Part 56 " Segera dimulai "
"Jendral, bagaimana dengan prajurit lain yang akan kau ajukan untuk misi ini? Kita tak punya banyak waktu..", tanya Pang.Rokhim pada Jend.Purnomo.
" baiklah kalau
begitu.., segera kirim mereka.. Lakukan dengan baik, saya percayakan ini pada
kalian semua, berjuanglah..", sela Pres.Darwin sembari berniat
meninggalkan ruang komando tersebut.
"Siap Pak
pesiden..!", sahut Pang.Rokhim beserta Jend.Purnomo dan Letn.Vega
serempak, Orang nomor satu dibumi pertiwi itupun segera meninggalkan mereka
diikuti para pengawalnya dengan sedikit terburu-buru mengingat Pres.Darwin
hendak segera menghubungi PM Dubbront.
Tak lama kemudian
Sers,Tari telah kembali masuk ke ruang komando tersebut.
"Izin panglima,
Sersan Tari melapor untuk kesiapan bertugas..!", seru Sers.Tari dalam
posisi bersiap.
"Baik Sersan..,
laporan diterima.. Jendral..?", sahut Pang.Rokhim sembari menunggu
penjelasan Jend.Purnomo tentang anggota tambahan untuk misi pencarian dan
penyelamatan Sir Robert Hawkins, Kedubes
"Yah Panglima,
mereka sedang dalam perjalanan kemari.. Kurasa beberapa menit lagi akan
sampai..", ucap Jend.Purnomo.
"Letnan.., bagaimana
kita akan memulainya? Kita tak memiliki informasi tentang kejadian
sebelumnya..", tanya Pang.Rokhim.
"Siap Panglima..,
baik panglima, barusan saya menghubungi penghubung unit mata-mata disekitar
kantor kedubes, mereka mengira itu adalah tindakan dari unit Sandi Yudha
sehingga mereka membiarkan saja penculikan itu terjadi.., namun mereka sempat
mencatat plat mobil tersebut..", jawab Letn.Vega sambil membolak-balik
dokumen yang baru saja ia buat.
"Hmm.., begitu..
Bagus.. Sebaiknya kita segera mencari tau dimana terakhir kali mereka
terlihat..", ucap Pang.Rokhim sembari melirik seorang petugas informasi
tak jauh dari mereka.
"Siap panglima,
segera saya kerjakan..", ucap Petugas tersebut sigap.
"Minta otorisasi
kamera pengawas lalu lintas kepada Polri lalu ke polantas, katakan ini perintah
langsung D-1..!", seru Pangl.Rokhim.
"Siap panglima, beri
saya 5 menit..!", sahut petugas tersebut segera mengotak-atik peralatan
komputer didepannya.
"Panglima.., ini
jelas misi perbandingan, jika kita berhasil menemukan Sir Robert, ada
kemungkinan Musuh akan melakukan suatu tindakan berbahaya seperti melukai
sampai membunuhnya.., sebaiknya ini kita klasifikasikan menjadi misi
pengintaian", ucap Jend.Purnomo memberi saran.
"Hmm... Itu benar,
Letnan.. Bagaimana menurutmu..?", sahut Pang.Rokhim melanjutkan ke
Letn.Vega.
"Saya setuju dengan
pendapat dari Jendral Purnomo, untuk selanjutnya sepertinya kita tidak punya
kesempatan untuk berfikir menangkap mereka yang menculik Sir Robert, tidak ada pilihan
lain selain eksekusi ditempat demi keselamatan Sir Robert, penangkapan atas
dasar untuk informasi harus kita jadikan prioritas ke-3 setelah penyelamatan
dan keselamatan personil..", kata Letn.Vega menjelaskan.
"...benar,
keselamatan Sir Robert harus kita utamakan..", sela Jend.Purnomo.
Namun tak lama berselang
tampak tiga orang berseragam lengkap memasuki ruang komando tersebut.
"... Mereka telah
tiba Panglima..", ucap Jend.Purnomo menyadarinya.
"Sersan Haryo,
Sersan Dimas, dan juga Letnan Angga.. Mereka dari satuan Rider panglima..,
namun mereka ini adalah mantan anak didik saya.., saya rasa mereka cocok untuk
misi ini..", jelas Jend.Purnomo.
"Siap.., kami siap
untuk melaksanakan tugas..!", sahut ketiga prajurit itu serempak.
"Hmm.., baguslah..,
saya tak ingin membuang waktu lagi.., sembari menunggu informasi sebaiknya
jelaskan secara rinci misi ini pada mereka..", ucap Pang.Rokhim.
"Baik panglima..,
Vega.. Jelaskan pada mereka..", pinta Jend.Purnomo.
Letn.Angga tampak
mengerutkan dahinya mengetahui timnya akan diberikan briefing oleh seorang
Letnan wanita.
"Letnan? Apa kau
meragukan wanita ini..?", tanya Jend.Purnomo mengetahui gelagat
Letn.Angga.
"Emm.., siap tidak
Jendral..!", sahut Letn.Angga sigap, namun tetap saja setengah pikirannya
tak percaya terhadap kemampuan Letn.Vega dihadapannya, setelah begitu banyak
briefing yang telah dilalui timnya baru kali ini seorang Letnan Wanita
memberikan briefing pada timnya.
"Bagus, Vega..
Silahkan..", sambung Jend.Purnomo.
Selanjutnya Letn.Vega
segera bangkit berdiri dari tempat duduknya sembari tersenyum.
"Baik
Jendral..", sahut Letn.Vega.
"Baiklah kalau
begitu, sebelumnya saya akan memberikan sandi untuk tim kalian,
"serigala".., dengan Letnan Angga sebagai komandan regu..",
sambung Letn.Vega.
"Siap.. Dimengerti..!",
sahut Letn.Angga beserta yang lainnya serta Sers.Tari.
"Bagus.., saya telah
membaca data kalian dari Jendral Purnomo.., kalian ahli dalam penyergapan,
pengintaian, dan sabotase.., namun kali ini target kalian adalah kedubes
Australia yang diculik oleh pihak tak dikenal.., ini adalah misi rahasia..,
kalian tak akan mengenakan seragam, kita lakukan ini dengan sangat hati-hati..
kalian juga akan mendapat dukungan dari Sersan Tari dari Kopassus unit 2
sebagai penembak jitu, ingat misi kalian adalah misi penyelamatan..,
keselamatan sandera menjadi prioritas utama bahkan dari keselamatan kalian
sendiri, kalian mengerti..!?", jelas Letn.Vega.
"Sersan Tari..,
bagaimana keadaanmu..? apa kau siap akan misi ini?", tanya Letn.Vega masih
menghawatirkan keadaan adiknya itu.
"siap, saya baik
saja Letnan..!", jawab Sers.Tari sedikit menebar senyum kepada kakaknya
itu.
"Kedubes Australia?
Apa yang sedang terjadi?", gumam Letn.Angga dalam hati.
"Siap..
Mengerti..!", sahut mereka serempak.
"Lapor panglima..!
Maaf menyela sebentar.., dari data yang saya terima objek musuh terakhir kali
terlihat di tenggara kota jauh dari pemukiman..!", sela petugas informasi
yang ditugaskan sebelumnya.
"Bagus.., bisakah
kau dapatkan lokasi tepatnya..?", tanya PangRokhim.
"Siap.. Bisa panglima,
saya akan gunakan satelit..", sahut petugas tersebut.
"Kalau begitu
lakukanlah dengan cepat..!", perintah Pang.Rokhim.
"Siap
panglima..!", sahut petugas tersebut.
"Letnan.., langsung
saja ke inti misi ini.., kita tak punya banyak waktu..", pinta Pang.Rokhim
sembari melirik Letn.Vega.
"Baik
panglima..", sahut Letn.Vega mengiyakan.
"Baik.., kali ini
kalian "srigala" harus melakukan evaluasi posisi dan situasi terlebih
dahulu dan laporkan ke pusat sebelum bertindak.., Sersan Tari akan mendukung
kalian dari jauh, ingat.. Jangan buru-buru bertindak sebelum
diperintahkan..", jelas Letn.Vega.
"Izin bertanya
Letnan..!", sahut Letn,Angga sembari mengangkat tangannya.
"Silahkan
Letnan..", ucap Letn.Vega mempersilahkan.
"Kenapa kita tak
langsung saja menerobos masuk..? Seningga tak ada kesempatan musuh untuk
melakukan sesuatu..", ucap Letn.Angga.
"Hmm.. Itu terlalu
berbahaya Letnan.., ingat.. Yang mereka culik adalah kedubes
"Jadi maksud anda
"Belum Letnan, namun
itu tak akan bertahan lama, maka dari itu kestabilan situasi sekarang
tergantung pada kalian semua..", jelas Letn.Vega.
"Baik.. Kami
mengerti Letnan..", sahut Letn.Angga mengangguk.
"Dapat..!
Panglima..saya mendapatkannya..! Mobil yang diduga membawa kedubes Australia
terparkir didekat sebuah bekas pabrik Es jauh dari pemukiman..!", seru
petugas informasi sembari membawa selembar foto satelit yang didapatnya.
"Hmm..? Kerja
bagus..! Sebaiknya kalian segera bersiap..!", ucap Pang.Rokhim.
Jauh dari situ..
Pesawat TNI AU, tujuan
Jakarta..
"Hmmm...sepertinya
aku lapar", ucap seseorang yang terbaring disebuah tandu dengan tubuhnya
yang dipenuhi balutan perban.
"Kau tak tertidur
Adam..?", tanya Mahda menyahut ocehan rekannya tersebut.
"Aku lapar bagaimana
aku bisa tidur? Hey tolong carikan aku makanan..", sahut Adam sembari
meminta tolong pada 2 orang prajurit medis yang menjaga mereka.
"Sepertinya kita ada
dipesawat..", ucap Elang pelan.
"Hey.., ternyata kau
juga bangun..", seru Mahda.
"Benarkah? Aku kira
kita sedang berada dalam bus.., pantas aku tak mendengar riuh jalan
raya..", sahut Adam.
"Sepertinya kau baik
saja Adam..", sela Mahda menanggapi Adam yang terus berbicara.
"Baik saja..? Ini
menyakitkan tau.. Aku hanya tak menghiraukannya..", jawab Adam sembari
menunjuk sejumlah perban di tubuhnya dan sebuah selang infus ditangannya.
"Kalau itu aku juga
punya..", sela Mahda sembari menunjukan lengannya yang terkait selang
infus.
"Sudahlah..,
sepertinya pesawat ini akan mengantar kita ke jakarta.., sebaiknya kita
beristirahat..", ucap Elang sambil merapikan balutan perban ditubuhnya.
"Itu ide
bagus..,", sahut Mahda.
"Bagaimana aku
beristirahat jika aku lapar..? Apa kalian tak lapar?", sahut Adam.
"Akan Semakin lapar
jika kau terus mengoceh..", ucap ELang.
"Hahaha.. Itu
benar..!", sahut Mahda tertawa.
"Hmm.. Mengapa
perasaanku sungguh tak enak..???", gumam Elang dalam hati, pikirannya
berusaha menerawang akan hal apa yang sedang terjadi diluar