Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Part 48 " Battle begins! "

"Baik.. menurut informasi yang kita dapatkan, target kita bergerak masuk ke lembah dipegunungan yang ada didepan kita.. Dari semuanya sepertinya mereka telah bergerak jauh, untuk itu kita harus bergerak cepat..", Seru Kapt.Sherman kepada ke-11 anak buahnya mengawali misi pengejaran mereka.

Segera saja para The Green Berets tersebut bergerak memasuki hutan dengan berjalan kaki mengingat lembah dan lebatnya hutan tak bisa dilewati semua kendaraan mereka, kecuali helikopter, tapi itu hanya dijadikan sebagai opsi lain jika mereka terdesak. Meskipun mereka dalam misi pengejaran tampak tak sedikitpun dari tim Kapt.Sherman mengendurkan kewaspadaan mereka, betapa tidak, mereka mendapat informasi dari pentagon bahwa yang mereka kejar adalah personil dari Kopassus, pasukan khusus terbaik ke-3 didunia.

Sekitar 6 kilometer Barat daya dari posisi tim Kapt.Sherman.. 12.45

Elang dan yang lainnya terlihat kesulitan menyusuri permukaan tanah yang menanjak. Betapa tidak, jejeran pohon rimbun yang mereka lewati adalah deretan pepohonan dilereng perbukitan yang memiliki sudut kemiringan yang cukup tajam, disamping itu lebatnya hutan ditambah batang-batang pohon tumbang yang tergeletak semakin membuat tempat itu menjadi medan yang sulit. Kelelahan mulai terlihat diraut wajah mereka mengingat sudah sekitar 6 jam lebih mereka terus berjalan, sulitnya medan membuat pergerakan mereka melambat.

"Sebaiknya kita beristirahat disini.., bagaimana menurutmu?", tanya Adam pada Elang.

"Yah, aku rasa ini tempat yang bagus jika saja kita kedatangan tamu..", jawab Elang.

"Apa kau yakin bakal ada tim yang mengejar kita?", tanggap Mahda sembari merebahkan tubuhnya bersandar disebuah batang pohon besar.

"Itu mungkin saja mengingat yang kita bunuh adalah pejabat tinggi Amerika.., tak ada salahnya kita mewaspadai hal itu..", jelas Elang.

"Yah, aku rasa juga begitu.., sebaiknya kita selalu waspada.., kita buta akan apa yang sedang terjadi diluar sana.. Kita tidak bisa menghubungi markas..", sambung Adam yang juga tampak meletakkan peralatannya.

"Tunggulah disini sebentar.., aku akan melihat sekitar..", ucap Elang sembari mengeluarkan sangkurnya dan beranjak pergi.

"Tunggu, bawa ini..! Sekedar untuk berjaga-jaga..", sahut Adam sembari melemparkan Senapan jenis M40 milik Elang.

"Baik..", ucap Elang menangkap senjatanya yang dilemparkan padanya dan segera berlalu ditelan gelapnya hutan lebat ini, hingga sinar matahari terlihat bagai cahaya tuhan yang turun dari langit dari sela-sela dedaunan.

"Sebaiknya kita membuat bunker dengan semak belukar yang ada disini..", ucap Adam seraya memperhatikan sekitar mereka.

"Baiklah..", sahut Mahda.

Green Berets, Tim Kapten Sherman..

Pasukan Kapt.Sherman tampak terus bergerak menembus rimbunnya hutan dengan membuat tiga regu pergerakan. 4 orang didepan sebagai tim pengintai, di 4 orang dikanan sebagai tim perlindungan tim pengintai, dan dikiri belakang Kapt.Sherman sendiri dengan 3 orang anak buahnya sebagai tim Senyap, dimana jika ada suatu gangguan dari depan tim ini akan memutar untuk menyerang. Dengan formasi ini mereka dapat bergerak dengan cepat, terlebih 4 orang tim pengintai didepan adalah para personil 'Sharp Shooter' atau penembak Reaksi, ditambah pergerakan mereka yang terkordinir rapi dengan radio telekomunikasi yang dikomandoi Kapt.Sherman membuat pasukan khusus ini tampak seperti sudah menguasai medan.

"Terus bergerak.., tim pengintai laporkan situasi..!", ucap kapt.Sherman melalui radio ditengah pergerakannya.

"Negatif pak.., belum terlihat apa-apa..", sahut salah satu anak buahnya yang berada didepan.

"Baiklah.., kalian bergeraklah terlebih dahulu dengan cepat, yang lain memutar dari kiri, dan pastikan pengaman kalian terbuka..!", perintah kapt.Sherman mengingtkan para anak buahnya untuk membuat senjatanya sudah siap tembak apabila diperlukan.

Pentagon, Amerika..

"Sial..!"

Seseorang tampak memukul meja, membuat sejumlah orang yang hadir diruangan itu terdiam kaku.

"Kalian lihat itu..! Mereka membunuh prajurit kita..!", bentak seseorang tersebut yang tak lain adalah Presiden Frank, ia tampak sangat gusar begitu mendengar kabar 6 orang prajuritnya dilaporkan tewas dalam serangan teroris di indonesia. Namun karena pihaknya menutupi identitas Letn.Jones dan kelima anak buahnya, mereka tak perlu menanggung malu akibat peristiwa tersebut.

"Bannett.., bagaimana dengan pasukanmu..?", tanya pres.Frank.

"Lapor pak presiden, mereka telah bergerak mengejar musuh..", jawab Jend.Bannett sigap.

"Lanjutkan dan jangan sampai gagal..! Mengerti..!?", ucap Pres.Frank dengan sorot mata yang tajam.

"Siap dimengerti pak..", sahut Jend.Bannett memberi hormat.

Presiden Frank Carlton buru-buru membakar cerutu yang ia keluarkan dari laci mejanya, hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan sama sekali. Sepertinya ia mulai merasakan tekanan yang diberikan oleh Presiden Darwinsyah dan yang lainnya.

15.00

Sepertinya Elang sengaja bergerak ke arah yang ia lewati bersama adam dan Mahda sebelumnya, sesekali ia berhenti untuk mengamati lereng hutan jauh dihadapannya dengan teropong senapannya. Sementara Adam dan Mahda mulai menghawatirkannya, namun mereka berusaha menepis kekhawatiran mereka.

"Sebaiknya kita mencari dedaunan untuk makan siang kita, aku rasa kita tak perlu mencemaskan dirinya..", gumam Mahda.

"Yah, aku rasa dia sedang memastikan situasi yang sebenarnya kita hadapi..", sahut Adam sembari memperhatikan sekitar berusaha mencari dedaunan yang bisa dimakan.

Elang mengendap disebuah gundukan tanah yang dipenuhi semak belukar, dan masih mengamati lereng hutan jauh didepannya. Tak jauh dari lereng yang diamati oleh Elang, tim pengintai pasukan Kapt.Sherman telah beristirahat sembari menunggu ke-2 tim lainnya yang berada dibelakang.

"Tim pengintai laporkan situasi", seru Kapt.Sherman melalui radionya.

"Diterima Chief.., didepan kami terdapat sebuah lereng yang cukup curam, sementara tak jauh dari situ terdapat perbukitan.. Terlalu beresiko jika saya dan yang lainnya bergerak tanpa dukungan..", sahut Sersan Harry, komandan Tim pengintai tersebut, insting sersan itu mengatakan bahwa perbukitan tak jauh dari lereng dihadapan mereka merupakan suatu sudut dengan ancaman yang besar.

Benar saja, Elang tampak dengan leluasa mengamati lereng tersebut dengan M40-nya melalui perbukitan dimana ia berada.

"Diterima sersan, tunggu yang lainnya saja..", ucap Kapt.Sherman sembari memberi kode dengan tangannya kepada sisa pasukan yang bersamanya yang langsung menanggapi dengan bergerak lebih cepat.

Awan hitam mulai mengumpul dilangit perbukitan tersebut disertai memudarnya sinar matahari, Burung-burung liar tampak berterbangan mencari pohon-pohon rindang dikaki bukit.

"Sepertinya akan hujan.., mengapa ia belum kembali..?", gumam Mahda seraya melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore.

"Entahlah.., sekarang aku benar-benar mencemaskannya..", sahut Adam.

"tapi aku tak mendengar dentuman senjata apabila terjadi sesuatu..", ucap Mahda berusaha berfikir positif.

"Atau ia tersesat??, ah.. Itu tidak mungkin.., atau diserang binatang buas..??", seru Adam sedikit panik hingga memikirkan hal-hal seperti itu.

"Itu terlalu konyol.., sudahlah.. Aku yakin dia baik saja..", sahut Mahda tenang, meskipun sebenarnya ia mencemaskan Elang yang tak kunjung kembali.

"Bagaimana Sersan?", tanya Kapt.Sherman.

Tampaknya seluruh Tim mereka telah berkumpul didekat lereng.

"Saya sudah mengawasi sekitar lereng ini, dan saya menemukan jejak target kita berupa perapian yang ditutupi dengan dedaunan Chief...", jelas Sers.Harry.

"Lalu..?", tanya Kapt.Sherman.

"Diperkirakan sudah 6 jam yang lalu mereka meninggalkan lokasi ini..", sambung Sers.Harry.

"Berarti mereka sudah menjauh.., tapi tidak menutup kemungkinan mereka menunggu kita dari balik perbukitan itu..", sahut Kapt.Sherman melirik perbukitan dimana memang Elang berada, sepertinya pertempuran insting dan pemikiran mengawali pertempuran sebenarnya.

Jauh dari situ Elang masih tetap diam mengamati dari balik teropongnya, matanya terus merayap setiap sudut melalui titik bidik senapannya.

Sejenak ia terhenyak begitu melihat dua orang prajurit menuruni lereng dengan bergerak Zig-zag dari pohon ke pohon..

"Klak.."

Elang mengokang senapannya.

Titik bidik Elang telah tepat berada pada salah satu prajurit yang menuruni lereng tersebut, namun ia tak menembak.

Kedua prajurit yang diperintahkan Kapt.Sherman itu berhasil menuruni lereng.

"Tidak ada apa-apa Chief..", ucap Sers,Harry melihat kedua rekannya telah menuruni lereng tanpa ada gangguan.

"Hmm...", sejenak Kapt.Sherman mengerutkan dahinya.

"Baiklah.., kita lanjutkan perjalanan.. Namun sebelum itu tempatkan Willy dan Hoftman untuk mengamati perbukitan itu..", perintah Kapt.Sherman merasa belum aman.

Segera saja dua orang sniper yang masing-masing menenteng M8 barret 50mm mengambil posisi dibalik batang pohon tumbang dikanan kiri lereng tersebut, mereka penembak terbaik yang dimiliki Kapt.Sherman, Sersan Willy dan Sersan Hofftman.

selanjutnya Kapt.Sherman beserta pasukan yang lainnya bergerak menuruni lereng tersebut.

" Klik "

Elang membuka pengaman senapannya menandakan ia siap untuk menembak.

Elang membidik Prajurit yang berada paling depan, diteropong elang tampak prajurit itu bergerak pelan sembari memberi kode kepada rekannya yang berada dibelakangnya.

"DASH...!"

Sebuah dentuman senjata menggema membuat Kapt.Sherman dan pasukannya merapatkan diri dengan pepohonan disekitar mereka.

"Sniper..!", teriak sers.Harry.

Seorang prajurit roboh bersimbah darah..

"Sial..! Willy..Hoftman! Kalian melihatnya??", seru Kapt.Sherman.

"Negatif Chief..!", sahut Sers.willy.

"Arah pukul 11 chief!", tanggap Sers.Hoftman merasa melihat sedikit kilatan kecil diperbukitan jauh didepannya.

"Steward..! Beri tembakan ke arah pukul 11..!", perintah Kapt.Sherman.

Seorang anak buahnya yang menenteng Senapan Mesin jenis M249 tampak memposisikan dirinya dari balik pohon, Pvt.Steward, ia langsung menyalakkan M249-nya.

"Tretetetetet..tetetretetet.."

Adam dan Mahda mendengar dentuman senjata dari arah balik.

"Sekarang aku rasa Elang dalam masalah..!", seru Mahda sembari langsung bergerak ke arah dimana suara tembakan itu berasal.

"Tidak, kau tunggulah disini.., bersiaplah akan sesuatu..!", perintah Mahda melihat Adam ingin mengikutinya.

"Baiklah.., segera pastikan ia baik saja..", sahut Adam sembari mengokang senjatanya.

Sementara itu Elang tampak tenang karena peluru yang dimuntahkan oleh pvt.Steward mendarat sangat jauh dari posisinya, ia mengarahkan pelan titik bidiknya ke pvt.Steward yang sedang menyalakkan senjatanya berusaha memberikankan tembakan perlindungan, sementara pasukan Kapt.Sherman yang lain tampak segera bergerak menuruni lereng itu dengan cepat.

"DASH...!"

Elang menembak lagi, pvt.Steward tersungkur, namun ia berguling dan menyeret tubuhnya mendekati pohon didekatnya, sepertinya peluru Elang kali ini meleset, hanya mengenai lengan pvt.Steward.

"Terlalu banyak angin..", gumam Elang, menebak angin yang membuat pelurunya meleset dari targetnya.

"Hoftman..! Apa kau bisa menembaknya..?!?", seru Kapt.Sherman mulai panik.

"Negatif chief, terlalu rimbun..!", jawab Sers.Hoftman.

"Tembakkan saja senjatamu..!", teriak Kapt.Sherman mulai resah.

"Baik..!", sahut Sers.Hoftman mengarahkan titik bidiknya ke semak belukar yang dimana menurutnya tempat tembakan tadi berasal.

"Tasshhh!!!"

Sers.Hoftman melepaskan tembakan.

"Srrkk..!"

Batang pohon yang berada tak jauh dari posisi Elang tampak hancur dihantam peluru kaliber 50mm Sers.Steward, serpihan kayu tampak mencuat ke udara.

Tak lama pohon itu tumbang kedepan membuat roboh semak belukar yang menutupi elang.

"Sial..", gumam Elang langsung bangkit berlari.

 

Melihat Elang, Sers.Hoftman berusaha menembaknya.

"Tashh..!"