Part 53 " Giliran Australia? "
09 oktober 2012
06.15
"Ayo.. Bertahanlah..
Kita akan segera pulang..!", ucap Mahda tertatih-tatih.
"Sebaiknya kau juga
harus bertahan..", sahut Elang.
"Sudahlah kalian
berdua.., aku rasa aku melihat sesuatu didepan
Tampak kelelahan amat
sangat menyergap mereka, dari warna kulit mereka yang tampak sangat pucat hingga
seperti tak ada darah yang mengalir dibalik kulit mereka.
Betapa tidak, sudah 8 jam
lebih mereka berjalan dengan keadaan penuh luka, entah latihan macam apa yang
mereka jalani dahulu hingga mereka bisa bertahan hingga sejauh ini, mungkin
semangat mereka yang mengikat erat nyawa mereka dari malaikat maut.
Mereka masih menyusuri
hutan lebat di kawasan pegunungan di ujung negara ini..
"Sudah Adam, kau
jangan banyak bicara.. Kau..", ucap Mahda.
"Hey, aku tak apa..
Lebih baik kita lebih menghawatirkan keadaannya..", sela Adam melirik
Elang.
"Sudahlah.. Ini
hanya akan membuang-buang tenaga jika kita terlalu banyak bicara..", sahut
Elang yang sepertinya mulai hilang kesadaran.
"Kau benar..",
seru Mahda.
Sesaat mereka bertiga
roboh kehabisan tenaga, mereka terkulai bersama tergeletak tak berdaya ditengah
hutan tersebut.
"Sial... Ekhh..
Sepertinya kita akan mati disini", gumam Adam terengah-engah.
"Huh..sshhh, aku
ingin menyela kata-katamu, tapi aku tak punya alasan..", sahut Mahda.
"Sebaiknya kita
jangan menyerah..", ucap Elang.
"Huhh.. Yah, aku
juga ingin begitu, tapi.. Kurasa Aku mulai kehilangan kesadaranku..",
sahut Mahda.
"Aku juga..",
tanggap Adam.
"Huh.., akhirnya..
Kita selamat..", gumam Elang terbaring sembari berusaha melihat sinar
matahari dari sela-sela dedaunan.
"Selamat..?...",
Mahda tak melanjutkan kata-katanya begitu ia melihat terdapat dua orang
berpakaian Tentara Nasional indonesia yang tiba-tiba muncul dari balik semak
belukar.
"Yah.. Kurasa itu
bala bantuan kita..", sahut Adam yang segera pingsan.
"Yah, itu
bagus..", gumam Mahda yang juga telah kehilangan kesadarannya.
"Mereka penumpang
kita..!!!", teriak salah satu dari 2 orang prajurit yang tiba-tiba muncul
tersebut, sepertinya mereka melakukan pengendapan untuk memastikan bahwa Elang
dan yang lainnya adalah target Evakuasi mereka.
Sesaat kemudian sejumlah
prajurit bermunculan dari balik pohon dan semak belukar dan segera berlari
mendekati Elang dan yang lainnya.
Sementara Elang juga
mulai menutup matanya karena kesadarannya juga mulai hilang.
"Medis..! Cepat bawa
mereka..!!!", teriak salah satu dari mereka yang sepertinya adalah
komandan regu mereka, dilihat dari perlengkapan dan posisi Mereka, sepertinya
mereka tak menuruti perintah untuk menunggu di garis luar, namun sepertinya
mereka memutuskan merangsek masuk dan tak bisa menahan amarah mengetahui rekan
mereka sedang bertempur didalam sana.
Pentagon, Amerika
Serikat.
"Sial..!",
Presiden Frank memukul meja dengan keras, wajahnya memerah serta urat-urat
dikeningnya menonjol, sepertinya ia sedang dalam emosi tinggi setelah
mengetahui Jend.Bannett telah kehilangan para prajurit terbaik Green
Berets-nya, sementara Jend.Bennett sendiri tampak tegang sekaligus terkejut
seakan tak percaya ia telah kehilangan tim Kapt.Sherman.
" memalukan..!
Sungguh tak bisa ditoleransi..!", ucap Pres.Frank, tampak beberapa orang
disekitarnya hanya diam membisu.
"Pak
presiden..", seseorang menyela.
"Apa..!?!",
sahut Pres.Frank membentak.
"Perdana mentri
"
"Saya tidak tau..,
beliau hanya ingin berbicara dengan anda..", jawab Murphy dengan seorang
petugas kenegaraan yang memegang telepon disebelahnya.
Sejenak Pres.Frank terdiam
seperti memikirkan sesuatu.
"Baik, berikan
padaku..", ucap Pres.Frank.
Sir Murphy segera
mengambil telepon dari petugas tersebut dan langsung menyerahkannya kepada Pres
Frank.
"Hmm.. Ya,
hMm..", gumam Pres.Frank.
Berbicara dengan PM
Dubbront, Ntah apa yang disampaikan PM Dubbront kepadanya.
Sementara itu
Jend.Bannett dan Murphy tampak penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh kedua
pemimpin negara tersebut.
"Hmmm",
Pres.Frank terlihat semakin tegang setelah menerima telepom langsung dari PM
Australia tersebut.
"Murphy..",
ucap Pres.Frank sembari menyerahkan kembali teleponnya ke petugas tadi.
"Ya pak
presiden..", sahut Murphy.
"Inteligen Australia
mengetahui kekalahan prajurit-prajurit kita..", kata Pres.Frank melirik
Jend.Bennett.
"Lalu pak..?",
tanya Murphy.
"Dubbront menawarkan
sesuatu pada kita..", jawab Pres.Frank.
"Sesuatu..?",
sahut Murphy.
"Ya.., dan aku perlu
pendapatmu tentang hal itu nanti.., sekarang aku ingin melakukan
sesuatu..", ucap Pres.Frank.
"Saya mengerti
pak..", sahut Murphy.
"Bennett..",
panggil Pres.Frank.
"Ya pak
presiden..", jawab Jend.Bennett gugup.
"Aku rasa kau tak
perlu menjelaskan apapun.., sudah sangat jelas pasukanmu dipecundangi oleh
prajurit
"Tapi aku ingin
memberimu sesuatu yang mungkin bisa kau gunakan untuk mengganti
kegagalanmu..!", tambah Pres.Frank.
"siap pak
Presiden..", sahut Jend.Bennett bersiap mendengarkan perintah.
"Segera perintahkan
mata-mata dalam tersebut untuk mencari tau data pasukan, tim, atau bahkan siapa
orang yank telah menghabisi anak buahmu.. Selengkapnya", perintah
Pres.Frank.
"Siap pak..! Akan
saya laksanakan..", sahut Jend.Bennett.
"Bagus.., setelah
ini kita biarkan ini menjadi catatan hitam kita.., selanjutnya kita biarkan
mereka melakukan sesuatu..", ucap Pres.Frank.
"Mereka pak?",
tanya Jend.Bennett.
"Yah.., mereka..
"Melakukan sesuatu?
Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang pak presiden?", sela Murphy.
"Kita..? Kita
biarkan saja mereka, kita lihat apa yang bakal terjadi, sementara itu.. Kita
tetap melakukan apa yang dirasa kita perlu lakukan..", jawab Pres.Frank.
Murphy dan Jend.Bennett
hanya mengangguk mendengar penjeasan Pemimpinnya tersebut.
"sepertinya si tua
Frank sudah mendapatkan pelajaran, aku senang militer indonesia mampu
mempencundangi militer mereka.., heheheh", ucap PM Dubbront tersenyum.
sementara tampak beberapa
orang berada dalam 1 meja dengan PM Dubbront, diantaranya tampak Jend.Rosh yang
merupakan Chief utama dari ASIS (Australian Security intelligence Service),
juga Kapt.Keithl dari SASR (Special Air Service Regiment), juga Mentri
Pertahanan Sir Halley Marthy.
"Lalu selanjutnya
apa yang akan kita lakukan pak..? Apa kita akan ambil andil dalam situasi
sekarang?", tanya Sir Halley.
"Kurasa tidak
Halley.., kita tak akan melakukan tindakan yang agresif, tadi aku hanya ingin
membuat Frank mengira kita akan melakukan sesuatu..", jawab PM Dubbront
santai.
"Maksud anda pak..?
Anda hanya ingin membuat mereka berharap kita juga akan melakukan
kesalahan?", tebak Sir Halley.
"Yah, aku rasa
begitu..", sahut PM Dubbront.
"Maaf pak,
sepertinya saya masih belum mengerti tentang apa yang akan kita lakukan
sekarang..", sahut Sir Halley.
Sejenak PM Dubbront
melirik mentri pertahanannya itu.
"...kita tak akan
melakukan tindakan ceroboh seperti yang dilakukan Amerika Halley, kita tidak
boleh menganggap remeh indonesia seperti yang dilakukan Frank..", sahut PM
Dubbront.
"Bukan berarti kita
diam saja, kita akan melakukan pengamatan terlebih dahulu..", tambah PM
Dubbront lagi.
"Hmm..?", Sir
Halley bergumam.
"Rosh.., bisa kau
jelaskan rencanamu?", ucap PM Dubbront menunjuk Jendral dari divisi
mata-mata tersebut.
"Terima kasih
pak.."
"Sudah sangat jelas
sepertinya kita akan kesulitan menghadapi Indonesia jika melakukan suatu hal
yang agresif, kita jadikan kekalahan Amerika sebagai acuan sementara yang bisa
kita rubah jika diperlukan..", ucap Jend.Rosh.
"Lalu maksud anda
Jendral?", tanya Sir Halley.
"Sebaiknya kita
melakukan pengintaian terlebih dahulu terhadap indonesia.., itupun kalau pak
Dubbront menyetujuinya..", sahut Jend.Rosh.
"Pak..?", sela
Sir Marthy melirik PM Dubbront.
"Yah.., saya sudah
membicarakan ini dengan Rosh sebelumnya, dan aku sangat menyetujui itu..",
ucap PM Dubbront.
"Lanjutkan
Jendral..", pinta Sir Halley mendengar persetujuan PM Dubbront.
"Baik.., kita butuh
informasi keadaan pemerintahan
Sir Halley sedikit
terkejut dengan rencana Jend.Rosh.
"Apa itu juga tidak
terlalu agresif..? Apa parlemen menyetujui ini..?", tanya Sir Halley.
"Tenang saja
Halley.., ini juga tindakan untuk keamanan kita, jadi tak ada slahnya jika kita
tetap melakukan ini dengan sangat rahasia.
"Menyadap pemerintah
mereka..? Lalu siapa target kita..? Jendral-jendral mereka..?", tanya Sir
Marthy lagi kepada Jend,Rosh, namun Jend.Rosh tampak melirik ke arah PM
Dubbront, segera saja Sir Halley juga menghadap pemimpinnya itu untuk
mendapatkan jawaban.
PM Dubbront menghela
nafas pelan sembari bangkit dari tempat duduknya, tangannya dikepalkan dan ia
daratkan ke meja dengan sedikit kasar mengisyaratkan ketegasannya dalam
mengambil setiap keputusan.
"Target kita adalah
Presiden Darwin berserta seluruh koleganya...", ucap PM Dubbront.
