Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Part 57 " Pembelot? "

Istana Merdeka

Ruang Kepresidenan..

Presiden Darwinsyah tampak sedang membicarakan sesuatu dengan Wakilnya, Wapres Haryono, sepertinya Pres.Darwin mengajak Wapres Haryono untuk bersama-sama membahas situasi sekarang ini.

"Bagaimana menurutmu Har? Apa aku harus melakukannya sekarang?", tanya Pres.Darwin.

"... Sebaiknya jangan, kau tak harus menghubungi Dubbront terlebih dahulu.., kita tunggu saja sampai mereka mengetahui apa yang sedang terjadi..", sahut Wapres.Haryono.

"Hmm..",

"Tapi jika Dubbront tau sebelum aku yang menyampaikannya itu akan membuat ia berfikir bahwa kita yang melakukannya..", ucap Pres.Darwin.

"Yah aku tau, bukankah sebelumnya kau bilang Rokhim dan Purnomo sedang menangani ini? Sebaiknya kita percayakan pada mereka dan berharap ini akan selesai sebelum Dubbront tau..", jelas Wapres.Haryono.

"Hmm.. Sebelumnya Thailand, lalu amerika, sekarang Australia.., aku tak tau akan ada apa lagi yang mengusik bumi pertiwi kita Har", ucap Pres.Darwin sedikit mengeluh.

"Dari itu kita harus kuat dan bersatu, serta berfikir matang terhadap apapun yang ingin melukai indonesia kita..., hentikan keluhanmu.. Seharusnya aku yang mengeluh karena aku sempat dijadikan target oleh pasukan khusus Amerika..", sela Wapres.Haryono.

"Yah, kau benar.., dan Rokhim beserta jajarannya juga yang menyelesaikan itu.. Sementara aku hanya menjawab iya atau tidak..", ucap Pres.Darwinsyah mengingat kembali misi eksekusi terhadap 4 orang anggota Delta Force yang lalu.

"Seperti yang kukatakan tadi, kita harus kuat dan bersatu.., semua ada porsinya.., porsimu sebagai pengarah mereka semua untuk mempertahankan indonesia Darwin..", kata Wapres.Haryono menyemangati teman sekolahnya dulu itu yang sekarang menjadi pemimpin bangsa.

"Hmm... Seharusnya kau yang berada diposisiku Har.., aku rasa kau lebih cocok dengan segala ketenanganmu..", sahut Pres.Darwin.

"Ah.., aku rasa tidak Darwin.., aku tak akan bisa sepertimu.., kau membuat semua orang teringat kembali kepada pendahulu kita.. Ir.Soekarno dengan ketegasanmu..", puji Wapres.Haryono.

"Itu terlalu berlebihan..", sela Pres.Darwin.

"Heheh..", Wapres.Haryono tersenyum.

"Hmmm..", begitu juga dengan Pres.Darwin.

Keakraban dari dua orang pemimpin bangsa .

Sementara itu Sebuah sedan hitam tampak meluncur keluar dari Markas komando pusat dan langsung meliuk-liuk melewati beberapa kendaraan lain yang berada diruas jalan raya tersebut membawa Tim Srigala Letnan Angga.

"Markas ke Srigala.. Kalian dengar?", ucap Letn.Vega melalui radio.

"Diterima jelas dan keras Letnan..", sahut Letn.Angga

"Bagus.., kita mulai sekarang Letnan..", balas Letn.Angga.

"Siap, Srigala keluar..", sahut Letn.Angga.

"Baiklah.. Semuanya! Periksa perlengkapan kalian.., Dimas.. Berapa lama lagi kita tiba dilokasi target?", tanya letn.Angga kepada Sers.Dimas yang berada jok dibelakang bersama Sers.Tari, sementara Sers.Haryo mengemudikan mobil di jok depan bersama Letn.Angga.

"sekitar 10 menit ndan..!", jawab Sers.Dimas.

"Dan kau...", ucap Letn.Angga sembari melirik Sers.Tari yang tampak sedang mempersiapkan senjatanya.

" Hmm?", gumam Sers.Tari sembari menoleh.

"..jaga kami, aku mengandalkanmu..", sambung Letn.Angga.

"Aku mengerti Letnan..", sahut Sers.Tari.

"Oke..! Mari kita lakukan ini..!", seru Letn.Angga sembari mengokang senjatanya.

 

Jauh dari situ..

"Hey..hey..!", seru Sir Robert memanggil beberapa orang yang menjaganya, namun orang-orang itu tak menghiraukannya.

"... Kalau terus begini, Dubbront akan salah paham dan menyerang indonesia..",

"Shhh... Celakanya Aku dan Dubbront sejak awal ingin menghancurkan negara ini, tapi mengapa tiba-tiba ada pihak lain yang bisa melakukan hal semacam ini???", gumam Sir Robert dalam hati.

"Jika Amerika ini terlalu ekstrim untuk negara pengecut seperti mereka.., negara asia yang lain juga sangat kecil kemungkinannya.., apa mungkin. . .?".

"Hey pak tua..!", seorang penjaga memecah lamunan Sir Robert.

"Hmm?", Sir robert menoleh.

"Ini.., makananmu..", ucap penjaga itu sembari meletakkan sejumlah roti lengkap dengan selai dan yang lainnya.

"Makanlah.., kami ditugaskan untuk menjagamu, bukan menawanmu.., jadi anggap saja dirumah sendiri..", sambung penjaga itu lagi.

"Tentu saja jika kau tak berbuat yang macam-macam.., ataupun memikirkannya sedikit saja..", tambah penjaga itu sembari mendekatkan wajahnya dengan mimik serius, dan segera berlalu pergi.

"... Apa Darwin tak menyadari ini? Sial.. Sekarang aku berharap mereka menyelamatkanku..!", gumam Sir Robert dalam hati.

"Target 1 kilo didepan ndan..!", seru Sers.Haryo sembari menghentikan mobil mereka dipinggir jalan berbatu yang sunyi.

"Baik.., semua bersiap..", ucap Letn.Angga sembari memakai penutup wajah, begitu juga yang lainnya.

"Sersan!?", seru Letn.Angga melirik Sers.Tari.

"Aku mengerti..!", ucap Sers.Tari sembari turun dari mobil dan segera berlari menuju bangunan tua tak jauh dari tempat mereka berhenti.

"Dimas, Haryo..! Kita jalan kaki dari sini.., kita gunakan rute memutar..", perintah Letn.Angga.

"Siap ndan..!", sahut Haryo dan Dimas.

"Sersan, berikan visual jika kau sudah melihat lokasi target..!", ucap Letn.Angga kepada Sers.Tari melalui radio.

"Dimengerti Letnan..!", sahut Sers.Tari sambil terus bergerak menuju sebuah bangunan tua yang berada sudah tak jauh didepannya.

"Srigala ke markas, srigala ke markas, ganti..", ucap Letn.Angga melalui Radio.

"Diterima Srigala, laporkan statusmu.. Ganti..", sahut Letn.Vega dari Markas pusat.

"Posisi target 1 kilo didepan, dilanjutkan dengan berjalan kaki.. Mohon arahan setelahnya, ganti..", ucap Letn.Angga lagi.

"Baik Srigala.., konfirmasi pengintaian dalam radius aman sebelum masuk, ganti..", sahut Letn.Vega bersama Pang.Rokhim dan Jend.Purnomo disebelahnya dengan wajah tegang.

"Mereka telah disana..?", gumam Pang.Rokhim.

"Ya panglima, sejauh ini semua sesuai rencana..", sahut Letn.Vega.

"Diterima.., Srigala keluar..", ucap Letn.Angga sembari menutup radionya.

"Ayo..!", ucap Letnan Angga sembari bergerak dan langsung di ikuti oleh Sers.Dimas dan Sers.Haryo.

Ke-3 prajurit Raider itu bergerak pelan diantara puing-puing bahan bangunan yang terbengkalai, keadaan sekitar yang sunyi tersebut tetap tak membuat mereka mengendurkan kesiagaan mereka.

Sementara itu Sers.Tari tampak sedang memasang peredam dan mengatur posisi senapan SPR nya.

Sejenak ia melihat foto sebuah bangunan yang tampak dari atas dan mencoba mencari lokasi bangunan tersebut dengan binocularnya.

"Dapat..!", gumamnya ketika melihat sebuah bangunan yang persis seperti dalam foto, kemudian Buru-buru ia mulai menggunakan teropong senapannya.

"Letnan, aku melihatnya..", ucap Sers.Tari lewat radio.

Letn.Angga memberi tanda kepada 2 orang rekannya untuk berhenti sejenak.

"Diterima Sersan, konfirmasi keadaan sekitarny, ganti..", sahut Letn.Angga.

".. Terlihat dua orang penjaga didepan..,dan itu tampak seperti gudang bekas pabrik Sekitar 800 meter dari posisi anda, ganti..", jelas Sers.Tari.

"Diterima Sersan, terus pantau situasi, saya akan meminta arahan dari markas.., keluar..", sahut Letn.Angga menutup pembicaraannya.

"Tetap waspada.., Dimas, Haryo.., ayo kita terus bergerak..", perintah Letn.Angga sembari memutar knob radionya untuk menghubungi markas.

"Srigala ke markas, posisi target sudah ditemukan, mohon arahan, ganti..", ucap Letn.Angga.

"Diterima Letnan, lanjutkan pendekatan ke lokasi target, selanjutnya tetap buka komunikasi dan laporkan apapun yang terlihat beserta kondisinya.. Saya akan ambil alih dari sini", ucap Letn.Vega dari markas pusat.

"Baik Markas.., komunikasi dibuka..", sahut Letn.Angga sembari memberi tanda kepada Sers.Dimas dan Sers.Haryo untuk tetap membuka radio komunikasinya.

"Letnan, apa kita perlu beri dukungan pasukan..?", tanya Pang.Rokhim.

"Saya rasa tidak perlu panglima, saya yakin mereka mampu melakukannya..", jawab Letn.Vega sembari melirik Jend.Purnomo.

"Yah, Angga dan yang lainnya pasti bisa melaksanakannya dengan baik..", kata Jend.Purnomo.

"Kira-kira siapa yang melakukan ini..?", gumam Jend.Purnomo lagi.

"Hmmm... Entahlah, saya yakin pihak luar ada keterkaitannya, hanya saja kita tak mengetahuinya..", sela Pang.Rokhim.

Sebuah mobil mewah tampak datang dan terparkir didepan gedung tua dimana Sir Robert disandera, dari pergerakannya mobil itu sepertinya datang dengan terburu-buru.

"Letnan, sebuah mobil datang..!", seru Sers.Tari dari radionya.

"Mobil ?!?",gumam Letn.Angga.

" baik, tetap awasi Sersan, dan buka radiomu segera..! Kita akan diarahkan markas pusat langsung..!", sahut Letn.Angga semakin mempercepat langkahnya bersama Sers.Haryo dan Dimas.

"Baik..", ucap Sers.Tari.

"Diulangi.., sebuah mobil datang dan berhenti didepan lokasi target..!", ucap Sers.Tari.

"Disini Markas.., Sersan..jelaskan situasinya..!", sahut Letn.Vega.

Sejenak Sers.Tari men-Zoom teropong senapannya.

" 3 orang turun dari mobil tersebut..! Dan...", seru Sers.Tari melihat melihat dari teropongnya.

"Dan apa Sersan..?!?!", tanya Letn.Vega.

"..mereka...", gumam Sers.Tari.

"Mereka apa Sersan..?!? shhh...Apa yang kau lihat Tari..?!?", tanya Letn.Vega agak panik.

"Apa yang dilihatnya..?", gumam Letn.Angga menyimak pembicaraan tersebut.

"Letnan, dimana posisimu..!?", tanya Letn.Vega.

"Siap.., beberapa menit lagi mendapatkan visual langsung..!", sahut Letn.Angga sambil terus bergerak dengan cepat bersama yang lainnya.

"Tari, apa yang kau lihat..?!?", tanya Letn.Vega lagi.

"Mereka..yang turun dari mobil itu berseragam tentara Nasional Indonesia..", ucap Sers.Tari pelan.

Semua orang yang mendengarkan mendadak terkejut.

"Apa..?!?", kaget Pang.Rokhim.

"Sersan, bisakah dikonfirmasi kebenarannya..!?!", tanya Pang.Rokhim mendekat ke mikropon utama didekat Letn.Vega.

"Sangat jelas Panglima.., mereka orang kita juga..", sahut Sers.Tari.

" Sial..!!!", ucap Pang.Rokhim.

"Hah? Apa yang terjadi? Pembelotkah..?", gumam Letn.Angga dalam hati mendengar percakapan tersebut.

"Markas.., bagaimana ini..? Apa kita akan membunuh sesama..?!?", tanya Letn.Angga menyela dan menghentikan langkahnya.

Sejenak Letn.Vega menarik nafas perlahan untuk menenangkan diri.

"Tahan sebentar Letnan.., Tari.. Bisakah kau lihat emblem mereka..??", pinta Letn.Vega kepada adiknya itu.

Sers.Tari segera memfokuskan penglihatannya ke arah emblem ketiga orang yang tampak tengah mengobrol dengan dua orang penjaga yang ada disana.

Semuanya menunggu dengan hening laporan Sers.Tari, sesekali masing-masing dari mereka berusaha menebak dari satuan mana para pembelot tersebut.

"Markas..", ucap Sers.Tari.

"Ya Sersan.., apa yang kau lihat..??", tanya Pang.Rokhim tegang.

"Mereka dari. . .", ucap Sers.Tari pelan.

Semua henyak mendengarkan.

 

"Mereka tentara dari satuan. . ."