Part 55 " Tanda Tanya "
Markas Pusat,
Keadaan di ruang utama
komando tiba-tiba saja gempar dengan kabar penculikan terhadap kedubes
"Apa..?!", seru
Pang.Rokhim terkejut.
Tampak Jend.Purnomo serta
Letn.Vega juga terlihat terkejut.
"Penculikan ini baru
beberapa jam yang lalu terjadi pak.., pihak intelijen mengatakan Sir Robert
dibawa dengan Suv hitam berplat pribadi..", jelas seorang petugas yang
beberapa saat lalu datang dan menjelaskan peristiwa penculikan kedubes
"Ini sangat
berbahaya..! Apakah ini tindakan kita..?!?", tanya pang.Rokhim lagi.
"Belum bisa
diketahui pak, unit BIN tak mungkin mengambil langkah seperti itu, karena ini
diluar kapasitas kami..", jawab petugas tersebut yang ternyata penghubung
dari Badan Inteligen
Sesaat Pang.Rokhim
melirik Jend.Purnomo.
" ... Saya juga tak
akan mungkin mengambil tindakan seperti itu panglima..", ucap Jend.Purnomo
mengerti maksud Pang.Rokhim meliriknya mengingat ia merupakan kepala unit
intelijen dari TNI.
"Maaf pak.., saya rasa
kita patut untuk cemas, sepertinya ada oknum yang ingin perang benar-benar
terjadi..", sela Letn.Vega.
Semua yang ada diruangan
itu tampak tercengang mendengar perkataan Letn.Vega.
"..lalu kira-kira
siapa mereka..? Ini tindakan yang jelas akan membuat perang segera
terjadi..", seru Pang.Rokhim, tampak butiran keringat menghiasi keningnya,
sepertinya ia sangat khawatir akan apa yang terjadi jika Australia mengetahui
ini.
"... Saya tidak bisa
menebak pak.., dan jelas kita buta akan siapa yang melakukan ini.., dari segala
peristiwa yang telah terjadi tak ada yang bisa dikaitkan dengan peristiwa
ini..", ucap Letn.Vega sembari menundukkan kepala, sepertinya 'Sky
Brand'-nya kali ini pun tak bisa sedikitpun menebak siapa oknum dibalik
penculikan Sir Robert. Tampak kecemasan meliputi wajah semua orang yang berada
diruang komando tersebut, namun tiba-tiba beberapa orang berseragam hitam masuk
kedalam ruangan tersebut bersama sejumlah prajurit yang berseragam PDH TNI.
"Presiden
Darwin..??", guman Jend.Purnomo dalam hati.
Yah, sesaat kemudian
orang nomor satu dibumi pertiwi masuk keruangan tersebut, dari raut wajahnya,
sepertinya ia sedang dalam keadaan gusar, seketika semua yang ada diruangan
tersebut berdiri.
"...saya ingin
penjelasan tentang kejadian beberapa waktu yang lalu.., saya ingin ini segera
diselesaikan..!", ucap Pres.Darwin tak menghiraukan petugas yang
mempersiapkan kursi untuknya duduk, sepertinya kabar penculikan itu cepat
beredar.
"Maaf pak.., kita
tidak bisa menyimpulkan apa yang sedang terjadi..", sahut Pang.Rokhim
sesekali melirik Letn.Vega, berharap Letnan pintar itu mampu menyimpulkan apa
yang sedang terjadi, sementara Letnan Vega terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Apa kalian sedang
bercanda..?!?", seru Pres.Darwin sembari memukul meja.
Keadaan sejenak berubah
hening, sepertinya semua terkejut melihat Presiden Darwin yang gusar akan hal
ini, mengingat sebelumnya tak sekalipun mereka melihat Pres.Darwin benar-benar
emosi.
"Izin bicara pak
presiden..", ucap Letn.Vega memecah keheningan.
Pres.Darwin sejenak
mengarahkan pandangannya ke Letnan Vega, terbesit dipikirannya teringat akan
sosok Letnan Jenius yang berperan besar pada konflik dengan
"Silahkan
Letnan..", sahut Pres.Darwin mempersilahkan.
"Terima kasih pak..,
sebenarnya saya masih belum bisa menyimpulkan sepenuhnya, namun ada beberapa
hal yang harus kita uraikan dan mencari solusi tindakan secepatnya..",
kata Letnan Cantik itu.
"Saya yakin ini
bukan tindakan dari pihak dalam, alasannya.. Tidak mungkin hal ini terjadi
tanpa persetujuan dari Panglima Rokhim dan dari pak presiden sendiri.., tapi
tetap tak menutup kemungkinan ada sebuah organisasi dalam negri yang
bertanggung jawab akan hal ini..", tambah Letn.Vega.
"Tunggu Vega.., apa
maksudmu ada yang berniat mengadu domba kita dengan
"Kurang lebih
seperti itu Jendral.., lebih tepatnya ingin perang sungguh benar-benar
terjadi.. Meskipun tak jelas apa keuntungannya buat mereka", jawab
Letn.Vega.
"Letnan, sebelumnya
kau katakan kemungkinan ada sebuah organisasi dalam negri yang melakukan ini..?
Apa itu tidak berlebihan..?", tanya Pres.Darwin sembari duduk dikursi yang
sedari tadi dipersilahkan seorang pengawalnya.
" Ya pak.., misalnya
saja unit militer kita yang bergerak sendiri.., kalaupun itu kecil
kemungkinannya dan bisa dikatakan tidak mungkin, bisa saja organisasi dalam
negri yang digerakkan oleh pihak luar, Atau . . .", jawab Letn.Vega.
"Atau apa
Letnan..?", tanya Pres.Darwin.
".. Atau memang
pihak luar sendiri yang melakukannya..", jelas Letn.Vega melanjutkan
perkataannya.
ketegangan terasa
memenuhi ruang komando utama tersebut, tak ayal membuat Presiden Darwin dan
yang lainnya tampak semakin cemas.
"Bagimana dengan
Amerika?", tanya Pang.Rokhim.
"Saya rasa Terlalu
kecil kemungkinannya jika mereka yang melakukan ini Panglima, mereka tidak akan
berani melakukan tindakan agresif setelah pasukan hebat mereka kita
kalahkan..", sahut Letn.Vega.
"Menurut saya semua
yang dikatakan Letnan Vega benar...", kata Jend.Purnomo.
"Amerika pasti sudah
berhati-hati untuk melakukan sesuatu terhadap kita, Sebaiknya kita segera
membentuk tim untuk mencari tahu siapa yang melakukan hal ini..", tambah
Jend.Purnomo lagi.
"Tidak hanya itu
Jendral.., kita harus segera mengirim unit untuk mencari keberadaan Sir Robert
Hawkins, dan juga meyakinkan PM Dubbront bahwa ini bukan tindakan kita meskipun
akan sulit..", sahut Letn.Vega.
Jendral Purnomo tampak
mengangguk setuju.
"Tapi dilihat dari
situasi saat ini.., sepertinya akan angat sulit untuk pihak
"Izin pak..",
Seseorang tiba-tiba
muncul di tengah-tengah pertemuan mendadak tersebut.
"Siapa kau..?",
tanya Pang.Rokhim.
"Izin panglima, Maaf
panglima, saya lancang masuk kemari.., saya tidak tau sedang berlangsung rapat karena
petugas diluar tak mencegah saya masuk..", jawab seseorang itu yang
ternyata adalah Sers.Tari, ia sedikit gugup.
Namun Letnan Vega segera
menyadari itu adalah adiknya.
"Maaf panglima, dia
adik saya..", sela Letn.Vega sembari melirik ke arah Sers.Tari.
"Izin pak.., Sersan
Tari dari unit 2 Kopassus melapor, dan mohon diterima atas kelancangan
saya..", ucap Sers.Tari berdiri sigap.
"Diterima.., dan
jangan ulangi lagi hal seperti ini..", sahut Pang.Rokhim sembari melihat
ke arah Letnan Vega memaklumi.
"Tunggu.., kau dari
Kopassus..?", tanya Pres.Darwin.
"Siap.. Benar pak
Presiden..", jawab Sers.Tari sigap.
"Rokhim, bagaimana
kalau kita tugaskan ia dan beberapa orang lagi untuk mencari Sir Robert,
bersamaan dengan itu saya akan mencoba berbicara dengan Dubbront..", ucap
Pres.Darwin.
"Baik pak
presiden..", sahut Panglima langsung mengiyakan arahan Presiden Darwin.
"Purnomo? Bagaimana
dengan tim yang berangkat ke papua..? Kita butuh tim yang bagus untuk bersama
Sersan muda ini..", tanya Pres.Darwin.
"Maaf pak presiden,
menurut informasi.. Mereka saat ini sedang dalam keadaan kritis setelah
bertempur dengan Green berets Amerika..", jawab Jend.Purnomo.
"Tapi saya bisa
mengajukan beberapa orang lain untuk misi ini..", sambung Jend.Purnomo.
"Kuharap mereka
baik-baik saja, saya tak ingin kehilangan prajurit-prajurit hebat seperti
mereka.. Baik.., kalau begitu segera kita lakukan secepatnya.., saya akan
bersiap untuk berbicara dengan Dubbront meskipun sangat kecil kemungkinan ia
akan percaya padaku..", ucap Pres.Darwin. Semua yang ada diruangan itu
mengangguk pertanda mengerti.
"Sersan,
bersiaplah.., tak perlu menghubungi komandanmu.., ini misi rahasia dan kau
berada dibawah komando pusat langsung sekarang..", ucap Jend.Purnomo
melirik Sers.Tari.
"Siap..! Dimengerti Jendral..!",
sahut Sers.Tari sembari memberi hormat, tampak ia melirik Letnan Vega kakaknya.
Letnan Vega hanya menganggukkan kepalanya, dibalas dengan senyuman oleh
Sers.Tari yang sesaat segera meninggalkan ruangan tersebut untuk segera
bersiap. Sementara itu sebuah Suv hitam tampak terparkir didekat sebuah Hangar
yang dipagari pagar kawat jauh dari pemukiman penduduk, Suv yang membawa Sir
Robert Hawkins, Kedubes
"Siapa kalian..?!
Sepertinya ini bukan tindakan resmi..!", tanya Sir Robert yang terduduk
disebuah ruangan dengan empat orang yang menjaganya, ia menyadari bahwa ia
tidak dibawa ke markas militer
"Hmm.. Kau terlalu
banyak bertanya pak Robert..", sahut seseorang yang tiba-tiba muncul.
"Siapa mereka. .
Dari perawakannya mereka seperti orang
"Katakan siapa
kalian..?! Kalian tau ini melanggar peraturan internasional..!", seru
Sir.Robert setengah berteriak.
"Heheheh.. Aku tak
perduli dengan itu.., sebaiknya anda tak banyak lagi bertanya.., anda hanya
perlu diam disini.., semua kebutuhan anda akan aku sediakan..", sahut
seseorang tadi dari balik bayangan gelap, tampak nyala bara api rokok yang
dihisapnya.
"Jadi begitu..,
sepertinya mereka hanya menahanku untuk mengadu domba
"Jika anda berfikir
ini akan membuat
"Sudah lama aku
menunggu saat ini.., hahahahah.., aku sudah tak sabar untuk melihat kedua
sahabat lama bertengkar..", sambung seseorang itu lagi.
*siapa mereka? *sahabat
lama? Presiden Darwin dan PM Dubbront kah?