Part 58 " Semakin Rumit "
"Sersan katakan siapa mereka..!?!", seru Pang.Rokhim tegang.
"Mereka. . Setia
Waspada. . .", gumam Sers.Tari pelan.
Semua tercengak tak
bergeming mendengar perkataan Sers.Tari.
"Setia waspada..???
Jadi mereka adalah. . . ", ucap Jend.Purnomo terbata.
"Markas...
Dikonfirmasi mereka adalah anggota Paspampres..!", Sambung Sers.Tari.
Bak di sambar geledek
semua yang mendengarnya, keadaan ruang komando yang semula tegang mendadak
menjadi hening, masing-masing berusaha mencerna apa yang sedang terjadi
sebenarnya hingga terdapat sejumlah anggota Pasukan Pengamanan Presiden di
lokasi musuh.
"Ini gila..! Apa
yang dilakukan anggota Paspampres disitu???, aku tak mengira akan serumit
ini..", gumam Letn.Angga dalam hati.
"Srigala ke Markas!
Srigala ke Markas..", seru Letn.Angga.
"...Panglima, saya
tidak bisa mengatakan apa-apa untuk hal ini..", ucap Letn.Vega memegangi
keningnya, butiran keringat tampak mengalir dikening mulusnya.
".. Ini diluar
kapasitas saya, saya mohon panglima mengambil alih kendali operasi ini..",
sambung Letn.Vega lagi. ". . . ini sungguh diluar dugaan..", sahut
Jend.Purnomo yang juga tampak tak percaya. "Srigala ke Markas Srigala ke
Markas..!", suara Letn.Angga menggema di loudspeaker ruang komando
tersebut.
"Tahan sebentar
Letnan.., tahan posisi untuk sementara.., Tari, tetap awasi mereka..",
ucap Letn.Vega.
"Baik..!",
sahut Letn.Angga dan Sers.Tari serempak.
"Apa yang sedang
terjadi di markas???", pikir Letn.Angga dalam hati.
"Dimas.., kau
mendengarkan..?", tanya Letn.Angga pelan sambil menutup mikropon radio
dilehernya.
"Siap! Dengar
ndan.., sepertinya keberadaan Paspampres disana membuat kacau markas dan juga
misi ini..", jawab Sers.Dimas yang juga menutupi mikroponnya.
"Izin ndan, aku rasa
juga seperti itu..", sahut Sers.Haryo mengiyakan.
"Lalu apa yang akan
kita lakukan ndan?", tanya Sers.Dimas.
"Hmm...tidak ada,
kita tetap akan menunggu perintah selanjutnya, sementara itu tetaplah
waspada..", jelas Letn.Angga, namun dari raut wajahnya, sepertinya ia juga
tampak bingung dengan situasi saat ini.
"Purnomo, sebaiknya
kau segera menghubungi pak Presiden serta Mayjen Maryadi, komandan tertinggi
pasukan pengamanan presiden, katakan ini darurat..!", perintah
Pang.Rokhim.
"Baik Panglima..,
segera saya akan menghubungi mereka..", sahut Jend.Purnomo segera bergegas
meninggalkan ruang komando tersebut.
"Panglima...",
sela Letn.Vega.
"Tidak Letnan,
tetaplah pimpin operasi ini.., ini masih dikapasitasmu.., kita tidak tau pasti
para paspampres disana unit lapangan atau yang bertugas sebagai bodyguard
presiden, tetap teruskan..", kata Pang.Rokhim.
"Tapi panglima.. Ini
juga menyangkut keamanan Pak Darwin..", jelas Letn.Vega.
"Apakah
Maksudmu..?!?", gumam Pang.Rokhim.
"Ya Panglima..,
tidak menutup kemungkinan ada unsur lain dibalik keberadaan
"Hmm...", Pang.Rokhim
terhenyak, kecemasan Letnan cantik tersebut dirasa masuk akal.
"Panglima.., masalah
ini sungguh besar..! kita harus melakukan sesuatu segera..!", sambung
Letn.Vega lagi.
"Kau Benar Letnan..,
sebaiknya kita tunggu Presiden Darwin dan yang lainnya..", sahut
Pang.Rokhim.
"Lalu bagaimana
dengan misi Tim srigala panglima..?", tanya Letn.Vega.
"Segera perintahkan
mereka untuk segera bergerak.., lumpuhkan semua musuh, selamatkan Sir Robert..
Kita tak punya banyak waktu,
"Termasuk para
Paspampres tersebut..?!", tanya Letn.Vega.
"Ya Letnan, tidak
ada pilihan lain.., selain itu mereka juga sudah menjadi pembelot..!",
sahut Pang.Rokhim geram.
"Siap
Panglima..!", sahut Letn.Vega.
"Markas ke srigala,
markas ke srigala.., disini Letnan Vega, masuk..!", seru Letn.Vega.
"...Diterima Letnan,
Srigala mendengarkan..!", sahut Letn.Angga sigap.
"Lanjutkan misi,
diulangi.. Lanjutkan misi..!", ucap Letn.Vega.
"..hmm?!?",
Letn.Angga terkejut misi tetap dilanjutkan meskipun terdapat kawan disana.
"Mohon konfirmasi
status kawan di lokasi musuh ganti..", ucap Letn.Angga berusaha
memastikan.
"Status mereka
adalah musuh..! Diulangi.. Mereka adalah musuh..!", Seru Letn.Vega.
Sesaat Letn.Angga dan kedua
Sersan yang bersamanya saling pandang, terkejut akan apa yang disampaikan dari
markas. "Diterima.., Srigala segera bergerak, srigala keluar..!",
sahut Letn.Angga tak ingin berlama-lama memikirkannya.
"Pembelot ndan. .
.", gumam Sers.Dimas pelan mengerti.
"Yah.., perintah
tetap kita harus laksanakan siapa pun musuh yang kita hadapi, meskipun rekan
setanah air.., Sersan Tari, kau mendengar semuanya?", sambung Letn.Angga
bertanya pada Sers.Tari. "Sangat jelas Letnan..! Aku mengerti..!",
sahut Sers.Tari.
"Baiklah.., ayo
Dimas, Haryo.. Kita harus cepat..!", Seru Letn.Angga sembari bergerak dan
segera diikuti kedua Sersan muda tersebut.
"Mereka bergerak
Panglima..", jelas Letn.Vega. "Bagus.., teruskan.., lakukan saja apa
yang dirasa perlu, dan tetap utamakan keselamatan Sir Robert..!", sahut
Pang.Rokhim.
"Baik
Panglima..!", jawab Letn.Vega mengerti.
Sementara itu..
"dimana
dia..?", tanya seorang anggota Paspampres tersebut kepada salah satu
penjaga didepan bangunan hangar dimana Sir Robert ditawan.
"Dia sedang tidak
ada.., mengapa kalian datang secepat ini? Ini belum saatnya bagian
kalian..", jelas seorang penjaga yang berambut cepak tersebut, dari
posturnya sepertinya ia juga seorang unit militer.
"Kami tak punya
banyak waktu, jika mereka berhasil meyakinkan
"Kami harus segera
bertemu dengan dia.., ada pesan dari atasan kami, dan ini penting..!",
sambung Paspampres tersebut, sementara 2 rekannya tampak mengawasi sekitar. "Tapi
dia sedang tidak disini.., hanya tersisa kami dan dubes
"Diterima, Disini
Markas Sersan..", sahut Letn.Vega.
"Sepertinya ketiga
Paspampres tersebut akan meninggalkan lokasi..! Apa yang harus saya
lakukan..?!?", tanya Sers.Tari.
" ! ",
Letn.Angga juga mendengarkan dan mempercepat pergerakannya.
"Panglima?!?",
seru Letn.Vega menoleh ke Pang.Rokhim berharap mendapatkan masukan apa yang
harus dilakukan.
"Hmm. . ", Pang.Rokhim
hanya menganggukkan kepala pertanda menyerahkan seluruh tindakan kepada Letnan
Vega.
"Markas..! Apa yang
harus saya lakukan!??",Sers.Tari terys bertanya.
Sejenak Letn.Vega
mengepalkan tangannya sembari menarik nafas berat.
"Srigala, dimana
posisimu..?", tanya Letn.Vega. "Sekitar 30 meter dari lokasi target
dan sudah terlihat..!", sahut Letn.Angga.
"Bagus, perintah
eksekusi sudah jelas dari awal.., jangan biarkan mereka lolos, Tari lumpuhkan
mereka!!!", seru Letn.Vega. "Baik..!", jawab Sers.Tari sembari
mengokang senapannya dan menempatkan titik bidik teropongnya didada salah
seorang anggota Paspampres tersebut.
"Srigala..! masuk
dan temukan Sir Robert! Dan Tunggu aba-aba dari Sersan Tari..!", seru
Letn.Vega mengarahkan. "Baik..!", sahut Letn.Angga sambil menyusun
formasi bersama Sers.Dimas dan Haryo. "Sersan.. Kami bergerak
setelahmu!", ucap Letn.Angga.
"Diterima
Letnan..", sahut Sers.Tari bersiap menekan picu senapannya.
"Dimas, Haryo..
Bersiaplah.. kita lakukan dengan bergerak menusuk mendekat dari arah belakang,
lumpuhkan semua musuh yang terlihat dalam jarak tembak!", seru Letn.Angga
sembari memasang peredam di senjatanya, begitu juga Sers.Dimas dan sers.Haryo.
"TASH..!" Sers.Tari
melepaskan tembakan.