaimana kau
bisa berkata seperti itu ditengah situasi seperti ini..? Itu terdengar
gila..!", sahut Paspampres tersebut geram.
"Gila..?!? Apa
menurutmu menghianati bangsa bukan hal gila..?!? Kami sudah terlalu jauh, dan
aku bisa berkata seperti itu karena sebagian dari kami dahulunya adalah para
prajurit sepertimu..!", seru Penculik tersebut.
"Hah..? Maksudmu
kalian adalah..."
"CRRRSSSHHH!"
Sebutir peluru menembus
kepala Paspampres tersebut sebelum menyelesaikan kata-katanya.
"Berlindung..!
Mungkin sniper kopassus yang berada disana..!", seru Penculik Sir Robert
tersebut memperingatkan rekan-rekannya, tampak ia memutar matanya ke segala
arah berusaha menemukan posisi Sers.Tari.
Sementara itu dikejauhan
tampak pucuk senapan Sers.Tari masih mengeluarkan asap sisa-sisa letupan mesiu.
"Penghianat tak akan
kubiarkan bernafas di bumi pertiwi ini...!!!", gumam Sers.Tari.
"Ini...?",
gumam Letn.Angga yang melongokkan kepalanya keluar melihat situasi didepan
setelah sayup sayup suara tembakan sudah berhenti.
"Ini... Mereka bukan
segerombolan orang sembarangan...!", gumam Letn.Angga dalam hati menyadari
para musuhnya menyusun formasi dengan bersembunyi di balik dinding maupun
materil-materil lainnya dalam ruangan yang cukup luas tersebut.
"Dimas, Haryo...
Bersiaplah.. Sepertinya ini akan sulit..", ucap Letn.Angga mengingatkan
kedua Sersannya.
"aku mengerti
ndan.., jelas mereka tak mau repot-repot mendatangi kita.. Mereka menunggu kita
masuk..! Itu formasi bertahan dari serangan musuh...!", sahut Sers.Dimas.
"...serta mungkin
saja mereka sedang merencanakan sesuatu, dan itu berarti mereka pernah
menjalani latihan tempur. . !", tambah Sers.Haryo.
" . . .dengan kata
lain mereka adalah. . .", ucapan Letn.Angga terhenti, ia berusaha menebak
dalam hatinya.
Sers.Dimas dan Sers.Haryo
tampak saling pandang, sementara itu dari jauh Sers.Tari juga tampak
mendengarkan dengan mimik tegang.
Jauh dari situ...
Seseorang tampak sedang
berbicara melalui telepon di dekat tempat tidurnya, rambutnya yang mulai
ditumbuhi uban sibuk disisirnya rapi didepan cermin, tubuhnya yang dipenuhi
gumpalan lemak menandakan ia adalah seorang yang subur dan berhasil dalam
profesinya.
Sebuah seragam militer
tampak tergantung di lemari tak jauh dari tempat tidurnya, mengisyaratkan ia
adalah salah seorang petinggi militer dinegara ini.
"Bersikaplah seperti
biasa agar mereka tak curiga.., katakan saja sesuatu yang rumit.., kita hanya
perlu mengulur waktu sampai
"Lalu bagaimana
dengan anak-anak pak? Mereka sedang diserang..", sahut seseorang
diteleponnya.
"Hmm.. Tenang saja,
selama ini mereka hanya pura-pura bodoh.., sebenarnya mereka itu adalah mantan
anggota Pasukan khusus yang aku kumpulkan...", jawab seseorang tua ini
sembari tersenyum.
"Mereka sakit hati
atas apa yang mereka dapatkan dari pemerintah bodoh yang dipimpin oleh pemimpin
yang juga bodoh... Sebaiknya kau fokus pada tindakanmu nanti, tak usah
menghawatirkan anak-anak, anak-anak kita prajurit-prajurit hebat dari..",
jelas seseorang itu lagi sembari menghela nafas.
"... Dari angkatan
udara. Kopaskhas..", sambung orang tua itu sembari menutup teleponnya.