Part 54 " Begin "
Markas Pusat,
"Pasukan di garis
luar telah menemukan mereka..?!", seru Jend.Purnomo.
"Yah, itu sudah
dikonfirmasi kebenarannya.. Dan saya kira ini merupakan suatu hal yang bisa
dibanggakan, meskipun ini tak bisa publikasikan..", sahut Pang.Rokhim.
"Lalu apakah mereka
semua selamat?", tanya Jend.Purnomo sembari melirik Letn.Vega yang tampak
senang mendengar berita keberhasilan Elang dan yang lainnya.
"Hmm.. Mengenai hal
itu, belum bisa dipastikan.. Sebab pada kenyataannya mereka semua dalam keadaan
kritis..", jelas Pang.Rokhim.
"Kritis..?",
sela Letn.Vega yang raut wajahnya berubah penuh kecemasan.
"Yah.., hanya
sebatas ini informasi yang bisa kita dapatkan mengingat keadaan disana belum
stabil..", sahut Pang.Rokhim.
Sejenak Letn.Vega dan
Jend.Rokhim terdiam, pikiran mereka berkecamuk berharap tak terjadi apa-apa
pada Elang dan yang lainnya.
Sementara itu seorang
wanita berseragam PDH TNI tampak baru saja turun dari sebuah angkot dan
langsung berjalan menyusuri trotoar dekat dengan Markas pusat tersebut.
Sers.Tari, berjalan pelan
segera memasuki area markas pusat komando, logo dan brevet yang tertera
diseragamnya tampak membuat beberapa prajurit berpangkat Sersan yang bertugas
menjaga pintu masuk Markas besar tersebut tak begitu berani mengajukan banyak
pertanyaan, hanya sekedar menegur sapa dan memberi hormat dan dibalas dengan
ramah oleh Sers.Tari.
"Kakak pasti akan
sangat terkejut dengan kehadiranku dikantornya.., aku juga akan menghadap
Jendral untuk mengetahui perkembangan kasus Elang.., huhhh..", gumam
Sers.Tari dalam hati.
Kedubes Australia,
Jakarta.
Sir Robert Hawkins tampak
sedang menerima telepon, sepertinya ia mendapat telepon langsung dari negara
asalnya
"Maaf Rosh.., apa
ini sudah mendapatkan persetujuan? Aku merasa rencana ini terlalu
berbahaya..", ucap Sir Robert melalui teleponnya, sepertinya ia mendapat
telepon dari Jend.Rosh Chief dari divisi mata-mata (ASIS).
"Ya.., baiklah.. Aku
mengerti.., daratkan saja mereka kemari, setelah itu akan kucari akses untuk
memulainya, meskipun itu akan sulit.., baiklah..", ucap Sir Robert sembari
menutup telepon.
" Tab..!"
Secara tiba-tiba beberapa
orang berpakaian safari hitam masuk secara paksa ke ruang kerja Sir Robert.
"
"Maaf pak, saya
sarankan bapak segera ikut kami..", kata seseorang salah satu dari mereka.
"Apa ini
penangkapan..? Kalian tau siapa saya..?", sahut Sir Robert.
"Kami tau dengan
sangat jelas bahwa anda adalah seorang mentri
kali ini Sir Robert
sedikit tertekan melihat ekspresi mereka yang tak bergeming sedikitpun meskipun
mengetahui bahwa ia seorang mentri dari Australia.
"Sebentar.., aku
harus menghubungi negaraku..", pinta Sir Robert.
Namun segera saja salah
satu dari mereka memerintahkan rekan-rekannya untuk segera mengamankan Sir
Robert, sepertinya mereka adalah orang-orang dari divisi BIN atau Sandi Yudha
Kopassus, dilihat dari potongan rambut mereka yang tak semuanya cepak
mencitrakan aparat militer, menunjukan mereka adalah unit mata-mata.
"Hey..! Apa kalian
tidak berlebihan..?! Katakan..! Apa alasan kalian menangkapku..??!?",
tanya Sir Robert sembari berusaha melepaskan cengkraman mereka.
"Kami sudah
mengamati anda.., tentu anda tau tentang tewasnya orang-orang berkebangsaan
Amerika itu
Mendengar itu Sir Robert
terdiam dan pasrah dirinya dibawa oleh mereka.
Tak berapa lama kemudian,
Sir Robert Hawkins telah dibawa pergi oleh mereka menggunakan Suv hitam yang
langsung melaju kencang ketika keluar dari halaman Kedubes tersebut menuju
jalan raya, sementara para petugas yang menjaga pintu gerbang hanya diam tak
bisa berbuat banyak.
"Hmm..?
"Dari gerak
geriknya, itu mungkin inteligen kopassus.., hmm..kurasa aku harus mulai
bergerak sekarang..", gumam orang tersebut yang tak lain adalah Heru.
Dan segera saja ia memacu
mobilnya berniat mengikuti Mobil-mobil hitam tadi.
Di lain tempat..
Kediaman Jendral Irwan.
Di beranda rumahnya
Jendral.Irwan tampak sedang menerima sejumlah dokumen dari seorang berpakaian
militer yang langsung buru-buru pergi setelah menyerahkan dokumen tersebut.
Segera saja Jend.Irwan
masuk dan langsung membuka map Dokumen tersebut.
"Hmm..? Sepertinya
aku pernah melihat mereka semua..", gumam Jend.Irwan begitu melihat isi
dokumen tersebut yang menampangkan tiga buah foto yang berseragam militer.
" Dia..?!?!",
ucap Jend.Irwan mengenal jelas salah satu foto dari ketiga foto tersebut.
"Sepertinya dewi
fortuna kali ini sedang berpihak padaku..hehheh...., aku harus segera memberi
tahu bocah tersebut..", Gumam Jend.Irwan tersenyum sinis sembari buru-buru
mengambil ponselnya.
" ..tut..tut.."
Dilain sisi ternyata
Jend.Irwan menelpon Heru.
"
"Mengenai misi
itu.., aku sudah mendapatkannya..", kata Jend.Irwan.
"Misi..?",
sejenak Heru teringat akan perubahan misi yang baru mereka dapat 2 jam yang
lalu, yaitu misi mencari data akurat tentang operasi pembunuhan Sir Malloney.
"Secepat itukah anda
mendapatkannya..?", tanya Heru.
"Heheh.., meskipun
aku sedang dinonaktifkan.., aku tetaplah seorang jendral, masih banyak kolegaku
di pusat..", jawab Jend.Irwan tertawa.
"Baiklah, segera
kirimkan padaku..!", ucap Heru.
"Baiklah..,
ingat..setelah ini aku keluar dari sini.. Aku tak ingin terjerumus lebih dalam
lagi.., kelihatannya keadaan sedang tak begitu bagus sekarang..", kata
Jend.Irwan yang tak ingin lagi menjadi spion Amerika.
"Baiklah, aku
mengerti.. Aku tak akan mengganggumu lagi dari sekarang.., oke, kalau begitu
segera kirimkan data itu kepadaku..", sahut Heru.
"Tentu saja..",
jawab Jend.Irwan sembari menutup teleponnya dan buru-buru menuju komputernya.
Begitu juga dengan Heru
yang mengurungkan niatnya untuk mengikuti Mobil yang membawa Sir Robert, ia
segera menepikan mobilnya dan segera membuka laptopnya.
Buru-buru ia membuka
Emailnya.
"Dia lagi...",
gumam Heru melihat dokumen yang dikirimkan oleh Jend.Irwan yang menampilkan
foto Elang, serta Mahda, dan Adam.
"Kali ini kau tak
akan lolos..", Ucap Heru sembari menatap tajam foto Elang.