Part 46 " The Green Berets is Ready..!
"Markas Pusat,
Keadaan ruang komando
utama yang semula lengang seketika penuh kesibukan, Jendral Purnomo, Danjen
Kopassus Mayjen Rizal, dan bahkan Panglima Rokhim buru-buru datang sesaat
setelah kabar tewasnya Mentri pertahanan Amerika di wamena Papua tersebar
dengan cepat, tampak juga Letnan Vega yang sedari tadi memang sudah berada
disitu.
"Letnan, jelaskan
situasinya..", perintah Panglima Rokhim.
"Baik
panglima..", ucap Letn.Vega sembari membuka catatan yang baru saja ia
dapat sesaat sebelumnya.
"Kabar tewasnya
Mentri pertahanan Amerika sudah dikonfirmasi kebenarannya pak.., saya rasa
Letnan Adam dan lainnya berhasil..", jelas Letnan Vega.
"Bagus..! Biar
mereka tau sedang bermain dimana..", ucap Panglima Rokhim gembira.
Begitu juga dengan
Jendral Purnomo yang tampak senang mendengar berita tersebut.
"Tapi pak ada sesuatu
yang sedang terjadi..", sela Letn.Vega.
"Apa itu
Letnan?", tanya Pang.Rokhim.
"Yonif 756 Pos
Napua, yang berada di Wamena melaporkan sedang ikut melakukan pengejaran
terhadap sejumlah pemberontak yang diduga membunuh Mentri Amerika
tersebut..", jelas Letn.Vega kembali.
" Apa..?",
panglima Rokhim terkejut.
"Itu berarti mereka
sedang mengejar Adam dan yang lainnya..", sela Mayjen Rizal dengan mimik
tegang.
"Itu benar..,
Panglima.. Apa yang harus kita lakukan..?", tanya Jendral Purnomo.
Sejenak Panglima Rokhim
tampak diam memikirkan sesuatu.
"Maaf.., sebelumnya
kami datang terlambat..", Menhan Suprapto tiba-tiba masuk ke ruangan
tersebut diikuti beberapa prajurit dengan pakaian safari.
Tak lama Presiden
Darwinsyah juga masuk ke ruang komando markas tersebut.
"Beri
hormat..!", sigap Panglima rokhim memberi hormat dan diikuti yang lainnya
begitu menyadari orang nomor satu bumi pertiwi hadir diruang komando-nya.
"Istirahat..",
ucap Pres.Darwin, Panglima dan yang lainnya menurunkan penghormatannya
serempak.
"Saya rasa saya
harus hadir disini.., saya tak bisa hanya duduk diam ketika kalian sibuk
memikirkan keamanan negara ini..", ucap Pres.Darwin lagi.
"Terima kasih pak
presiden..", sahut Panglima Rokhim.
"Pak suprapto..,
tolong jelaskan apa yang baru saja anda dapatkan..", pinta Presiden Darwin
sembari duduk di salah satu kursi ruangan itu.
"Baik pak
presiden.."
"Semuanya, kita
mendapat info yang sangat mengejutkan.., pihak Amerika meminta izin pada kita
untuk memburu pemberontak yang membunuh mentri mereka di wamena, papua.. Saya
yakin mereka tau itu ulah kita, namun mereka berusaha untuk membuktikannya pada
dunia agar mereka dapat dengan mudah menguasai dan menghancurkan kita..",
jelas Menhan Suprapto.
Semua mendengarkan dengan
seksama, namun mereka tak dapat menutupi ekspresi terkejutnya mereka atas info
tersebut.
"Lalu.. Anda
mengizinkannya..?", tanya Jendral Purnomo.
"Tidak ada pilihan
lain.. Atau kita akan dicurigai PBB sebagai penyulut peperangan dengan membunuh
seorang mentri negara lain..", jawab Menhan Suprapto.
"Tapi dengan begitu
anak-anak kita berada dalam bahaya pak..!?!", seru Jendral Purnomo
mencemaskan Elang dan yang lainnya.
"Itu benar.., saya
rasa kita tak mungkin membiarkan mereka mendapatkan prajurit-prajurit kita
itu..", sambung Mayjen Rizal yang juga mencemaskan prajurit-prajurit
terbaiknya itu.
"Tenanglah kalian
berdua.., maka dari itu kita harus melakukan sesuatu..", sahut Menhan
Suprapto.
Semua tampak diam
berusaha memikirkan suatu jalan terbaik dalam situasi seperti ini.
"Adakah dari kalian
yang mempunyai rencana..?", kali ini Presiden Darwin tampak mulai
merasakan aura ketegangan situasi ini, terlihat dari butiran keringat
didahinya.
"Saya punya rencana
pak..", Letnan Vega mengangkat tangannya.
"Seorang
Letnan?", gumam Pres.Darwin dalam hati meragukan Letnan Cantik tersebut.
"Baiklah.., jelaskan
rencanamu Letnan..", Pres.Darwin mempersilahkannya.
"Terima kasih pak..,
sebaiknya kita mulai dengan membiarkan militer Amerika mengambil alih penuh
operasi pengejaran terhadap Tim Lettu Adam disana agar satuan militer kita di
wamena khususnya dari Yonif 756, tidak terlibat baku tembak dengan tim Lettu
Adam apabila situasi semakin memburuk.. Tentu kita tak ingin prajurit-prajurit
kita saling bunuh...", jelas Letn.Vega.
"Ide bagus..,
teruskan..", ucap Menhan Suprapto sembari mencatat ide rencana Letnan
Cantik itu.
"Terima kasih pak
Menhan, tapi sebelumnya, apakah anda tau pasukan apa yang akan diterjunkan oleh
mereka?", tanya Letnan Vega.
"Yah, mereka akan
menurunkan 'Green Berets' mereka disana..", jawab Menhan Suprapto.
"Jadi begitu..,
mereka menerjunkan pasukan mereka yang pernah berhadapan dengan kopassus
kita.., jelas sekali mereka sangat berhati-hati akan hal ini.., maka dari itu
kita juga harus mengirimkan sejumlah pasukan kita untuk membantu tim Lettu Adam
disana..", sambung Letnan Vega.
"Tunggu Letnan, itu
bisa memperjelas bukti mereka bahwa pasukan khusus kita yang melakukannya jika
kita mengirim bantuan tempur...", sela Panglima Rokhim.
"Saya tau panglima,
maksud saya adalah.. kita mengirim sejumlah pasukan dan menempatkannya di garis
pegunungan jayawijaya, kita katakan pada mereka bahwa itu adalah pasukan yang
rutin mennyisir kawasan itu dari pemberontak..", jelas Letn.Vega.
"Lalu menggunakan
pasukan itu sebagai tim penjemput Tim Lettu Adam.., hmm itu rencana yang sangat
bagus Letnan.. Tapi apakah bisa dipastikan Lettu Adam dan yang lainnya akan
mengarah ke arah pasukan yang kita tempatkan itu? Itu mengharuskan mereka
melewati Lembah baliem pegunungan jayawijaya..", sambung Menhan Suprapto
yang sudah mempelajari daerah tersebut.
"Soal itu, tanyakan
pada Mayjen rizal..", jawab Letn.Vega.
"Yah, itu masuk
akal.. Standar operasi rahasia adalah menjauhi pusat keramaian.., tentu saja
tim Lettu Adam akan mengarah ke pegunungan Jayawijaya dan bertemu dengan
pasukan yang kita siapkan..", ucap Mayjen Rizal langsung menanggapi.
"Bagaimana Pak
presiden..?", Menhan Suprapto bertanya.
Pres.Darwin sejenak
melirik Letnan Vega.
"Bagaimana menurutmu
Rokhim..?", tanya Pres.Darwin berusaha mendapatkan masukan meskipun
menurutnya itu rencana yang bagus.
"Saya setuju sekali
dengan rencana Letnan ini..", jawab Pang.Rokhim.
Presiden Darwin menarik
nafas berat, sepertinya ia telah meragukan kemampuan Letnan cantik ini.
"Baiklah.., kita
lakukan..!", ucap Presiden Darwin.
"Baik pak
presiden.., Mayjen Rizal.. Segera kirim prajurit terbaikmu..!", perintah
Pang.Rokhim.
"Siap
panglima..!", sahut Mayjen Rizal harahap sebagai Danjen Kopassus untuk
mengirimkan prajurit terbaik lainnya.
"Baik, kalau begitu
saya segera menghubungi pihak Amerika untuk memberikan Izin ke mereka..",
ucap Menhan Suprapto.
"Letnan..!",
panggil pres.Darwin,
"Siap pak
presiden..", sahut Letnan Vega.
"Kerja
bagus..!", puji Presiden Darwin.
"Terima kasih pak
presiden..", jawab Letnan Vega.
Green Berets (USSF), Fort
bragg, US..
Detachment-A (ODA)
Jendral Bannet tampak
mengumpulkan sejumlah prajurit terbaiknya disebuah ruangan, dihadapannya
berdiri 12 orang terbaik dari yang terbaik dikesatuan mereka. 'The Green
Berets'.
"Dengarkan
semuanya..! Kalian akan ditugaskan dalam sebuah misi rahasia di indonesia,
namun ada suatu hal yang menarik disini.. Karena kita menggantikan unit Delta
O'Connor yang gagal., maka dari itu aku tak ingin kalian gagal..
Mengerti..!", seru Jendral Bannett dengan semangat yang membara.
"Mengerti..pak!!!",
sahut ke-12 prajurit tersebut kompak.
sementara itu tampak
seorang berpangkat Major mendekat dan berbisik pada Jend.Bannett.
"Baguslah..",
gumam Jend.Bannett.
"Dengarkan..! Kita
sudah mendapat izin..! Sekarang kemasi barang kalian.. Kita berangkat
Prajurit..!", seru Jend.Bannett sembari mengacungkan tangannya ke atas
yang diikuti oleh ke-12 prajurit terbaiknya itu diiringi gemuruh sorak mereka
bersemangat.
Sementara itu...
"Tunggu
sebentar..!", seru Elang ditengah pergerakan mereka menjauh dari kejaran
unit gabungan militer setempat.
"Ada apa..?",
tanya Mahda dengan nafas terengah-engah, sementara Adam tampak bersiaga
memperhatikan sekitar.
"Ada yang
aneh..!", ucap Elang.
"Apa
maksudmu..?", tanya Mahda lagi.
"Mengapa tidak
terdengar lagi mereka mengejar kita..?", jelas Elang sambil buru-buru
mengambil senapan M40-nya dan mulai melihat sekitar dengan teropongnya.
"Ada apa?",
tanya Adam mendekati Elang.
"Mereka hanya
berjaga dan tidak mengejar kita..", sahut Elang melihat sejumlah pasukan
gabungan yang mengejar mereka hanya berjaga-jaga dibatas kota dan kawasan hutan
yang baru saja mereka masuki.
"Lalu
artinya??", tanya Adam lagi.
Elang menyudahi
pengamatan dari teropong M40-nya,
"Sepertinya akan ada
tim khusus yang akan mengejar kita..", jelas Elang.
Sejenak Adam tampak
berfikir berusaha menduga-duga pasukan khusus dari unit mana yang akan mengejar
mereka.
"Sudahlah..,
sebaiknya kita terus bergerak.. Siapapun dan dari manapun mereka yang mengejar
kita akan kita habisi..!", seru Elang bersemangat, namun tatapan dingin
matanya seakan menunjukan aura pembunuh yang mengalir didarahnya.
"Ayo..", Elang
kembali bergerak.
"Aku tak tau
bagaimana orang ini dilatih..", gumam Adam sambil melirik Elang yang
beranjak pergi..
"Entahlah.., tapi
aku rasa ia mempunyai sesuatu yang membuatku ingin berjuang bersamanya..",
sahut Mahda.
"Seperti apa
itu..?", tanya Adam lagi.
"Hmm..entahlah, itu
sulit dijelaskan..", sahut Mahda lagi.
"Hey, sedang apa
kalian? Ayo, aku tak ingin kehilangan salah satu dari kita lagi..", seru
Elang memanngil mereka.
"Yah, tunggu
kami..", sahut Mahda segera bergerak menyusul Elang didepannya.
"Aku rasa aku
mengerti sekarang..", ucap Adam yang berjalan disebelah Mahda.
"benarkah..? Bagus,
ayo kita susul dia..", sahut Mahda.
Mereka berdua segera berlari
menyusul Elang didepan, sementara jauh dihadapan mereka bertiga terhampar
deretan pegunungan dikelilingi hutan lebat Lembah Baliem.
